
"Ah syukurlah kamu masih selamat bro" ucap mas Didik yang melihatku dari atas kepala sampai bawah kaki.
"Tega banget lu mas. Aku di tinggalin gitu aja. Untung aku nggak pingsan" tukasku menghela nafas.
"Kita harus lapor polisi segera bro. Kita nggak bisa tinggal diam!" Usul mas Didik.
"Iya aku setuju mas tapi sebaiknya kita pulang dulu. Badan kita kotor semua, nanti bukanya di tanggapi sama polisinya malah di kira kita orang gila mas" jawabku.
"Lagi pula ini udah mau senja mas. Sebaiknya kita segera pulang sebelum gelap. Entah kenapa feelingku merasa nggak enak" imbuhku sembari menepuk buku yang kutemukan pertama kali tadi. Buku yang bisa menjadi sebuah benang merah dari kasus yang kami hadapi.
"Yaudah kita pulang dulu, aku juga udah nggak nyaman di sekitar sini bro. Kaya ada yang ngawasin terus" ujar mas Didik sembari mengedarkan pandangan ke sekeliling kita.
"Ayo mas" jawabku mengiyakan.
Waktu berlalu begitu cepat. Siang perlahan beranjak meninggalkan lukisan jingga di ufuk barat bernama senja. Aku dan mas Didik berjalan pelan di iringi riuh masyarakat setempat yang bergegas masuk saat hari sudah mulai surup seperti ini.
Setelah satu jam berboncengan santai dengan mas Didik. Kami pun akhirnya sampai di kost kami. Terlihat sepi seperti biasa. Di kost ini ada beberapa penghuni yang lain. Aku hanya sekilas melihat mereka karena mereka ada yang sibuk berkerja atau masih sibuk kuliah.
Sehabis membersihkan tubuh kami, aku dan si kunyuk mas Didik berencana menghabiskan malam dengan ngopi di teras kamar. Dua kopi hitam sudah tersaji di temani sepiring pisang goreng yang kami beli waktu pulang tadi walaupun tak lagi panas namun cukup untuk menemani kami berdua.
"Bro gimana besok rencananya?" Tanya mas Didik.
"Gimana ya enaknya. Secepatnya kita harus lapor mas! Besok kamu dan aku pergi ke kantor polisi!". Ucapku.
"Iya bro aku juga setuju!" Jawab mas Didik semangat mengetahui kasus yang kami tengah hadapi sedikit lebih terang.
"Emm permisi mas-mas. Kalian baru ya disini? Kok kayaknya aku baru lihat." Ucap seorang wanita yang saat ini memakai almamater nampaknya iya masih anak kuliahan.
"Iya mbak kami baru dua hari ini" jawabku mencoba ramah.
"Oh.. perkenalkan mas saya dini. Kamar saya tuh disitu mas kamar nomer 5A." Ucapnya balik ramah memperkenalkan diri.
"Saya Mahesa mbak dan si kunyuk ini namanya Didik" balasku memperkenalkan diri juga.
"Jangan panggil mbak mas. Keliatan tua banget saya. Panggil nama aja mas" usul dini malu-malu.
__ADS_1
"Oh iya din maaf ya hehehe" ujarku ramah.
"Iya mas gapapa, emmm oh iya ini ada martabak tadi dini beli di depan, eh.. malah kelebihan satu bungkus. Mas Mahesa sama mas Didik mau martabak nggak?" Tawar dini menyodorkan plastik biru berisi martabak manis dengan wangi yang menggoda.
"Eh nggak usah Din, jadi nggak enak sama kamu" tolakku sungkan padanya.
"Boleh Din boleh, wah lumayan bro" ucap mas Didik dengan percaya dirinya.
"Hishhhh malu-maluin aja si kunyuk ini" batinku dongkol dalam hati.
"Mas?!" Ucapku lirih dengan menyikut lengannya memberi kode pada manusia stres di sebelahku ini.
"Ssssttttt, rejeki nggak boleh di tolak" ucapnya sumringah.
"Hisss, maaf ya dini emang temen saya ini agak sinting" ucapku jengah.
Terlihat dini hanya terkekeh geli melihat pertengkaran kami berdua. Perbedaan karakter dan sifat membuat kami layaknya dua sisi mata koin. Perdebatan memang kerap terjadi antara kami. bahkan hal kecil pun bisa menjadi masalah besar bagi kami.
