Misteri Rumah Nenek

Misteri Rumah Nenek
Tamu Istimewa


__ADS_3

Hari yang di tunggu-tunggu pun tiba. Kali ini aku sudah duduk di sebuah meja di tengah ruang tamu yang sudah lega tanpa perabot sama sekali. Hari ini tampak lebih ramai daripada biasanya. Aku duduk di temani ayah dan mas Didik yang bersebelahan denganku. Rasa gugup begitu menyelimuti hatiku saat ini.


Tak berselang lama, seorang pria tua datang dengan setelan putih dan celana hitam di padukan dengan kopyah hitam miliknya. Di tambah sebuah tas jinjing ukuran sedang diapit di tangan kanannya. Beliau kemudian mengambil duduk di hadapanku.


"Assalamualaikum" salam pria tua itu yang ternyata dia yang akan menjadi penghulu untukku.


"Waalaikumsalam" jawab semua orang yang hadir duduk di atas tikar. Kalau mereka yang akan menjadi saksi dari akad yang akan ku ucapkan.


"Baiklah, sudah siap nak putra ?" Tanya pak penghulu menatapku sedikit penuh intimidasi.


"Su-sudah pak" jawabku agak terbata.


"Kalo begitu, pengantin wanitanya sekarang boleh masuk dan duduk di sebelah calon suaminya" tukasnya tersenyum memberi kode.


Dari balik tirai penyekat antara ruang tamu dan keluarga. Melangkah dengan anggun bak seorang putri raja. Seorang wanita dengan gaun putih dengan riasan indah menyapu seluruh wajahnya. Pernak-pernik berkilauan cantik menghiasi anggunnya wanita yang akan duduk di sebelahku ini. Jilbab warna senada yang dia kenakan seakan menambah pesona indah dari calon pengantin wanita yang kini melangkah dan mengambil duduk di sampingku. Tuhan inikah bidadari..


"Sudah bisa dimulai ya bapak-bapak.." ucap pak penghulu yang lalu menjabat erat tanganku yang sudah dingin.


'bismillahirrahmanirrahim.. disini keluarga Wulan telah mempercayakan saya sebagai wali nikahnya. Dan saya selaku wakil nikah dari adinda Wulan dengan ini... Saya nikahkan dan kawinkan engkau Putra Mahesa Rahardjo dengan Adinda Wulan Cantika Ayuningtyas binti bapak Sumardi dengan mahar berupa seperangkat alat sholat di bayar tunai!'


"Bismillahirrahmanirrahim"


"Saya terima nikah dan kawinnya Adinda Wulan Cantika Ayuningtyas binti bapak Sumardi untuk diri saya sendiri dengan mahar seperangkat alat sholat di bayar tunai!" Lafalku dengan sekali tarikan nafas.


"Bagaimana para saksi? Sah?!" Tanya pak penghulu.


"Sah!!!" Ucap bapak-bapak yang menjadi saksi nikahku serempak.


"Alhamdulillah......"


Kebahagiaan yang dalam hidupku kurasakan kini. Jujur saja ada kelegaan terukir dalam hati ku. Sejurus kemudian dengan lembut Wulan mengambil tanganku lembut dan menciumnya. Serrrrrr darahku seakan berdesir di buatnya. Kemudian karena dorongan dari Beberapa bapak-bapak di belakang. Akhirnya aku membalas dengan mencium keningnya lembut. Terlihat pipinya sungguh merona menggoda imanku. Sabar Putra sabar.. tunggu nanti malam sabar..batinku dalam hati

__ADS_1


Dengan menengadahkan tangan kami berdua saat ini berdoa. Mengharap restu dari sang Khaliq. Semoga ibadah yang kami lakukan berdua mendapatkan ridho dari sang ilahi. Berharap pernikahan kami langgeng sampai ajal yang memisahkan. Sekarang resmi sudah kami menjadi suami istri. Hahaha cukup lucu juga mengetahui wanita berpipi menggemaskan ini saat ini sudah sah menjadi pendamping hidupku.


Acara kemudian dilanjut dengan selamatan sederhana ala tradisi kampung ini. Semua acara berjalan khidmat hingga tak terasa waktu sore sudah menjelang. Keluarga dan teman-teman yang dari siang tadi datang pun sudah perlahan kembali untuk pulang. Kini tinggal lelah yang kurasakan karena harus terus tersenyum pada setiap tamu yang datang. Rasanya sungguh pegal pipiku. Ah nanti malam kan punya tukang pijat baru. Hehehehe..batin hatiku dengan pikiran nakal mulai memenuhi otak.


"Heh... Mesti lagi berpikiran kotor lu ya.. hahaha kelihatan dari wajah mesum mu bro!" Ledek mas Didik yang ikut menyusul ku ke belakang karena sama-sama merasakan gerah dan capek. Terlihat di belakang cukup sibuk juga rupanya.


