Misteri Rumah Nenek

Misteri Rumah Nenek
Hati-hati Dalam Menaruh Hati


__ADS_3

"Bu, maaf kami bertiga pamit dulu njeh Bu.". Ijin mas Didik pada ibu Ratih, adik ipar dari pakdhe Heri.


"Iya mas, makasih ya. Maaf ya mas kalo sambutan kami sekeluarga kurang berkenan,". Ujar ibu Ratih dengan senyum.


"Assalamualaikum Bu, mari.". Ucapku ramah kepadanya.


Akhirnya kami memutuskan pulang, melewati jalan berkelok-kelok yang cukup menyita konsentrasi. Apalagi saat ini aku tak bisa fokus ke depan karena selalu melirik spion memperhatikan ayu diam-diam. Hehehe


Sampai di belokan dengan pancang rambu bertuliskan angka empat aku sedikit mengurangi laju kecepatan kendaraan kami. Terlihat di belakang mas Didik juga mengikuti memelankan laju kendaraannya. Terlihat bekas pembatas jalan yang berantakan. Dengan garis polisi yang masih membentang. Melihat betapa rusaknya kondisi disini membuatku bergidik ngeri membayangkan kepanikan saat di dalam mobil yang berada di ujung maut.


"Woy, aku mau boker dulu, nggak kuat ngeliat kalian bucin bikin kebelet boker,". Kulihat mas Didik menyalipku cepat dan berteriak sambil berlalu hilang tak terlihat tertutup belokan.


Karena kurang konsentrasi, aku hampir saja menabrak orang yang sedang berjalan di pinggir jalan tepat di tikungan persis. Hampir aku mengumpat kepadanya namun di cegah oleh ayu. Aku tak menggubris bapak-bapak tua yang seperti gelandang itu karena pakaian lusuhnya. Kurasakan pegangan ayu pada jaketku semakin erat saja bahkan sekarang terkesan sedikit memelukku. Aku hanya senyum senyum seolah dunia milikku sendiri melihat perilaku ayu tersebut.


Setelah cukup lama kami berkendara, kami akhirnya sampai di rumah mas Didik. Terlihat motornya sudah terparkir di samping rumahnya. Karena waktu sudah Dzuhur ayu memutuskan untuk istirahat sejenak sambil menunggu adzan berhenti.


"Pak Heri" ucap ayu tiba-tiba mengejutkanku.


"Maksut kamu?", Tanyaku bingung.


"Tadi kamu hampir mau nabrak pak Heri, aku takut,". Terlihat kali ini suara ayu bergetar.


"A-ayu lihatnya ngeri, ayu takutt, penampakan paling serem di hidup ayu,". Ayu mulai meneteskan air mata. Duh cengeng banget sih. Udah cengeng imut lagi. Ishhhh


Aku yang melihatnya menangis bingung harus bagaimana, ku coba dekati dia dan bertanya pelan tentang apa yang di lihatnya tadi. Katanya dia awalnya hanya melihat pria tua yang berjalan tertatih sama sepertiku. Namun, ketika ia tak sengaja menengok dia menemukan sesuatu yang mengejutkan dirinya. Walaupun seluruh tubuh yang ia lihat telah menghitam dengan luka mengangga di sana sini, tapi wajahnya masih tampak jelas. Itu pak Heri !


Wajah yang menurut ayu nampak sendu memandanginya yang mulai menjauh. Dengan rintihan lirih namun menyayat hati. Ayu yang tak mampu menatapnya hanya bisa mendengar lolongan dari pak Heri yang menggetarkan mentalnya. Entahlah apa yang bisa membuatnya setakut ini. Namun, hal Itulah yang bisa membuat bisa ayu memelukku saat berboncengan tadi.


********


"Hayoo pada ngapain disitu, eh mbul kenapa nangis? Kamu apain bro ayu sampe nangis kaya gitu? Wah tanggung jawab lu bro.". Sergah mas Didik tiba tiba di belakang kami.


