
Aroma khas musim panas menyeruak. Bau rumput yang baru saja di potong, anak-anak yang dengan riang bermain permainan tradisional, ibu-ibu yang bersendau gurau dengan pembahasan yang ngalor ngidul tentunya. Sebuah pemandangan penuh ketentraman khas pedesaan. Namun tidak denganku. Karena sedikit terguncang dengan kejadian yang baru saja kualami. Tanpa pikir panjang aku menyeret kaki yang masih kehilangan separuh kekuatannya ini untuk menyusul satu satunya orang yang dapat kupercaya.
"Ayu yu ayu.". Teriakku terengah-engah pada seorang wanita dengan blous panjang warna navy.
"Ngapain kamu nyusul kesini??.". Tanya ayu keheranan.
Aku nyaris tak mampu menjawab sedikit pun pertanyaannya. Jangankan bicara, nafas pun rasanya tersengal-sengal. Segera ku atur nafas yang sedari tadi meletup-letup demi mencoba menyusun kata per kata. Sementara itu di seberang warung sederhana ini terlihat beberapa pasang mata wanita paruh baya yang menyipit layaknya wartawan mencari berita, dengan mencoba membaca suasana demi membuat cerita yang menurut mereka seru untuk di sebar luaskan.
Setelah sedikit merasa sudah sedikit tenang, aku mulai merangkai kata. Kuteguk sebotol air mineral yang di berikan ayu. Cukup membuat basah tenggorokanku yang sedari tadi mengering karena panik. Masa bodoh dengan pembual tua di ujung seberang yang menatap kami berdua sinis. Hingga salah satu dari mereka menyebrang jalan demi menghampiri kami. Entah apa yang di Inginkan wanita dengan wajah judes bahkan terkesan menjengkelkan itu dari kami.
"Heh! Anak kacung. Kamu itu nggak tau diri yo. Pulang dari kuliah di kota bukannya bawa manfaat malah bawa lanangan (pria) yang bukan muhrim. Gayanya aja pake jilbab tapi kelakuannya nggilani (menjijikkan) !!,". Hardik ibu-ibu itu.
Kata katanya sungguh tajam melebihi belati. Sungguh gatal aku mendengarnya. Ingin ku jahit mulutnya yang nyinyir menyakitkan perasaan itu.
"Ini Temen ayu dari kota Bu RT, dia yang kemaren pingsan di kebun kopi milik almarhumah Bu tari. Kan suami ibu juga yang nolong dia terus di bawa ke rumah ayu.". Jawab ayu tenang tanpa menoleh kepada orang yang menghardiknya.
"Chhhh" balas ibu itu seraya matanya merah melotot seakan mau copot dari tempatnya.
Aku heran dengan jawabannya. Sungguh tak ingin membalas kata-kata yang menyakitkan seperti itu, dan lagi dia menjawabnya dengan sangat tangkas. Namun jawaban yang nampaknya tak membuatnya puas, membuat ibu- ibu jutek yang ternyata menjabat menjadi ibu RT ini semakin memanas.
"Dasar cewek munafik! Awas kamu nanti kalo hamil duluan. Saya bakal usir keluarga kamu dari kampung sini !.". Bentaknya dengan nada tinggi dan mata yang merah layaknya intimidasi singa yang sedang mengancam mangsanya.
"Tenang Bu, ibu saya nggak pernah mengajarkan hal-hal buruk seperti itu. Insya Allah saya akan menjaga akhlak saya dengan baik,". Jawab ayu dengan tersenyum kecut.
"Dasar anak pembantu ja..." Hardiknya belum selesai karena terpotong sebab aku sudah jengah mendengarnya.
"Stop!!! Ibu yang terhormat, saya harap ibu dapat memilah dan memilih apa yang ibu ucapkan. Kalaupun saya berniat jahat dengan ayu biarlah saya yang bertanggung jawab. Tapi saya mohon jaga lisan kotor ibu agar jangan sampai timbul fitnah !!!.". Bentakku dengan nada yang tak kalah tinggi.seraya menggebrak meja di depanku membuat semua pembeli warung sembako yang sekaligus menjual kopi ini terkaget dan seketika melihat ke arah keributan yang kami buat.
Terlihat sepertinya hardikanku berhasil. Buktinya dia terdiam dan pergi melenggang dengan tetap memasang wajah ketusnya. Sungguh wajah yang menyebalkan. Menuju ke arah gerombolan yang sedari tadi lapar menunggu berita yang sedang panas dari ketua mereka.
__ADS_1
"Putra, kamu..". ucap ayu lirih. Belum sempat menyelesaikan kalimatnya sudah ku sela terlebih dahulu.
"Cukup. Ayo kita pulang.". Potongku sembari melenggang pergi dengan tangan yang menggenggam erat jari jari mungil milik ayu.
Setelahnya tak ada kata-kata dariku maupun dari ayu. Kami larut dalam pikiran masing-masing. Terutama aku yang masih sangat sakit hati dengan cibiran tajam dari ibu-ibu yang ternyata memang benar dia ibu RT di daerah sini. Setelah masuk ke dalam rumah kami lanjut duduk di sofa ruang tamu. Tetap dalam mode diam masing-masing. Hingga akhirnya aku tak tahan...
"Kamu kenapa sih tadi diem aja. Itu si tua Bangka udah keterlaluan ngatain kamu sampek kaya gitu. Kamu cuma senyam senyum gajelas kaya gitu.". Ujarku yang daritadi menahan ingin menyuarakan kekesalanku pada ayu yang hanya diam saja di perlakukan seperti itu.
