
Makan siang selesai disiapkan oleh OB, Revan berdiri dan berjalan ke arah sofa dengan Lala yang masih menekuri pekerjaannya di meja kerja tuannya.
"istirahat dulu. kita makan" ucap Revan dengan pandangan memindai makanan yang disediakan.
Lala yang mendengar suara tuannya, memutar badannya dan melihat kearah tuannya.
apa dia berbicara dengan ku. tapi kayanya tidak mungkin?.
Lala bingung kalau bukan dirinya lantas siapa.
tapi tuan muda Revan mengajaknya makan siang bersama pada satu meja, itu sangatlah mustahil.
"kamu bisa lanjutkan pekerjaan mu nanti!" suara Revan terdengar kembali.
"saya tuan?" meski ragu Lala tetap bertanya seraya menunjuk dirinya.
"memangnya siapa lagi!, kita hanya berdua disini" Revan terdengar kesal.
Lala beranjak dan mendekat pada tuannya. "saya makan di kantin kantor saja tuan" usul Lala.
Revan mengalihkan pandangannya pada stafnya. "kau gila bagaimana bisa saya menghabiskan makanan sebanyak ini!" ucap Revan tegas.
Lala yang mendengar itu merasa tidak nyaman. tapi akan tambah tidak nyaman kalau dia harus makan satu meja dengan tuan mudanya.
Lala masih berdiri dan terlihat bingung.
"astaga apa kau akan tetap berdiri!" Revan mulai menunjukan kekesalannya.
"baik tuan muda" Lala pasrah dan duduk di sofa panjang di ruangan itu.
mereka mulai makan dalam diam. menikmati degupan jantung yang seolah memompa kuat, namun dalam makna yang berbeda. dimana Lala dengan kebingungannya sedangkan Revan dengan perasaannya yang membuncah.
Revan akui sepenuhnya, kalau dia merasa nyaman tapi melihat kegelisan pada staf istimewanya membuat dia merasa canggung.
apa dia salah, menggunakan kekuasaannya untuk dekat dengannya.
"bagaimana makanannya?" tanya Revan mencoba berbicara.
"enak tuan"
__ADS_1
"kamu suka?"
"khmmmm" Lala bingung menjawabnya
"jujur saja, karena itu penting. anggap saja kamu sedang meriview makanan dan saat ini mereka sedang menunggu reaksi mu." jelas Revan. sepertinya topik ini bisa di pakainya kali ini.
"makanannya enak tuan, sangat enak malah. tapi.....kalau untuk memakannya lagi kayanya tidak" jujur Lala
"kenapa?" mengangkat alisnya.
"makanannya terlalu berminyak tuan, maksud saya rasanya terlalu mendominasi yang lain sehingga disaat saya makan makanan utamanya, makanan yang lain tidak terasa enak. lebih tepat bikin enek tuan." jelas Lala panjang lebar.
dia tersentak sebentar melihat reaksi tuannya yang langsung beranjak dan mengambil ponselnya di atas meja kerjanya.
setelah Revan kembali dia mencoba menghubungi seseorang. disaat Revan mencari kontak orang yang akan dihubungi Lala sedikit menundukan kepalanya. merasa tidak nyaman atas ucapannya.
"maaf tuan"ucap Lala lirih.
Revan mengernyit. sebelum menjawab permintaan maaf dari stafnya. ponselnya sudah terhubung dengan orang diseberang sana.
📱
". . ."
📱
sambungan terputus, dan Revan menatap stafnya. entah kenapa dia tidak suka melihat stafnya tertunduk seolah terintimidasi.
"angkat wajah mu" dengan pandangan tidak lepas dari stafnya.
Lala mengangkat wajahnya, membuat pandangan mereka bertemu namun secepatnya Lala tertunduk kembali.
"maaf tuan. saya tidak berniat untuk lancang hanya saja...." pembelaan Lala terputus
"karna aku yang meminta untuk kamu jujur. benar begitu?"
meski ragu Lala menganggukan kepalanya. karena memang tuannya yang meminta dia meriview menu makan siangnya.
"maaf tuan" ucapnya berulang kali.
__ADS_1
"sepertinya stok maaf mu banyak sekali. sampai- sampai kau ucapkan berulang kali?"
Lala merasa ragu untuk menjawab dan memilih diam.
"mereka senang dengan hasil review mu" ucap Revan lagi sambil tersenyum manis.
Lala memberanikan diri mengangkat wajahnya. dia bingung dengan jawaban tuannya.
"mereka bisa menyempurnakan menunya segera. mereka mengirim makanan berbeda tiap harinya. dan mereka berharap ada hal yang aku sampaikan mengenai menu yang mereka buat.
entahlah apa saya harus senang atau sedih mengenai menu yang berbeda setiap harinya" ungkap Revan panjang lebar.
"mungkin karena anda adalah orang yang istimewa menurutnya. karena itu mereka berusaha untuk menjadikan anda yang pertama" sergah Lala.
"yang pertama?, hahahhaha lucu sekali mendengarnya. bukannya mereka menggunakan ku sebagai kelinci percobaanny?" tanya Revan pada Lala dengan sedikit mencondongkan badannya kedepan mengambil stik kentang yang juga di sediakan.
Lala tentu saja terkejut dengan jawaban tuannya " apa mereka seberani itu tuan?" tanya Lala.
"mungkin?........."
"itu artinya nyali mereka besar sekali tuan" celetuk Lala.
"bwahhhhahhhhahahhha" Revan terpingkal mendengar celetukan stafnya.
"sepertinya kita harus sering mengobrol begini!, ...." dengan senyuman yang belum surut dari bibirnya.
Revan benar-benar dibuat terpesona dengan semua hal yang dimiliki stafnya ini. entah dia harus mengartikannya apa? yang jelas dia merasa senang dan terhibur.
Lala hanya menanggapi dengan senyuman pula. ngobrol.... mendengar kata-kata itu membuatnya terkekeh dalam hati.
bagaimana bisa dia berani mempunyai fikirin mengenai hal itu. disaat bicara sebentar saja sudah membuatnya ketar ketir seperti sekarang ini.
untungny dia masih bisa mengendalikan kegugupannya.
🍀
🍀
🍀
__ADS_1
🍀
🍀