Misteri Rumah Nenek

Misteri Rumah Nenek
Lari!!!


__ADS_3

Malam beranjak mulai larut, meninggalkan ketiga insan yang di penuhi gejolak itu menyibak pekatnya malam tanpa bintang malam ini. Bahkan sejuknya angin yang melewati mereka tak lagi di hiraukan.


Di hadapan mereka telah berdiri sebuah bangunan yang nampak kumuh dari luar. Lebih mirip sebuah gudang angker daripada sebuah markas. Pikiran ragu mulai merasuki akal logika mereka.


Namun tak ada kata mundur lagi di otak mereka. Semua hal sudah di susun terlebih dahulu. Dan sebelum mengawali semuanya mereka bertiga berdoa menurut kepercayaan yang di anut masing-masing. Mereka bertiga sepertinya telah paham dengan segala resikonya.


Dengan langkah kecil mereka mengendap-endap di antara rerumputan liar setinggi pinggang mereka. Dengan hati-hati mereka mengawasi setiap gerakan sekecil apapun di hadapan mereka.


Kini mereka sudah mampu memasuki ruangan tanpa sekat yang memanjang jauh seperti tanpa batas. Tempat ini hanya di terangi dua lampu kuning kecil, jauh dari kata layak untuk ruangan sebesar lapangan bola ini.


Dari jauh terlihat seperti sebuah objek yang sedang bermain hp di sebuah kursi kayu. Dengan sikap waspada mereka mencoba melumpuhkan seorang penjaga yang nampaknya sedang tertidur. Dengan sigap Eko menembaknya dengan senjata kejut listrik. Sekali hentakan pria plontos itu langsung ambruk dengan mudah.


Kemudian di bawanya pria yang sedang pingsan itu di pojok dengan di ikat kedua tangan dan kakinya. Setelah beberapa saat menelusuri segala sesuatu disana. Nampak sebuah raut kekecewaan terpancar di wajah seorang Adhiaksa.


Sepertinya semua yang dia cari telah lenyap. Apa yang dia harapkan telah pupus menjadi debu. Awalnya dia berharap bisa menemukan setidaknya satu tubuh tanpa nyawa yang bisa ia gunakan untuk menjerat para bandit ini. Sedikit jahat memang namun hanya dengan cara seperti itulah mereka bisa menyeret semuanya ke dalam hotel prodeo.


Nampak sekali mereka sungguh bermain dengan bersih. Gumam Adi.


"Ayo lantai atas! Eko siaga satu" titah Adi pada kedua rekanannya.


"Siap bang!" Balas Eko segera berada posisinya.


Dengan langkah mantap Adi dan Didik naik ke atas ke lantai dua. Mengamati setiap anak tangga yang tidak terlihat. Berbahaya jika sampai mereka terpeleset dan jatuh di neraka musuh ini. sedangkan Eko berjaga di lantai bawah.


Bagi Adi ini merupakan kedua kalinya dia masuk ke dalam markas organisasi yang bisa layak di sebut mafia-mafia kotor tersebut. Pertama kali dia masuk ke dalam hanya untuk mencari informasi tentang Trio Jagal milik pimpinan mafia biadab ini.


Yang dia dengar Trio itu sudah lama telah kehilangan salah seorang anggotanya.


Entah tewas dalam tugasnya atau sengaja di hilangkan nyawanya karena berbahaya untuk kelangsungan hidup organisasi yang berdiri dari jaman penjajahan Belanda dahulu ini. Menyisakan dua pembunuh lagi masih berada di tangan dingin pimpinan mereka yang dia lihat hanya seorang wanita tua dengan topeng yang terus melekat di wajahnya. dua orang itu di kenal sebagai tangan kanannya.


Sesaat dia kembali tersadar di hidupnya malam ini. Sebuah senggolan kecil membuyarkan segala lamunannya. Kini mereka telah sampai di lantai dua.


Sama-sama kosong namun mereka menemukan sesuatu yang cukup janggal. Beberapa drum berbau asam yang dia kurang paham tentangnya. Tapi naluri alaminya berkata itu seperti barang berbahaya.


Hingga ia menuju sebuah drum yang terguling di antara beberapa drum yang berjejer rapi. Tutupnya sudah terbuka separuh dengan bau yang sangat menyengat dari dalamnya.


Dengan senter yang di bawanya dia mulai menjelajahi drum itu. Entah kenapa dia semakin penasaran dengannya. Sementara itu Didik juga masih sibuk dengan kameranya untuk di jadikan barang bukti di pengadilan juga.


Apa yang di lihatnya kali ini benar-benar membuat senyumnya membuncah. Di hadapannya terdapat dua raga tubuh tak bernyawa yang seperti melepuh sehabis di bakar dengan api yang tak terlalu besar. Bau menyengat itu ternyata berasal dari dalam tong ini.

