Misteri Rumah Nenek

Misteri Rumah Nenek
Awal


__ADS_3

"Memang Perjanjian apa yang nyai Dasimah buat nek?" Tanyaku heran dengan percakapan yang sedari tadi mereka buat.


"Kalau ingin tahu, ayo kita lihat lebih lama lagi le, kamu akan segera tahu jawaban atas semua pertanyaanmu" ujar nenek Tari tak sedikitpun melepas pandangan seakan jijik ke arah Dasimah dan mahkluk buruk rupa di hadapannya.


"Baiklah!" Tukasku.


Terlihat kedua makhluk yang sedang berseteru itu beradu pandang. Hingga sejurus kemudian mahkluk berbulu itu mulai menyeret kaki Dasimah hingga dia dalam posisi terlentang. Tanpa di beri aba-aba makhluk itu langsung mencabik-cabik busana yang masih menempel di tubuh wanita itu secara paksa.


"Layani aku wanita tidak tahu diri!!


Mataku begitu membelalak melihat pemandangan yang seumur hidup belum pernah aku saksikan. Wanita itu memberontak lemah karena kalah ukuran dan tenaga dengan setan yang sedang berusaha menindihnya dengan beringas.


Wussshhhhh


"Kita kembali saja le, sepertinya belum saatnya kamu melihat sesuatu yang biadab seperti itu" singkat nenek Tari menjelaskan. Yang ku balas anggukan mengerti. Sesaat kemudian kami kembali secepat kilat ke ruang tamu di rumah messku.


Aku terbangun seakan baru saja mengalami mimpi buruk yang terasa begitu nyata. Namun sosok yang saat ini bersamaku duduk seakan mengingatkan kalau itu semua bukanlah sebuah ilusi.


"Jadi? Dasimah melakukan perjanjian dengan butokolo yang membunuh Simbah Kakung? Benar begitu nek?" Tanyaku sekedar mengusir rasa kaget karena kehadiran roh itu nampak nyata di sampingku.


"Dulu..."

__ADS_1


"Dasimah merupakan seorang gadis pendiam yang tinggal di ujung desa, dia yatim piatu sejak masih kecil. Ditambah lingkungan hidupnya kumuh mengakibatkan penyakit kulit menghampirinya. Kudis dan borok ada di sekujur tubuhnya di tambah darah bercampur nanah yang keluar melalui kulit yang mengelupas akibat dia terus menerus menggaruknya. Bisa di bilang aku berusia seumuran dengannya waktu itu. Tak ada yang Sudi walau hanya sekedar berpapasan dengannya. Semua warga jijik padanya."


"Keluarga kakungmu dulu adalah salah satu orang terpandang di desa ini, siapapun pasti akan segan melihat status kakungmu yang merupakan keturunan raja. Beliau dengan baik hati senantiasa membagi sedikit makanan dan sandang untuk Dasimah. Semua itu terus dilakukan hingga aku dan kakungmu memutuskan untuk menikah. Setelah menikah aku mengusulkan untuk membawa Dasimah untuk di bawa ke kota untuk berobat karena kasihan melihat sepanjang hidupnya terus menjadi bahan olok-olokan warga" terang nenek menghela sedikit kisah hidupnya.


"Lalu bagaimana dia bisa bertemu dan mengikat darahnya dengan butokolo?" Tanyaku tak sabar.


"Hehehe, kau memang benar-benar seperti kang Wirdjo le, tidak sabaran!" Tukas nenek Tari tersenyum simpul.


"Sudah beberapa kali Dasimah di bawa ke kota oleh kakungmu, hingga penyakit kulit yang di derita Dasimah berangsur membaik walau kata dokter tidak bisa sembuh seratus persen. Dia pun akhirnya di pekerjakan di rumah besar sebagai rewang (pembantu) nenek, hingga kami menjadi sahabat untuk sekedar berbagi cerita hidup. Hal bodoh yang tak kusadari dari dia yang ternyata sudah mencintai kakungmu bahkan sebelum kakungmu bertemu denganku. Dia menyembunyikan semuanya dengan rapi"


"Dan tanpa nenek sadari, Dasimah yang sudah memiliki cinta yang dalam kepada kakungmu berani datang ke bawah kaki gunung Gedhe untuk melakukan perjanjian dengan butokolo! Dasimah pergi selama dua tahun lamanya. Hingga saat dia kembali, semua berubah. Wajahnya berseri bak bulan purnama, tidak ada yang bisa memalingkan wajah saat memandanginya. Bahkan sempat tak ada yang percaya kalau di depan mereka itu adalah Dasimah si kulit ular yang buruk rupa! Tak ada yang menyangka di balik topeng cantik itu tersimpan wajah iblis yang di penuhi dendam." Ujar nenek menggebu-gebu.