"Ssssttttt jangan kaya gitu, nggak boleh kejahatan di balas kejahatan. Biarin mereka mau gosipin apa aja terserah mereka. Ingat orang berpendidikan bisa di lihat dari cara mereka bicara dan menyelesaikan masalah. Kan Yang penting kita kan nggak kaya yang di omongin mereka. Betul nggak,". Jawabnya seraya menempelkan jari telunjuknya di bibirku di Sertai senyumannya yang meneduhkan hati, seketika hilang semua rasa emosiku bagaikan musnah tak bersisa. Aduh sialan kenapa tiba-tiba jadi bisu lagi aku, batinku.
"Assalamualaikum mbul, sang pangeran Didik datang jadi sambutlah dengan meriah,". Salam dari orang asing membuyarkan romantisme kami berdua. Ashhh kenapa sih selalu aja ada gangguan. Nggak demitnya nggak manusianya sama-sama nggak suka liat gue bahagia, gerutuku dalam hati.
"Eh, waalaikumsalam, Masuk dik sini duduk dulu.". Ujar ayu mempersilahkan tamunya masuk.
"Putra, ini sepupu ayu yang tadi pagi ayu ceritain. Namanya didik jangkrik.". Lanjut ayu diiringi tawa kecil.
"Ini ya calon nya si umbul? Ganteng juga, eh tapi masih gantengan aku nding, hehehehe.". Tukasnya.
Ayu reflek mencubit bahu si didik. Sang empunya bahu nampak meringis kesakitan. Aku mengernyitkan dahi mendengar ucapannya. Calon? Apakah secepat itu kabar menyebar? Sampai mana sebenarnya berita perjodohanku dan ayu menyebar? Ah Daripada pusing mikirin yg nggak penting saat ini lebih baik aku mencoba menikmati saja semua ini.
"Oh iya mas Didik, saya putra mahesa. Panggil aja putra.". Balasku memperkenalkan diri.
"Hehehe mulai nanti malem dek putra tidur di rumah saya ya. Gausah sungkan saya di rumah juga sendirian jadi kalo ada teman baru jadi ada yang di ajak ngobrol. Hehehehe,". Ujar Mas Didik menyalamiku.
"Maaf ya mas udah merepotkan.". Jawabku agak sungkan.
"Kok kamu manggilnya dek sih dik? Emang adikmu apa. Kan putra lebih tua dari kamu.". Ujar ayu menyela tak terima dengan cara didik memanggilku. Hehehehe Sebenarnya aku tak mempermasalahkannya namun ayu yang nampaknya tak terima.
"Lho lupa to kamu mbul, kamu kan adik sepupuku iya jadi otomatis calonmu ini juga jadi adik sepupuku. Piye paham to?,". Jelas mas Didik.
__ADS_1
"Terserah Kowe aja lah dik, aku mau beresin baju-baju nya mas putra dulu,". Tukas ayu sembari melirik ke arahku.
Baju? Mana mungkin aku punya baju disini. Kan aku juga terdampar disini bukan karena di sengaja. Lho? Bahkan aku nggak sadar kalau baju yang kugunakan bukanlah bajuku waktu terakhir kali pulang dari sini dan pingsan di tengah belantara. Apa mungkin ayu yang mengantikan bajuku ?? Hiiiii, bodoh kenapa bayanganku jadi macam-macam seperti ini. Mungkin akan kutanyakan lain kali saja.
"Ini mas, bajumu udah aku siapin, tapi apa kamu kuat bawanya?.", Tanya aku dengan membawa tas ransel.
"Kuat kalau cuma segini, tapi Kan aku nggak punya baju disini yu?,". Tukasku.
"Kemaren pas di pasar ayu beliin kamu beberapa setel buat kamu. Soalnya ayu tau kamu pasti butuh. Dan juga, Nggak usah di ganti, ayu ikhlas.". Pungkasnya.
"Oalah dadi obat nyamuk aku.". Cibir didik yang sedari tadi hanya mendengarkan ocehan kami berdua.
"Ya Allah, maaf dik aku lupa kalau ada kamu, hehehe.". Ujar ayu di selingi dengan tawa dari kami bertiga.
"Silahkan Pasangan baru, mau di lanjut nggak uwu uwu-nya? Tak tungguin,". Tanya didik dengan senyum genit menggoda kami.
"Jangan gitu mas liatnya, aku jadi geli sendiri hahahaha,". Ucapku sedikit meledeknya. Ternyata mas Didik orangnya sangat asik membuat aku yang notabene nya orang daerah lain cepat akrab dengannya.
"Yowes, ayo kita ke tempatku. Yu aku ijin bawa suamimu dulu ya. Oh iya salam juga buat budhe Tutik.". Ucapnya menyenggol bahuku tanda mengkodeku. Ayu yang Mendengar itu hanya terkekeh kecil dengan mengepalkan tangannya ke arah mas Didik yang cengengesan.
"Ayo mas,". Jawabku mengiyakan mas Didik. Yang diikuti anggukan olehnya.
"Assalamualaikum". salam kami berbarengan sembari melenggang pergi dari rumah ayu.
"Waalaikumsalam, dadaaa.", Jawab ayu melambaikan tangannya sambil melempar senyum. Senyuman terindah yang selalu membuatku klepek-klepek.
Akhirnya kami menuju ke rumah mas Didik. Rumah yang akan menaungiku sementara selagi aku memikirkan cara untuk mengungkap semuanya. Yaitu mengungkap penghianatan yang di lakukan salah satu benalu disana. Akan ku selesaikan misimu dulu ayah. Pasti !!! tunggu saja kedatanganku keluarga palsu.!!!
Bersambung....
__ADS_1