Meyakinkan Mu

Meyakinkan Mu
Bab 67 Lalisa


__ADS_3

🍀


🍀


🍀


Setelah jam pulang kerja Lala bergegas untuk membereskan mejanya. Sesekali melihat jam di pergelangan tangannya.


"Lis bisa minta tolong....?" Entah sejak kapan sekertaris Dimas sudah berdiri didepan meja kerjanya.


Mungkin karena terburu-buru membuat Lala tidak menyadari kehadirannya.


"minta tolong apa pak..." Lala bertanya. Karena ini tidak seperti biasanya orang kepercayaan tuan Revan ini meminta tolong padanya. Biasanya langsung perintah saja.


Sama lah ya dengan tuan mudanya.


"begini.." Dimas mulai menjelaskan permasalahannya.


Dan disinilah sekarang Lala. Duduk bersama tuan mudanya dengan beberapa kline yang terang-terangan menunjukan ketertarikannya pada tuan mudanya.


"maaf tuan muda, seharusnya yang datang untuk kerjasama ini adalah papi. Tapi karena papi ada kesibukan jadi saya yang menggantikannya...." Perempuan itu menjelaskan namun dengan gestur yang terlihat sangat menyebalkan.


"entahlah....., siapa yang perlu diyakinkan dan meyakinkan disini. Yang jelas anda membuang waktu saya..." Revan jelas terlihat tidak suka.


Wanita itu terdiam mendengar jawaban orang nomor dua di Jaya Group ini. Sepertinya perkiraannya salah kali ini, tuan muda Revan berbeda dengan tuan muda kebanyakkan.


Tuan muda Revan tampak tidak bergeming dengan kehadirannya. Bahkan disaat dia jelas-jelas menunjukan pesonanya. Dan yang paling membuatnya heran kenapa tuan Revan datang dengan pekerja wanitanya.


"Siapa wanita itu?, apa dia asisten atau mungkin sekertarisnya?. Tapi seingatnya sekertaris tuan muda Revan adalah Dimas orang kepercayaannya. Entahlah yang pasti sekarang kerjasama ini yang utama..." wanita itu meyakinkan dirinya.


Wanita itu menegakkan posisi duduknya" maaf sekali lagi tuan. Saya.." ucapan wanita itu terpotong disaat Revan mengangkat tangannya.


" minta tuan Ronald menghubungi saya kembali!"Revan beranjak dan meninggalkan meja VIP tempat pertemuan.


Lala yang melihat tuan Revan beranjak dengan wajah kesal. Seketika mengikuti . Bahkan langkahnya dua kali lebih cepat dari biasanya untuk mengejar langkah tuan mudanya.


Disaat akan masuk mobil Revan berhenti dan tersadar kalau dibelakangnya ada Lala stafnya.


Untuk sejenak Revan berhenti didepan pintu mobil. Menunggu langkah stafnya yang terbilang buru-buru tapi masih tertinggal.


Lala berhenti didepan tuannya, merasa bingung karena tuannya tidak masuk mobil. "ayo masuk...." Revan meminta Lala masuk lebih dulu.


Lala mengangguk dan masuk ke dalam mobil di ikuti oleh tuan Revan disampingnya.


Suasana dalam mobil terasa mencekam untuk Lala, apalagi supir kantor yang diminta sekertaris Dimas untuk mengantar mereka pun tidak berbicara barang sepatah pun.

__ADS_1


Seolah menunjukan dia tau kemana tujuan mereka selanjutnya. Padahal tuan muda Revan belum memberi perintah.


Sesekali Lala melirik kearah tuan Revan, hanya berusaha memastikan suasana hati tuannya. Melihat wajah kesal itu entah kenapa membuat Lala ciut.


Jangankan untuk bertanya, bahkan sekedar menarik atau membuang nafasnya saja Lala merasa kesulitan. Lala takut gerakan apapun yang dia timbulkan akan membuat suasana hati tuannya semakin memburuk.


Lala terus berusaha merasa nyaman dalam kondisi ini. Sampai hal menenangkan membuatnya merasakan nyaman. Wangi maskulin namun terbilang lembut menguar dari tuannya membuat Lala merasa rilex. Dan Lala merasa nyaman meski masih diselimuti kebisuan.


*Lebih baik diam dan nikmati La. Toh kalau abang, eh maksudnya tuan Revan mengajak mu bicara sekarang pasti akan terasa lebih aneh dari ini buka*n?.


Lala bergumam meyakinkan dirinya, dan tanpa sadar Lala terbuai dengan aroma menenangkan didukung dengan suasana sepi membuatnya jatuh tertidur . Bahkan dalam waktu singkat Lala terlihat sudah nyenyak terlihat dari gerakan bibirnya yang seolah tengah mengunyah sesuatu.


Dan semua itu tidak luput dari pandangan Revan.


Perasaan kesalnya seolah hilang, disaat Revan merasa tidak ada pergerakan disampingnya. Dan membuatnya memilih untuk menatap kerah samping.


Pandangannya seolah terkunci disaat melihat staf atau tepatnya mantannya ini tertidur dengan lelapnya.