Akhirnya aku bertemu dengan tetangga kostku setelah dua hari disini. Dan menurut dini penghuni disini lumayan jarang bersosialisasi. Mereka rata-rata dari luar kota dan setiap hari sibuk dengan dunia mereka sendiri-sendiri. Jadi semua disini jarang bertemu apalagi mengobrol. Kami mengobrol sambil sesekali dini bercerita susah senangnya berada disini. Hingga..
"Mas Mahesa mas Didik, dini balik kamar dulu ya. Daaah" pamit dini setelah menengok belakang dan melihat ada singa betina sedang mengeluarkan cakar dan taringnya. Cukup membuatku juga menelan ludah melihatnya.
"Bro aku mules, kamu selesaikan sendiri ya" bisik mas Didik di telingaku.
"Mas Mahesa?!" Panggil Wulan yang kini duduk lesehan di sampingku.
"Iya" jawabku mencoba santai.
"Siapa dia? Ngapain dia disini? Apa dia Pacar kamu disini? Terus kamu kemana aja seharian ini? Kenapa susah banget kamu di hubungi? " Serbu Wulan dengan jurus seribu pertanyaannya.
"Satu-satu dong kalo nanya" jawabku mencubit lembut pipinya karena gemas dengan wajah merah bidanku ini. membuat ia sedikit terkejut.
Setelah seharian melakukan perjalanan yang melelahkan, semua itu seakan sirna bersamaan dengan senyuman indah darimu.
"Dih, malah ngelamun. Mas Mahesa???" Tanya Wulan sambil memegang bahuku.
__ADS_1
Dasar cinta! Datang tak tentu waktunya. Kadang datang di saat kita ragu dan sedang terbebani. Entah hanya sesaat ataukah memang akan abadi. Rahasia ilahi siapa yang tahu?
Malam itu aku dan mas Didik akhirnya tak jadi bergadang. Karena aku harus kena Omelan singa betinaku. Walau dalam hati aku juga merasa bahagia di perhatikan seperti itu. Sekilas aku melihat sosok keibuan di sorot mata Wulan yang selalu membuat aku terpana.
Kulihat mas Didik sudah membelakangiku dan meringkuk di balik selimutnya. Sejenak aku teringat buku yang tadi siang kubawa dari kamar mendiang nenek.
Buku tua berwarna merah maroon yang sedikit berdebu. Aku membuka halaman pertama. Halaman dengan baris kata tertulis 'Milik Tariyah'. Iya buku ini sebuah buku harian kuno milik nenek. Namun bukan itu yang membuatku tertarik.
Ku buka tengah halaman buku usang ini. Dan bingo!! Sebuah curahan hati dan permintaan maaf dari almarhum nenek tari. Semua berbahasa Jawa yang aku tak begitu paham. Mungkin besok akan ku suruh si kunyuk itu menerjemahkan. Dan aku dapat bonus...
Sebuah klise foto dua orang perempuan sedang duduk berdua di depan dan di belakang sepertinya nenek tari dan Simbah Kakung yang terlihat masih sedikit muda. Tak lupa di belakang foto itu tertulis nama keempatnya. Gambar diri Suwirdjo dan Tariyah beserta Dasimah dan adiknya s***ra*.
"Nyai Dasimah ternyata punya adik?!" Gumamku masih terus fokus.
"Siapa namanya ini. Ah kenapa blurr sih di bagian penting pula." Gerutuku melihat nama terakhir setelah Dasimah menghilang karena usianya yang sudah bisa di bilang usang.
"Melihat wajahnya sepertinya aku tak asing dengan wajah adik Nyai Dasimah ini" batinku. lama kupandangi wajah yang tercetak di lembaran itu.
"Hahahaha aku tahu sekarang! Pantas saja aku tak asing dengan wajah memuakkanmu!" Umpatku
"Tinggal menunggu waktu!! Akan ku lepas topengmu. Topeng yang kau gunakan untuk menyembunyikan kekejianmu selama ini. topeng yang sama yang kau gunakan untuk melenyapkan ibuku" Imbuhku.
"Sekarang tinggal akan kucari bukti keterlibatanmu dan akan kuseret kau ke penjara hingga ajal menjemputmu disana. Kau harus bertanggung jawab!!! B*jing*n tua!!!!"
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung..