Misteri Rumah Nenek

Misteri Rumah Nenek
Ronde Kedua


__ADS_3

"Sudah kubilang jangan membuat masalah kan?!" Tukas mas Adi yang menyusul ku di kantor polisi. Suaranya begitu menggema di ruang tunggu kantor polisi.


Iya aku bisa bebas tanpa di proses dengan mas Adi sendiri yang menjamin ku.


"Maafin aku mas, Aku cuma nggak tahan dengan mulutnya" jawabku.


"Sekarang apa rencanamu selanjutnya?" Tanya mas Adi padaku.


"Entahlah mas, aku pengen pulang ke kost dulu. Pikiranku lagi kalut" ucapku berusaha berdiri.


"Terus pacarmu gimana?" Tanya mas Adi.


"Dia bukan pacarku mas, Mungkin belum. Tapi aku rasa aku nggak akan punya mental lagi menemuinya mas. Aku sudah bertindak bodoh dengan mengharapkannya" tukasku.


Tak di pungkiri rasa sedihku mengalahkan rasa sakit yang kualami kini. Bayangan Wulan yang sama sekali tak membelaku sesekali terlintas. Malah dia membantu menolong si brengs*k itu bahkan dia terlihat sangat khawatir. Hmm apa dia masih mengharap cinta dari iblis itu?!


"Woy, malah ngelamun." Ucap mas Adi mengagetkanku.


"Iya mas maaf. Lagi ngrasain sakit mas" balasku mengusap pelipisku yang masih ada darah mengering disana.


"Hahaha yang sakit itu bukan disitu, tapi di sini" tukas mas Adi menunjuk dadaku. Dengan tawa meledeknya.


"Cihhhh" aku mendecak kesal.


"Sudahlah, aku punya hasil dari sesuatu yang kau minta aku untuk menyelidiki nya. Semua sudah kurinci disini" ucap mas Adi melempar selembar map coklat ke arahku.


"Sebenarnya aku ingin mengajakmu ke markas mereka hari ini. Namun melihatmu sedang patah hati aku jadi nggak tega, hahahaha" imbuh mas Adi masih meledekku.


"Jangan menggoda bocah itu terus mas, kamu pun sama! nggak bisa tegas soal cinta" tukas seorang wanita berparas cantik dengan rambut pendek berlalu melewati kami.


"Tika?" Ucap mas Adi lirih kemudian terdiam membisu.


Oh, jadi ini yang namanya Tika. Nama yang pernah di ceritakan oleh mas Eko sebagai dambaannya mas Adi. Mereka tak kunjung menyatakan rasa satu sama lain karena mereka sedang sama-sama karirnya sedang naik. Walaupun terkadang Tika mencoba memastikan statusnya di hati sang Adhiaksa. Ternyata senasib kita, sama-sama terjebak di friendzone.


"Hahahaha, karma itu nyata om Adhiaksa". Gumamku dalam hati.


"Ngapain kamu tadi lihat-lihat dia? Dia itu bukan tipe yang suka brondong!" Ketus mas Adi.

__ADS_1


"Siapa yang tahu??? Hahaha" Gantian aku menggodanya.


"Pulang sana kau! Merepotkan saja" gertak mas Adi hendak bangkit berdiri.


"Iya-iya aku bercanda mas Adi. Terus aku pulang naik apa mas? Masak jalan kaki?" Gerutuku.


Sejenak mas Adi terdiam.


"Em, tuh udah di jemput" balas mas Adi memajukan dagunya. Aku segera menoleh.


"Wulan?" Sedikit terkejut aku melihatnya. Ku kira dia akan menemani si brengs*k itu di puskesmas. Dan tiga orang di belakang bidan itu lebih membuatku terkejut. Ayah ibu !


Segera aku berlari menuju ayah dan ibuku. Kupeluk mereka bergantian, rasa rindu dan lelah ku tumpahkan di ruangan tunggu yang cukup lenggang itu. Dan adik kecilku Hendra yang nampak sedikit lebih putih memelukku balik dengan erat. Tatapan heran melihatku dari beberapa petugas yang lewat tak aku hiraukan.


"Bagaimana kalian bisa disini hiks hiks" tanyaku dengan sesekali terisak. Tak terasa air mataku tumpah begitu saja.


