Misteri Rumah Nenek

Misteri Rumah Nenek
Kost


__ADS_3

Malam ini akhirnya kuputuskan untuk pindah ke kostan saja. Tidak enak juga kalau lama-lama numpang disini, gumamku.


Tak banyak sebenarnya barang bawaan ku, hanya beberapa potong baju dan celana saja, namun mas Didik tetap saja kekeuh untuk membantuku.


Dengan mengendarai motor kami pergi ke tempat kost yang di tunjukan oleh Wulan. Tak jauh memang dari rumahnya, mungkin hanya berjarak empat rumah dan beberapa kebun kakao milik penduduk sekitar. Berjalan kaki pun paling cuma beberapa menit.


Di temani lampu jalan yang berdiri tegap, kami bertiga berkendara beriringan dengan sesekali bercanda ria. Tujuan pertama kami adalah warung sembako dulu, sekedar untuk berbelanja air mineral dan beberapa bungkus snack. Selesai berbelanja kami langsung menuju ke lokasi. Karena memang tidak jauh, tak terasa tujuan kami sudah di depan mata begitu saja.


Rumah luas dengan dua pilar besar nampak kokoh menopang teras rumah yang tergolong mewah tersebut. Di samping rumah itu terdapat batas tembok dengan tinggi sedada, membatasi deretan kamar yang berdiri menghadap rumah besar tersebut. Dengan spanduk bertuliskan penyewaan kamar kost menempel di pagar hitam yang mengelilingi bangunan tersebut.


"Ayo kita ketemu dulu sama pemilik kostnya, pemilik kost ini orang tua dari temenku di klinik mas". Ucap Wulan.


"Yaudah ayo masuk bro, nunggu apa lagi?". Imbuh mas Didik tak sabar.


"Assalamualaikum,". Salam kami bertiga bersahutan.


Tak berselang lama pintu dari kayu jati itu pun terbuka. Memperlihatkan siluet wanita yang hanya mengenakan piyama pendek, dia menyambut kami dengan senyum.


"Waalaikumsalam, eh mbak Wulan. Ayo mbak masuk dulu tak panggilkan ibuku dulu ya"


"Iya git, oh iya ini kenalin temenku yang mau kost disini, ini Mahesa dan yang ini...". Ujar Wulan memperkenalkan kami berdua yang belum selesai kalimatnya.


"Didi Mahardika". Potong mas Didik spontan mengulurkan tangannya dan di sambut kikuk boleh wanita itu.


"Panggil saja saya didik". Imbuhnya memecah keheningan.


"Silahkan masuk mbak Wulan". Balasnya mengalihkan perhatian dan mengandeng Wulan.


Aku mengekor di belakang Wulan sementara mas Didik masih terpaku dengan wanita dengan rambut bergelombang yang menyambut kami itu. Ada apa ini dengan mas Didik? Kenapa dia berubah jadi kaku dan tak seperti biasanya. Apa dia sakit?


"Heh mas! Ayo masuk! ". Titahku berbisik melihat dia masih berdiri mematung di tempat.


"Iya iya cerewet". Balasnya ketus sembari melenggang pergi begitu saja.


Kami bertiga akhirnya bertemu dengan ibu pemilik kost disini. Tak kusangka ibu itu masih muda sekali. Ku taksir usianya mungkin sekitar tiga puluhan lebih sedikit. Kami ngobrol santai dengan tujuan mencapai kesepakatan harga.

__ADS_1


Setelah deal dengan harga dan peraturan disini, kami beranjak dengan di antar Gita, anak perempuan dari ibu pipik si pemilik kost-kostan.


"Ini kamar kakak ya, nomor 6b jangan sampai salah masuk kamar lho ya, hehehe.". Ujar Gita bercanda.


"Hehehe, makasih ya Gita udah nganterin". Balasku pada Gita.


"Iya, maaf ya mas kalo harga segitu cuma bisa dapet kasur doang. kalo perabot yang lain bisa di tambahin sendiri. Semoga kalian betah ya". Imbuhnya lagi.


Setelah kepergian Gita untuk masuk ke dalam rumah. Sejenak aku memandangi kamar berukuran 5X6 ini dengan seksama, Hanya ada satu kamar dan ruangan depan yang lumayan sempit. Aku sudah terbiasa dengan kondisi ini, karena dulu waktu kuliah juga hidupku ku habiskan di kost-kostan jua.


