Misteri Rumah Nenek

Misteri Rumah Nenek
Potongan Puzzle


__ADS_3

"Wulan!" Ucapku tersenyum sumringah melihatnya. Entah kenapa sehari ini ada yang kurang kalau tidak melihatnya.


"Ishh mulai senyum-senyum sendiri, pentanda Penyakit gilanya udah mulai kambuh lagi" ejek mas Didik.


"Hisshh" Sinis ku.


Terlihat Wulan di luar masih mengenakan seragam putihnya. Dengan wajah yang terlihat lelah. Sudah kuduga dia pasti belum pulang ke rumah. Wulan menggandeng seorang wanita berseragam sama dengannya.


"Gita!" Ucap mas Didik lirih.


Yang kemudian senyum-senyum sendiri melihat wanita itu tersenyum dan mengangguk padanya. Rautnya pun sudah memerah seperti kepiting rebus.


"Hati-hati, penyakit gila itu nular lho, hihihi" balasku mengejek mas Didik yang sedang berbunga-bunga itu.


"Berisik lu!" Tukasnya kemudian sambil melempar koran kearahku.


Dua wanita cantik itu masuk dengan membawa dua bungkus nasi goreng. Tak lupa dengan plastik lainnya berisi dua bungkus es jeruk untuk kami.


"Mas tadi aku makan sama temen-temen. Ini kebetulan ada sisa dua bungkus. Kalo kamu mau" ujar Wulan.


"Wulan sengaja beli itu buat kamu, spesial katanya mas" ucap Gita terkekeh. Gita sudah kembali lagi ke bergabung dengan kami setelah dia masuk ke dalam rumahnya setelah tadi ijin sebentar untuk berganti pakaian.


"Apaan sih git, nggak kok nggak gitu. Kamu jangan salah faham dulu." Bantah Wulan mencubit kecil lengan Gita.


"Hehehehe. Makasih iya Wulan.". Ucapku berterima kasih.


" ii-iya mas " balas Wulan lirih. Pipinya kembali memerah Segaris senyuman terlukis di sudut bibirnya walau tak terlalu nampak karena dia terus menunduk.


"Ehemmm kode-kode-kode" cetus mas Didik menggodaku.


Terlihat Wulan sesekali mencuri pandang padaku yang sedang membuka bungkusan kertas minyak tersebut. Berbeda dengan mas Didik yang langsung lahap menyantap nasi goreng dengan mencuri pandang kepada Gita.


Malam itu kami lalui dengan penuh canda dan sesekali aku pun menggoda mas Didik, melihatnya bersikap kaku seperti itu merupakan hiburan sendiri buatku. Hingga tak terasa malam mulai larut dan kami berempat harus berpisah dan sementara kembali ke kehidupan masing-masing lagi.


******


Pagi telah tiba, aku dan mas Didik yang sudah bangun bergegas untuk berebut mandi duluan. Aku dengan pekerjaanku di ternak pak Mardi dan si kunyuk ini yang ingin mengantar pujaan hatinya, si Gita.


Dan, aku yang harus kalah karena dengan begitu liciknya gayung mandi itu sudah di genggamannya. Daripada mandi pakai gelas jadi Mau tidak mau aku harus mengalah. Di dalam kamar mandi dia terus saja tertawa seakan meraih kemenangan telak dariku. Menyebalkan


Saat sedang menunggu kunyuk itu mandi, tiba-tiba Wulan datang dengan begitu manisnya. Dengan mengunakan baju batik yang pas sekali di badannya juga celana bahan panjang dan di padukan riasan yang natural membuatnya sungguh sempurna di mataku.


"Iiiihhh jorok belum mandi, kamu katanya bapak suruh libur dulu. Ternak bapak mau di renovasi sebentar soalnya tadi malem rusak kena dahan pohon yang jatuh pas di atap genting." ucap Wulan dengan menutup hidungnya. Membuatku gemas saja kau bidan jelek.

__ADS_1


"Hehehehe dasar bidan aneh. Iya udah makasih ya informasi nya ". Balasku berterima kasih padanya. Kembali dia melempar senyum mautnya. Degggserrrrr


Setelah sedikit mengobrol akhirnya Wulan pamit untuk berangkat berkerja. Disusul Didik yang masih bersikukuh mengantar si Gita di belakangnya. Hahaha. Sukurin kena virus bucinku! Hahaha


Aku sejenak berfikir tentang apa yang di katakan mas Didik semalam. Ini kesempatan emas untuk dapat masuk ke dalam sarang mereka. Mumpung mereka tidak ada. Inilah saatnya untuk berburu!!


"Mas?" Panggilku pada mas Didik yang sedang mengutak-atik mesin motor bututnya. setelah pulang mengantar pujaannya.


"Hm" dia hanya membalas deheman.


"Gimana kalo sekarang kita masuk kesana?!" Ajaku setengah berbisik.


