
"Hei kamu kenapa dari kemarin banyak melamun terus mas? Apa kamu lagi kepikiran ayu?" Ucap Wulan membuyarkan lamunanku.
"Eh, enggak kok. Lagi mikirin besok kiriman telur ke langganan di kampung S harus tutup target. Padahal masih banyak pelanggan yang antri menunggu kiriman telur kita. Semua karyawan sampai kewalahan" jawabku asal.
Aku sampai tidak sadar jika sedang bertamu ke rumah Wulan yang baru saat ini. Karena terus merasa bosan dalam kamar mess di sebelah ternak pak Mardi. Ya sekarang bisa di bilang aku naik jabatan karena sekarang ini aku hanya bertugas mengawasi perkejaan beberapa karyawan di ternak ayam milik pak Mardi yang mulai berkembang pesat.
Sementara itu aku tidur dalam sebuah rumah mess tak jauh dari lokasi pekerjaanku. Pak Mardi bilang jika itu ia berikan karena termasuk fasilitas untukku. Aku cukup bersyukur karena dengan demikian aku bisa sekidit menghemat pengeluaran bulananku.
"Mas Mahesa?!" Ucap Wulan kembali sembari mencubit lenganku.
"Iya iya aku denger wul. Hishh ngapain sih kamu hobi banget nyubit badanku. Sakit" gerutuku merasakan panas di lengan kiriku.
"Aku pikir kamu kesambet. Soalnya dari kemarin kamu kebanyakan bengong." Tukas Wulan sembari bangkit masuk ke dalam rumah hendak mengambil minuman sepertinya. Lumayan untuk membasahi sedikit tenggorokan ku yang sudah mulai kering.
Memasang selepas pulang kemarin dari rumah sakit dan bertemu kedua sahabatku, entah mengapa perasaanku terus merasa aneh. Mataku terus melamun jauh memikirkan hal buruk apa yang akan menimpa ayu sewaktu-waktu dan juga aku mulai merasakan ada yang lain di diri mas Didik tempo waktu itu. Walaupun aku sendiri juga masih ragu.
"Ini mas di minum dulu" tiba-tiba Wulan sudah datang di hadapanku sembari menyodorkan segelas es sirup berwarna merah di depanku sementara satu gelas lagi di hadapannya.
"Hemm makasih wul" ujarku.
Ku teguk segera minuman yang di suguhkan Wulan, Rasa segar begitu menyelimuti seluruh tenggorokanku saat ini. Rasa dingin dan manis begitu memanjakan Indra pengecapku.
"Nanti bayar! Minuman itu tidak gratis, hehehe" gurau Wulan yang melihatku yang begitu menikmati.
"Bayar pake cinta boleh? Hahaha" celetukku.
Wulan hanya tertawa kecil mendengar celotehanku. Pipi merah selalu terlihat menghiasi wajah wanita yang mengambil cuti libur hanya untuk menemaniku hari ini. Kami pun tertawa bersama larut dalam canda di siang hari itu.
"to..lo...ng"
Sekelebat suara memaksaku untuk hening sesaat. Sepersekian detik lalu aku yakin mendengar sesuatu yang tak asing melewati telingaku. Suara lirik berbisik dari seseorang yang sudah sangat lama sekali tak kudengar.
"Akhirnya muncul juga"
"Nenek!!"
*****
Siang telah berganti sore hari. Matahari yang sedari tadi gagah di atas ubun-ubun perlahan mundur di ufuk barat menciptakan langit temaram senja berwarna oranye.
Sosok yang lama tak bertemu denganku, baru saja menghampiriku dengan wujud astralnya. Bagaikan asap tipis yang membentuk sebuah raga utuh. Sosok nenek tua yang sekitar tiga bulan lalu di semayamkan. Walau sekilas namun aku cukup gemetar walau belum bisa berkomunikasi dengannya.
Bruagghhh
__ADS_1
Suara seperti angin yang menabrak pintu yang baru saja ku tutup cukup membuatku melompat terkejut. Angin itu sekilas seperti kepulan asap yang memadat.
"Nenek Tari!!"
Karena siang tadi aku tak ingin membuat gaduh di rumah Wulan. Aku bergegas pamit untuk pulang siang tadi. Ingin segera ku utarakan segala dampak yang di timbulkan saat ini akibat perseteruan nya dengan Nyai Dasimah dulu jika sosok roh itu muncul kembali. Dan pertanyaan apa sebenarnya tujuan nenek membentuk sekte biadab itu masih terngiang-ngiang di pikiran ku?
"Apa sebenarnya maksud semua ini?" Kataku geram melihat sosok nenek Tari mulai menghampiriku secara tiba-tiba.
"Tolong, Maafkan aku le, ini semua salahku" ucap ruh nenek Tari sendu. Nampak wajahnya yang sudah membiru pucat meneteskan bulir bening yang menganak melewati pipi keriputnya.
"Aku hanya memintamu menjelaskan! Jangan berbasa-basi" ketusku memasang wajah se sangar mungkin.
Meski tak di pungkiri aku masih cukup gemetar jika melihat mahkluk dari alam sebelah. walau sudah terbiasa, namun sampai saat ini, aku masih saja merasa sedikit takut melihat wajah mereka yang beraneka ragam.
"Maafkan nenekmu ini le, karena kebencianku pada wanita itu membuatku kalap dan lupa diri. Hingga menyebabkan semua keturunanku menderita" rengeknya pelan yang kemudian menjadi sebuah tangisan dengan suara yang cukup membuat merinding.