"Mas, anterin aku pulang yok. Aku udah ngantuk nih". Pinta Wulan di sela istirahatnya setelah membantuku menyapu dan mengepel lantai kamar.


"Iya deh ayok. Mas Didik aku pinjem belalang tempur punyamu buat nganter Wulan". Ucapku setengah berteriak pada mas Didik yang sedang di kamar mandi.


"Iya bro. Bawa aja. Nggak usah pake mampir nanti ya. Aku takut kalo lama-lama kamu tinggal sendiri". Balas mas Didik.


"Ayo". Ajak ku yang di ikuti anggukan pelan dari Wulan.


Malam itu ku antar Wulan pulang menuju rumahnya. Aku banyak berhutang budi pada keluarganya. Bahkan sekarang aku merepotkan dia yang sudah mencarikan kost untuk diriku. Benar-benar beruntung aku memiliki seorang sahabat sebaik Wulan.


Setelah mengantar Wulan pulang, aku pun bergegas kembali ke kost baruku. Jalan yang ku lalui sebenarnya tak terlalu jauh. Namun jalan disini sepi sekali. Sedikit beruji nyali lagi aku malam ini.


"Hoaaammm, ngantuknya. Pengen cepet-cepet rebahan punggungku". Ucapku yang sudah sampai di depan kamar.


Bayangan betapa empuknya kasur membuatku ingin segera menjatuhkan tubuhku di atasnya. Melepas beban penat yang ada dalam hati dan pikiranku saat ini.


Tokk tokk tokk


"Mas dik, bukain pintunya. Cepetan". Ucapku yang sudah ingin sekali ambruk di kasur.


Sembari menunggu mas Didik yang sepertinya sudah tertidur duluan. Aku memandang halaman pemilik rumah yang besar nan megah itu. Ke empat Anak kecil yang berlarian di halaman luas itu bermain dengan riangnya. Mengingatkan ku pada masa kecilku dulu. Masa ketika belum mengenal arti sebuah rasa sayang.


Berlarian kesana-kemari tanpa beban. Bahkan sedikit gerimis yang turun detik ini pun tak mampu mengurangi rasa asik mereka dalam dunianya.


Sesekali tawa mereka pecah. sedikit membuat gaduh di tengah gelapnya malam ini. Penghuni kost yang lain juga sepertinya sudah biasa dengan keributan ini. Oh iya bahkan aku belum bertemu dengan mereka, tetangga kostku.

__ADS_1


"Sudah hampir jam sembilan, apa mereka nggak capek bermain hingga melewati jam tidur mereka. Kemana sih orang tuanya?". Gumamku.


Krrriiiiitttt


"Kamu ngapain duduk di depan pintu bro?". Tanya mas Didik yang masih mengucek matanya.


"Nungguin di bukain pintu lah, orang di kunci dari dalam. Gimana sih". Umpatku mendengar pertanyaan konyolnya.


"Oh iya ndeng, lupa aku Hehehehe". Balasnya tanpa merasa berdosa.


"Udah ah aku mau istirahat, disini rame banget ya mas. Banyak anak kecil lari-larian". Ucapku masuk meninggalkan mas Didik di ambang pintu.


"anak kecil? mana ada anak kecil?". batin mas Didik kebingungan menengok kanan dan kiri kamar. seketika angin dingin meniup tengkuknya.


Sesaat setelah aku meletakkan punggungku yang sudah tak karuan rasanya. tak berselang lama kemudian mas Didik berlari dan kembali meringkuk di sebelahku, menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut. Aku hanya menatapnya heran dengan tingkahnya yang gedebugan.


Aku hanya bisa berguling ke kiri-kanan di atas kasur matras bisa yang di sediakan oleh sang pemilik. ditemani suara anak kecil yang sayup-sayup terdengar. Kurang nyaman sebetulnya. Namun, mengingat harga yang miring membuatku urung untuk protes saat tadi siang melihat-lihat kamar ini.


Apalagi tadi melihat ayu bersama Andre begitu dekatnya. Membuatku menjadi sedikit gundah. Tapi kenapa dia bisa mau dengan Andre? Bukankah dia pernah bilang dia menolak tegas cinta Andre? Atau memang secepat itu dia membalikkan perasaan padanya? Tapi, mengingat betapa mapan si Andre. Tak heran jika banyak menginginkan dirinya.


.


.


.


"sebenarnya apa yang kau pikirkan ayu..." cibirku.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung...


__ADS_2