"Hah?! Kau yakin? Ini siang-siang lho" ucap mas Didik kaget.


"Iya makanya itu kita kesana siang biar nggak terlalu serem" ujarku.


"Nanti kalo ada warga mergokin kita?" Tanya mas Didik ragu.


"Ah itu pikir belakangan. Gimana?" Tanyaku balik pada mas Didik.


"Oke. Kita siap-siap dulu. Tapi, apa kamu yakin nggak bawa apa-apa kesana?" Ragu mas Didik lagi.


"Nggak usah. Kelamaan nanti keburu wulanku pulang" ucapku tak sabar.


******


Satu setengah jam lamanya kami berboncengan. Akhirnya sampai juga di rumah nenek Tari. Rumah yang memaksa aku untuk jauh dari kata kenyamanan dan terpaksa harus menerima teror mengerikan itu.


"Apa kamu yakin?" Tanya mas Didik menelan ludahnya.


"Katamu belum ada yang masuk disini sejak penangkapan Utomo dan teman-temannya kan? Bahkan polisi belum mendapatkan surat pengeledahan jadi bisa di pastikan rumah ini belum ada yang menjamah lagi? Betul?" Ucapku meyakinkan.


Rumah yang sebulan lalu ku kunjungi dengan ceria bersama keluargaku. Dengan niatan berlibur. Namun sekarang aku harus terjebak di antara potongan-potongan puzzle yang rumit. Bahkan satu persatu fakta baru dari masa lalu mulai terkelupas dengan sendirinya.


Kami kemudian memanjat pagar yang hanya setinggi dada kami. Kami masuk ke dalam rumah dengan aura kelam tersebut. Di tambah beberapa Minggu ini tak berpenghuni, menambah kesan misterius di dalamnya.


Kami tak bisa masuk karena pintu terkunci. Udara di sini sungguh pekat sekali seperti minim dengan oksigen. Aha!!! Akhirnya sedikit aku teringat pernah meletakkan kunci cadangan di bawah pot tanaman lidah buaya dulu.


Dan, ini dia!! Sebuah kunci berwarna perak masih tetap berada di sana. Tempat terakhir kali aku meletakkannya. Kumasukkan ke dalam lubang kunci dan...


Ckkkleekk kriiiiietttt


Bunyi engsel yang sudah mulai berkarat membuat kami berdua menelan ludah sendiri. Aku memberi isyarat pada mas Didik untuk mendekatiku.

__ADS_1


"Mau di mulai darimana?" Ucapku Sembari mencari saklar lampu. Karena kami hanya bergantung pada lampu flash di HP kami masing-masing.


Ckklek


Sial! Lampunya sudah tidak mau menyala. Mungkin karena sudah lama tidak di tinggali jadi pihak berwenang memutus aliran listriknya. Dengan meraba-raba kami terus menelusuri rumah yang dulu sempat aku kagumi.


Kini aku berdiri tepat di kamar mendiang nenek tari dulu. Ku dorong perlahan dan...terbuka!


Karena tidak di kunci kami mencoba masuk ke dalam kamar yang sangat pengap tersebut. Debu dan sarang laba-laba memenuhi setiap sudut kamar. Membuatku sedikit merasakan merinding di setiap inci tubuhku.


Di sudut meja sebelah kasur lusuh itu, tersorot flash sebuah benda yang tak asing. Iya itu adalah lonceng nenek dulu! Melihatnya saja sudah membuatku beberapa kali membelalakkan mataku. Keringat dingin sudah membasahi kami berdua.


Terlihat mas Didik dengan sama gemetarnya mencengkeram lenganku. Ku hampiri meja kecil di samping kasur itu dan membuka lacinya. Agak susah karena sedikit seret saat di tarik. Hingga akhirnya laci itu terbuka.


Sebuah buku tebal bersampul warna merah dengan pita pembatas berwarna senada. Ku buka untuk mengintip ada apa di dalam buku tua itu. Apakah berguna atau tidak. dan..


Bingo!!!


"Kita sudah dapat! Ayo keluar. Ini sudah lebih dari cukup mas" ucapku berbisik pada mas Didik.


"Iya ayo aku udah nggak nyaman disini bro!" Balasnya lirih.


"Apa mau lanjut ke ruangan yang lain?" Tanyaku mencoba keluar dari kamar pengap itu.


"Terserah kamu bro" ucap mas Didik yang mengekor di belakangku.


Kriiingcingg..... kriiingcingg


Saat kami sudah di ambang pintu keluar kamar sebuah bunyi lonceng membuat kami membeku seketika!


Aku tak berani menoleh! Seakan tubuhku mendidih karena takut. Jantungku bagai berlari sendiri dari tempatnya. Tubuh kami berdua melemas sendiri. sementara kupegang erat buku bersampul merah yang mulai pudar itu. Dan....


Lari!!!!!!!


.


.


.


.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2