
"huhhh....lain kali kasih kode apa ke kalau nona Riva datang" suara Dimas terdengar samar.
Revan mengernyit dan menatap sahabatnya" kenapa memang?" merasa heran.
"kau tau sendiri, dia agak sentimen kalau ama gue. perasaan ama yang lain biasa aja."
"perasaan loe aja" jawabnya pendek.
"gue serius..!" Dimas meninggikan suaranya. " loe enggak liat dia kesel banget ama gue!" Dimas merasa kesal sendiri.
"apaan sih loe, dia gitu karena kita lagi dikantor dan masih jam kerja aja. biasanya juga enggak gitu.." bela Revan
"yang suruh dia datang pas jam kantor siapa?. kalau dia suka kesini kenapa enggak kerja disini aja sih. buat orang was was aja..!" kekesalan Dimas tampaknya belum mereda.
"loe yang suka kenapa dia yang ribet sih.." jawab Revan telak.
Dimas tentu saja terkejut mendengar jawaban sahabatnya, bagaimana bisa?. setau Dimas Revan adalah manusia yang paling apatis.
tapi berbeda kali ini.
"kau tau..?" Dimas memastikan
"kau fikir aku bodoh, sampai enggak sadar soal itu"
"sejak kapan?"
"apanya"
"loe tau soal itu"
"sudah lama.."
Dimas menatap sahabatnya dengan intens" tumben..?" ucapnya.
tok tok tok
fokus mereka terarah pada pintu yang diketuk. Dimas memilih merebahkan punggungnya pada sandaran sofa, disaat Revan mempersilahkan masuk orang yang mengetuk pintu.
Lala masuk dengan ragu." maaf tuan saya mengganggu" suara Lala terdengar.
"ada apa?" tanya Revan.
"maaf tuan, saya berencana mengambil dokumen yang akan saya periksa. saya akan kerjakan dirumah saja" ucap Lala menyampaikan maksudnya.
__ADS_1
" kenapa tidak dikerjakan besok saja?" Revan bertanya
"biar lebih ringan saja tuan" Lala merasa takut tapi dia harus menyampaikan hal ini.
sekalipun tuan Revan yang meminta, dia tidak ingin melimpahkan pekerjaan di meja stafnya kepada rekan kerjanya.
Lala merasa tidak enak dengan rekannya.
walaupun pekerjaannya di ruangan tuan Revan pun tidak bisa dikatakan mudah.
"kerjakan sekarang saja" suara Dimas menengahi. "dari pada lembur dirumah lebih baik lembur disini kan. jadi kalau ada yang tidak jelas bisa langsung kau tanyakan pada tuan Revan" tambah Dimas.
Revan merasa heran dengan saran sahabatnya. dia merasa kalau Dimas ada maksud tersembunyi soal ini.
"tapi ini sudah jam pulang kerja pak.." ucap Lala memberi jawaban ke sekertatis tuannya.
"lembur lah, berdua" menunjuk mereka dengan jari membentuk huruf V yang mengalah ke sahabat dan staf istimewa sahabatnya.
" toh dirumah kamu tetap akan lembur juga kan?. paling tidak di sini ada yang bantuin kalau kamu kebingungan.." sambung Dimas.
Revan yang mendengar usul sahabatnya merasa tidak suka, dia tidak ingin memporsir tenaga stafnya.
"tidak perlu, biar besok saja kamu lanjutkan, sekarang kamu boleh pulang.." Revan mematahkan apapun rencana sahabatnya.
tapi membantah sekarang, akan sangat tidak sopan bukan.
"baik tuan. kalau begitu saya permisi.." Lala memilih mendengarkan tuannya. yang penting dia istirahat yang cukup untuk hari ini.
dia akan melanjutkan pekerjaan apapun itu besok.
Dimas menatap tajam sahabatnya setelah staf itu keluar ruangan.
"dikasih kesempatan malah dibuang aja loe." Revan mengernyit mendengar penuturan sahabatnya.
"maksud loe?" tanya Revan.
"kirain dah sadar loe. heh.....buang waktu gue aja..!"
"apaan sih?"
"loe enggak sadar kalau loe tertarik sama staf itu bahkan di hari pertama kalian ketemu.." pukul telak Dimas kali ini. mencoba menyadarkan temannya yang apatis. tidak hanya pada orang lain bahkan pada dirinya sendiri.
"sadar kok.."jawab Revan pelan. " aku coba buat buktiin aja, apa perasaan gue hanya sekedar perasaan kasihan, kagum atau apalah namanya" jelas Revan.
__ADS_1
prok prok prok
"hebat..." mengangguk-anggukan kepalanya. " sahabat gue, sudah berubah ternyata" ucap Dimas dengan terus bertepuk tangan. seolah bangga dengan perkembangan sikap sahabatnya.
"hah...., bingung gue. berasa mimpi aja sih.." ucap Revan mendongak ke arah langit-langit ruangannya.
" kenapa?, bukan karena kalian tidak sepadan kan?," terka Dimas.
sebenarnya itu juga yang membuat Dimas memilih menjadi pengecut. dia menutup rapat semua hal tentang perasaannya, karena merasa tidak pantas.
padahal kondisi dia jauh lebih baik dari pada staf istimewa tuannya.
"nah loe sendiri gimana?" Revan penasaran sekaligus mengubah topik pembahasan. karena setaunya sahabatnya ini cukup pintar menyembunyikan rasa sukanya.
"loe enggak masalah?" tanya balik Dimas.
"kenapa harus jadi masalah?" tidak mengerti.
"yang membuat kita dekat, hanya karena aku anak dari papa Surya" jawab Dimas pelan.
"Bodoh...!, justru karena itu gue enggak masalah. bayangin coba kalau kakak gue dapat cowoknya yang serupa dengan brengsek itu. hah......." Revan membuang nafas kasar, menahan kekesalannya.
"gue juga enggak rela, tapi kalau nona suka dan cinta mau gimana lagi.." Dimas semakin terdengar lemah.
"justru itu, pepet terus bodoh..!" geram Revan.
"halahhhh....., kaya loe bisa aja. tiap hari modus doang bisanya. untung loe bosnya jadi bisa modus dengan dalih kerjaan, lah gue....?" kesal Dimas pada sahabatnya.
Revan memutar bola matanya jengah, karena pembahasan kembali lagi tentangnya.
mereka terus membahas berbagai macam hal. sepertinya mereka lupa kalau mereka masih di kantor.
memang hanya di jam pulang mereka bisa bebas membahas berbagai hal. meski terkadang sikap mereka tidak selayaknya tuan dan sekertaris, tapi mereka akan sangat disiplin kalau sudah berkerja. kecuali di saat hanya ada mereka bedua.
🍀
🍀
🍀
🍀
🍀
__ADS_1