
🍀
🍀
🍀
Hening
Bingung mau bicara apa mereka tetap berjalan. Tidak terasa mereka sudah sampai di depan kos.
Kos dua lantai itu tampak tenang dan aman.
Kos khusus perempuan dengan beberapa peraturan yang mengikat penghuninya.
Kebanyakan orang tidak suka diatur, namun berbeda dengan Lala. Justru dia merasa aman disaat ada peraturan seperti itu.
Di depan gerbang kos tampak satpam berjaga yang otomatis membuka pintu jika melihat penghuni kos datang atau pergi.
Karena memang satpam sudah mengenali hampir semua penghuni kos ini.
"Sudah sampai tuan, sekali lagi terimakasih" ucap Lala kembali membungkukkan badannya sedikit.
Revan terus menatap kos dua lantai itu.
"Kamar mu yang mana?" Tanya Revan penasaran.
" Kos pertama dari kanan tuan, lantai dua" jawab Lala.
"Apa aman?" Kembali bertanya
" Aman tuan, selain ada penjaganya beberapa orang tamu tidak di ijinkan masuk jika tidak ada hubungannya dengan penghuni kos" jelas Lala
Revan mengangguk tanda mengerti.
"Tapi lumayan jauh ke kantor?, Kenapa tidak mencari yang lebih dekat lagi?" Masih merasa penasaran.
"Uangnya cukup disini tuan, lagian kalau yang dekat kantor pasti mahal" jawab Lala terus terang.
"Mbak sudah pulang? Tiba- tiba penjaga kos menginterupsi percakapan mereka.
Karena merasa aneh, salah satu penghuni kos itu sudah pulang tapi hampir 15 menit berlalu belum juga masuk.
Karena itu penjaga kos itu bertanya. Takutnya ada apa-apa.
"Iya mang". Jawab Lala.
__ADS_1
"Tuan kalau gitu saya masuk. Sekali lagi terimakasih sudah mengatar saya" ucap Lala sekali lagi.
"Iya, masuklah" Revan enggan beranjak sebelum Lala masuk ke kosnya.
"Iya tuan" Lala masuk setelah di bukakan gerbang.
Penjaga kos tampak menyapa tuan Revan dengan sedikit menampilkan senyumnya.
Lala terus naik dan menbuka pintu kamarnya, sebelum masuk kamar Lala menatap kearah gerbang di mana tuan Revan berada.
Karena gerbang yang hanya setinggi bahu orang dewasa membuat Lala masih dapat melihat tuan Revan yang menatap ke arahnya.
Lala menampilkan senyum manisnya sebelum masuk kamar dan sebagai rasa terimakasihnya.
Setelah memastikan stafnya masuk kamar, Revan beranjak dan kembali ke mobilnya.
Kembali melesat dan membelah jalan malam ini.
Dia merasa senang, entah kenapa?. Revan mengingat kembali di saat dia keluar kantor karena baru saja menyelesikan pekerjaannya.
Mendapat tawaran dari sekertaris sekaligus sahabatnya untuk pulang bersama namun Revan menolak karena ingin membuang penat dengan mengemudi sendiri mobilnya.
Revan menghentikan laju mobilnya di saat melihat orang yang sangat dia kenal tengah duduk termenung.
Entah termenung atau apa yang jelas itu terlihat dari wajah lesunya.
"Aku anggap ini awal yang bagus untuk hubungan ini" Revan berharap ini adalah awal yang baik.
Saat di tengah kegundahan karena mencari alasan atas perasaannya, kejadian tadi dianggapnya sebagai penerang dari jalannya yang gelap dan awal baru untuk hubungan mereka.
...****************...
Pagi di gedung utama Jaya Group, mulai terlihat berbagai jenis kesibukan yang dikerjakan oleh masing-masing penanggung jawab.
Mood Revan sangat baik pagi ini, terlihat dari senyum yang tak kunjung surut.
Sebagian karyawan yang mengenalnya sebagai CEO yang dingin tentu saja merasa aneh.
Julukan CEO dingin dari beberapa karyawan, terkadang membuatnya bingung. Karena seingatnya dia bukan tipe orang seperti itu.
Dia terkesan tidak perduli dengan sekitar, mungkin itu alasan terbesar adanya julukan itu.
Tapi Revan memilih bersikap seperti biasa (tidak perduli).
ting
__ADS_1
Lift terbuka.
Revan keluar dengan senyuman, tapi seketika surut disaat melihat seseorang yang berdiri di depan meja stafnya.
"Kau sudah datang?" Seseorang lebih dulu menyadari kedatangannya pagi ini.
"Seperti yang kau lihat!" Jawab Revan pendek.
"Maaf tuan, tuan ini ingin bertemu anda" Sasa memilih memberitahu tuannya disaat melihat perubahan raut wajah tuannya.
Sedangkan Lala hanya diam memperhatikan tuannya.
"Iya, lanjutkan pekerjaan kalian" jawab Revan dengan terus berjalan ke arah ruangannya di ikuti orang itu.
Sebelum masuk ruangan Revan berhenti " suruh sekertaris Dimas kerungan saya sekarang" perintah Revan pada stafnya.
"Baik tuan" jawab mereka serempak.
"Ada apa?" Tanya Revan to the point
"Santai dong. Aku hanya mau lapor kalau aku akan kerja disini." Mencoba menjelaskan
"Radit...." Bentak Revan.
"Ahhahahahhahah" pria bernama Radit itu terbahak-bahak melihat sikap sepupunya ini.
Iya Radit adalah sepupu sekaligus rival dari Revan. Entah kenapa dia sangat membenci Revan.
Padahal orangtuanya selalu memintanya untuk mencontoh dan mendengarkan Revan.
"Santai aja, aku enggak akan ganggu posisi mu tapi malah akan sangat membantu mu" jelas Radit. Dan entah kenapa suaranya terdengar sangat mengejek.
tok tok tok
Sejenak mereka mengalihkan pandangannya kearah pintu.
"Masuk"
"Maaf tuan muda, ada yang bisa saya bantu?" Dimas paham karena ada seseorang yang merupakan rival tuan mudanya sekaligus ini baru saja masuk jam kerja membuat dia bersikap layaknya sekertaris.
"Ah gini. Mulai besok aku akan mengisi posisi wakil CEO dan sepertinya saya perlu sekertaris atau asistant lah. Dan kalau bisa saya mau staf didepan yang bernama Lalisa." Perintah Radit ke Dimas, menjawab pertanyaan tangan kanan sepupunya ini.
Dimas dan Revan mengernyit merasa kaget atas perintah Rdait mengenai sekertaris. Terlebih orang yang Radit pilih adalah staf istimewa tuan muda.
🍀
__ADS_1
🍀
🍀