
π
π
π
Tidak seperti biasanya, Dimas ikut pulang bersama sahabatnya. misi apa yang tengah dia rencanakan hanya Dimas dan Tuhan yang tau.
Setelah menurunkan Lala di gang kos dengan Revan yang memastikan wanitanya masuk kedalam kos dengan selamat. Revan dan Dimas kembali membelah jalan dengan Dimas yang menjadi Drivernya.
"Dim....." memanggil
"hmm..." jawab Dimas sekenanya.
"Dim....?" kembali memanggil.
Dimas menahan kekesalannya dengan memilih diam.
"Dim...?" panggilnya lagi.
"apa sih....!, loe panggil sekali lagi awas loe!!" Dimas murka.
"bwahahahahah.." Revan tertawa lepas setelah berhasil menggoda sahabatnya.
setelah puas tertawa Revan kembali diam. dan memperhatikan sahabatnya dengan baik.
posisi duduk Revan dibelakang membuat dia bisa memperhatikan semua sikap sahabatnya yang tengah fokus kejalan raya.
Dimas memperhatikan kaca kecil yang mengarah ke kursi penumpang. membuat pandangan mereka bertemu.
Dimas menaikkan dagunya seolah bertanya apa?.
"fokus aja dulu. kita bicara dirumah..."Revan berucap karena tidak mau mengganggu konsentrasi sahabatnya. mendadak serius.
Setelah beberapa menit berkendara mereka sampai dirumah dengan gerbang tinggi besar menjulang. dengan sekali klakson pintu gerbang terbuka lebar seolah terbuka otomatis.
(padahal penjaga yang membukaπ€).
"malam paman " sapa Dimas setelah melihat tuan Ardian masih duduk manis di sofa ruang keluarga. Dengan Revan yang berjalan dibelakangnya yang terlihat sibuk dengan smartphonenya.
Tuan Ardian menatap jam tangannya memperhatikan jam pulang kantor anak dan sekertarisnya.
"kami ada pekerjaan yang harus dibahas yah.." ucap Revan sebelum ditanya, setelah melihat ayahnya menatap jam tangannya.
"kenapa tidak dikantor saja" merasa heran karena waktu masih tidak terlalu malam.
"biar lebih lepas aja yah. makanya milih rumah. kalau gitu kami keruang kerja dulu ya.." pamit Revan dan memberi kode kesahabatnya untuk mengikutinya keruang kerja.
__ADS_1
"makan dulu...!" mama Fatma berucap dengan bibi dibelakangnya yang membawa beberapa macam buah potong. setelah mendengar anak dan suaminya berbicara.
"ma, bi " ucap Revan dan Dimas bersamaan.
"sana makan dulu. kalau ayah sama mama tadi sudah, enggak sanggup kalau harus nunggu kalian pulang " ucap mama Fatma memberitahu.
"iya ma" akhirnya Revan mengalah.
"ayo ...." Revan menarik Dimas untuk keruang makan. Revan tau kalau sahabatnya ingin membahas sesuatu, tapi bukankah mengisi perut juga penting.
disaat Revan dan Dimas keruang makan mama Fatma duduk di sofa tepat disamping suaminya. merasa heran.
"dikantor ada masalah ya yah..?" masih merasa heran
Tuan Ardian menatap kearah istrinya " kenapa berfikir begitu?" balik bertanya.
mama Fatma menaikkan bahunya, merasa bingungnya apa sebabnya. sementara Tuan Ardian kembali fokus dengan buku bacaannya.
sementara mama Fatma menghela nafas lemah melihat suaminya yang kembali fokus dengan buku bacaannya. padahal didepan mereka sedang menyala Tv besar yang menayangkan berita terkini.
sementara di meja makan Revan dan Dimas menghabiskan makannya dengan segera dan bersamaan beranjak dari duduknya untuk keruang kerja, sesuai dengan niat awalnya.
"sudah selesai ....?" Riva bertanya seraya menarik kursi disebelah Revan. "padahal aku langsung ke sini pas mama bilang kalau kalian lagi makan." jelas Riva kepada dua orang yang sudah berdiri.
"enggak seru tau makan sendirian.." Riva kembali berucap sambil tangannya memasukkan nasi dan beberapa lauk kepiring yang disiapkan pelayan.
"minta mbak Keke aja yang nemenin" setelah tersadar dengan ucapannya Revan menggelengkan kepalanya " Dimas aja yang nemenin. kebetulan aku mau bersih-bersih dulu" Ulang Revan sambil menepuk bahu sahabatnya. seolah memberi kode, ini kesempatan loe.
