Misteri Rumah Nenek

Misteri Rumah Nenek
Sembunyi!


__ADS_3

Ting..


Suara notifikasi pesan masuk..


"D?"


"ada apa? Apa ada info penting lagi?"


Ting..


"Aku punya informasi darurat!"


"Apa dia berulah lagi? Siapa yang menjadi incarannya kali ini biar aku ringkus dia terlebih dahulu!"


Ting...


"mas P! Dia bilang akan mengambil jantungnya dan meremasnya saat masih berdetak. Dia kumat lagi! Bahaya! Mas P dalam bahaya!"


"Bedeb*h!! Kumpulan semua informasi yang kau tahu. Dan segera kabarkan padaku gerak geriknya. Terimakasih sudah memberi info. Berhati-hatilah disana dan jaga dirimu agar tak terlalu mencolok"


Ting..


"Baik!"


"Oh ya kau bisa membantu kan untuk besok malam?"


Ting..


"Tentu"


"Baguslah jika semua rencana ini sesuai. Aku yakin semua akan segera berakhir dan aku bisa mendapatkan hidupku normal ku lagi. Ayah, doakan aku agar aku bisa mengakhiri penderitaanku. Hingga pengorbananmu dulu tidak menjadi sia-sia." Ujar mas Didik sembari mengusap sebuah bingkai usang.


"Dengan ini aku bisa memantau segala situasi di dalam sana dari manapun tanpa harus masuk kedalamnya. Kau memang cerdas Didik. Hahaha" ucap Didik percaya diri memandang ponsel miliknya.


******


"huaahhhh...pagi yang menyegarkan.." gumamku.

__ADS_1


Setelah mandi dan sarapan. Aku duduk di depan rumah Wulan yang dimana untuk sementara ini mungkin aku akan tinggal bersama istriku disini. Mungkin sampai aku bisa memutuskan mengajak dia hidup dimana. Belum waktunya juga membahas hal yang terkesan terlalu berat untuk pengantin baru seperti ini.


Bau tanah yang baru saja terkena rintik air hujan sungguh mengeluarkan aroma khas yang menenangkan hati. Sedikit mengurangi rasa tegangku karena besok hari dimana aku harus mengakhiri sesuatu demi kehidupan tenang yang lebih baik.


"Hubby..." Panggil Wulan yang kini sudah duduk di sebelahku.


"Ini kopi yang kamu minta by" ucapnya meletakkan sebuah cangkir berisi kopi hitam di meja kecil sebelahku.


"Iya.." jawabku.


"By..Apa kamu yakin besok mau pergi? Ninggalin aku di rumah sendirian?" Protes Wulan yang terlihat sedih mendengar besok aku akan melanjutkan rencanaku dahulu.


"Iya yakin wul. Ini semua juga demi keluarga kecil kita. Aku pengen hidup tenang sama kamu. lagipula kan masih ada ibu kan," Ujarku mencoba meredam kekhawatiran Wulan.


"Tapi aku takut kamu Kenapa-kenapa by.." jawab Wulan dengan wajah berubah menjadi muram.


"Percayalah padaku..aku janji akan kembali lagi dengan keadaan yang masih sama ketika aku pergi. Doakan saja aku, itu sudah lebih dari cukup." Kataku sembari menyelipkan anak rambut Wulan di balik telinganya. Memperhatikan dengan baik Wajah merah merona miliknya kini sudah menjadi candu bagiku.


"Apaan sih by.. malu kalo di lihat orang ih" tukas Wulan menepis lembut tanganku.


"Kamu cantik wul.." rayuku.


"hahaha.. ternyata seru sekali kalo menggodamu wul." gumamku.


Baru saja menikmati indahnya romansa pengantin baru. Tiba-tiba saja si pengacau datang. Mas Didik dengan wajah tanpa dosanya berlenggak lenggok sambil bersenandung fals bak orang kesurupan saja. Aku yang menikah dia yang seperti orang gila. Di pagi yang kembali gelap dengan gerimis tipis melanda bumi terpaksa aku melihat orang aneh yang sedang tak jelas jalan pikirannya berada di hadapanku.


"Wah wah... Indahnya pemandangan hari ini bro...langit begitu cerah. Secerah dilema yang menerangi hatiku.." ucap mas Didik seperti orang meracau.


