Misteri Rumah Nenek

Misteri Rumah Nenek
Mencari jejak


__ADS_3

Siang itu aku berencana untuk menjemput bidan imut eh.. bidan aneh itu. Setengah jam dari rumahnya menuju polindes tempatnya bekerja selama ini. Mengabdi untuk masyarakat desa tanpa mengharap imbalan besar. Hanya ketulusan yang bisa menjadi penawar hati.


Setibanya aku di tempat itu, sambutan baik langsung kudapatkan dari senyuman manis bidan yang beberapa hari ini menjadi perawatku. Senyum manis di hiasi pipi yang kemerahan karena panas matahari membuatku berdesir. Teman-temannya juga seumuran dengannya namun pesona seorang Wulan memang sungguh luar biasa.


"Tuh ada yang lagi di jemput cama calon cuami tuh,". Goda salah satu temannya.


"Hissshh , apaan sih, aku terpaksa tau!,". Gerutunya.


"Woy aneh, ayo! Mau pulang nggak? Atau mau jalan kaki aja,". Kesalku karena dia tak juga beranjak dari tempat dia berdiri.


"Iya iya,". Ucapnya ketus, terlihat wajahnya begitu memerah, sungguh manis sekali.


Akhirnya kami pulang walaupun dengan pikiran masing-masing. Saling diam-diam memperhatikan satu sama lain dari kaca spion. Romance


Eh..kok jadi suka kangen liatin si Wulan ya aku, duh ayu gimana, nanti di cap Playboy dong gue. apa punya dua istri sekaligus aja. Ah nggak mungkin juga. Apa mereka mau di madu, hehehe belum pernah pacaran eh sekalinya Nemu langsung dua orang, nasib orang tamvan! Batinku berperang dalam monolog


"Ngapain senyum-senyum?!,". Sergah Wulan.


"Ibadah,". Jawabku singkat.


"Nggak boleh!,". Balasnya ketus.


"Lho mau ibadah kok nggak boleh?,". Tanyaku heran.


"Jangan senyum-senyum ke orang sembarangan apalagi cewek-cewek disini,". Jawabnya.


"Kenapa emang, cewek disini bahaya kah?,". Tanyaku lagi.


"Nanti aku bisa cemburu sama kamu, hehehe". Batin Wulan.


"Iiihhh udah gila ya, nggak di jawab malah gantian senyum-senyum sendiri?,". Godaku melihat semburat senyum merekah di bibir merahnya.


Satu cubitan kecil mendarat di perutku. Membuat aku meringis karena sedikit perih. Namun, melihat senyumannya membuatku ikut bahagia.


Tak terasa kami sudah sampai di rumah Wulan. Disana sudah berdiri pak Mardi dengan kemeja hitam dan celana kain panjangnya. Beliau ternyata menungguku.

__ADS_1


"Ayo jadi nggak mau ke rumah duka?,". Tanya pak Mardi sambil memakai peci hitamnya.


"Jadi pak, saya pakai jaket dulu ya pak sebentar,". Kataku bergegas turun menyambar Jaket kucelku.


"Ayo pak, kita berangkat,". Ucapku.


Terlihat Wulan dan pak Mardi nampak santai sedang berbincang-bincang di depan rumah. Layaknya bapak dan anak.


"Pak Wulan pengen ikut boleh?,". Tanya Wulan.


"Iya boleh, tapi...,". Belum selesai aku menjawab pak Mardi dengan sigap memotong perkataanku.


"Mau ngapain? Mau nyari si Andre mantanmu? Kamu masih berharap bisa ketemu sama dia, kamu kan tahu pak Solihin itu bapak angkatnya si brengs*k itu?,". Sergah pak Mardi, kini matanya berubah menjadi nyalang.


ternyata bapak angkat dari Andre? Batinku.


" Bagaimana pun, sejelek apapun kelakuan mereka, aku sudah kenal dengan mereka, dan seharusnya kita menjalin silaturahmi dengan mereka. Lagi pula aku hanya ingin berbela sungkawa hanya itu saja,". Ucap ayu gemetar.


"Yasudah kamu boleh ikut, tapi di bonceng sama nak Mahesa. Dan bapak berharap kamu jangan bertindak ceroboh!,". Balas pak Mardi dengan tatapan serius.


Setengah jam telah berlalu disini, tepatnya di rumah almarhum Pak Solihin yang sudah di makamkan. Terlihat Wulan gusar di sebelahku, dari gerak-geriknya seperti mencari seseorang. Apakah dia masih berharap mantannya akan kembali?


Karena merasa sedikit bosan aku mencoba berbincang dengan orang asli sini yang duduk di sebelahku. Kami duduk di depan emperan ruko tutup milik Tarjo yang memang tetangga terdekat dari pak Solihin. Aku ingin sedikit menyelidiki sendiri betapa janggal meninggalnya pak Solihin hari ini.


"Pak, kalo boleh tau, emm siapa kira-kira yang nemuin pak Solihin gantung diri pak? Saya jadi pengen tau sebenarnya Gimana sih pak ceritanya?.". Ucapku memancing obrolan dengan pria di sebelahku yang ternyata bernama mas Wardi.


"Em kalo yang pertama nemuin itu saya mas, di situ tuh di bekas kandang almarhum belakang situ tuh mas,". Ucapnya menunjuk di kebun belakang rumah pak solihin yang memang agak tak terlalu jauh dari ruko ini.


"Saya nggak sengaja mas ketemunya. Saya habis pulang ngronda di pos dan pulang sebelum subuh. Rumah saya kan jauh kalo muter lewat jalan gede. Jadi saya sama Tarjo lewat kebun aja biar cepet. Cuaca saat itu benar-benar dingin, Karena kebelet pipis saya masuk ke semak. Eh pas lagi buka resleting, nggak taunya saya lihat ada yang gandul-gandul di kandang kosong itu. Seketika ular saya langsung lemes mas. Saya pikir itu pocong mas, Saya takut banget Hampir lari pas waktu itu, lah saya undang si Tarjo. Ternyata dia malah lihat dari dekat, katanya itu seperti orang yang lagi nggantung,". Ucap mas Wardi menjelaskan.


"Nah, karena si lemot ini takut. Jadi terpaksa aku mendekati tubuh yang sepertinya sudah kaku itu. Tak senteri mukanya. Wah saya lihat dengan mata kepala saya itu pak Solihin sudah melet dan matanya putih semua hiiiii,". Imbuh teman mas Wardi Di sampingnya yang bernama Tarjo ini


"Langsung kami berdua lari kejalan besar. Si Wardi tak suruh ke rumah pak RW sementara aku pinjem motor mau lapor ke polisi, gitu ceritanya mas,". Imbuh mas Tarjo.


"Ishhh bukan takut Jo, tapi waspada!,". Kilah mas Wardi.

__ADS_1


"Heleh alesan wae kamu di di,". Balas mas Tarjo yang di sambut tawa kami bertiga.


"Hehehehe, Emang mas Wardi rumahnya dimana kok lewat kebun segala?,". Tanyaku penuh selidik.


"Di belakang sana mas, rumah saya dan mas Solihin saling membelakangi, hanya terpisah kebun kopi dan kakao saja. Hehehe malem itu nggak sengaja Tarjo ikut mau nginap sebab udah di kunciin emaknya,". Jelas mas Wardi.


Mendengar kesigapan mereka aku cukup salut pada mereka. Terbukti tidak semua orang desa itu tertinggal pemikirannya. Hanya sebagian kecil saja orang desa itu yang tidak mau merubah mindset mereka. Jadi mereka lah yang membuat diri mereka menjadi tertinggal atas pesatnya kemajuan dalam pola pikir.


Memang mendengar cerita mereka, tak ada yang di tutupi dari mereka sama sekali. Mereka benar-benar menceritakan semuanya walau tidak detail. Namun menurut beberapa polisi yang ku tanyai tadi. Mereka menemukan keanehan di kasus bundir ini. Mereka menemukan beberapa kelopak bunga mawar yang tercecer di seberang rumah pak Solihin.


Beberapa orang yang meronda juga melihat sekelebat bayangan pak Solihin keluar dari rumah dan berjalan ke arah belakang rumah. Para pria yang sedang berjaga itu tak menaruh curiga. Karena bisa saja beliau hanya ingin buang hajat karena WC di rumah itu terletak di luar rumah tepatnya di belakang rumah persis.


Dalam diam aku berpikir, Bahkan di TKP dimana pak Solikhin di temukan, banyak sekali tercecer Putung rokok merk L.E. di sekitar lokasi dan bahkan di depan rumah juga masih ada rokok yang belum habis di hisap. Namun setelah di periksa dari kantong pak Solihin yang ada hanya rokok merk Gudang Gula. Jelas ini milik orang yang berbeda. Bahkan di jalan depan rumah pak Solihin persis di temukan Putung rokok dengan merk yang sama dengan jumlah yang banyak. mungkinkah ada orang yang sengaja menunggu korban lengah sebelum menghabisinya?


Dan sepertinya dia Orang yang sama dengan orang yang iseng hadir di depan tubuh pak Solihin yang susah terbujur kaku. Entah apa yang di lakukan ya disini Hingga menghabiskan satu bungkus rokok sendirian karena terdapat 16 Putung rokok yang berati pas satu pack persis dan merk-nya L.E., apa yang dilakukannya disini? Tak bisa kubayangkan dia dengan santai menikmati, menunggu malaikat kematian perlahan-lahan membawa roh pak Solihin pergi dengan nikmat menghisap rokok favoritnya.


"Mas ayo pulang, udah mau Maghrib lho,". Rengek Wulan menarik lenganku.


"Wih sampeyan jos tenan (hebat sekali) mas, masih muda sudah punya bini cantik. Lha ini si Tarjo ini Sampek sekarang saja masih betah jadi bujang lapuk, hahaha,". Ucap mas Wardi nyerocos saja.


"Mana mungkin mas saya punya istri kaya Mak lampir gini, Yang ada saya bisa sinting mas,". Bisikku pelan-pelan pada kedua teman ngobrolku sore ini. Yang kembali di sambut gelak tawa dari kami bertiga.


"Tapi kayaknya aku kok nggak asing ya, kaya pernah lihat mbak tapi dimana ya?,". Sambung mas Wardi mengingat-ingat.


"Saya Wulan mas, bidan desa sini, saya saat ini masih tugas di polindes.". Ucap Wulan tersenyum ramah.


"owalah tambah cantik tenan sampeyan mbak,". imbuh mas Wardi lagi.


Seusai perkenalan singkat aku bangkit. Dan di seberang sana tepat di depan rumah duka. Tak jauh dari tempatku berdiri, Mobil hitam berjalan pelan dan berhenti tak jauh dari kami, kedua penumpang itu turun dengan bergandengan tangan erat. Dan sungguh wajah tak asing lagi bagiku turun dan menggandeng erat tangan seorang pria.


"Ayu!!!,". Teriakku.


"Andre!!!,". Teriak Wulan yang hampir bersamaan denganku.


Sejenak kami bertukar pandangan. Ternyata Teriakan kami bersamaan, membuat pasangan di depan kami dan beberapa tamu yang di rumah duka itu menoleh terkejut kearah kami.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2