Ini pertama kali Revan menatap langsung Lala yang tertidur dan sialnya dia menyukainya.


Setengah mati Revan menahan tangan agar tidak terulur untuk mengusap wajah cantik Lala.


Revan memilih bersedekap dada untuk menjaga tangannya, namun dengan posisi menyamping. Bahkan Revan menyandarkan kepalanya kesandaran kursi membuatnya dapat menatap Lala dengan leluasa.


Cantik


Entahlah, Meski tidak yakin namun Revan memilih mempercayai itu. Berharap keputusannya adalah benar.


Sepertinya aku makin cinta kamu!. Dan aku tidak suka perasaan itu. Perasaan ku hanya membuat mu sakit begitu juga dengan ku.


Revan bermonolog meyakinkan diri bahwa semua sumber sakit diantara mereka datang darinya.


Ditengah rasa terkesima yang disertai perang batin yang dialami Revan. Tiba-tiba Lala membuka mata. Mengerjap beberapa kali untuk menyesuaikan cahaya. Dan disaat matanya terbuka sempurna, pandangan didepannya membuatnya membeku.


...****************...


Revan menghemaskan badannya disofa panjang yang ada diruangannya. Mendesah kasar mengingatkan kembali kejadian dimobil tadi.


"Hah........" mendesah kasar. Bahkan sangat kasar. Memastikan semua hal yang menghimpit dadanya keluar bersamaan helaan nafasnya.


Tok tok tok


Suara ketukan pintu terdengar membuat Revan menatap kearah pintu ruangannya.


Meras kesal Revan membalikan badannya kearah sofa yang menghadap dinding. Merasa malas merespon siapa pun yang mengganggunya.

__ADS_1


"si kurang ajar itu mau ngapain lagi sih...!" kesal Revan.


"saya masuk....." suara seseorang yang sangat dihindarinya hari ini.


"khmmmm....."berdehem, berharap yang dimaksud menatapnya. Tapi sepertinya Revan benar-benar merasa kesal sampai membuatnya merasa enggan untuk membalikan pandangannya.


"Sorry..." Dimas memilih meminta maaf lebih dulu. Dia tau dia terlalu ikut campur kali ini.


"kamu tau kalau pak Ronald tidak bisa datang...?" bertanya namun pandangan masih sama ke arah punggung sofa dengan posisi rebahan manja.


"hmmmm......,soal itu..." Dimas ragu menjawab. membuat Revan membalikan badannya menatap kearah sekertaris sekligus sahabatnya itu.


Tatapan tajam Revan membuat nyali Dimas mengkerut.


Hah gila, dia terlihat menakutkan kalau sedang marah. Dan sialnya aku membuatnya sangat kesal saat ini.


"Gue tau..., hmmm maksudnya saya tau tuan." menjawab cepat. Dan merubah cara bicaranya. Tidak ingin tuan merangkap sahabatnya ini makin kesal.


"kau membuang waktu ku untuk hal tidak penting dan......" Ucapan Revan terpotong disaat Dimas menyanggah ucapannya.


"siapa bilang itu tidak penting. Anda tau sendiri kan kalau perusahan kita bekerjasama...."Dimas menghentikan penjelasannya setelah melihat tatapan tajam Revan.


"Bodoh......" geram Revan.


"aku tekankan, mereka yang perlu kita bukan sebaliknya. Dan itu fakta. Mangkir dari pertemuan dan membuang waktu ku meladeni putrinya membuat ku muak. Dan lebih gilannya lagi kau mengirim Lisa bersama ku...."Revan menekan kata-katanya. Menjelaskan dengan rinci titik kesalahan Dimas kali ini.


"Hah......,bahkan kau tidak melihat gaya tengilnya disaat bicara dengan ku..."Revan semakin geram mengingat pertemuan siang tadi.


"kamu takut Lisa cemburu.....?" Dimas bertanya seraya menatap langsung Revan. " kalau itu yang kamu takutkan, jelas kamu salah. Bukankah bagus kalau Lisa cemburu karena itu artinya dia mulai menyukai mu atau bahkan sudah mencintai mu.." Dimas menjelaskan hipotesanya dengan sangat percaya diri.


Seolah mencoba membungkam dan menyadarkan sahabatnya maksud tersembunyi dari rencananya.


Revan menatap lemah sahabatnya yang merangkap sekertarisnya. Revan sadar maksud dari Dimas. Tapi masalahnya bukan itu yang dia mau. Dan dia tidak memerlukan itu.


"aku kecewa, dan kamu tidak paham itu. keawasan mu mulai menurun Dim....!" Revan membalikan badan dan berjalan ke kursi kebesarannya.


Dimas melongo mendengar rasa kecewa sahabatnya yang terdengar lebih ke putus asa.


"kau boleh keluar....." Revan berucap sebelum Dimas hendak mengucapkan pembelaan.


Sepertinya Dimas harus mengalah kali ini. Dan mulai menelaah lagi bagian mana yang terlewat.


"baiklah, aku keruangan. Kalau perlu sesuatu hubungi aku..." Dimas memilih mengalah akhirnya.


🍀

__ADS_1


🍀


🍀


__ADS_2