Misteri Rumah Nenek

Misteri Rumah Nenek
Terbawa


__ADS_3

Malam sudah mulai larut. Entah sudah habis berapa cangkir kopi aku kali ini. Sudah hampir tiga hari aku disini, dan rencananya besok adalah hari dimana aku akan kembali ke kehidupanku yang sebenarnya. Sudah cukup bagi Mahesa untuk bersembunyi. Ada banyak hal yang harus dilakukan. melenyapkan sebelum di lenyapkan.


Pikiranku kini terbang entah kemana, membayangkan segala yang terjadi dari awal aku menginjakan kaki di rumah terkutuk itu hingga kini harus terdampar di desa orang. ku rogoh saku jaketku lagi, Sekilas aku memandangi foto cantiknya ibu kandungku, wanita yang rela mengorbankan hidupnya demi anaknya. Sebenarnya apa kesalahanmu ibu hingga kau harus mati dalam keadaan seperti itu? Batinku bermonolog.


Aku ingin segera bertemu dengan kalian ayah, mas Didik, ayu. Semoga kalian baik-baik saja disana. Tak bisa kubayangkan jika aku sampai salah langkah sedikit saja. Bisa habis orang-orang di sekitarku. Sungguh organisasi yang rapi. Bagaimana ibu? Menurut ibu apakah yang ku lakukan ini sudah benar Bu? Batinku sambil memandangi foto usang di tanganku.


"Wanita yang cantik, apa itu ibumu mas?". Suara Wulan dari belakang kursi yang cukup mengagetkanku.


"Eh, iya,". Jawabku.


"Hehe cantik, lihat hidungnya mancung mirip kamu lho mas,". Ucap Wulan.


"Hm, makasih. Tapi sayang beliau sudah meninggal lama wul,". Ujarku.


"Eh, maaf mas. Wulan nggak tau,". Balas Wulan sedikit merasa bersalah.


"Nggak apa-apa kok, toh itu udah lama juga,". Ucapku sembari tersenyum.


"Kamu nggak tidur mas?,". Tanya Wulan.


"Iya ini udah mau tidur kok, emang kamu mau kalo tak suruh nemenin semaleman disini, hehehe,". Jawabku sambil bangkit dengan sedikit tertatih.


"Nggak mau kalo disini,". Jawab Wulan ambigu.

__ADS_1


"Terus???,". Jawabku terpancing.


"Udah lah lupain,". Ucap Wulan dengan menangkupkan kedua tangannya menutupi wajahnya yang memerah.


"Sana tidur besok jangan lupa janji kamu ya, nganter aku pulang,". Titahku.


"Iyaudah Wulan juga mau istirahat, makasih ya mas, kamu juga jangan begadang,". Ucapnya lirih.


"Makasih? Makasih buat apa Wulan?,". Tanyaku heran.


Belum sempat menjawab bidan yang menurutku cantik namun aneh itu melenggang pergi begitu saja, seperti tanpa dosa Meninggalkanku dengan pertanyaan yang belum terjawab.


"Bidan aneh bin ajaib,". Gerutuku.


Aku pun masuk kedalam rumah itu, dua hari ini aku tidur di ruang tv keluarga mereka karena setelah semalaman duduk di sofa membuat pinggangku serasa ingin patah. Dan karena ruang tv tak terlalu jauh dari ruang tamu, aku pun menyetujuinya.


Srekkk srekkk srekkk


Sebuah suara cukup mengagetkanku. Membuat kantuk yang hampir menyerangku sirna begitu saja. Degup jantungku tak beraturan. Wangi bunga melati mulai memenuhi Indra penciumanku. Membuatku sedikit merinding. Sebenarnya Apa yang terjadi?


Aku coba berjalan perlahan, walau belum bisa sempurna berjalan setidaknya sekarang aku tak membutuhkan alat bantu lagi. kemudian aku mendekati jendela besar di ruang tamu, Kusibakkan gorden dan mengintip di setiap celah gelapnya malam. Melihat sumber suara kegaduhan yang membuatku penasaran. Apa itu?


