Misteri Rumah Nenek

Misteri Rumah Nenek
Mempunyai Dua Kepribadian


__ADS_3

Setelah menutup pintu rumah dan menguncinya. Aku kemudian berjalan menghampiri mas Didik yang duduk di lantai dengan hati-hati. Terlihat ketakutan menjalar di seluruh tubuhnya, matanya menyala seakan memohon ampunan, titik titik keringat pun mulai bermunculan di dahinya yang sedikit di tumbuhi rambut. Aku berjongkok Di hadapannya kemudian menatap dalam ke mata pria yang seumuran denganku itu. Pria yang sudah tau banyak tentang diriku.


"Ja-jangan bro. Ampun saya akan tu-tupp mulut. Tapi jangan bunuh saya,". Ucap mas Didik terbata-bata seraya matanya membendung air yang ingin tumpah.


"Apa kamu bisa jaga rahasia?,". Tanyaku dingin.


"Bb-bi bisa bisa,". Jawabnya dengan wajah berbinar penuh harap.


"Kalau aku belum bisa percaya padamu?? Kau sudah terlalu jauh!,". Balasku dengan tatapan dingin. Seakan kata-kataku sudah memupuskan harapan hidupnya.


"A-ampun, aku janji bisa jaga rahasia, suwer". Ucapnya memohon sembari ingin memeluk kakiku meminta ampun. Aku segera berdiri karenanya.


"Kau pikir apa aku bisa dengan mudah mempercayaimu? Kamu sudah terseret terlalu jauh akibat keingintahuanmu, sekarang kau sudah tahu terlalu banyak Didik, maka sesali lah semuanya seumur hidupmu,". Balasku dengan meliriknya tajam. Mas Didik bahkan tak berani membalasnya.


Mas Didik sepertinya sudah kehilangan harapan, terlihat jelas dari pancaran wajahnya yang sudah layu. Dia terus menangkupkan kedua tangannya sembari terus memohon. Aku kemudian mendekatinya yang masih berdiri dengan kedua dengkulnya.


"Sayang sekali, kamu sudah banyak tahu tentangku. Bagaimana aku bisa melepaskanmu dengan mudah,". Bisikku di telinga mas Didik. Dia langsung terduduk tak berdaya.


"Ini hukuman yang harus kau terima, maaf,". Lanjutku. Sementara dia hanya menunduk meremas ujung kaosnya sepertinya dia menyesali apa yang ingin dia ketahui menjadi marabahaya untuk dirinya sendiri.


"Uaahhh capeknya, ayo mas Didik nyari mie ayam sama bakso. Capek gue laper. Dramanya di lanjut kapan-kapan lagi, hehehehe ,". Ucapku menepuk pundaknya.


Sontak mas Didik terbelalak melihatku sepersekian detik berubah. Iya sedari tadi aku hanya akting untuk mengerjaimu mas Didik, hahaha.


"Hahahaha lu harus lihat wajahmu mas, tenang aku nggak bakal nyakitin sahabatku mas. Maaf ya aku cuma berjanda eh bercanda. Hehehe,". Jelasku. Terlihat mimik mas Didik seperti tidak terima dan meminta penjelasan.


"Ini emang senjata asli, tadi aku bohong ada isinya padahal semua pelurunya udah aku simpen Karena terlalu bahaya termasuk buatku. Dan kenapa aku bisa ada senjata ini besok kapan-kapan aku ceritain. Nggak bisa aku cerita kalo perut kosong. Hehehe,". Kelakarku yang masih melihat mas Didik di posisinya tak bergeming sama sekali.

__ADS_1


"Oalah, anak setan sinting!! Tak kira serius. Aku udah mau jantungan aja bro. Tak kira aku mau mati. Orang belum kawin juga udah mati duluan. Nih jantungku rasanya mau lepas,". Ucap Mas Didik sembari bangkit dengan mengusap keringat yang membanjiri dahinya.


"Emang sampeyan aja yang bisa jail,". Gumamku.


"Tapi ini bener kan kamu nggak mau nembak mati aku??,". Tanyanya masih ragu mendekatiku.


Aku hanya menggeleng gelengkan kepala melihat tingkahnya setelah melihatku mengerjai dia habis-habisan.


"Gimana mas tadi aktingku? Sangar kan? Kaya ketua geng di film-film, hehehehe,". Ucapku sambil menjatuhkan tubuhku di atas bangku kayu di ruang tamu.


"Bagus banget, untung aku nggak mati jantungan. Kalo aku mati jantungan kamu yang tak kejar kejar tak suruh nemenin ngopi,". Balas mas Didik dengan cengengesannya. raut wajahnya kini sudah mulai bercahaya lagi, namun masih sedikit waspada saat di dekatku.


