Meyakinkan Mu

Meyakinkan Mu
Bab 40 Makan Siang


__ADS_3

🍀


🍀


🍀


Revan berfikir sambil menatap sekeliling ruangan. Ruangan ini memang terbilang cukup luas kalau hanya untuk satu meja.


"Saya anggap ini toleransi untuk orang kantor. Karna yang datang tidak hanya saya yang sendiri, terkadang ada juga yang membawa keluarganya". Jelas Revan


Lala mengangguk-angguk tanda mengerti. Memang wajar jika pemilik tempat ini mengistimewakan orang-orang dari Jaya Group, bila mengingat kembali kebaikan mereka.


"Apa semua orang diperlakukan seperti pemilik tempat ini?" Lala tampaknya masih sangat penasaran.


"Tidak semua, mereka akan dihargai sesuai dengan jasanya." Karena memang begitulah adanya.


"Oh...." Lala mengangguk.


Obrolan mereka terhenti disaat makanan datang. Berbagai hidangan disiapkan. Rasanya makanan ini lebih cocok dihidangkan untuk keluarga besar.


Akan sangat mubajir kalau untuk mereka berdua.


Setelah semua siap, Karyawan yang menyiapkan makanan langsung pamit diikuti pemilik restoran yang senantiasa mengekor.


Hanya sekedar memastikan pekerjaan karyawannya tidak ada yang salah.


"Makanlah!, Kita hanya punya sedikit waktu" Revan menggeser beberapa menu ke hadapan stafnya.


"Iya tuan." Lala melirik tuannya. " Selamat makan tuan" ucap Lala sebelum memulai makannya.


Revan mengangguk dan menatap Lala yang tengah makan dengan canggung. Revan menyodorkan menu yang lainnya. Menatap dengan sedikit menopang kepala dengan tangannya.


"Biasa aja makannya" goda Revan yang merasa lucu dengan tingkah stafnya yang salting karena di pandangi.


"Tuan tidak makan?" Memilih bertanya karena sejak awal tuannya ini tidak menyentuh makanan sama sekali.


Hanya fokus menatapnya saja. Karuan saja membuatnya makin panas dingin.


"Kamu makan saja, saya bisa nanti" jawab Revan. Karena jujur dia lebih nyaman menatap wanita ini sekarang.


"Tapi makanannya bisa dingin tuan, rasanya akan kurang enak" Lala terus membujuk supaya tuannya mengalihkan pandangannya.


Revan berfikir sejenak "Itu akan menjadi PR untuk pemilik tempat ini. Bagaimana caranya dia membuat makanan yang tetap terasa enak walau pun sudah dingin" Revan merasa mendapatkan ide setelah mendengar stafnya bicara.


Lala yang mendengar itu hanya menggelengkan kepalanya.


Dasar pembisnis


"Kenapa?"


"Apanya?"


"Arti gelengan kepala mu"

__ADS_1


"Ah tidak, hanya menghilangkan penat saja tuan" bohong Lala


Revan memicingkan matanya," kau yakin?" Revan bertanya sekali lagi.


"Hahahhaha, saya tidak bohong tuan. Memangnya saya berani memikirkan apa?" Mencoba lebih meyakinkan lagi.


Revan termangu melihat senyum stafnya, yang entah kenapa terlihat sangat manis.


"Kamu tidak penasaran" tanya Revan lagi.


"Soal apa?"


"Rekan kerja mu" jawab Revan langsung.


"Oh...., Mbak Sasa sudah lama bekerja sebagai staf jadi menurut saya wajar saja kalau dia naik jabatan lebih cepat" Lala menjawab dengan yakin. Tanpa terlihat menyimpan maksud lain.


"Sialan itu meminta kamu, dan aku tidak suka" aku Revan


Lala merasa kaget, setelah berfikir sejenak dia tau siapa orang yang di maksud tuannya.


"Apa kamu marah?" Revan memastikan


"Tidak, untuk apa?. Saya sudah merasa cukup dan nyaman dengan pekejaan saya sekarang" senyuman Lala tidak pernah luntur.


Dia bahkan menghentikan acara makannya untuk menjawab semua pertanyaan tuannya.


"Baguslah" Revan merasa tenang.


"Tapi kenap_____?" Belum selesai Lala bertanya Revan menjawabnya tanpa tau apa yang akan ditanyakan stafnya.


Lala terdiam, bingung mau menanggapinya bagaimana. Bukan soal ini yang ingin dia tanyakan.


Aku harus bagaimana sekarang


"hmmmm, maksud sa__ya...." Lala merasa ragu melanjutkan ucapannya.


Melihat stafnya bersikap seperti itu membuat Revan memilih diam demi menunggu kelanjutan maksud stafnya.


Revan bahkan tidak pernah mengalihkan pandangannya yang mengarah langsung pada staf istimewanya ini.


Revan bahkan sampai duduk menyamping supaya bisa melihat langsung stafnya, sekalian menunggu.


Melihat tuannya yang menunggu Lala sedikit menundukan kepalanya.


"maksud saya bukan itu tuan" Revan mengernyitkan dahi. " kenapa orang itu meminta saya untuk menjadi asistennya. Tanya Lala akhirnya


"hahh......" Revan menghela nafas panjang.


"kamu bahkan tidak tertarik dengan ungkapan perasaan saya. Tapi sangat tertarik dengan alasan itu.


Kenapa?, apa kamu menyukainya" kesal Revan.


"astaga bukankah ini sangat menyebalkan?. Aku bahkan menunggu jawaban mu, sekali pun kamu ingin menolak paling tidak katakan padaku jangan mengabaikan ku" Revan sangat kesal sekarang ini. Membuatnya berbicara nonformal pada stafnya.

__ADS_1


Lala tentu saja merasa terkejut dan sangat merasa bersalah. Apa dia memang berlebihan sampai tuannya merasa tersinggung.


"maaf tuan, maksud saya bukan itu" Lala ingin memperjelas maksudnya.


Dia sama sekali tidak bermaksud menyinggung tuannya.


"selesaikan makan mu, kita kembali ke kantor setelahnya!" Revan mengalihkan pandangannya ke sembarang arah.


Lala yang merasa bersalah memilih diam, bahkan makanannya tidak tersentuh semenjak tuan mudanya bertanya di awal.


Apalagi saat ini, nafsu makannya benar-benar menguap.


"kamu tidak tertarik sedikit pun padaku?" Revan tidak mengalihkan pandangannya dari pintu dan hanya ingin memastikan untuk terakhir kalinya.


"apa saya boleh memiliki perasaan yang sama pada tuan?" Lala menjawab dengan pertanyaan.


Revan mengernyit.........


🍀


🍀


🍀


......................


Hai hai hai......


Salam kenal semuanya


🤣🤣🤣🤣


Cuma mau bilang


Karena ini karya pertama, harap-harap maklum ya


baik soal penulisan, tanda baca bahkan alurnya.


Jujur sih, saya buat ini sebagai bentuk protes awalnya.


Saya pecinta Novel garis keras. Tapi sering kecewa karena alur novel yang banyak saya baca tidak sesuai dengan prediksi saya


Baperan banget ya


🤣🤣🤣


Karena itu saya buat novel yang alurnya saya banget pokoknya.


Selamat membaca semua, tunggu upnya terus ya.


Jangan lupa Like & komennya.


Tapi komennya jangan terlalu sadis, saya Baperan soalnya.

__ADS_1


🤭🤭🤭


__ADS_2