Meyakinkan Mu

Meyakinkan Mu
Bab 21


__ADS_3

"permisi, apa tuan Revan ada di dalam?" tanya Riva pada salah satu staf utama di gedung Jaya Group.


"iya nona, maaf" suara Sasa jelas terdengar kaget.


iya, dia tidak sadar dengan kedatangan tamunya. entah apa yang sedang difikirnya.


"tidak apa-apa, apa kali ini aku perlu menghadap sekertaris Dimas terlebih dahulu..?" Riva bertanya untuk memastikan.


"tentu tidak nona, mari saya antar" Sasa terdengar ramah. dia sudah mendengar ultimatum yang diterima rekannya saat itu.


Sasa hendak mengetuk pintu ruang utama, namun Riva lebih dulu mendorong pintu dengan sedikit kasar.


"van......" apapun yang akan dikatakan Riva, terpotong setelah melihat adegan yang ada di depannya.


Sasa tak kalah terkejut, bagaimana bisa tuan mudanya tidur dengan santai sementara rekannya duduk manis tepat di samping tuan mudanya.


meski posisi masih bisa dikatakan aman, tapi bagaimana bisa sesantai itu.


Lala yang melihat nona Riva datang segera beranjak dari duduk manisnya. Lala merasa kurang nyaman tapi ini adalah hal yang diperintahkan langsung oleh tuan mudanya.


melihat reaksi nona dan rekan kerjanya membuat Lala bingung harus bersikap seperti apa. Lala memilih menundukkan pandangannya.


Revan terbangun dari tidurnya setelah merayakan pergerakan dari arah sampingnya.

__ADS_1


pandangan Revan tertuju pada kakaknya yang terlihat kaget.


"ada apa? tanyanya santai pada kakaknya yang masih diam di depan pintu.


"bukankah seharusnya aku yang bertanya!"


"kenapa memangnya?"


"astaga Revan, bagaimana bisa kau begitu kejam. kau memerintahkan staf mu mengerjaan hal aneh itu sementara kau dengan santainya tertidur..!, memang kau fikir dia sedang berdongeng hah" Riva tidak habis fikir dengan sikap adiknya ini.


"apaan sih"ucap Revan sembari beranjak ke kamar mandi untuk mencuci wajahnya.


namun reaksi Sasa berbeda dengan Riva, anehnya dia berfikir kalau sekarang rekan kerjanya itu bukan sedang bekerja melainkan sedang santai.


bagaimana tidak, dia harus mengecek semua datang yang harus segera ditembuskan ke sekertaris Dimas sementara rekannya sedang duduk manis dan membaca. ingat hanya membaca, bahkan dia bisa melihat wajah tuan mudanya dengan leluasa bukan, karena tuan muda yang sedang tertidur.


"kau boleh kembali ke meja mu, terimakasih sudah mengantar" suara Riva menyadarkan Sasa dan membuatnya memutuskan arah pandangannya dari arah depannya.


Sasa menetralkan ekpresi dirinya dan memilih kembali ke meja kerjanya.


"saya permisi nona..," sebelum membalikkan badan Sasa menatap ke arah rekan kerjanya " kau tidak ikut keluar, bukankah pekerjaan mu sudah selesai disini" entah sadar atau tidak tapi ucapan Sasa terdengar sangat menusuk.


"oh iya.." buru- buru Lala merapikan berkas yang ia baca. dan berniat untuk keluar kembali ke meja kerjanya.

__ADS_1


"kau duduk kembali" tunjuknya pada Lala. " dan kau kembali ke meja kerjamu, terimakasih sekali lagi" ucap Riva pada Sasa.


Sasa segera keluar ruangan setelah mengiyakan perintah nona Riva.


kenapa semua orang seolah mengistimewakan dia. sebenarnya ada apa sih?, atau cuma perasaan aku aja...


huhhh....membingungkan


batin Sasa seraya duduk kembali dan memulai melanjutkan kerjaannya.


sementara Lala yang memilih duduk kembali di sofa sesuai perintah nona Riva, saat ini tengah merasa gugup yang teramat sangat.


masalah apa lagi ini sekarang. dia harus berada pada situasi yang cukup mendebarkan. bagaimana tidak dia harus berhadapan dengan kakak beradik dari Jaya Group atau atasannya langsung.


berdebat dengan mereka sama dengan mengiklaskan karirnya di Jaya Group.


🍀


🍀


🍀


🍀

__ADS_1


🍀


🍀


__ADS_2