Misteri Rumah Nenek

Misteri Rumah Nenek
Apa Kau Tidak Menyadarinya!


__ADS_3

Embun pagi masih menetes lembut dari dedaunan yang hijau. Sejuk terasa masih menusuk tulang. Di rumah ayu yang dulu, sudah ramai warga yang ikut membantu pemakaman mas Didik. Dia meninggal dengan penuh hormat di dadanya. Tak ada lagi tawa ceria, sikap nylenehnya tutur katanya yang suka ceplas-ceplos. Kini semua sudah meninggalkan kami menjadi kenangan yang tak mampu terulang kembali. Meninggalkan kesedihan mendalam bagi kami yang merasa kehilangan sosok cerianya.


Sudah satu hari terlewati setelah kejadian pada malam Jum'at pahing itu. Hari ini kami berencana melakukan pemakaman terhadap jenazah mas Didik yang di temukan oleh polisi yang kembali langsung menyisir area terkutuk tersebut. Meski tubuh itu sudah hampir hangus terbakar. Namun kami tetap memakamkan jenazahnya secara layak. Terlihat ayu begitu terlihat terpukul atas kepergian satu-satunya anggota keluarganya yang tersisa.


Keranda besi dengan kain hijau beserta untaian bunga dan renda kalimat tauhid menghiasi setiap sisinya kini sudah diangkat. Empat orang sudah dalam posisi. Beriringan kami berjalan seraya terus melantunkan kalimat tauhid. Aku mencoba menenangkan ayu yang terus menangis sembari memeluk sekeranjang bunga tabur.


Terlihat ayu yang mendapat luka bakar pun ikut mengantarkan jenazah hingga sampai di area pemakaman desa ini. Kesedihan begitu ia rasakan karena kehilangan keluarga satu-satunya yang ia miliki. Di tambah luka bakar yang menjalar di sebagian wajah dan matanya masih belum mengering sempurna tentu akan meninggalkan luka permanen di seumur hidupnya.


Siang mulai terik. Matahari dengan sombongnya sudah mulai berdiri tepat di atas kami. Panas mulai menjalari tengkuk kami yang hadir di pemakaman mas Didik hari ini. Doa-doa dari salah seorang ustadz sudah selesai di panjatkan semua. Para pelayat pun sudah banyak yang undur diri karena harus melanjutkan aktivitas ekonominya masing-masing. menyisakan hanya beberapa orang di makam desa ini.


Tak terasa kali ini makam sudah benar-benar sepi, Meninggalkan aku, Wulan dan Ayu yang masih betah memandangi gundukkan tanah yang sudah terukir nama sahabat kami di batu nisannya. Kami semua benar-benar merasa kehilangan seorang sosok yang mampu membuat kami terhibur di kala gundah melanda hati kami.


"Apa rencanamu selanjutnya putra?" Tanya ayu sembari mengusap air matanya yang masih basah. matanya begitu sembab terlihat.


"Aku hanya ingin hidup bahagia yu, Nggak lebih. Kita hanya bisa berencana yu, namun tetap Tuhan lah yang menentukan. Kalo kamu sendiri gimana yu? Apa kamu nggak punya keinginan pindah. Secara, desa ini sudah banyak memberikan kenangan buruk untuk hidupmu." Balasku menatap balik ayu.


"Aku akan tetap tinggal di desa ini Putra, mau Bagaimanapun ini desaku. Dan rumah itu peninggalan ibuku. Aku nggak rela jika harus meninggalkan banyak kenangan manis disini sekalipun kenangan pahit itu selalu datang menghampiri." Ucap ayu menatap langit dengan pandangan nanar. Wulan yang merasa simpati langsung merangkul bahu ayu dengan lembut. Seakan memberi energi positif pada Ayu.


"Jangan pernah merasa sendiri Ayu. Kami akan selalu ada jika kamu butuh bantuan. ada kami yang selalu menganggap kamu sebagai keluarga juga." Ujar Wulan menenangkan Ayu yang mulai menitikkan air matanya lagi.


"Terimakasih." Balas ayu singkat.


