Misteri Rumah Nenek

Misteri Rumah Nenek
Perlahan Namun Pasti


__ADS_3

"kami tidak salah dengar le" tegur makhluk di hadapanku melihat reaksi terkejut ku.


"Dia bibi Sumi, yang pernah kau temui tempo lalu. Dia pulalah yang menghasut sebagian orang di sekitar rumah kakungmu dan mereka menyebarkan fitnah dari mulut ke mulut. Tak lama setelah itu mereka mendirikan perkumpulan sendiri. Bahkan setelah kakungmu meninggal, dengan tega meracuniku"


"Meracuni nenek? Untuk apa?" Pekikku tak percaya.


"Apa kau lupa le, setelah berulang kali aku kehilangan anak kandungku satu persatu. Aku memutuskan untuk mengangkat murid-murid kesayanganku menjadi anak angkat menemani anakku satu-satunya, Budi yang tak lain adalah ayahmu dulu, yang tinggal seorang diri setelah kakak-kakaknya meninggal secara tragis. Tak kusangka dengan hasutan manis dari si br*ngsek sumi, mereka tega mengkhianatiku dengan iming-iming gelimang harta warisan bahkan sekarang kudengar mereka sudah jauh jatuh dalam lubang hitam kriminalitas."


"Untuk membungkam orang-orang yang mengetahui kebusukan mereka, tak segan mereka menghabisi siapapun yang menghalangi langkah mereka. Bahkan dengan bejat mereka meracuniku dengan racun syaraf yang seketika melumpuhkan semua organ tubuhku. Tak berhenti disitu saja mereka terus menerus memberikan racun itu dengan dosis rendah yang mereka campur dalam semua makanan dan minumanku setiap hari. Racun yang akhirnya membunuhku perlahan namun pasti" Geram nenek dengan matanya yang tak berhenti mengembun tipis.


"Apa se Kep*rat itu mereka?!" Tukasku ikut geram.


"Oh iya, kenapa juga nenek Tari beberapa hari terakhir berbisik meminta tolong padaku?" Ucapku penasaran bercampur heran.


"Hahaha, siapa juga yang meminta tolong padamu le! Aku tak pernah melakukan itu. Aku hanya datang untuk meluruskan apa yang sebenarnya terjadi antara aku dan Dasimah!" Ketus nenek Tari remeh.


"Lalu, siapa lagi kalo bukan nenek?!" Terperanjat.


" Emmm eh, Tapi kenapa sepertinya mereka tak mengincar ayah dulu nek, aku takut jika mereka bisa saja menghabisi ayah dengan pasukan demit nya, Benar kan nek?" Tanyaku tiba-tiba saja mengabaikan hal yang baru saja terasa ganjil menurutku.


"Hahahaha, Semua karena ini le, bawalah satu dan pergunakanlah dengan bijak" ucap nenek.


Dia meraih tanganku dan seketika sentuhannya terasa hangat. siluet asap mulai membimbing melewati telapak tangan kami yang bertemu. Sodoran sebuah kepulan asap yang membentuk suatu benda yang belum pernah kulihat secara langsung. Perlahan siluet itu memadat dan mataku kali ini kembali di buat melongo lagi dan lagi. Logikaku nampak sudah tak berfungsi lagi disini. Sebuah keris dengan ukiran indah menghiasi sarung keemasan yang sungguh memukau."


"Jaga ini ya Le, ini milik kakungmu dulu. Ayahmu sudah membawa pasangannya. Yang ini milikmu" tukas nenek.

__ADS_1


"Untuk apa ini nek?" Kupikir aku akan punya kekuatan super setelah cahaya berkedip. Malah aku dapat sesuatu yang antik kaya gini. Walaupun lumayan bagus juga.


Sebuah keris pusaka milik keluarga kerajaan Angkawijaya. Sebuah keris dengan bilah berwarna putih keabu-abuan, dengan garis tengah berwarna emas berukir gagah seekor naga hingga ke pangkal pegangannya. Sekilas benda ini memancarkan aura yang besar yang tersembunyi di setiap eluknya (lekukannya).


"Apa ayahku juga mempunyai benda yang sama sepertiku nek?" Tanyaku tak lepas pandang dari benda yang saat ini terus memenuhi netraku.


"Mengapa tak kau tanyakan pada yang bersangkutan saja le, Sudahlah. aku tak bisa berlama-lama disini le. Maaf merepotkanmu, cucuku!" Pamit nenek Tari.


"Terimakasih nek" tukasku menatapnya balik.


