Misteri Rumah Nenek

Misteri Rumah Nenek
Orang Yang Sama?


__ADS_3

"Dasar bocah gemblung, hehehe,". Tawa pak Mardi yang mengiringi dia menyetir motor maticnya.


Kami berdua pun tertawa di atas motor yang sedang melaju, Layaknya seorang bapak dan anak. Membuatku kangen sosok ayah yang mungkin sedang menungguku disana dengan khawatir. Walau sedikit membuatku kecewa karena menyembunyikan sesuatu dariku selama puluhan tahun, tapi aku yakin ayah melakukannya pasti itu semua demi kebaikanku. Apapun itu.


Sore itu Akhirnya kami sampai di rumah pak Mardi. Aku segera turun untuk membuka gerbangnya. Kali ini aku memang sudah nggak memakai tongkat bantu lagi namun, jalanku masih terpincang-pincang karena masih belum sembuh dari terkilir waktu pelarian dua hari lalu. Pak Mardi masuk dengan motornya. Didepan pintu sudah bersilang tangan seorang bidan muda dengan wajah merah menahan kesal, walau dengan muka kesal seperti itu malah terlihat semakin imut saja wajahnya.


"Bapak ini gimana sih, malah di ajak jalan-jalan tuh bocah, kan Wulan suruh jagain pak, coba nanti kalo kenapa-kenapa siapa juga yang repot, pasti Wulan juga,". Ketusnya yang membuatku senyum-senyum dalam hati.


"Udah Wulan mau mandi dulu, kamu duduk di dalem aja nanti Wulan cek lukamu, diem dan jangan membantah!,". Jawabnya dengan masuk ke dalam rumah. Meninggalkan kami berdua saling bertukar pandangan tanda kebingungan, terutama aku.


"Pak, itu si Wulan kenapa jutek gitu?,". Tanyaku.


"Hisss Mana bapak tau, bapak kan daritadi sama kamu terus. Baru kali ini juga bapak lihat Wulan jutek Kya gitu nak, biasanya mah dia orangnya cuek masa bodoh, bapak juga heran,". Jawab pak Mardi.


"Kira-kira kesalahan apa yang kita perbuat ya pak??? Aku juga heran sih,". Ucapku.


"Nanti kita cari jawabannya di syutup, soalnya wanita itu susah di mengerti. hehehehe,". Canda pak Mardi membuatku ikut terkekeh


*****


Aku dan Wulan kali ini duduk berdua di ruang tamu, pak Mardi yang tadi menemaniku kini sedang keluar bersama istrinya untuk kondangan. Sementara Rahma sedang nonton live Drakor di kamarnya. Wulan daritadi Menganti perban di kakiku mengecek jahitannya, semua di lakukan agar mencegah terjadinya infeksi. Tidak ada satu komentarpun keluar dari mulutnya saat melakukan pekerjaannya itu, aku pun hanya memilih diam memperhatikan setiap gerak geriknya.


"Kenapa kamu lihatin aku terus? Hati-hati naksir baru tau kamu,,". Ucapku to the point. Karena dia terus mencuri pandang denganku.


"Ihhh pede banget, siapa juga mau lihatin kamu lama-lama, cihhh naksir enggak eneg iya,". Decahnya lirih.


Mendengar dia berkata seperti itu, langsung kuraih kedua tangannya yang sedang membereskan peralatan P3Knya. Kudekatkan wajahku padanya, kutatap wajahnya seperti biasa tentu dengan tenang dan dingin. Terlihat wajahnya memerah seperti buah tomat. Dapat kurasakan nafasnya yang sudah tak beraturan


"Kamu yakin??,". Tanyaku pelan.


Dia tak menjawabku bahkan masih terpaku di posisinya saat ini bertatapan pandangan denganku.


"Bidan Wulan?,". Tanyaku kembali, kali ini menyadarkannya dan sekilas menarik kedua tangannya. Dia seperti orang salah tingkah sendiri melihatku. Hahaha, aku sungguh menikmati setiap gerak geriknya yang menurutku sangat kikuk tersebut. Hahaha rasain itu bidan aneh.


"Apa ada sesuatu yang ingin Bu bidan katakan?,". Tanyaku berbisik di telinganya. Membuat ia makin salah tingkah.


Belum sempat kepalaku mundur Tanpa kusangka dia langsung memelukku erat, aku tak membalas pelukannya, Biarkan saja. Karena posisi kami cukup dekat aku dapat menciumi rambutnya yang sebahu itu. Rambut dengan aroma mint yang segar. Dengan bau sabun yang masih menempel di tubuhnya. Dia memelukku sangat erat.

__ADS_1


"Bu bidan, maaf saya nggak bisa nafas, hehehe,". Ujarku cengengesan.


"Eh maaf,". Balasnya melepaskan pelukannya dan kemudian bangkit menuju kamarnya Meninggalkanku dengan sejuta pertanyaan. Bahkan kotak obat yang di bawanya pun ia tinggal begitu saja.


