Misteri Rumah Nenek

Misteri Rumah Nenek
Rumah Jagal?


__ADS_3

Lari!!!!!!!


"Tolong bro, aku nggak bisa lari, aku bakal mati bro, aku belum mau mati bro huhuhu" lirih mas Didik.


"Aaargh lari mas lari!" Pekikku panik. Karena langkahku harus terhalang mas Didik yang memegangiku.


Aku yang sejatinya ingin berlari harus tercekat tangan mas Didik yang bertaut kuat di tanganku. Seketika aku menoleh pada mas Didik yang terisak karena tidak bisa melangkah. Ku picingkan mata. Seketika senyumku mengembang.


"Aku nggak mau mati dulu bro hiks hiks hiks lepasin aku lepasin aku Mbah!" Isak mas Didik yang semakin menjadi.


Plakk!


Sebuah tepukan keras mendarat di bahunya. Menyadarkan mas Didik dari ratapannya.


"Hei mas, lihat itu" ucapku menunjuk ke belakang kami berdua.


Dengan gemetar mas Didik menoleh perlahan. Owalah! Ternyata bajunya tersangkut di Grendel pintu. Pantas saja walaupun mereka berlari setengah mati masih tetap di tempat saja.


"Dan lihat itu lagi mas, hahaha" tukasku dengan sedikit tertawa.


Di meja kecil sebelah ranjang itu, tempat lonceng itu tadi teronggok. Ada seekor tikus kecil disana seakan menatap kami heran dan bertanya-tanya. Aku duga sepertinya dia menabrak lonceng itu hingga membuatnya terjatuh. Atau bisa saja tikus kecil itu memang sengaja mengerjai kami hm?!


"Lihatlah kita mas,kita dua orang dewasa dengan tinggi kita sekitar 170 cm dan kita berlari dan hampir jantungan hanya gara-gara mahluk kecil sebesar kentang itu, hahaha" gelakku.


"Tak pikir apa bro hhffffttt" balas mas Didik menghela nafas panjang.


"Ssssttttt, Kita lanjut!" Ucapku mengajak mas Didik.


"Kenapa kau bawa buku jelek itu bro?" Ujar mas Didik sambil terus mengikutiku.


"Perasaanku nggak enak lihat buku itu" imbuhnya.


"Diamlah, Ini adalah kunci untuk kita!" Ucapku tegas.


Langkahku sejenak terhenti di sebuah ruangan yang tertutup rapat di samping kiriku. Deretan Ruangan kamar yang berjejer rapi. Tentu salah satu kamarnya pernah ku tempati. Tapi, sebelumnya ruangan siapa ya, batinku sedikit mengingat kembali di depan ruangan yang berada paling pojok itu.


Semakin dekat dengan pintu itu, bau menyengat amis semakin tercium. Kami berdua saling berpandangan. Dengan ragu kini mas Didik membuka perlahan pintu dengan ukiran indah yang terkesan mewah itu.


Pasti ada yang tidak beres disini!!


Dengan sedikit tenaga pintu yang berat itu sedikit terbuka. Entah kenapa beberapa lalat besar seakan mencoba berebut keluar dari celah pintu yang terbuka. Bau anyir amis semakin kuat. Membuat perut kami seperti di aduk-aduk karenanya. Ada yang tidak beres disini!

__ADS_1


Dengan langkah ragu kami memasuki ruangan asing tersebut. Lantai disini terasa sedikit lengket. Udara disini semakin tipis membuat kami sedikit kesulitan dalam bernafas bebas.


Dengan hanya bermodal senter dari hp kami mulai menelusuri ruangan luas tersebut. Ruangan ini begitu sunyi, langkah kaki kami seakan menggema ke seluruh penjuru. Bahkan seolah-olah kami bisa mendengar detak jantung kami yang berpacu dengan cepatnya. Saat sudah berjalan beberapa meter menuju tengah ruangan...


Duaghh buggkkkk


"Argghhh!" Erangku saat kakiku menyandung sesuatu di tambah mas Didik yang menubrukku dari belakang. Kami terasa jatuh di atas genangan cairan.


"Ngapain sih mas Didik ikut-ikutan kesandung?" Ucapku masih merintih pegal di kedua dengkulku.


"Lah mana kutahu bro. Kan aku cuma ngikut kamu!" Balas mas Didik sembari bangun dari tubuhku. Matanya mengedar dan mengambil Hpnya yang sempat terjatuh.