"Bicaralah padaku nek" ujarku yang kemudian berdiri dari dudukku dan kemudian memunggunginya.
"Nenek akan bawa ingatanmu le, dimana penderitaanku semua berawal" ucap nenek tua yang masih saja terus terisak itu.
"Sekarang tutup matamu,"
Wusssssshhhhh
"Akan ku tuntun kamu supaya bisa menguasai alam gaib. Bagaimanapun di darahmu mengalir darah Kanjeng Prabu" ucap nenek tua menuntun tanganku yang transparan memasuki alam yang berbeda dari yang kualami dulu.
Tak mau membantah kali ini, aku hanya ingin mengikuti apa yang ingin di tunjukkan makhluk perwujudan energi dari nenek Tari ini. Rasa penasaranku lebih besar dari apapun saat ini. Bagaimanapun aku harus mencari sebuah kebenaran!
"Kita pergi!" Tukas nenek Tari singkat.
Wussshhhhh
Kembali ragaku seperti berpindah layaknya sebuah pertunjukan sulap. Kali ini aku memasuki sebuah ingatan dari nenek Tari. Sebenarnya apa yang ingin nenek tunjukkan padaku? Bukankan aku sudah mengetahui separuh dari kisah hidupnya.
"Kau lihat itu nak? Lihatlah Dasimah disana!" Suara nenek menunjuk seorang wanita bertubuh ramping sedang bertapa di sebuah pendopo.
"Bukankah itu rumah nenek dulu?" Tanyaku keheranan.
"Sssttt diamlah dan perhatikan saja!" Ketus nenek padaku.
Setelah kulihat beberapa saat Dasimah duduk sembari mulutnya terus komat Kamit tidak jelas, tiba-tiba sosok hitam dengan tubuh yang sangat tinggi menghampiri Dasimah! Mata nya sebesar roda ban kendaraan dan dari bawah mulutnya mencuat taring berwarna kuning dengan bulu di sekujur wajahnya. Dengan tersenyum mengerikan melihat Dasimah sedang bertapa memanggilnya.
Seketika dia menciutkan tubuhnya hingga sebesar laki-laki dewasa meski ukuran tubuhnya masih bisa di bilang masih terlalu besar. Dia mendekati Dasimah dan mulai duduk bersila di depan Dasimah yang mulai membuka matanya.
__ADS_1
"Apa kau sudah siapkan tumbal itu untukku! Hahahaha!!!" Suara menggelegar seakan memenuhi sekelilingnya.
Melihatku terkejut nenek Tari di sebelahku memegang lenganku sembari terus menatap rentetan kejadian itu dengan sendu.
"Bunuh saja laki-laki itu, aku tak peduli! Yang terpenting penuhi janjimu hei butokolo!" Ucap Dasimah tak kalah lantang.
"Aku akan memberimu kekuasaan dan kecantikan tiada tara imah. Sekarang biarkan aku menikmati tubuhmu dulu wahai Dasimah! Hahaha" Ucap makhluk mengerikan itu dengan liur berwarna hitam yang terus menerus menetes.
"Berjanjilah untuk segera melenyapkan laki-laki tua itu beserta istrinya juga sekalian, aku akan terus memberimu tumbal hingga perjanjian kita berakhir! Aku sudah muak terus melayanimu iblis!" Gertak Dasimah kali ini suaranya bergetar.
"Beraninya kau berkata demikian!! Bukankah aku sudah memberimu kesembuhan bodoh! Lihatlah dirimu waktu dulu, apa kau pikir ada yang Sudi melihatmu penuh borok dan darah amis di sekujur tubuhmu yang selamanya tak akan bisa sembuh?! Jika kau ingin mengakhiri perjanjian darah kita, berikan aku tumbal tuju nyawa orang yang terikat darah! Bahkan kau baru memberiku suami dan kedua anakmu! Jika kau tak bisa memenuhinya, bersiaplah anak keturunanmu yang akan bergantian melayaniku!" Hardik butokolo dengan mata yang terlihat buas.
"Aku menyesal memenuhi perjanjian dengan makhluk laknat sepertimu! Lebih baik jika dulu aku mati saja daripada harus bertemu denganmu!"
"Hahahaha!!!" Kembali tawa menggelegar itu terdengar memekakkan telinga.
****
"Lihatlah diriku le, aku dulu yang ingin pergi berobat ke kota namun urung karena melihat pemandangan yang mengerikan ini terlebih lagi nenek dulu walaupun bisa lihat setan, nenek masih awam soal ilmu Kanuragan, hingga nenek cuma bisa ngintip lewat celah pintu itu" ucap nenek menunjuk seorang wanita yang sedang hamil besar sedang menguping Dasimah.
"Itu nenek kah???" Tanyaku dalam hati heran. Karena di masa mudanya, nenek terlihat sangat cantik sekali seperti artis Korea kalau saat ini. Padahal menurut beliau saat itu sedang mengandung anak ketiga.
"Hahaha, dulu nenek memang primadona desa le, tidak mungkin kakungmu kecantol nenek kalo nenek tidak mempesona, hahaha" ujar nenek Tari sembari mengelus kasar rambutku.
"Memang Perjanjian apa yang nyai Dasimah buat nek?" Tanyaku heran dengan percakapan yang sedari tadi mereka buat.
"Kalau ingin tahu, ayo kita lihat lebih lama lagi le,"
.
.
.
.
.
.
Bersambung...
NB : Tole/ Le : merupakan panggilan kesayangan kepada anak laki-laki di tanah Jawa umumnya, di beberapa daerah panggilan ini hanya di berikan kepada yang belum menikah saja.
__ADS_1