Misteri Rumah Nenek

Misteri Rumah Nenek
Simphoni Maut


__ADS_3

Syuutttttt... duarrrrrrrr..


Sebuah cahaya kembali meluncur deras dari pedang mas Didik yang kuarahkan ke depan, menghujam bi Sumi yang sedang mencoba bangkit. Dan kali ini sialnya dia bisa menghindar dengan cukup susah payah. Dia nampak menyeringai tajam dengan tetap memegang sebuah benda berkilauan seperti emas di tangannya.


Dengan terengah-engah dia berdiri lagi. Kali ini dengan raut kemurkaan yang semakin menjadi-jadi. Dia kali ini berteriak begitu kencangnya hingga hampir membuatku tuli. Dengan tetap berkomat-kamit dia mulai melafalkan mantranya satu persatu.


"Akan kubuat malam ini menjadi malam terakhir bagi kalian di dunia!! Hahahaha" tawa lebar mengaum layaknya petir malam ini membuat ku langsung bersiap menyerangnya kembali.


"Mati kau!"


Apa itu?! Seperti layaknya kembang api. Puluhan kepala terbang sedang terbakar nampak tersenyum datang dari berbagai sudut. Wajah mereka terlihat semua tertutup api tanpa celah sedikitpun. Tak ada tubuh atau apapun, hanya sebuah kepala terbakar yang mengambang di udara! Makhluk aneh apalagi ini?!


"Banaspati!" Mas Didik terdengar berteriak dari belakangku.


Aku yang mendengar itu menjadi sedikit beringsut mundur. Menurut cerita Mbah Darto kemarin, banaspati merupakan makhluk yang haus darah. Mereka akan meminum darah dari leher korbannya hingga habis dan kepala korbannya putus begitu saja. Mengingat cerita itu membuatku spontan memegangi leherku. Ngeri!


Namun mengingat sudah tak ada jalan lagi. Aku kemudian mencoba menembaki kepala yang berterbangan itu dengan cahaya yang sama dengan tadi.


Shyuuuuuuttttttt.. syuutttttt.. duarrrrrrrr..


Mustahil! Mereka lebih lincah dari perkiraanku. Semua usahaku gagal percuma. Menyadari mereka di serang, kepala-kepala itu mencoba menyerangku dan mas Didik. Mereka berterbangan memutar di atas kepala kami. Ayunan pedangku pun sepertinya hanya menebas angin semata.


Duarrrrrrrr...duarrr...duarrr ..


Sebuah cambuk panjang berwarna hijau terang berayun cepat menyambar beberapa kepala yang mencoba menukik menyerangku dan mas Didik. Hancur terbakar menjadi abu yang berbau busuk sekali. perutku merasakan mual kembali. Melihat teman-temannya hancur terkena sabetan, beberapa banaspati mundur sejenak.


"Beraninya kau Nyai mencampuri urusanku!!" Geram bi Sumi melihat beberapa peliharaannya hancur menjadi abu. Aku lantas menengok ke belakang melihat asal cambuk itu.


"Nyai Gadung Melati?!" Ucapku tak percaya. Nyai penguasa gunung Gedhe datang dengan bau wangi yang semerbak. Paras cantiknya memang luar biasa. Tak kusangka dia bisa bertarung juga.

__ADS_1


"Aku hanya tidak suka kau menggunakan kekuatan yang ku ajarkan untuk memperdaya orang, Dasimah! Kau ingat dulu kau tidak lebih hanya seorang anak yang tak diinginkan. Bersama adikmu, Sumi. kalian memohon padaku untuk mengajari kalian ilmu membela diri. Namun tak kusangka ternyata kau berhati iblis! Hingga tega membuat adikmu sendiri menjadi wadah untuk jiwa kotormu itu!" Gertak Nyai Gadung Melati.


"Sumi menumbalkan dirinya sendiri Nyai! Dan inilah jalan yang kupilih dan kau tak berhak mencampuri urusanku. Oh iya kau juga sama-sama Putri yang terbuang bukan? Nyai Gadung Melati! Hahahaha" gertak nenek tua yang kali ini bersiap melakukan serangan kembali.


"Lancang kau!!" Bentak Nyai Gadung Melati murka.


"Jika kau ingin bunuhlah aku! Jika itu bisa kau lakukan! Hahahaha!" Teriak nenek-nenek itu kembali.


"Aku tak berhak membunuhmu. Karena urusanku disini hanya ingin mengambil anak buahku kembali. anak buah yang mengikutimu saat ini sudah kuambil paksa dan kembali ke dunia dimana mereka seharusnya." Nyai Gadung Melati kembali mencoba tenang tak terpancing dengan ucapan provokasi nenek tua itu.


"Dan mulai dari sini kuserahkan semua padamu nak, musnahkan iblis itu dan bungkam mulut lancangnya!" Titah Nyai Gadung Melati sedikit memohon.


"Baik!" Ucapku dengan senang hati.


"Untuk mengalahkannya kita harus menghancurkan tubuh itu bro!" Ucap mas Didik.


"Apa kau yakin?" Tanyaku pada mas Didik.


"Baiklah!!!"


Kyaaaaaaaaaaaaa.. cprasssssss..


Aku berlari sekuat tenaga dan mencoba menebas bi Sumi yang di rasuki roh Nyai Dasimah itu dengan kuat. Dan dia menangkisnya dengan menggunakan tusuk konde yang mirip pisau itu. Ketangkasanya nenek tua itu patut di acungi jempol. Dia membalas dengan ingin menggoreskan bagian tajam itu ke arah kulitku yang membuatku segera menghindar. Ternyata tak semudah yang kubayangkan.


"Hahaha. Kau sudah tidak bisa memanggil demit-demitmu lagi bukan?" Ejekku.


"Aku masih punya senjata terakhir nak! Hahahaha" tukas nenek itu.


Senjata terakhir? Apa maksudnya? Apa dia masih menyimpan kekuatannya yang lain?

__ADS_1


"Akan ku buat kau dan semua garis keturunanmu mati dengan api yang membara seperti yang sudah kau lakukan pada...." Ucap nenek itu belum sempat selesai.


"Menunduk!!!" Teriak mas Didik yang tiba-tiba sudah berada di belakangku persis. Sontak aku langsung menunduk mengikuti perintahnya.


Byuurrrrrrr..


Sebuah cairan berbau asam menyiram sekujur tubuh yang sedang berada satu meter di hadapanku. Mas Didik terlihat puas telah berhasil menyirami tubuh itu dengan cairan kimia yang banyak berada di sini. Terdengar erangan tersiksa dari seorang dalang dari semua ini.


"Ku-ku-kurang ajar!!!!" Bentaknya dengan suara lirih. Tubuhnya mulai mengeluarkan asap tipis. Kulit keriputnya mulai memerah. Tubuh tua itu terlihat sempoyongan. Dan tiba-tiba rahang yang sedang berteriak itu jatuh ke lantai. Benar-benar jatuh seakan kulit pipinya sudah putus dan tak mampu menahan rahang tua itu di tempatnya. Darah merah kental mulai mengenang di bawah kakinya. Aku dan mas Didik perlahan mundur.


"Temui ibuku dan minta maaflah padanya budhe Imah!!" Ucap mas Didik dan melemparkan korek api di atas tubuh yang sudah tersiram cairan kimia itu. Dan...


Duarrrrrrrr...


Tubuh itu terbakar dengan hebatnya. Tak butuh waktu lama untuk api merembet menyelimuti tubuh renta itu. Erangan menuju ajal bagaikan simphoni kematian yang mengalun penuh penderitaan. Banyaknya cairan mudah terbakar disana membuat ledakan yang cukup besar lagi. Lebih besar dari yang terjadi tempo waktu lalu saat di markas utama mereka. Aku dan mas Didik yang sudah terluka parah harus mencari jalan keluar secepatnya. Karena api yang sudah membumbung tinggi.


"Mau kemana kalian hei bajing*n!!! Kalian belum selesai denganku!!"


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung..


__ADS_2