Misteri Rumah Nenek

Misteri Rumah Nenek
Dua Harapan


__ADS_3

"Hahahaha!!!" Tawa menggema memenuhi ruangan nan luas itu.


"Kenapa kau tidak keluar dan menemuiku? Apa karena kau sekarang berpihak pada mereka sehingga membuatmu jadi lemah?!" Bentak Andre kembali membuat ruangan itu menggaung.


"Keluarlah dan hadapi aku Didik Hermawan!!" Andre kembali bersuara kali ini terdengar lirih dan lemah. Terlihat kesedihan mendalam dari suaranya.


"Dia Andre. Pria itu memang dari dulu sukar untuk di tebak emosionalnya. Membuatnya menjadi pribadi dingin terkadang sedikit melankolis bahkan disisi lain sangat brutal dan arogan. Itu semua karena skizofrenia yang di deritanya sedari kecil." Bisik lirih Didik memasang badan untuk Adi yang masih terlihat kebingungan.


"Dan untukmu pak Adi. Sepertinya semua analisamu mengagumkan namun kau ketinggalan hal-hal paling vital dalam hipotesamu! hahahaha" Tukas Didik menyeringai tajam.


"Kita harus menghadapinya atau lari sekuat mungkin! Aku harap, kau dan aku bisa selamat pak Adi. Jika kau memang ingin mengetahui semua dari sudut pandangku, tetaplah keluar dari tempat ini hidup-hidup!" Imbuh Didik dengan intonasi nada yang ambigu.


Situasi saat ini membuat Adi sedikit waspada terhadap Didik. Pria humoris, polos, mempunyai mulut yang ceplas-ceplos dan kadang bertindak konyol ternyata mempunyai sisi gelap yang masih belum ia mengerti seberapa dalam dan kelamnya.


"Siapa kau sebenarnya b*ngsat?!" Bisik Adi yang sudah mulai pasrah dengan nasibnya kini.


"Kau tak perlu takut padaku! Aku berada di pihakmu!" Ucap Didik menenangkan.


"Baiklah aku percaya padamu kali ini!! Ayo hadapi bedebah itu bersama!" Tukas lirih Adi mencoba mempercayai pria di depannya itu.


*****


Jam 00:13


Jam terus berdetak. Gelisah terus menghantuiku malam ini entah mengapa malam ini seakan begitu menyiksaku. Kami sudah sampai di sebuah desa yang masih satu wilayah dengan rumah lama dari wulan.


Wulan dan ibu berada di rumah Wulan dan sedang tidur menikmati malam ini mungkin kecapekan karena satu sore ini kami benar-benar jalan-jalan satu keluarga, sementara ayah? Dia sedang mengobrol santai dengan pak Mardi. sepertinya mereka sangat akrab. Aku bersama mereka namun anganku terbang entah kemana.


Secangkir kopi hitam menemani dinginnya malam ini. Bapak-bapak sekitar yang cukup mengenal pak Mardi pun berdatangan. Ikut nimbrung dengan obrolan dan guyonan khas bapak-bapak yang kurasa cukup garing.


Entah mengapa pikiranku melayang tak tentu arah. Perasaan tak karuan berputar putar dalam anganku. Kenapa satu kasus menjadi sebegitu rumitnya. Bahkan sekarang ini sudah melibatkan banyak pihak.


Kematian bi Tutik dan ayu. Kecelakaan yang sepertinya ganjil. jika memang ayu sudah mati, mengapa m*yat ayu pun juga belum di temukan. Apakah terlalu berlebihan jika aku berharap salah satu temanku itu masih selamat?


Walaupun aku rasa sudah hambar perasaanku padanya. Bagaimana pun aku tetap menginginkan dia hidup. Dia masih temanku orang yang pernah mengisi hari-hari kosongku. Orang baik yang cukup berjasa padaku. Ayu apakah kau masih hidup saat ini atau kau sudah mencapai surgaNya?

__ADS_1


Tiba-tiba lamunanku terpecah tatkala melihat Wulan dengan terburu-buru memakai jaket dan mengeluarkan motor maticnya dari dalam rumah. Mau kemana wanita itu dini hari seperti ini?


"Mau kemana nduk cah ayu?" Tanya pak Mardi melihat anaknya nampak panik.


"Ada orang terluka parah pak. Kayaknya korban kecelakaan. Disana nggak ada yang bisa jahit luka pak. Jadi Wulan harus kesana!" Tukas Wulan yang mulai risih dengan pandangan jail dari beberapa bapak-bapak itu.