"Saat dia kembali ke rumah besar, aku sudah melahirkan anak pertamaku, almarhum pakdhemu le. Rasa cinta terhadap diriku yang sudah melahirkan anak pertama untuk kakungmu semakin bertambah besar. Kakungmu bahkan sama sekali tak bergeming ketika Dasimah datang dengan wajah barunya. Rasa sayang kakungmu kepada keluarga lebih besar dari godaan Dasimah saat itu."


"Lalu apa yang terjadi selanjutnya?" Tanyaku masih penasaran.


"Berbulan-bulan Dasimah pergi lagi walau hanya beberapa bulan saja. Sebelum kembali lagi ke desa dan tinggal di rumah lamanya. Dan entah mengapa selalu saja panen dari kakungmu selalu saja mengecewakan. Hingga akhirnya aku memutuskan untuk membuka sanggar tari karena dulu sebelum bertemu dengan kakungmu aku juga seorang penari, hingga bertemu kakungmu di sebuah acara dan... begitulah awal pertemuan kami le. Sesekali kami juga melakukan pertunjukan panggilan di desa-desa sekitar seperti aku dulu. Dan aku mempunyai ide untuk mengajak Dasimah karena dengan kecantikannya pasti akan ramai panggilan untuk sanggar kecilku. Sebuah keputusan yang akan aku sesali hingga ajal menjemputku dengan paksa"


"Cinta yang tulus itu kini berubah dengan sekejab mata menjadi sebuah api dendam yang bahkan tidak aku sadari sama sekali. Dengan hati riang aku mengajak dan mengajarinya menari. Dalam waktu singkat Dasimah berhasil menguasai panggung bahkan menjadi primadona di manapun kami tampil. Pesonanya bahkan jauh melebihi diriku saat dulu"


"Hingga suatu waktu, saat Dasimah tak mampu menguasai hati suamiku, dia merencanakan untuk merebut tubuh suamiku. Hari itu panen di kebun kakungmu sungguh di luar dugaan! Bahkan mencapai empat kali lipat. Sungguh membuatku, kakungmu, dan seluruh pegawai kami senang bukan kepalang. Dan malam itu kakungmu berencana untuk mengadakan pesta minum tuak untuk merayakan keberhasilan mereka. Aku sudah mencoba mencegahnya, namun kakungmu berhasil meyakinkanku untuk memberinya izin sebentar. Tanpa di sadari Dasimah sudah merencanakan sesuatu yang bisa di bilang nekat untuk membalas sakit hatinya. Dia berencana menjebak kakungmu."

__ADS_1


"Bagaimana nenek Tari bisa tahu jika Dasimah yang melakukan itu? Bukankah itu sebuah ketidaksengajaan?" Pikirku sedikit kebingungan.


"Tidak le! Dia sudah merencanakan semuanya. Gadis yang dulu polos itu telah dikuasai iblis licik dengan segala tipu dayanya! Dengan membayar beberapa lembar uang kepada dua orang kepercayaannya yang masih berstatus karyawan kakungmu, semua rencana busuknya telah di mulai. Dua orang suruhannya itu memberi obat perangsang di campur obat tidur dengan takaran tinggi untuk kakungmu. Membuat kakungmu pulang dengan sempoyongan. Melihat itu, dengan riang dia membopong Kakung di bantu orang bayarannya. Setelah selesai membayar dan menyuruh dia pergi, Dasimah langsung menikmati tubuh kakungmu dengan perasaan riang gembira seakan telah merebut kemenangan besar dariku. Dan.... akhirnya kejadian kelam di rumah besar dimulai"


"Siapa karyawan yang berani menghianati Kakung ?!"


"yang satu sudah meninggal lama le, jika kau tidak percaya pada nenek, tanyalah pada orang tua yang sedang akrab denganmu belakangan ini. Dia saksi kunci yang masih hidup sampai sekarang!" tukas nenek melempar senyum dengan air mata yang menetes pelan menyusuri garis keriputnya.


"Siapa?!!"


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung..


__ADS_2