"Cerah? Apa matamu itu udah rabun ya mas? Atau mata kamu barusan kelilipan tabung gas elpiji ya?" Ucapku yang meledeknya karena menganggu pagi tenangku.


"Hehehehe.. ahh enaknya yang sudah tidur ada istrinya bahkan pagi-pagi pun udah di bikinin kopi..slurrrppp" tukas mas Didik menyambar kopi hitam yang baru ku jamah sekali. Dan meneguknya seperti tanpa dosa. Membuatku tertawa receh melihat kelakuannya.


"Hehehe..Dasar mas Didik. Mulutnya asal nyosor bae." Gerutuku tak serius. Karena sudah terbiasa dengan mas Didik sedari lama.


"Hehehe ngomong-ngomong Mana istrimu bro?" Tanya mas didik setelah meneguk separuh cangkir kopi hitamku.


"Ngapain nyari Wulan? Udah jelas-jelas ada suaminya masih juga mau berani godain!" Ketusku tak terima.

__ADS_1


"Hahaha..wahh dasar bucin!" Ledek mas Didik.


"Sebenarnya ada mas, apa yang membuat kamu rela dateng jauh-jauh kesini?" Tanyaku.


"Hehehe. Mau nenggok sahabat baikku lah..mau apa lagi emangnya" jawab mas Didik menggaruk kepalanya yang sudah pasti tak gatal.


"Heleh.. bilang aja kamu mau nyari sarapan kan?? Hahaha" tebakku.


"Wah betul sekali itu. Sangat kebetulan aku juga belum sarapan nih.. biar aku coba icip masakan istrimu bro.." pinta mas Didik membuatku terkekeh mendengarnya.


"Iya ayo mas.. masuk kita sarapan dulu.." ajakku pada mas Didik.


"Nah ini baru sahabat sejati dan seperjuanganku. Hehehehe" seloroh mas Didik dengan tingkah konyolnya.


"Sebaiknya aku dekat denganmu sementara ini bro.. kita tidak tahu sebrutal apa seseorang yang sedang mengincar nyawamu" batin mas Didik bermonolog.


Angan-angan Didik kembali ke masa dimana dia sewaktu masih kecil dia tumbuh di keluarga yang sederhana. Hingga ayah mas Didik mengadopsi seorang anak laki-laki dengan usia yang hampir sebaya dengan Didik. Sejak saat itu ia pun tumbuh bersama dengan seorang kakak angkat yang selalu saling melindungi. Tanpa ia sadari seorang kakak angkat yang tumbuh bersamanya sewaktu kecil mempunyai ambisi yang mengerikan dalam hati kecilnya. Hingga saatnya tiba dia memilih jalan hidupnya. Dan dia lebih memilih berjalan di lembah kegelapan sendirian.


Kini semua tinggalah masa lalu. Yang ada di hadapannya bukanlah Andre yang dulu selalu ia bela ketika mendapat ejekan dari teman sebayanya. Status bukan anak kandung dari Sumiati lah yang membuat dia selama masa kecilnya selalu membawa stigma sebagai anak pungut. Hingga tiba waktunya, ayah mas Didik meninggal dunia secara misterius membuat pikiran dari Andre muda semakin kacau. Di tambah minimnya kasih sayang yang dia terima dari Sumiati yang sejak awal memang tak menyetujui proses adopsi itu. Membuat ia semakin terpuruk dan merasa terbuang. Sejak saat itulah kepribadiannya menjadi tak stabil.


"Hei mas kenapa ngelamun aja?" Sergahku melihat mas Didik hanya menatap kosong piring yang sudah penuh dengan nasi dan lauk pauk.


"Hehehe.. enggak bro. Aku cuma...rindu aja punya keluarga yang utuh. Jujur saja aku kadang merasa iri melihatmu dengan keluargamu yang begitu bahagia. Hal yang sudah lama tidak pernah aku rasakan" tatap mas Didik nanar.


"Kamu ini ngomong apa sih mas, kamu kan juga keluargaku. Aku dan ayah sudah nganggep kamu seorang keluarga. Jadi keluargaku juga menjadi keluargamu sekarang." Rangkulku ke mas Didik. Menguatkan hatinya sejenak.


"Makasih udah mau nerima aku bro.." ucap mas Didik penuh ketulusan.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung..


__ADS_2