Berangsur tubuhnya memudar bak kumpulan awan yang menguap, sama seperti ketika dia datang. Datang tanpa langkah, pergipun tanpa jejak. Segera ku sandarkan punggungku yang sudah mencapai batas lelahnya. Bahkan kumandang adzan subuh pun rasanya tak mampu membuatku beranjak. Rasa lelah sudah benar-benar menguasai tubuhku. Aku terlelap bak tersihir oleh waktu.


*******


"Mas..... mas.....mas......tolong"


"Tempat apa lagi ini?! Huh tak bisakah aku istirahat dengan tenang! Cepatlah keluar hei makhluk gaib, jangan coba-coba mempermainkanku!" Gertakku menyadari aku sudah tak lagi di rumahku, lagi dan lagi.


Sebuah tempat menyerupai taman yang suram dengan beberapa wahana yang nampak terbengkalai. Nampak lumut hijau kehitaman mulai pelan tapi pasti menyelimuti beberapa permukaan patung berbentuk badut yang seharusnya terlihat lucu. Menciptakan aura tersendiri bagi siapapun yang berani menatapnya berlama-lama.


Aku mencoba menyusuri area asing itu. Rasa lelah bercampur penasaran bercampur padu dengan gemetar yang menjalar di seluruh tubuhku. Tempat apa lagi ini Tuhan?? Tak ada yang tersaji sepanjang mataku menyapu sekeliling. Sepertinya yang hanya ada kesunyian dan aura keputusasaan disini.


Tak lama mataku terpaku kembali melihat sesosok wanita yang duduk di ayunan yang lumayan jauh dariku dengan posisi membelakangiku. Hanya tampak punggung putih ramping berbalut baju panjang berwarna hitam pekat dari sosok itu. Terdengar lirih isak tangisnya lirih bahkan dari jarak yang cukup jauh dengannya saat ini.


Ragu aku melangkahkan kakiku menemuinya. Sepertinya aku sedikit merasa jengah dengan terus menerus bertemu dengan makhluk dari berbeda alam itu. Namun, disini tidak ada siapapun dan makhluk apapun yang terlihat sepanjang mata memandang. Ah lebih baik mencoba bertemu dulu, siapa tahu dia bisa bantu. daripada aku terjebak disini selamanya! Batinku.

__ADS_1


Dengan sedikit bersusah payah aku mencoba melewati beberapa permainan usang yang sedikit menghalangi jalanku. Ini bukan taman bermain tapi lebih seperti museum horor untuk uji nyali. Udara disini terasa sungguh pekat lebih berat di banding biasanya. Sebenarnya dimana aku sekarang.


Pelan namun pasti, aku melangkah mendekatinya yang masih tak menyadari kehadiranku. Tak henti-hentinya aku menegak air liurku yang sepertinya juga membuat nyaliku perlahan memudar. Semakin di dekati semakin dia diam tak melanjutkan isak tangisnya yang sedari tadi ia lakukan. Apa dia sudah menyadari kehadiranku? Perset*n, aku hanya ingin pulang dan beristirahat lagi dengan tenang, pikirku.


Aku sudah berada tepat di belakangnya. Salivaku sepertinya sudah kering tak lagi tersisa membuatku sedikit tercekat karena tenggorokan yang mulai terasa kering. Rambutnya terurai lurus dengan tangan dan leher putih seputih kapas. Aku memutarinya untuk berhadapan dengannya setelah sedikit lama terpaku pada sosok itu dari belakang. Sejenak aku berfikir untuk tidak menemui nya dan menganggu urusannya namun, mengingat tak ada siapapun disini, ya mau tidak mau harus ku hadapi!


Degg


Sebuah wajah elok dengan bekas luka mengangga di leher yang terbuka. Mengucur darah yang terus mengalir dan perlahan juga mengering. Baju itu bukan berwarna hitam. Namun berwarna merah gelap karena darah yang membasahi seluruh bajunya sudah berangsur mengering. Matanya tak henti mengeluarkan air matanya. Yang sejurus kemudian memandangiku dengan sendu.


Bibir pucat itu kembali mengeluarkan isak tangis yang menyesakkan dadaku. Udara semakin pekat dan dingin disini, aku sampai jatuh berjongkok karena merasakan sesak yang cukup menjalar. Kupandangi lagi wajah yang nampak tak asing itu, ada gurat kesedihan terpancar dari kami berdua saat mata kami beradu pandang, bertemu dalam keheningan. Sebenarnya apa yang terjadi padamu?!.


"Ayu!!"


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2