Misteri Rumah Nenek

Misteri Rumah Nenek
Salah Paham


__ADS_3

"Kenapa tidak kau tanyakan saja pada wanita tua di belakangmu?" Balas Ratu Gadung Melati yang saat ini menopang daguku dengan telapak tangannya yang halus. Wangi melati benar-benar memenuhi paru-paruku.


jlabbbbb


Entah apa yang terjadi padaku. Kali ini aku terbangun masih di tempat yang sama dengan waktu ku lihat sudah jam lima sore. Sekilas aku teringat tentang perjalananku tempo waktu. Perjalanan gaib yang rasanya cuma dua jam namun ternyata aku pingsan selama tiga hari.


Apakah kali ini akan sama dengan kasus pingsan tempo waktu itu. Ah tidak mungkin. Terlihat tanah masih becek sehabis di guyur air dari langit. Bahkan rintik kecil gerimis masih terasa jatuh. Aku harus segera pulang saja. Takut semakin gelap. Apalagi aku berada di antara kebun kopi dan kakao yang rimbun di sisi kiri dan kanan. Amit-amit jangan sampai ketemu lagi lah.


Ku nyalakan motor yang sedari siang tadi kehujanan. Entah karena penasaran atau bagaimana, aku melirik tempatku tadi terlelap. Dan disana masih duduk manis seorang nenek tua di atas tumpukan kayu yang sudah di ikat jadi satu. Wajahnya terlihat sangat murung. Cihh menyedihkan!


Secepat kilat aku pulang ke kamar kost ku. Mataku sudah sangat berat dan berputar putar. Setelah sampai ku lepas semua pakaianku dan hanya meninggalkan celana boxer saja. tak lagi berpikir panjang langsung saja ku rebahkan tubuhku di atas kasur busa yang menjadi tempat peraduanku saat disini. Melepas semua rasa lelahku hari ini.


Tak butuh lama untukku masuk ke dalam alam mimpi. Semalaman tidak tidur membuat kepalaku sedikit pening. Mataku terasa berat sekali. Sungguh nikmat.


"Kyaaaaaaaaaaa mas Mahesa!!" teriakan wanita nyaring membuatku seketika membulatkan mata.


Ternyata Wulan sudah berdiri disitu. Eh apa ini bukankah tadi aku memeluk bantal. Oh my God, Mas Didik!. Terlihat mas Didik sama sepertiku hanya memakai boxer hitam dengan bertelanjang dada dan tadi apa Wulan melihat kami berpelukan dengan posisi seperti ini. Mati aku!


"Wulan cantik, ini nggak seperti yang kamu pikirkan kok. Kamu salah faham" ucapku mencoba membujuk dan menenangkan Wulan yang memandangku dengan takut.


Segera kuraih kaosku yang tergeletak di lantai dan memakainya agar tubuh sixpack milikku tidak terekspos bebas.


"Mas ngapain aja sama mas Didik? Wulan nggak nyangka mas Mahesa itu pelangi" hardik Wulan lirih sembari memandang kami dengan nanar.


"Pelangi?" Batinku heran tak mengerti.


"Heh kambing etawa bangun!! Bantuin jelasin!!" Ujarku menendangnya dengan satu kaki hingga jatuh dari kasur busa.


"Apaan sih? Lagi enak juga malah bangunin" jawab mas Didik masih dengan mata terpejam.


Jawaban yang membuatku terbelalak. Dasar kunyuk nggak tidur nggak melek mulutnya selalu bikin salah paham aja!


"Wulan percaya sama aku, ini cuma salah paham!" Jelasku pada Wulan.


Tak berapa lama si kunyuk ini akhirnya bangun juga, entah karena terguling dari kasur atau mendengar keributan aku dan Wulan.


"Eh ada Wulan, udah lama disini Wulan?" Ucap mas Didik seperti tanpa dosa dan masuk ke kamar mandi sembari bersiul girang.

__ADS_1


"Tuh kan?!" Tuduh Wulan melihat mas Didik begitu girang masuk kamar mandi.


"Huhuhu, nggak nyangka ternyata mas Mahesa jeruk makan jeruk!" Sergah Wulan masih menyangka aku melakukan hal aneh-aneh dengan kambing etawa itu. Kali ini ia sudah bangkit hendak pergi. Aku mencegahnya dengan memegang tangan mungilnya.


