Misteri Rumah Nenek

Misteri Rumah Nenek
Misi Gagal!


__ADS_3

(Flashback mundur satu hari sebelumnya)


*******


"Dasar Bodoh!" Bentak Andre.


Dini hari, Kedua pria dewasa yang baru saja berkaraoke ria itu memasuki gudang yang baru saja di bangun. dengan dua lantai yang masih kosong belum terisi, keduanya sehabis merayakan keberhasilan misi mereka. Seketika mereka tersentak mendengar bentakan Andre yang menggema di ruangan yang hanya berisi beberapa tong dan derigen itu.


"Maksudmu apa ndre, aku dan anak buahku sudah melenyapkannya. Lalu apa tujuanmu memanggilku ke tempat ini?! Jangan main-main dengan kami dasar anak yatim!" Gertak pria setengah baya yang selama ini menjadi partnernya dalam menjadi malaikat maut. Kali ini dia terlihat sangat mabuk malam ini. saat ini mulutnya seperti tak bisa di kontrol akibat alkohol yang di konsumsi nya.


"Kau bisa tenang ndre, aku dan temanku ini sudah menghabisi dia langsung di kotanya. Jadi kau tidak perlu menunggu dia untuk datang kemari. Karena malaikat maut sudah menjemputnya lebih dulu. Hahahaha!!!" Ujar pria itu meracau tidak jelas akibat alkohol yang entah berapa banyak mereka tenggak.


"Maaf kak Andre, aku cuma di ajak pak Jack," ucap pria yang masih muda itu dengan tubuh bergetar. sepertinya dia masih cukup sadar walaupun bau alkohol tercium jelas dari mulutnya. Andre hanya bergeming tak menanggapi.


Hingga si pria yang menjadi senior yang melatih Andre selama ini, mendekatinya. Dia setengah merangkul Andre dengan kasar. Aroma alkohol begitu menyeruak di hidung pria yang sangat dingin malam ini.


"Kenapa kau seperti orang bodoh! Oh iya kau kan memang bodoh, hahahaha..Hoekk hoekkk" dengan tanpa sadar pria itu memuntahkan isi perutnya tepat di jaket Andre. Pria itu tampak masih dengan tatapan dinginnya melihat pakaiannya basah dengan bau yang membuat mual.


Temannya dengan sigap menarik tubuh yang sudah mabuk parah itu karena sudah mengotori baju pria yang daritadi menatap mereka berdua dengan bengis.


Waktu sudah menunjukkan jam dua pagi. Namun di tempat itu masih di selimuti kericuhan antara tiga orang psikopat yang saling bersitegang satu sama lain.


Dengan pelan namun pasti dia melepas baju dan jaket yang sudah kotor itu dan melemparnya ke lantai dengan sembarangan. Dengan bertelanjang dada ia mendekati kedua pria yang tengah dalam pengaruh miras itu. Di lemparkannya sebuah HP yang dengan sigap di tangkap oleh pria yang agak lebih muda.


"Bacalah!"


Sebuah pesan masuk dari seorang nomor yang tidak tersimpan.


'Dia masih hidup, cuma luka ringan. Dia lagi di rumah sakit sekarang! Sementara ini kasus sudah di tangani pihak penyidik kota.......'


'perkumpulan kita bisa terancam bahaya'


"Kalian ceroboh! Dengan bangganya kalian membawa misi yang sudah gagal dan langsung pulang kembali kesini dengan membahayakan seluruh anggota!!" Bentak Andre menggema. Membuat sang laki-laki yang masih seumuran dengannya itu gemetar mengingat betapa fatal kesalahannya.

__ADS_1


Seinggatnya dia sudah menembak pria itu dengan membabi-buta. Seharusnya dia sudah ke akhirat saat ini. namun mengapa kali ini takdir berkata lain.


Sementara itu rekan kerja Andre selama ini sudah terkapar tak berdaya. Dia tak sadar jika saat ini nyawanya berada di ujung tanduk.


"Pergilah!! Aku mual melihat kalian" ucapnya kali ini lirih namun dengan sorot mata yang masih mengerikan.


Dorr...dorr..dorr...dorr


Baru beberapa langkah beranjak, laki-laki itu harus ambruk dengan darah menyiprat kemana-mana. Punggungnya di terobos empat timah panas hadiah dari sang algojo, Andre.


Disertai erangan mengerikan darinya dan kemudian disusul tawa cekikikan yang menggema di seluruh ruangan. Suara mengerikan itu seakan mengantarkan sang pria muda menuju kematiannya.


Pak Jack yang sejatinya masih merasakan pusing yang teramat sangat itu mulai menyadari sesuatu ketika suara tembakan nyaring di telinganya. Samar-samar terlihat seorang pria yang tak asing baginya terkapar dengan darah yang menggenang di tubuhnya. Di sisi lain pak Jack melihat Andre teman pshycho nya sedang tertawa dengan kerasnya dan mulai berubah menjadi tangisan dan seketika berubah lagi menjadi umpatan-umpatan kemarahan.