"Sialan! Kenapa ada kayu sih di tengah kamar kaya gini sih!" Gerutuku sambil mengusap dengkulku yang kurasa kotor dan basah.


"Kyaaaaaaaaaaa!!!!"


Dengan tanpa aba-aba mas Didik berlari menerobos semua yang ada di depannya. Meninggalkanku sendirian dengan linglung. Ku arahkan senter Hpku ke bawah dan...


B*ngs*t!


Terlihat sebuah tubuh terbujur kaku di hadapanku. Wajahnya sudah tak berbentuk lagi. Dengan darah yang menggenang menyelimutinya. Pemandangan paling memilukan dalam hidupku kini berada tepat satu meter di depanku.


Ku coba beradaptasi dengan keadaan kali ini. Aku harus tenang walaupun tak memungkiri. Aku mual dan ngeri berada disini. Aku coba bangkit berdiri dan mencoba mengambil nyali ku yang tadi sempat hilang dari diriku. Ku peluk buku itu erat dengan sisa keberanian yang masih ada untuk segera beranjak dari saja.


Menjijikkan! Apakah mereka menjadikan rumah ini sebagai tempat penjagalan?


Sementara itu Mas Didik yang panik langsung mengambil motor dan melaju sekencang-kencangnya tanpa mengetahui arah dan tujuan. Dia begitu shock melihat sesuatu yang mengerikan di depan matanya barusan.


Didik memang orang yang mempunyai ketakutan terhadap darah. Jika hanya sedikit tak masalah baginya. Tapi jika melihat darah yang cukup banyak, bisa membuatnya histeris atau bahkan bisa pingsan seketika.


"Apa-apaan yang aku lihat tadi. Aku takut jika melihat darah begitu banyak!! Hiiiiii " batinnya.


Ciiiiittttttttt


Rem motor butut itu berbunyi saat sang empunya menarik tuas rem dengan mendadak. Karena teringat sesuatu yang penting.


"Eh tunggu sebentar. Mana si Putra?!" Pekiknya.


"Whuasyu Bodohnya aku bisa-bisanya ninggalin dia!!!" Imbuhnya kesal dengan diri sendiri.


Dengan segera ia memutar balik motornya berniat menjemput sahabatnya yang tak sengaja tertinggal karena kecerobohannya.

__ADS_1


Di sepanjang jalan tak henti-hentinya dia mengumpat pada dirinya sendiri yang seperti seorang pecundang bodoh, karena meninggalkan sahabat yang harusnya ia lindungi di dalam kandang musuh.


"Bisa mati muda aku kalo Putra Mahesa sampai kenapa-kenapa" bisiknya dalam hati.


*****


"Hm besar juga nyalimu nak! Beraninya kau masuk dalam istanaku tanpa ijin, hahaha. Baiklah aku mungkin akan sedikit bersenang senang denganmu hahaha !!" Geram wanita berkebaya hiaju itu dalam hati. Giginya gemeratak dengan mata yang nyalang membuat siapapun yang melihatnya akan gemetaran karena saking takutnya.


Terlihat asap mulai mengepul kembali setelah beberapa potong kemenyan di lempar ke dalam bara api yang masih memerah itu. Asap mulai memenuhi ruangan.


Di dalam bilik kamar gelap nyaris tanpa cahaya dengan udara yang pengap inilah. Semua orang yang menghalangi tujuan dan rencana mereka akan disingkirkan dengan bengis. Semua di lakukan dengan perintah tangan dingin sang nenek tua renta yang di sebut Nyai itu.


"Aku punya tugas untuk kalian berdua! Sekaligus tugas terakhir untukmu Andre!" Ucapnya


"Tugas apa itu Nyai?" Andre mencoba bertanya.


"Akan dengan senang hati kami melakukannya Kanjeng Nyai-ku" ucap pria yang lebih tua menimpali.


"Bagus!" Pekik nenek tua itu.


"Tugas kalian sederhana. Cari dan seret orang itu datang menemuiku secepatnya! Hidup atau mati. Hahahaha" Sambungnya sembari melempar selembar foto ke dapan kedua orang itu.


Selembar foto seorang laki-laki dengan postur tubuh gagah dengan rambut sedikit ikal di sertai tag nama dan alamat di belakangnya. kedua pria itu saling berhadapan dan tersenyum aneh.


"Budi Tri Rahardjo Suwirdjo"


"Akan ku selesaikan ini dengan cepat dan segera hidup tenang" batin Andre dengan disertai senyum bengisnya.


.


.


.


.


.


.


Bersambung..

__ADS_1


__ADS_2