Di halaman terlihat seorang yang sepertinya sudah renta dengan kebaya dan jarik khas orang tua kuno dengan rambut putih yang tergerai, dia memegang sapu lidi dan menyapu halaman di jam satu malam!!! Dia menyapu Sembari membelakangi rumah ini, Hingga aku tak bisa melihat raut mukanya. Nenek-nenek itu terus menyapu dengan suara yang begitu menggema di dinginnya malam. Tidak Mungkin!!

__ADS_1


Sejenak aku terpaku di tempat, jika saja ada mas Didik atau ayu pasti tau apa yang harus ku lakukan disaat ini. Perlahan namun pasti nenek itu memutar kepalanya seakan balik menatapku tajam. Sialan! dia memutar kepalanya saja dan tubuhnya tetap di tempatnya. Kali ini makhluk ini mampu membuatku bergidik. Secara cepat dia melayang mendekatiku yang berada di balik jendela.


Tubuhku sedikit mundur, kali ini kurasakan tubuhku seperti lumpuh. Nenek-nenek itu seakan tranparans dan menembus tembok kemudian menduduki diriku. aneh rasanya seperti mimpi dia begitu mudah seperti menarik rohku dari raga. aku tak bisa melawan sedikitpun.


"Arrrrgggghhhh" pekikku yang tak mampu mengeluarkan suara. Rasanya dadaku seperti di tindih lima orang.


Aku mengerjapkan mata mencari objek di gelapnya penglihatanku. Aku seperti melayang! dengan kain putih melilit di kedua kakiku. Apakah ini halusinasiku.


Aku melihat di bawahku ada seonggok tubuh manusia sedang berbaring tak nyaman disana. Itu kah tubuhku??


Kali ini kain itu menarik diriku menembus atap, menuju kegelapan tak berujung Meninggalkan raga yang sudah tak berdaya. Aku hanya bisa pasrah tak tahu kemana dan dimana tujuanku saat ini. Hanya gelap dan hening yang kurasakan saat ini.


Aku harus bagaimana ???? Bingung dan kalut bercampur jadi satu dalam benakku.


******


Sementara itu di sisi lain, tepatnya di desa Tirto Boyo. Ayah dari Mahesa sudah pulang terlebih dahulu karena ia tidak bisa membohongi pekerjaan dan istrinya lebih lama lagi. Untuk masalah Mahesa ia yakin jika putra sulungnya itu masih dalam keadaan sehat. Meskipun Kemungkinan terburuknya Mahesa hilang atau hanya di temukan raganya saja. Tetap saja kenyataan ini membuat hati seorang ayah itu menjadi kalut.


Dan kedua orang sahabat dari Putra Mahesa yaitu Didik dan ayu juga masih berharap-harap cemas. Sudah tak terhitung berapa jumlah Doa yang di panjatkan keduanya. Karena sampai detik inipun Putra Mahesa belum juga di temukan. Mereka memang tak ingin menggunakan polisi atau tim SAR. Karena pasti itu akan menarik perhatian musuh-musuh mereka. Dan itu akan sangat berbahaya sekali.


hanya doa dan harapan abu-abu yang dapat mereka lakukan saat ini. menengadahkan tangan meminta mukjizat dan kekuatan dari sang Khaliq agar bisa melewati permasalahan ini dengan kuat. hanya satu yang mereka yakini. yaitu kebenaran akan selalu Menang melawan kebathilan.


mau tidak mau, mereka harus menghadapi mereka. walau kalah jumlah. mereka tak bisa ragu-ragu lagi saat ini. sembari menunggu Putra menemui titik terang, mereka juga harus menyiapkan rencana matang untuk mencari informasi yang bisa menjatuhkan mereka cepat. Dan Mereka tak mungkin tinggal diam dengan apa yang terjadi di malam itu!

__ADS_1


Apalagi mereka sudah merangsek dan melihat seluruh acara biadab mereka, bahkan merekamnya. Walau mereka tidak tahu kalau di rekam tapi yang pasti mereka akan berusaha melenyapkan siapapun yang sudah mengusik ketenangan kelompok mereka. Pasti!!


Bersambung...


__ADS_2