"Diam!!,". Jawab ayu dan aku bersamaan. Sekilas bahkan kami beradu pandang dan Tersenyum kecil bersama.


"Waduh masalah rumah tangga ternyata hehehe sory sory,". Ujar mas Didik cengengesan sembari mengusap tengkuknya.


"Dasar jones gila, huuu,". Umpat ayu pada sepupunya.

__ADS_1


"Ayu, apa kabar yu??,". Terlihat seseorang melambai pada kami yang berada di teras rumah.


Sesosok pria dengan seragam hijau kecoklatan khas PNS di ikuti beberapa temannya mendekati kami. Wajahnya nampak tak asing bagiku. Sedikit aku mengawang mengingat siapa pria asing itu. Hingga tiba-tiba dia langsung memegang tangan ayu erat. Deg! Pemandangan yang menyakitkan.


"Hai, apa kabar kamu yu? Makin cantik aja kamu.". Goda pria klimis di hadapan ayu saat ini.


"Ini sepupu jauh ayu dari Surabaya putra, namanya Andre.". Ucap ayu memperkenalkan. Aku hanya tersenyum masam melihat pria itu masih menggenggam tangan ayu. Dan dasar ayu bodoh kenapa nggak di tolak itu tangan. Huhhh


Seketika perkenalan itu menyadarkan aku kalo pria yang saat ini di hadapanku yaitu si Andre ini yang live bareng ayu seminggu yang lalu. Ternyata dia juga salah satu PNS muda berprestasi. Perawakannya juga lumayan tinggi dengan kulit putihnya. Jarang ada laki-laki punya kulit putih dan sebersih itu.


"Eh mas Andre kapan pulangnya? Terus ngapain disini?" Tanya ayu sembari melepaskan genggaman Andre. Bagus ayu!


"Aku pulang karena kangen kamu, hehe.". Goda Andre pad ayu.


"Ishh mas Andre kan udah punya calon, ngapain goda goda ayu. Kasian tuh calon kamu mas,". Balas ayu.


"Iya nih dasar Playboy,". Kelakar teman Andre di belakang tubuhnya.


"Kan mas Andre udah ngajak kamu nikah udah lama, katanya nunggu keterima kuliah lah terus lulus kuliah lah. Sekarang kan kamu udah lulus kuliah jadi mas mau niat nikahin kamu lagi ayu. Kamu mau kan? ". Pinta Andre sambil mendekati ayu.


"Ayu nggak bisa mas, ayu udah anggep mas itu kakak ayu sendiri nggak lebih. Udah ah ayu mau pulang aja. Nggak betah lihat mas Andre maksain ayu terus. Assalamualaikum.". Ucap ayu dengan melenggang pergi meninggalkan kami berlima mematung memandanginya.


Wajah kalem yang sedari tadi di tunjukan Andre, kali ini berbalik berubah menjadi raut wajah picik dan haus akan keserakahan. Matanya mulai bergeser memandangi kami, emmm tepatnya memandangiku dengan tajam. Kali ini bahkan mencengkeram kerah baju yang kupakai. Teman-temannya nampak tertawa kecil melihatku yang berfikir akan di hajar oleh Andre.


"Jangan pernah dekati ayu!" Gertaknya dengan suara tinggi dan gigi yang gemeratak.


"hahaha Kalau saya menolak? Ayu belum di punyai siapapun. Dan anda tidak punya hak melarang saya tuan !!!!,". Jawabku menantangnya.


"Apa kau tidak takut padaku b*ngsat? Kau tidak tau siapa aku?,". Hardiknya dengan mengarahkan telunjuknya ke depan mukaku.


"Saya tidak pernah takut dengan siapapun, termasuk pecundang sepertimu!!!,". Gertakku balik dengan nada datar. Aku memang sudah tak tahan dengan hardikannya.


Dia tak membalas perkataanku sama sekali. Namun wajah merah padamnya menunjukkan dia sedang menahan gejolak amarahnya. Tangannya melepasku dengan kasar kemudian dia berpaling dan bergegas pergi menuju mobilnya. Teman-temannya mengekor di belakangnya.