"Hissshhh berisik lu. Makanya cepetan nikah biar bisa ehem ehem. Hahaha" ledekku ganti pada mas Didik.


"Mas.." panggil Wulan lembut kemudian masuk ke kamarnya yang tak jauh dari tempatku duduk lesehan. Sontak aku menoleh padanya.


"Waduh ini kan masih sore bro. Masak udah mau belah duren aja. Masih rame lho" bisik mas Didik tepat di telingaku.


"Heh kambing etawa. Aku ini cuma mau ganti baju di kamar Wulan. Pikiranmu itu lho...makanya cari cewek biar nggak jadi jones terus." Gerutuku.


"Owalah tak kira lu udah kebelet banget bro. Hahaha" tukas mas Didik mengejekku dan seketika bangkit kembali ke depan ruang tamu lagi. Tetap dengan senyum menjengkelkannya.


"Oh iya. Menurut buku yang pernah aku baca bro. Kalo istrimu minta sesuatu sama kamu itu jangan di tolak bro. Langsung aja sikat mumpung dianya yang ngajak. Itu namanya kode alam bro!! Hehehe" Bisik mas Didik sebelum aku beranjak bangun yang hanya kubalas anggukan malas dariku.


"Mas, ngapain bengong disitu?" Tegur Wulan yang sudah duduk di bibir ranjang. melihatku hanya berdiam diri di ambang pintu.


"Kamu nggak suka ya sama kamar wulan?" Sergah Wulan kembali.


"Bukan gitu wul. Kamar ini luar biasa banget. Ukurannya aja dua kali lipat kamar kostku di tempat ibu pipik!" Ucapku masih terkagum-kagum dengan beberapa aksesoris di kamar Wulan.


"Hehehe. Kamu bisa aja mas" ujar Wulan melempar senyum manisnya padaku. Dengan berani aku pun mencoba duduk di sampingnya. Duh kenapa jadi grogi gini sih.


Sejenak kami membisu. Saling kebingungan harus memulai darimana. Hanya sekejab bertukar pandangan tersenyum sendiri dan ya sudah seperti itu terus. Kenapa jadi canggung gini kalo udah di dalam kamar berduaan. Duh nasib nasib.. gumamku dalam hati.


"Emmm mas, boleh nggak aku minta sesuatu dari kamu" akhirnya Wulan membuka obrolan terlebih dahulu. Lega..


"iya..Ayo wul.. Sekarang? "Ucapku dengan penuh percaya diri. Melepas kancing kemeja putihku satu persatu.

__ADS_1


"Eh..eh..eh.. mas kamu mau ngapain? Maksud Wulan bukan yang itu. Wulan cuma mau tanya doang mas. Ih gitu aja pikirannya udah kemana-mana. Hhffffttt" geram Wulan. Wah belum apa-apa sudah salah tafsir aku. Haduh ilmu ajaranmu emang nggak ada yang bener mas Didik!! Batinku.


"Huffftttt.."


Karena tak jadi mengeksekusi istri yang baru kunikahi tadi siang itu. Aku segera bangkit dan memakai kaos yang sengaja aku bawa ke sini tadi siang. Tak berani menatap wajahnya sama sekali karena sangat malu diriku. Entah apa yang di pikiran Wulan saat ini.Tapi, lucu juga membayangkan hal yang barusan terjadi. Bodohnya aku yang tiba-tiba saja ingin memangsa istriku sendiri di saat keadaan masih ramai. Hahahaha dasar konyol!


"By..aku janji nanti malem ya.. jangan marah ya.." sebuah pelukan tiba-tiba menyerangku dari belakang. Suara manjanya ya ampun! Bisa membuatku mati muda jika dadaku selalu berdegup sekencang ini. Apa tadi katanya? Malam ini...hahahaha


"Emmm iya.. kamu panggil aku apa tadi wul?" Tanyaku mencoba menormalkan lagi detak jantungku.


"Hubby..my lovely hubby..cupp..." Sebuah kecupan mendarat mesra di pipiku. Bolehkah aku pingsan sebentar mas author? Lututku sudah sangat lemas sekali rasanya.


"Ayo by kita keluar dulu.. nggak enak kalo pengantin baru kelamaan di dalam kamar. Hehehe" tukas Wulan menarik tanganku mengikutinya keluar kamar. Aku pasrah saja dengan perasaan yang sudah bagai di terpa kesejukan serta di belai lembutnya angin surga. Saat sudah di luar kamar, Ternyata ada seorang tamu yang sangat istimewa sudah menunggu kami. Memakai baju gamis jingga dengan jilbab dengan corak bunga berwarna senada. Dia sedang duduk manis di atas kursi rodanya. Tersenyum manis menatap kedatangan kami berdua...


"Selamat ya Putra dan Mbak Wulan atas pernikahan kalian. Ayu doakan kalian bahagia selalu"


"Ayu..."


.


.


.


.


.


.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2