"Biar saya yang anter saja pak. Ini kan dini hari nggak baik anak gadis pergi malem-malem gini" tukas salah satu bapak yang di kenal satu kampung suka main perempuan itu. Dia memandang Wulan dengan mata yang jail.


"Hush! Daripada mbok anter mending anak saya nggak usah pergi mar mar" ketus pak Mardi yang mulai terusik juga.


"Biarkan saya saja pak yang menemani Wulan" Usulku mantap.


"Nah kalo kamu boleh. Silahkan antar Wulan nak. Hati-hati ya." Jawab spontan dari pak Mardi membuat bapak-bapak yang berada disana tertawa. Nampak ayahku pun tertawa lepas disana.


"Ciiiihhhh". Lirih pria genit itu.


"Nak Mahesa hati-hati nanti ya. Jaga Wulan. Bapak titip Wulan padamu" pintanya sepertinya tulus.


"Udah ah pak. Wulan malu di gituin. Wulan bisa jaga diri sendiri." Tukas Wulan sembari menyerahkan kunci padaku.


Segera kami meninggalkan kelompok bapak-bapak yang ngobrol ngalor ngidul tak jelas itu. Menuju tempat kerja Wulan yang tentu saja sedikit lebih jauh dari biasanya.


Sekian lama melewati jalan yang panjang dengan beberapa tikungan. Kami akhirnya sampai juga. Dengan cekatan Wulan langsung masuk dan memakai surgical appron nya.


Sementara aku menunggu di luar klinik yang siaga 24 jam itu. Sedetik aku menyadari tak ada pihak keluarga yang menemaninya. Apakah mereka belum tahu jika salah seorang keluarganya mengalami kecelakaan?


Satu jam setengah sudah aku menunggu di luar. Rasanya sedikit bosan disini. Sesekali aku hanya mengobrol dengan bidan laki-laki yang sedang merokok di luar atau sekedar mencari udara segar. Hingga beberapa saat Wulan keluar dengan sudah tak lagi memakai pakaian bedahnya. Hanya memakai jaket putih dengan stetoskop mengalung di lehernya.


"Mas sini!" Ucap Wulan memanggilku.


"Apaan? Udah? Ayo pulang aku ngantuk." Gerutuku karena Wulan bilang hanya dua puluh menit namun kenyataannya sampai hampir dua jam!.


"Sini bentar, ada yang mau aku tunjukkan" Wulan kali ini sedikit memaksa menarik lenganku.


Aku dengan terpaksa mengikutinya. Masuk kedalam ruang perawatan pasien. Ruangan yang dulu pernah aku masuki dan tempat aku bertemu Wulan pertama kali karena ketidaksengajaan. Hehehe

__ADS_1


"Kamu tau dia siapa mas?"tanya Wulan sembari menatapku.


Aku begitu shock melihat tubuh seorang wanita terbaring dengan memar dan luka yang mengangga nampak dalam. Seluruh tubuhnya sudah pucat membiru. Entah berapa lama dia menderita sebelum akhirnya di temukan oleh para warga.


"A..ayu?" Ucapku dengan leher hampir tercekat.


"Dia sepertinya koma mas, malam ini harus di bawa ke rumah sakit. Terlambat sedikit saja di temukan sudah bisa kupastikan dia akan tewas." Balas Wulan.


"Mas?" Wulan kembali menyadarkanku.


"Eh.. iya?" Balasku.


"Lakukan apa yang terbaik menurutmu honey, ku mohon tolong selamatkan nyawa temanku ini" pintaku pada Wulan.


"Iya mas aku akan lakukan yang terbaik" ucap Wulan lirih. Nampaknya dia cukup malu ketika aku memanggilnya honey, apalagi di depan teman-temannya saat ini. Terlihat wajahnya menjadi seperti tomat lagi.


Sejenak aku memandangi Wulan kemudian beralih ke arah wanita yang sudah hampir sekarat itu. Entah iblis macam apa yang membuat wanita dengan wajah manis ini memar dengan luka yang cukup serius. Kulit mulusnya dulu kini sudah terukir banyak guratan merah seperti sabetan yang di lakukan berkali-kali. Ayu!


"Bagaimana bisa dia seperti ini. Nampak menyedihkan! Sepertinya aku tahu siapa yang melakukan ini! Akan ku buat dia membayar semua penderitaanmu!!!" Batinku berkecamuk penuh amarah.


Tinggal satu langkah lagi!!


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung..


__ADS_2