"Paling tidak, sekarang kamu dan aku bisa terbang bebas yu, layaknya seekor merpati. terbang menembus tembok dan rantai yang sudah lama membelenggu kita berdua serta keluarga kita." Ujarku menutup perbincangan kami bertiga. kami bertiga seakan termenung di pikiran masing-masing. karena panas sudah mulai menjalar di sekujur tubuh kami, aku segera berpamitan untuk pulang pada mas Didik. berharap mas Didik bisa tenang di alam sana.


"Mas Didik, kami semua pulang dulu ya. Kamu pasti sudah bahagia ya disana mas, aku yakin itu. Oh iya, Pasti akan ku wujudkan pesanmu pas di warung kopi malam itu mas. Makanya do'akan aku dari sana ya mas. Terimakasih sudah memberikan kenangan manis pada kami semua. Assalamualaikum mas Didik.." ujarku berpamitan pada pusara mas Didik. Helaan nafas panjang coba ku hembuskan. Rasanya masih tidak percaya jika mas Didik harus secepat ini pergi meninggalkan kami. Akhirnya dengan langkah berat kami bertiga berjalan meninggalkan pemakaman umum ini.


"Emang mas Didik pesan apa si by?" Tanya Wulan polos saat sudah sampai di pinggir jalan besar.

__ADS_1


"Hehehehe. almarhum dulu pernah ngomong, dia pengen punya ponakan yang banyak katanya biar rame wul. Jadi..." Ucapku sembari merangkul Wulan yang masih terlihat bingung.


"Jadi apa by?" Balas Wulan lugu sembari mencoba melepaskan rangkulanku yang mengalung di bahunya.


"Jadi mulai hari ini, aku akan makan kamu setiap malam. Hehehehe." Tukasku menggoda Wulan dengan mencubit hidungnya.


"Ihh..malu ah by...." Gerutu Wulan yang sudah melepaskan diri dan berjalan lebih cepat.


"Hahaha..dasar bidan aneh" gelakku melihat tingkah Wulan yang begitu imut menurutku.


"Hemm, sepertinya kamu bahagia ya dengan Wulan?" Tanya ayu yang sudah berjalan sejajar denganku. Ayu berjalan cepat menyusulku dari belakang.


"Hmmm, begitulah." tukasku singkat dan bergegas kembali ke rumah Ayu dimana kendaraan kami di parkir.


Kami akhirnya sampai juga di rumah Ayu. Segera setelah itu aku meminta izin pada ayu untuk kembali pulang. Dan berjanji akan meluangkan waktu untuk mengikuti tahlilan nanti. Aku tak bisa membantu lebih lama disini. Wulan dari kemarin sudah mengeluh tidak enak badan. Rencananya kami akan mampir sebentar ke klinik setelah pulang dari sini.


"Mbak Ayuu, kami pamit dulu ya.. assalamualaikum.." ucap Wulan dan aku berpamitan pada pemilik rumah.


****


POV : Ayu


Dengan berat hati matanya terus memandangi punggung lelaki dan perempuan cantik yang sedang di mabuk asmara itu. Dadanya sesak dan perih. Seperti ribuan duri yang menusuk dari dalam hatinya melihat pemandangan itu. Ia pun sampai saat ini tak mengerti bagaimana dia bisa melepaskan Putra Mahesa demi Andre. Kini sesal itu kian menyesakkan dadanya.


"Terbang bebas katamu? Hiks...hikss...hiks.. Apa kau tidak menyadarinya Putra?!" Batin Ayu kian merasakan sakit.


Dengan wajah yang tertutup kerudung hitam miliknya. Menutupi sebagian luka bakar yang menggores wajah manisnya. Seakan kejadian tempo lalu itu bukan hanya merusak wajahnya namun juga semua masa depannya. Dengan berlinang air mata dan mulut yang tak berhenti mengutuki betapa malang nasibnya ia terus saja mengelus kasar bekas luka itu hingga sedikit terkelupas dan mengeluarkan darah segar..

__ADS_1


Arrrrgggghhhh.....


"Bagaimana aku bisa terbang jika kau sendiri malah mematahkan kedua sayapku bodoh?!"


"hiks...hiks....hiks...."


.


.


.


.


.


.


.


.TAMAT.


@This story was written by Nocturnal.


Ig : @Muffidkurniawan


Cp : 081325035160

__ADS_1


.Thanks for reading.


.love u all.


__ADS_2