"Nanti aja ceritanya. Ayo kita keluar dulu. Nggak enak di liatin banyak orang" terdengar indah suara lembut yang kurindukan dari ibu. Mulai mengusap air mataku dengan sapu tangannya.


"Panjang ceritanya nak, nanti ayah cerita di dalem mobil aja" ajak ayah menggandengku. Aku menurut saja.


Tak kusangka aku akan bertemu lagi dengan keluarga yang kurindukan selama ini. Sudah hampir satu bulan aku tak berjumpa dengan mereka. Rasanya seakan lelahku sirna berganti kebahagiaan.


Mobil ayah melaju santai tanpa tujuan yang kutahu pasti. Wulan berada di sisiku saat ini. Canggung rasanya karena masalah tadi. Kami tak seperti biasanya. Kami lebih banyak diam dengan sesekali melirik satu sama lain. Menambah suasana menjadi kikuk.


Wanita dengan jilbab hitam dengan pipi merona kemerahan. Dengan bekas air mata yang terlihat sudah mengering. Matanya begitu indah berwarna coklat gelap, dengan sudut mata tegas namun tetap lembut. Membuatku semakin nyaman tuk memandanginya.


"Ehemmm" deheman ayah sekilas mengaburkan lamunanku yang terciduk memandangi Wulan yang duduk bersamaku di jok baris kedua.


"Kita akan ke rumah ayu nak" ucap ibu seakan menambahi deheman ayah tadi. Dengan sudut mata mengembun kristal bening yang siap tumpah.


Ngapain kesana? Bukannya ayu sudah punya pacar? Tak mungkin kan aku tetap di paksa menikahinya?


"Ibu nggak suka kamu jadi anak liar kaya gini Putra!" Bentak ibu tiba-tiba.


"Sejak kapan kamu suka berantem dan membahayakan diri kamu sendiri? Bahkan kamu hampir di penjara kan?" Lanjut ibu yang tak kuasa menahan amarahnya.


"Biarkanlah Bu, namanya juga laki-laki" ucap ayah menengahi.

__ADS_1


"Sifat burukmu menurun ke anakku!!" Lirih ibu sambil sesekali terisak.


"Kau harus segera menikah untuk memperbaiki sifat burukmu itu!" Imbuhnya.


Deg..


***


Sementara itu di ranjang sebuah klinik kecil dekat pantai. Sebuah tubuh sedang terbaring dengan luka memar di wajah. Matanya terus memandangi langit-langit dengan plafon putih usang di atasnya.


Dia terus mengingat kejadian yang baru beberapa jam lalu ia alami. Sebuah hal tak biasa darinya yang sudah terbiasa dengan kekerasan.


Dirinya seperti tak punya kekuatan untuk mengimbangi lawannya tadi. Alhasil wajah putih tampannya harus babak belur menerima hujan bogeman dari laki-laki yang samar-samar ia ketahui namanya tersebut.


Sebuah fakta mengejutkan baginya yang sejatinya seorang algojo berdarah dingin. Yang tak akan segan-segan menghabisi siapapun yang menghalanginya dengan keji. Dia kini harus terbaring menahan sakit dan memar di seluruh tubuh dan wajahnya.


Di tambah sebuah hardikan dari seorang wanita yang sengaja dulu ia tinggalkan saat beberapa langkah lagi menuju pernikahan bersamanya. Begitu terngiang ngiang panas di telinganya.


"Kumohon tuan Andre yang terhormat, jangan ganggu hidupku lagi. Aku sudah melupakan dan memaafkanmu. Jadi kumohon jangan mengusik kehidupanku lagi. Terimakasih dan maaf atas ketidaksopanannya. Permisi"


Sebuah kalimat panjang menggaung gatal di telinga pria yang terkenal sebagai orang tak punya nurani tersebut. Dia tak mampu menjawab bahkan sepotong katapun seakan enggan keluar dari mulutnya. sejenak pikirannya mengawang kepada hal yang lain.


"Seharusnya aku bisa mematikan bocah tengik itu tadi! Tapi mengapa? Mengapa dia begitu membuatku bergetar. Sensasi yang tak pernah kurasakan sebelumnya!! Hahaha" batinnya terus bermonolog.


"Aku ingin ada ronde kedua, tunggu saja bocah tengik!!"


.


.


.


.


.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2