Kepala pelayan (mbak Keke) mengambil piring kotor dan menggantinya dengan mangkuk kecil berisi puding untuk sekertaris tuan mudanya sebagai makanan penutup.
karena tidak mungkinkan Riva makan sedang Dimas diam layaknya kambing congek.
Dan hal itu sudah diprediksi mbak Keke yang dengan sigap menyiapkan puding untuk sekertaris Dimas.
sesekali Dimas melirik Riva dengan ekor matanya. memastikan wanita yang telah lama ditaksirnya itu makan dengan lahapnya.
cantik banget. ahh..., bahkan dia bisa makan dengan santainya tanpa canggung.
apa karena aku hanya suruhan adiknya ya. atau mungkin karena...
"tumben..?" lamunan Dimas terpotong dengan suara Riva yang entah kenapa seolah menggema diruang makan itu, membuat Dimas kembali sadar.
"hm....kebetulan ada beberapa hal yang harus dibahas.." jawab Dimas
mengernyit " emang di kantor ngapain.?" kembali bertanya." ah itu anak pasti sibuk pacaran kan...!" todong Riva langsung. membuat senyum Dimas berkembang seolah menjawab semua pertanyaan nonanya.
"bilang kedia ya, kalau dia enggak serius kerja. awas....!" menunjukkan bogemnya kearah Dimas. bukannya takut Dimas malah merasa gemas ingin menangkap kepalan tangan halus yang terlihat kecil bila dibandingkan dengan kepalan tangannya.
__ADS_1
"Revan bekerja dengan baik kak. tapi memang tadi ada hal penting yang belum dibahas, karena itu saya ikut kesini" jelas Dimas membela sekaligus menghilangkan kekhawatiran wanita cantik didepannya.
"mereka profesional, apa lagi Lisa..!" sambung Dimas.
"syukur deh." merasa lega namun memicingkan matanya kearah orang kepercayaan adiknya itu.
"kenapa?" Dimas yang merasa salah tingkah karena diperhatikan seperti itu merasa tidak nyaman dan memilih bertanya.
"kamu akrab banget perasaan..!" masih dengan pandangan tajamnya.
" tentu saja. dia perempuan yang bisa mengembalikan Revan yang dulu. jadi wajar bukan?" jawabnya yakin.
"baiklah, aku percaya sama kamu. pastikan dia tetap seperti itu"
" baik nona"
Dimas terdiam dan memilih memakan puding yang ada di depannya. rasa manis dan asam dari puding yang dia makan melumerkan sedikit rasa tegangnya.
" Apa nona sudah menerima data yang saya kirim?" berbicara formal kembali.
"sudah, makasih ya sudah mau bantu. ah satu lagi, kalau sampai aku dengar kamu ngomong kaya tadi awas ya!" menunjukkan kembali kepalan tangannya.
Dimas tersenyum dan memilih tidak menjawab lagi ucapan nonanya.
"Dia tampan, kaya, terdidik dan___ sepertinya cocok dengan kakak" mengubah cara bicaranya agar terdengar lebih santai. bukan takut karena bogem yang ditunjukkan nonanya melainkan karena tidak ingin fokus ke hal yang tidak penting saat ini.
Riva mengernyit "oh ya?, menurut aku biasa saja. toh banyak orang diluaran sana yang seperti dia.." Riva menyanggah ucapan Dimas yang terkesan memuji orang yang akan dijodohkan dengannya.
Meski samar Dimas tersenyum mendengar jawaban nonanya. dan benar-benar berharap ucapan nonanya tidak akan berubah.
toh Revan yang terkenal luar biasa pun, karena menjadi penerus Jaya Group malah memilih mencintai stafnya yang menurutnya biasa saja.
tentu saja itu hanya fikiran Dimas, dan jangan sampai sahabat merangkap tuannya itu tau kalau dia menilai wanitanya biasa saja. bisa tamat dia.
"Kak..!" panggil Dimas ragu
"hm" masih fokus dengan makan malamnya.
" kenapa kakak tidak coba seperti Revan.." mengusulkan sekaligus ingin mengetahui sesuatu hal.
"maksudnya..?" bingung
" kakak kenapa tidak coba cari pasangan dari kalangan biasa, seperti Revan. hmmm, maaf sebelumnya..." Takut namun kepalang tanggung karena sudah terlanjur penasaran.
penasaran akan pendapat nonanya tentang hal itu. sekaligus ingin memastikan apakah dia punya kesempatan atau tidak.
π
__ADS_1
π
π