"Mas, kita ini nggak cuma berhadapan dengan demit yang neror kita hampir tiap hari mas, tapi kita juga berhadapan dengan Manusia licik Mafia pencucian uang yang bersedia untuk melakukan apapun untuk mencapai tujuannya termasuk melenyapkan kita,". Jelasku pada mas Didik yang mulai duduk di sebelahku.


"Terus ini kamu dapet darimana?,". Tanyanya.


"Ini punya ayahku, lain kali bakal tak ceritain lagi. Yok nyari makan,". Ajakku.


Aku tak menghiraukannya dengan tertawa kecil. Kemudian aku berganti baju di ikuti oleh mas Didik. Sedikit hiburan tadi cukup membangkitkan moodku. Walaupun rasanya masih sakit hati juga kalo mengingat aku kalah segalanya dari si Andre itu. Hmmm apa harus kujauhi ayu, tapi nanti dia bakal tertawa lebar karena yang pecundang aku bukan dia. Tapi kalau aku berjuang apa tidak sia-sia nantinya. Kupikirkan nanti saja lah. Yang penting sekarang perutku harus di turuti dulu.


Bruakkk bruakkk


"Buka! Woy buka pintunya!!,". Teriak pria di depan pintu.


Segera ku ambil Grendel pintu dan membukanya dengan pelan. Cahaya dari luar menyilaukan mataku sesaat.


Bughhh!!

__ADS_1


Sebuah hantaman keras menghujam perutku membuatku jatuh terduduk. Perut yang sejatinya belum terisi harus menerima hantaman sekuat itu, membuat kepalaku berkunang kunang dan pandanganku yang mulai kabur. Aku mencoba terjaga agar tidak pingsan.


"Mas saya kan sudah bilang ini rumah peninggalan satu-satunya orang tua saya. Mas Kentung nggak bisa ngambil paksa gitu aja !!!,". Sayup-sayup terdengar percakapan mas didik pada preman yang memukulku tadi.


"Banyak b*cod lu, pokoknya Ndoro gua nggak mau tahu loe harus kosongkan rumah ini secepatnya atau kamu harus berurusan dengan gua!! Camkan itu!!,". Ancam pria dengan logat aneh itu kepada mas Didik. Kemudian dia berlalu begitu saja. Aku yang mendengar semuanya bangkit dan meneriaki preman itu.


"Teganya kalian merampas hak-hak kami orang kecil !!!,". Teriak mas Didik penuh emosi.


"Heh, katakan pada bosmu. Jangan menganggu lagi atau ku lubangi tengkorak kepalanya!!, Hahaha cepat atau lambat aku juga akan menemukan kalian. Kalian pikir dengan melenyapkan pak Heri bisa menutupi jejak kalian, bodoh!!! Itu akan menuntunku lebih dekat kepada kalian dan membinasakan kerajaan busuk yang kalian bangun dengan kekejian,". Ucapku penuh amarah. Terlihat mas Didik di sampingku khawatir dengan ucapanku barusan.


Preman itu berhenti dan berbalik menghampiriku. Mas Didik mencoba menghalangi. Tapi segera ku tepis tubuh yang mencoba melindungiku. Kini tinggal aku dan preman itu bertatapan mata. Dia mencoba mendaratkan tamparannya di wajahku dengan sigap kali ini aku mengelak. Ku raih kerah jaket jeans lusuhnya, kucengkram dengan kuat. Terlihat wajah garang yang di penuhi brewok itu gemetar.


"Siapa kau sebenarnya!!!,". Gertak preman itu dengan sekuat tenaga.


Mendengar setiap kata dan hardikannya membuat aku semakin semangat saja. Aku mendekati telinganya kubisikkan ancamanku di telinganya. Dengan posisi masih mencengkram kerah jaketnya.


"Semakin sedikit yang kau tentang diriku itu semakin baik untukmu. Dan lagi jangan repot-repot mencariku karena aku yang akan menemukanmu, cepat atau lambat!!!!,". Ucapku lirih berbisik sembari menghempaskan tubuh pria gempal di hadapanku itu.


Sejenak dia terdiam dan kemudian berbalik dan berjalan cepat ke arah motor Vespanya. Terlihat dari raut mukanya ancamanku cukup meruntuhkan mentalnya. Semoga Kata-kata yang tadi mampu membuatnya tak berani mengusik rumah dan kepemilikan tanah mas Didik lagi. semoga


"Kamu hebat bos,". Ujar mas Didik menahan tubuhku yang hampir ambruk akibat hantaman preman tadi. Aku hanya tersenyum menanggapinya. Pandanganku kali ini benar benar sudah pudar semuanya perlahan menghitam kesadaranku memudar.


"inilah diriku yang sebenarnya....", gumamku dalam hati sebelum benar-benar terlelap.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung...


__ADS_2