
"Siapa karyawan yang berani menghianati Kakung ?!"
"yang satu sudah meninggal lama le, jika kau tidak percaya pada pernyataan nenek, tanyalah pada orang tua yang sedang akrab denganmu belakangan ini. Dia saksi kunci yang masih hidup sampai sekarang!" tukas nenek melempar senyum dengan air mata yang menetes pelan menyusuri garis keriputnya.
"Siapa?!!" Tanyaku sedikit terkejut.
"Mardi! Tanyalah padanya, mintalah dia mengajarimu ilmu yang pernah nenek juga ajarkan padanya, dia orang yang baik. belajarlah dengannya agar kau bisa menghadapi takdirmu yang sudah ada di depan mata. Hanya kamu le yang bisa menjadi harapan pemutus rantai persekutuan penuh dosa itu." Terang nenek Tari menjelaskan.
"Hmm, akan kupikirkan itu nanti. Sekarang jelaskan padaku nek, kenapa nenek membuat sekte sesat itu?! apa tujuanmu sebenarnya" Tanyaku yang sudah mempersiapkan pertanyaan itu sedari tadi.
"Aku dulu membentuk perkumpulan itu sebagai sebuah tempat belajar ilmu beladiri dan Kanuragan saja bahkan kami menjalin silaturahmi dengan sesama perguruan yang jauh sampai ke luar pulau Jawa. Dulu aku tak pernah ada niat sedikitpun untuk menyekutukan Tuhanku! Berbeda terbalik dengan sekarang! setelah aku di buang dari lingkungan itu, sekarang perkumpulan gagak hitam hanyalah kumpulan penyembah iblis jahanam!! Aku pun merasa bersalah hari ini karena tidak bisa menyelesaikan apa yang aku sudah awali dulu!" ujar nenek Tari dengan tatapan liar seakan mengawang dosa yang sudah menggunung.
"Buka telingamu lebar-lebar le, Dengarkan cerita nenek dengan seksama!" Tukas nenek Tari setelah sejenak terdiam.
"Jauh sebelum peristiwa penjebakan pada kakungmu itu di lakukan, sebuah kenyataan yang mengejutkan aku dan kakungmu terjadi waktu tak lama setelah Dasimah pergi untuk kedua kalinya. Dasimah ternyata diam-diam menggaet adik tiri dari kakungmu, anak dari salah satu selir prabu Angkawijaya Hadiningrat yaitu kakek buyutmu, yang saat itu di tugaskan menemani dan membantu usaha kakungmu dulu. Dasimah benar-benar menghalalkan segala cara agar bisa terus dekat dengan pangeran Suwirdjo Wijaya kakungmu le. sampai saat ini aku masih belum paham dengan maksud hatinya yang sebenarnya. Prabu Angkawijaya sangat marah melihat salah satu keturunannya bersanding dengan Dasimah, prabu Angkawijaya sepertinya sudah mengetahui semuanya hanya dalam sekali pandangan saja. Karena cinta sesaat adik tiri kakungmu, dia berani membantah titah prabu Angkawijaya, ayah kandungnya sendiri. Membuat Prabu murka dan melakukan tundung (membuang) anak tirinya dari jajaran istana." Ucap nenek membuka kembali lembaran masa lalunya.
"Dari pernikahan itu, setahu Simbah dia punya seorang putri saja. Namun setelah putrinya lahir, entah kenapa suaminya tiba-tiba sakit dan meninggal dengan leher membusuk seperti di gerogoti dari dalam oleh binatang kecil yang menjijikkan. Akhir yang menyedihkan untuk seorang darah ningrat." Lanjut nenek Tari.
__ADS_1
"Karena waktu itu hubungan kami dengan Dasimah masih cukup panas, ditambah suaminya meninggal, otomatis dia menjadi kesulitan dalam ekonomi, membuatnya memutuskan menitipkan anaknya ke sebuah panti yayasan yang letaknya jauh di ujung kota. Hal itu bisa Simbah maklumi karena untuk makan saja diapun kesusahan apalagi harus di tambah mengurus anak seorang diri. Hal itulah yang mendorong Simbah mengajaknya masuk kembali dalam rumah besar. Dan dengan berat hati dan sedikit rayuan kakungmu pun mengijinkannya." Ucap nenek mengawang jauh. Nampak ada kerinduan di sudut matanya.