"Gila lu keren banget boss.". Mas Didik menepuk pundakku kagum atas diriku yang berani menghadapi Andre.


Aku hanya mengangguk pelan. Sama-sama memendam emosi namun aku masih bisa mengendalikannya.

__ADS_1


"Ehemm, hati-hati bro. Sainganmu berat, kayaknya kamu kalah power,". Bisik mas Didik lirih.


"Isshhhh,". Balasku sembari mengisyaratkan mas Didik untuk diam. Aku sedang menikmati sakit hati atas pertunjukan yang cukup mengiris iris hatiku ini.


"Jangan nangis ya, yang sabar. Kalo jodoh nggak ketukar kok, hehehehe.". Lanjut mas Didik belum berhenti menggodaku.


Aku pun sebenarnya menyadari kalau aku memang kalah segalanya dari Andre untuk memperebutkan hati ayu. Jelas dia sudah punya masa depan, pekerjaan yang bagus bahkan mapan, prestasi membanggakan juga, sungguh pria dengan kehidupan sempurna. Berbeda terbalik denganku yang bahkan sampai saat ini pun masih sibuk menganggur, masa depan tak tentu, prestasi? Prestasiku yang membanggakan orang tuaku hanya berasal dari juara lomba nyanyi se Jabodetabek, itupun kudapatkan saat aku masih TK. Hehehe. Kurasa mulai dari kejadian ini aku harus lebih hati-hati dalam menaruh hati.


"Sssttt aku tau bro Andre itu bukan cowok yang mudah mundur apalagi ketemu lawan. Dan aku heran kenapa dia bisa nggak berani sama lu bro. Bahkan dia nggak mukul lu sama sekali. Bukan seperti Andre yang aku kenal.". Ucap mas Didik menyelidik.


"Jadi lu belain dia ketimbang gue gitu??? Dan ku berharap gue babak belur gitu mas?? ". Tanyaku sedikit kesal.


"Iya, eh bukan gitu bro. aku kan sahabat setiamu. Peace bro. Cuma aku heran aja. Andre itu temen sekolah mas Didik dulu. Dia hobi gelut sama siapapun. Dia nggak kenal takut bro bisa di bilang dia itu ambisius. Apalagi setelah dia dapet beasiswa ke luar kota. Ambisinya atas segala hal nggak tertahankan lagi. Siapapun lawan dia nggak takut. Dan aku hafal betul kalo Bukan kebiasaan Andre mundur dari lawannya seperti tadi,". Jelas mas didik.


"Mas Didik mau tau rahasia kenapa dia ketakutan?,". Balasku menyengir.


"Apa?,". Tanyanya penasaran.


Aku mengarahkan pandangannya bersamaku menuju arah pinggangku yang sudah ku sibakkan bajuku. disana sudah terselip sebuah pistol dengan isi penuh disana. Terlihat mas Didik hanya menganga terkejut tak percaya atas benda apa yang sedang kupegang.


"Sinting lu !! Buat apa gituan? Lu mau ngrampok?.". Hardiknya dengan emosi yang memuncak kemudian sedikit menjauhiku.


"Ssssttttt, ayo masuk mas biar gue jelasin,". Ujarku sambil menyeret tangan yang enggan beranjak itu untuk masuk rumah. sebelum dia nanti lari teriak-teriak minta tolong bisa berbahaya aku disini.


Mas Didik hanya ikut saja meskipun kakinya enggan bergerak dari tempatnya semula. Membuatku sedikit mengeluarkan tenaga untuk menarik tubuhnya masuk ke dalam rumah. Sementara tanganku yang satu memegang senjata api yang terlanjur sudah di lihat mas Didik tadi. Cemas kelihatan terlihat dari raut wajahnya.


"Duduk!,". Titahku pada mas Didik.


Ckleekkkk


.


.


.


.

__ADS_1


Pintu terkunci....


Bersambung....


__ADS_2