Seketika dia tersadar jika kali ini penyakit gila sahabatnya itu tengah kambuh. Menyadari bisa berbahaya jika tetap di dekat Andre jika sedang kambuh seperti ini, dia pun dengan sekuat tenaga mencoba berlari terlebih dahulu. walaupun dengan kaki yang sempoyongan.


Andre yang menyadari mangsanya sudah sadar dan ingin melarikan diri segera menghampirinya. Dengan sekali tendangan pria yang sedang mabuk itu langsung terhuyung terhempas ke lantai gudang itu.


Bruakkkgh...


"Dasar ndre sadar! Aku sahabatmu!" Ucap pria itu menahan sakit akibat tendangan tadi.


Dengan sigap Andre mengeluarkan borgol dan memborgol kedua tangan dan kaki si pria itu. Pria itu mencoba memberontak namun dia sudah kalah tenaga banyak dengan Andre yang jauh lebih kekar.


Tanpa basa-basi Andre mengangkat tubuh yang sejatinya lebih kecil darinya itu masuk ke dalam drum plastik besar yang sudah terbuka. Dengan di bantu pijakan dari kursi kayu dia memasukkan tubuh yang sudah tak berdaya itu kedalam drum dengan posisi duduk.


"Andre sadarlah Andre. Kita sudah bertahun-tahun melakukan kejahatan bersama-sama Andre!! Aku sahabatmu Andre! Tolong!!" Suara pria itu makin parau memohon untuk dilepaskan.


****Brughh****..


Sebuah tubuh yang sudah bersimbah darah dan sudah tak bernyawa itupun di masukkan ke dalam drum tong yang sama. Menimpa tubuh Jack yang sedari tadi mencoba membujuk Andre agar mau melepaskannya.


Sepertinya Jack sadar dengan apa yang akan dilakukan Andre. Pria itu kali ini menangis keras sekali di sertai umpatan-umpatan kebencian yang terus menerus mengalir dari bibirnya. Sebuah cairan berwarna bening sedikit kental dan berbau tajam, di tumpahkan begitu saja di atasnya. Cairan kimia yang tentu ia tahu betul akan melarutkan tubuhnya sedikit demi sedikit.

__ADS_1


Cairan bertuliskan H2SO4 alias asam sulfat, sedikit demi sedikit mengalir memenuhi drum biru itu. Tubuh yang kini kesusahan bergerak karena ada tubuh kaku tak bernyawa yang sedang menindihnya kali ini, berusaha dengan sisa kekuatannya untuk melepaskan diri dari perangkap maut yang ia dan Andre ciptakan dahulu. rasanya perih seperti kulit yang di kelupas secara paksa dari daging ketika asam sulfat itu mulai mengenai permukaan. iya bisa di bilang rasanya seperti di kuliti hidup-hidup.


Dengan sekuat tenaga dan di dalam tempat yang sangat sempit itu. Ia hampir berhasil meraih pinggiran drum ketika cairan yang sangat korosif itu sampai di atas perutnya. Namun usahanya sia-sia, dia mulai kehilangan kesadarannya. Perlahan juga ia melihat cahaya dari atas drum itu memudar. Andre telah menutupnya.


Terdengar lirih suara keputusasaan yang semakin lama semakin melemah dari wadah yang sudah di penuhi bahan kimia tersebut. Suara yang nyaring memakinya kini sudah hampir tak terdengar lagi. Sudah bisa di pastikan perlahan tapi pasti tubuh itu akan larut dengan cairan itu. Sang algojo senior di bun*h dengan cara yang sama saat dia memb*nuh korbannya. Cara yang pelan mematikan namun sangat begitu menyiksa.


Setelah sejenak beristirahat, Dengan cekatan dia memindahkan tong itu dengan menggunakan troli barang. Di sejajarkan dengan puluhan tong yang sudah rapi di pojok ruangan. Seulas senyum aneh terlukis di bibirnya.


"Selesai sudah, sekarang tinggal menyelesaikan urusan dua orang tak berguna itu!"


"Akan segera kuselesaikan misi terakhirku sendiri. Dan segera terlepas dari kutukan nenek tua bangka itu!" Tukas Andre bersungut-sungut.


Sementara itu...


Di Ruangan gawat darurat sebuah Rumah sakit swasta di kota Jakarta. Tengah terduduk seorang pria paruh baya dengan luka di bahu kirinya. Pria itu tengah di jahit selepas di lakukan nya operasi pengangkatan proyektil yang bersarang di bahunya.


Dengan tanpa menunjukkan ekspresi dia menjalani semuanya dengan wajah datar. Mulai dari pengangkatan logam berukuran 0,5 milimeter itu sampai dengan di lakukan penutupan lukanya, dia sama sekali tak menunjukkan perubahan ekspresi yang berarti.


Sedikit beruntung baginya karena logam itu tidak terlalu dalam dan tidak terpecah menjadi beberapa bagian. Jadi tidak terlalu rumit dalam penanganannya.


Setelah dinyatakan selesai. Dia membuka ponselnya mencari sebuah nama dan bergegas menelfonnya.


"Halo?"


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung..


__ADS_2