"Dia datang tidak bersama putri semata wayangnya, Dasimah masuk ke dalam rumah kembali atas dasar rasa kemanusiaan aku dan kakungmu. melihat kondisinya saat itu yang memprihatinkan. Dasimah menjadi rewang (pembantu) di rumah kami sementara anaknya tak pernah ia tunjukkan sama sekali waktu itu. Tak ku sangka, anaknya lah yang menjadi dalang di balik semua yang kamu alami saat ini le," ucapnya dengan tatapan dalam.
"Apa ada yang ingin kau tanyakan lagi le?" Tanya nenek Tari melihatku terpaku diam tak bergeming.
"Bukankah butokolo itu tadi bilang jika dia sudah memangsa suami dan anak dari Nyai Dasimah nek? Sebenarnya apa maksudnya itu?" Ujarku mengajukan keberatan dengan pernyataan simbahku itu.
"Dan juga siapa yang nenek maksud dengan penyebab semua kejadian yang aku alami?" Imbuhku dengan rasa yang sudah membuncah.
"Benar! Dia sudah memangsa kedua orang yang paling dekat dengan Dasimah itu. Walaupun dia sudah mengorbankan suaminya namun, butokolo masih meminta tumbal dari darah prabu Angkawijaya lagi dan lagi. Jadi butokolo berencana memangsa juga anak semata wayang dari Dasimah. Tapi naluri keiibuan dari Dasimah muncul dengan sendirinya, rasa ingin melindungi putrinya timbul lebih besar dari rasa takutnya pada iblis itu. Dia menawarkan dirinya sendiri untuk jadi santapan butokolo tapi dengan persyaratan Dasimah ingin sementara mengurus putri semata wayangnya. Setelah itu Dasimah akan pasrah menjadi santapan kecil butokolo. Hal bodoh yang dia lakukan tanpa pertimbangan hanya memikirkan egonya semata. Dia belum memutus pertalian darahnya dengan butokolo saat itu. Yang bisa di pastikan kutukan itu akan menurun pada keturunan atau keluarganya." Lembar demi lembar kisah mulai sosok nenek Tari buka perlahan.
"Lalu dia melakukan hal hina dengan menjebak kakungmu seperti yang tadi nenek sudah ceritakan, baru nenek tahu tujuan utamanya bukanlah merebut cinta kakungmu tapi, untuk menyelesaikan pertalian janji gaibnya dengan pengusasa kaki gunung Gedhe tersebut dengan menumbalkan seluruh keluarga Kakung!. Dasimah rutin keluar dari desa setiap dua atau tiga hari sekali, dugaanku dia pasti menemui putrinya yang dia sembunyikan. Dan setelah tujuh tahun berlalu terhitung dari dia melakukan perjanjian, sosok itu kembali menagih kontraknya. Dasimah saat itu tengah mengandung tujuh bulan sudah pasti tak bisa memberikan apa yang iblis itu mau." ucap nenek dengan wajah seketika pias.
"Hari naas itu pun terjadi, dengan sekejab mata tubuh yang sedang menggendong perut buncit itu tersambar api yang bahkan belum sempat menyentuh daun-daun kering di bawanya. Aku yang berdiri di pintu belakang sontak kaget lalu berlari mencoba menolongnya, namun apadaya aku pun sedang mengandung muda saat itu. Pekik dan erangan menggaung memekik telinga, hanya ada kata-kata minta tolong dan teriakan tak jelas dari mulutnya. Tak ada yang mampu menolongnya hingga tubuh yang cantik jelita idaman semua laki-laki itu terbakar menyisakan abu dan asap yang tertiup angin." tegas nenek Tari kaki ini.
"Lalu bagaimana dengan anak yang nenek sebut sebagai biang keladi semua masalah yang aku hadapi??" Tanyaku tak sabar.
__ADS_1
"Tanpa kusadari anak itu kembali ke rumah kakungmu, dan menawarkan diri menjadi pembantu disana. Dan itulah awal mula nenek bertemu dengan anak yang berhasil membuat porak-poranda kehidupan keluarga Raden Wirdjo Hangkawijaya Hadiningrat. bahkan mampu membunuhku dari dalam!!. si Kep*rat Sumiati!!"
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung..