
🍀
🍀
🍀
Ting
Lift berbunyi dan terbuka untuk kesekian kalinya tapi tidak ada tanda-tanda kemunculan tuan muda Revan.
Untuk beberapa kali membuat Lala menghembuskan nafasnya. Merasa tidak tenang.
Padahal tidak ada yang bisa dia lakukan disaat tuan muda datang. Tapi entahlah hatinya meminta begitu.
Mungkin karena keadaannya kemarin membuat Lala khawatir berlebihan. Meskipun dia sadar, dia bukan siapa-siapa tuan Revan lagi.
"mungkin dia perlu istirahat.." Gumam Lala pelan dengan kepala menunduk kearah berkas didepannya. Mencoba meyakinkan diri untuk tenang.
"siapa yang perlu istirahat..?" tiba-tiba suara Dimas terdengar mengagetkan Lala.
Membuat Lala berdiri tegak kearah tangan kanan tuan mudanya ini.
"tidak pak.." jawab Lala pendek.
"kenapa ngeliatin lift terus...?"Dimas masih penasaran. Sepertinya dia menikmati keresahan staf dari tuan mudanya ini.
"hmmmm....."Lala tampak ragu
Dimas menaikan alisnya seolah berkata, apa....
"kenapa jam segini tuan mu Revan belum datang. Maaf pak bukannya saya lancang hanya saja,...." pembelaan Lala terhenti disaat Dimas menjawab dengan santai.
"kau lupa dia tuan muda Revan yang bisa datang dan pergi kapan saja. Karena dia bosnya tentu saja." Dimas menjawab dengan santai.
Bahkan jawaban itu adalah hal fakta yang menyesakkan bagi Lala
Iya dia tuan muda Revan, andai saja dia laki-laki biasa. Mungkin aku tidak akan seragu ini.
"malah ngelamun......." Dimas menjentikkan jarinya didepan wajah staf tuan mudanya.
"oh iya, saya minta jadwal tuan muda satu minggu ke depan..." Dimas mengucapkan maksudnya menghampiri staf tuan mudanya.
__ADS_1
Dimas bahkan tidak berniat menjelaskan tentang tuan mudanya, berharap stafnya ini bisa mencari tahu sendiri mengenai tuan yang merangkap sahabatnya itu.
"baik pak, akan saya siapkan..." Lala menjawab dan mulai bergerak di depan komputer untuk mencetak jadwal tuan mudanya.
"kalau sudah siap, bawa keruangan saya" Dimas memerintah seraya bergerak kembali ke ruangannya.
"baik pak" Lala menjawab lagi.
Lala memutuskan melupakan sejenak hal mengenai tuan muda Revan, dia kembali fokus ke pekerjaannya.
Berharap perkerjaan yang menumpuk mampu membuatnya lupa pada tuan mudanya itu.
Meski baru kemarin, Lala merasa ada yang hilang. Dan ini sangat terasa menurutnya.
Waktu terus berjalan dan jam istirahat tiba Lala memutuskan untuk memakan bekal yang dibawanya. Dia bisa makan di ruangan pantry nanti, selain karena alasan hemat juga karena kebutuhan makannya sangat banyak sisa belanja dengan tuan Revan.
Seharusnya kami makan bersama. Karena itu bukan dia membelanjakan barang sebanyak itu untukku.
Ditengah fikiran yang berkecamuk, Lala teringat soal kartu yang diberikan tuan Revan waktu itu.
"oh iya, kartunya masih sama aku. Gimana cara mengembalikannya supaya tidak canggung. Atau aku kasih pak Dimas aja. Biar pak Dimas yang memberikan ke tuan Revan" Lala mengangguk seolah setuju dengan idenya. Dia hanya perlu memberikan kartu itu pada Dimas dan masalah selesai.
Lala segera menghabiskan makan siangnya, mulai menyiapkan beberapa buah potong untuk dimakan nanti dimeja kerjanya.
Lala berjalan dengan tangan membawa piring yang berisi buah potong dan tangan satunya membawa wadah bekalnya.
Ting
Suara lift terdengar dan tuan muda Revan berada di dalamnya. Lala yang mendengar suara Lift terbuka mengalihkan pandangannya ke arah lift. Dan apa yang dia lihat cukup membuatnya membeku di tempatnya berdiri.
Revan berjalan keluar dari lift dengan gagahnya, entahlah pesonanya seolah menyihir suasana lantai teratas ini.
Ya meski yang ada dilantai teratas ini hanya beberapa orang saja. Revan berjalan dengan aura dinginnya dengan tangan dimasukkan kedalam saku celananya. Diikuti sekertaris Dimas dibelakangnya.
Lala terpaku di tempatnya berdiri, bagaimana bisa sikap tuan yang biasanya sangat ramah berubah drastis dalam sehari.
Aku hanya terbiasa dengan sikap manisnya. Sadarlah La ini yang kamu inginkan. Dan dia tuan muda Revan.
Lala duduk kembali dan memulai melanjutkan pekerjaannya. Meski penasaran Lala membuang jauh semua rasa ingin taunya karena memang sudah bukan ranahnya lagi.
Sedangkan didalam ruangan Revan menghempaskan bokongnya di kursi kebesarannya. Moodnya tiba-tiba jelek setelah melihat wajah stafnya. Jelek bukan karena tidak suka hanya rasa sakit dan sesak masih mendominasi perasaannya.
__ADS_1
"gue balik keruangan...." Dimas beranjak dari duduknya berniat meninggalkan sahabatnya untuk kembali bekerja.
"Dim........" memanggil dengan pelan. Bahkan posisinya masih bersandar disandaran kursi kebesarannya.
"kenapa?, ada apa...?" tanya Dimas tidak sabar.
" aku sayang dia....." Revan mengungkapkan perasaannya. Dimas tidak hanya tempat berkeluh kesah soal kerja saja. Melainkan masalah hati juga.
Tuan Revan memang terkenal terbuka orangnya. Dia bisa terbuka dengan semua sahabatnya tanpa terkecuali. Tapi hanya dengan mereka, berharap sifat terbukanya mendatangkan solusi yang dari masalah yang tengah dia bicarakan.
"Hah....., terus kenapa diam-diaman. Kaya ABG aja. Kalian sudah dewasa masalah kaya gini seharusnya bukan masalah lagi..." Dimas merasa gemas dengan sikap kedua pasangan yang sedang memilih saling diam.
"Dia enggak sayang sama gue..." Revan menjawab tidak kalah pelannya dengan fakta.
"Hah...., itu lagi. Dari dulu juga loe tau kalau dia enggak sayang loe. Terus kenapa mau coba...?" Dimas menyadarkan sahabatnya.
" gue kaya maksa dia banget Dim, dan gue..." ucapan Revan terpotong.
"alahhh klise, dulu loe gigih banget kaya orang yakin aja bisa dapatkam staf kita itu. Lah sekarang?. Kaya enggak ada semangat gitu..." Dimas memukul telak pada luka yang belum sembuh. atau bahkan belum ada niat untuk diobati.
"mama bilang...." Lagi-lagi ucapan Revan terpotong.
"yang mau menjalin hubungan siapa?, mama bilang gitu karena kamu enggak fokus dan lambat...." Dimas berterus terang sekarang.
Karena membuka mata tuannya ini jauh lebih penting dari sikap kurang ajarnya.
"mama cuma mau lihat loe dan nona bahagia. Tapi masalahnya loe terlihat tidak bahagia dengan hubungan loe..." Dimas gemas sendiri menjelaskan maksudnya.
"tapi dia......." lagi lagi terpotong. Sepertinya Dimas senang sekali memotong ucapannya hari ini. Entah memang hari ini atau memang sudah dari dulu. Revan tidak terlalu memperhatikan.
Bahkan hari ini Revan membiarkan sikap kekurangajarannya.
Iya sikap penjawab Dimas kali ini terhitung sebagai sikap kurang ajar menurut Revan. Tapi karena memang sudah mumet membuat Revan hanya bisa mendesah dan membuang nafas.
" keluarkan semua pesona loe, buat dia klepek-klepek parah. Itu pun kalau loe masih ada pedona sih...." ucap Dimas menggoda sahabatnya.
Tidak sadarkan Dimas sikap kurang ajarnya mulai berlebihan dan tuan Revan terlihat mulai geram.
"sialan......" Revan mulai geram.
🍀
__ADS_1
🍀
🍀