__ADS_1


Dia lalu mengambil sampel foto dan beberapa sampel DNA kedua mayat itu. Tak lupa serta membawa satu derigen kecil bahan kimia yang di duganya cairan yang sangat berbahaya.


Dan apa lagi ini? Sebuah buku catatan kecil tak sengaja terinjak oleh Adi. Sekilas memandanginya namun karena Suasana di rasakan Adi sudah seperti tak kondusif lagi, Bergegas dia memasukannya ke dalam saku kecil nya dan mengajak Didik turun.


Nampak Didik juga sudah lumayan banyak mengambil foto seperti yang diperintahkan oleh Adi. mereka tak berani membawa banyak barang atau memindahkannya dari posisi semula. mereka berdua tahu organisasi ini sangat rapi dan berhati hati. salah sedikit saja bisa-bisa mereka akan pergi dan menutup jejaknya lagi.


Sekarang tinggal turun dari lantai dua kemudian meninggalkan tempat terkutuk ini dan besok pagi hari akan langsung meluluhlantakkan tempat menjijikkan beserta semua yang terlibat di dalamnya. Dan kasus pun selesai!


"Kerja bagus!" Batin Adi menggelora.


Duarrr bruagghhh


"Hahahaha!"


dorrrr dorrrr dorrrr!!!


Sebuah suara dobrakan disertai tiga kali suara tembakan meletus nyaring dan menggema di telinga dua orang yang macet di tengah anak tangga yang sedang mereka pijak.


"Rupanya ada tikus kecil disini!! Hahahaha" tawa pria mengerikan itu memecah keheningan malam ini.


Kemudian dia mengambil sekotak rokok dan menyalakannya. Dengan santai dia menuju penjaga yang masih terikat di pojok ruangan. Tak nampak batang hidung dari Eko kali ini. Pikiran buruk menguasai praduga mereka.


Mereka hanya meringkuk di tangga. Dan untuk sementara membisu atau berdiam diri menunggu waktu yang tepat. Rupanya gertakan dari aura pembunuh yang masuk langsung membuat nyali mereka sedikit menciut.


Dengan tangan besar berbalut perban dia menghampiri penjaga yang sedang tak sadarkan diri itu. Dengan sekali tarikan penjaga berkepala plontos itu langsung tersungkur dengan wajah menghantam lantai.


"Sama sekali tak berguna!!" Geram pria itu dengan gigi gemeratak.


Dorrrr dorrrr dorrrr dorrrr dorrrr!!!


Seketika itu beberapa timah panas itu meluncur deras melubangi tengkorak pria yang masih meraba kesadarannya. Bahkan belum sempat ia membuka mulut untuk membela diri. Nyawanya melayang dengan begitu mudahnya. Darah menggenang di area kepala plontos yang sudah separuh batok kepalanya hancur karena terjangan peluru panas.


"Selanjutnya kalian brengs*k !!!!"


*****


(Flashback Andre)


Tutt tuttt tuutttt

__ADS_1


"Halo"


"Sudahlah jangan basa-basi, apa maumu?" Hardik Andre yang sepertinya terusik dengan telfon itu.


"Malam ini ritual nglarung akan di lakukan di tempat biasa, datanglah mas!"


"Entahlah, aku mungkin tidak bisa datang. Aku sedang tidak enak badan" jawab Andre berbohong. Jelas dia tak ingin orang lain melihat dia babak belur di hajar orang asing.


"Hahaha sejak kapan seorang tangan kanan Nyai yang terkenal kejam bisa sakit?"


"Diamlah!" Gertak Andre.


"Baiklah mungkin aku akan mengunjungi kalian sebentar walau aku mungkin tak ikut ritual nglarung" imbuh Andre setelah berpikir sejenak.


"Ya sudah terserah dirimu, ingat Kanjeng Nyai menunggu mu!"


Tuttttttttttt


Setelah panggilan itu, bergegas dengan langkah malas dia berjalan menuju taksi online yang sudah di pesannya. Entah kenapa dia cukup lama duduk di taman puskesmas tersebut. Apa yang ada di pikirannya kini tiada yang tahu.


Setelah beberapa puluh menit menunggu akhirnya dia turun tak jauh dari tujuannya. Sengaja dia turun dan kemudian berjalan kaki walau masih terseok-seok. Semua di lakukan untuk sekecil mungkin menutup jejaknya.


Tak disangka! Sekitar dua puluh meter, matanya menangkap tiga orang asing sedang mengendap-endap masuk. Dia tidak mengenal mereka satupun kecuali orang yang paling kurus. Wajahnya nampak tak asing baginya.


"Rupanya kau kembali kemari untuk bermain-main denganku TEMAN LAMA!!!!"


.


.


.


.


.


.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2