"Dasar bidan aneh,". Gumamku.


Disini lain.


"Dasar Wulan bodoh! Ngapain meluk sih, Wulan bodoh bodoh bodoh,". Batin Wulan mengutukui dirinya sendiri.


Dasar cowok jail nggak jelas asal usulnya, bisanya cuma bisa bikin hati Wulan Dag-dig-dug.


******


Sore sudah menjelang malam semburat jingga perlahan memudar berganti pekatnya malam, menjelang malam itu pak Mardi dan istrinya belum juga kembali pulang. Aku hanya duduk di ruang tamunya sembari sesekali menyeruput kopi susu yang di buatkan bidan Wulan. Asap putih tipis mengepul membawa aroma khas kopi yang menenangkan.


"Mas bapak belum pulang ya??,". Tanya bidan Wulan yang perlahan menghampiriku.


"Belum,". Jawabku singkat.


"Aku pengen pulang besok, aku udah ngrasa sehat. Lagi pula aku juga udah bisa jalan kaki sedikit-sedikit.". Sambungku.


kemudian kembali lagi kami berdua hanyut dalam diam.


"Emang bener kamu udah mau nikah wul?,". Tanyaku memecah keheningan.


"Tadinya sih iya, tapi sekarang nggak tau dia kemana, dia hilang bak di telan bumi,". Jawabnya dengan mata tak lepas dari ponselnya.


"Terus? Kamu masih nungguin dia?,". Tanyaku lagi pelan takut dia tersinggung.


"Udah nggak,". Jawabnya kembali singkat. Kali ini ia sudah meletakkan ponselnya di atas meja kayunya. Kemudian kami saling berpandangan. Sialnya Kali ini aku yang salah tingkah saat mata kami bertemu.


"K-kenapa nggak di tunggu lagi Bu bidan?,". Ucapku gugup.


"Gausah panggil aku formal gitu. Panggil aja Wulan,". Balasnya.


"Wulan nggak mau nungguin yang nggak pasti, lagipula Wulan udah ada yang bikin baper tiap detik tiap menit,". Ucapnya dengan melempar senyum.

__ADS_1


Dasar cowok nggak peka! Batin Wulan.


"Ohhhh,". Jawabku menunduk menghindari tatapan mata bidan cute yang ada di seberang sofa yang kududuki.


"Nggak pantes juga bidan secantik kamu di tinggalin, ntar di comot orang baru nyesel,". Imbuhku.


"Jangan kebanyakan gombal, yang dulu dulu juga suka gombal tapi kenyataannya aku di tinggalin,". Ketus Wulan.


"Mulai deh, galak Bu bidannya muncul,". Balasku.


"Hehe, iya maaf. kamu sih bahas si sialan Andre terus, aku kan jadi badmood. Padahal mau nemenin kamu malah kamu bahasnya mantanku terus,". Jawabnya kali ini dengan muka merah cantiknya.


"Andre?,". Gumamku.


"Iya namanya Andre, kamu kenal??? Atau jangan-jangan kamu mata-matanya??,". Tuduh Wulan.


"Hissss, aku nggak kenal tapi pernah ketemu, eh tapi nggak tau juga. Apakah Andre yang ku temui sama Andre yang kamu maksud itu sama atau cuma kebetulan aja,". Jelasku.


"Emm mungkin kebetulan aja. Soalnya si Andre sialan itu mungkin sekarang udah jadi pegawai negeri sipil, seperti impiannya. Walau aku nggak tau berapa lama dia bakal kembali kesini. Atau mungkin dia kembali ke rumah orang tuanya di Surabaya, entahlah. Eh Katanya dia juga punya saudara kayaknya di desa yang kamu ucapkan kemaren deh,". Ucap Wulan.


"Hampir tak kira kamu mata-matanya, awas aja kalo kamu sekongkol sama si brengs*k itu. Tak acak-acak kamu sampek jadi rempeyek!,". Ancam Wulan kali ini dengan mengacungkan telunjuknya.


"Mau dong di acak-acak,". Jawabku menggodanya.


"Apanya!!,". Tanya Wulan ketus.


"Hatiku Bu bidan,". Jawabku menggodanya.


"Dasar nyebelin!,". Gerutu wulan. Membuatku semakin gemas melihatnya manyun seperti itu. Haha


"Hii Atut, Bu bidan ceyemmm,". Godaku pada Wulan.


Kami berdua hanyut dalam canda malam ini. Di temani kopi yang tak terlalu manis karena manisnya sudah di Wulan semua, hehehe. Kami menghabiskan waktu bersama hingga kantuk memaksa kami untuk menyudahinya dan berpamitan memutuskan itu tidur di peraduan masing-masing.


"Andre, aku menyeretmu ke neraka.....


Tunggu saja!!!!

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2