"Jeruk makan jeruk?!" Tukasku kaget dengan ucapan Wulan.


"Nggak nyangka Wulan mas, padahal Wulan udah berharap banget sama mas Mahesa. Pantes mas Mahesa selalu cuek sama Wulan, ternyata nggak taunya mas Mahesa itu...." Perkataan Wulan berhenti ketika aku menempelkan telunjukku di bibirnya.


"Dengerin dulu bidan cantik yang selalu bikin aku deg-degan. Aku itu nggak ada aneh-aneh sama orang sinting itu. Tadi itu aku pulang duluan terus tidur. Dan nggak tahu deh kapan si kunyuk itu dateng. dan mas berani sumpah kalo semua itu nggak di sengaja" jelasku panjang kali lebar.


"Mas jujur nggak??" Tanya Wulan masih sedikit ragu.


"Iya jujur" balasku dengan penuh penekanan.


*G*ila! mana mungkin juga aku main pedang-pedangan dengan si kunyuk itu, membayangkannya saja sudah jijik! hiiiiiiii


Seakan masih belum bisa percaya, Wulan memperhatikanku dari dekat. Melihat lekat kedua bola mataku. Seakan mencoba mencari kejujuran di dalam sana. Sekilas terlihat senyum mengembang dari bibirnya. Huh lega.


"Ahhh mantap, akhirnya bisa pulang kesini ya bro" ucap mas Didik dari kamar mandi kemudian datang merangkulku. Sial, Dia masih belum tahu masalah salah faham ini.


"Wihh udah kangen-kangenan aja nih. Saran aku sih jangan di dalem kamar kost, banyak setannya lho. Hehehe" tukas mas Didik masih dengan raut wajah polosnya. Aku hanya menggaruk kepalaku yang tak gatal.


"Mas Didik jangan coba-coba rebut mas Mahesa dari Wulan ya. Cukup Wulan pernah kehilangan seseorang dan kali ini Wulan nggak mau kehilangan lagi orang yang Wulan sayangi" ujar Wulan judes.


Mas Didik yang mendengar itu kebingungan. Bahkan dia seperti orang linglung saja. Dan apa itu, Wulan sayang denganku? Hahaha. tak kusangka, Sepertinya rasaku tidak bertepuk sebelah tangan seperti yang dulu.


"Dan ini mas Wulan beliin mas Mahesa Ayam bakar kesukaan mas, Wulan pamit pulang dulu" ujar Wulan sepertinya ia menahan air matanya. Kemudian dia melenggang pergi meninggalkan kami berdua yang kebingungan sendiri.


Aku ikuti dia dan kuantarkan sampai depan kamar kost.


"Semoga mas nggak bohong!, semoga mas masih waras!" ucapnya kemudian menyalakan motor tanpa melirikku sama sekali.


Duh bakal panjang lagi nih buntutnya, Batinku.


****


*Di tengah kota Jakarta*

__ADS_1


Sebuah mobil sedan hitam yang tengah terparkir dari siang dengan dua orang dengan tatapan bengis sedang mengawasi sebuah gedung pencakar langit di seberang mereka. Mata mereka mengedar sesekali melihat suasana sekitar. Sepucuk senjata api jenis revolver sudah di genggam oleh salah satu dari mereka. hanya satu yang mereka tunggu!


Jam 16:15


Waktunya pulang untuk para karyawan kantor. Seperti biasa canda tawa menyelingi langkah mereka menuju kendaraan mereka masing-masing. Berharap segera sampai di rumah dan berkumpul bersama keluarga tercinta.


Pak Budi salah satu karyawan disana juga berharap demikian. Namun, akhir-akhir ini pikirannya kadang terguncang. Pribadi yang lugas cekatan dan ceria kini telah berganti, pak Budi kini lebih suka menyendiri dan merenung. Setiap di tanya masalahnya dia selalu menjawab tidak apa-apa.


Hari ini entah mengapa instingnya merasakan tidak nyaman. Ingin segera ia sampai di rumah dan beristirahat. Bergegas ia masuk ke dalam mobilnya dan melaju meninggalkan perusahaan tempatnya bernaung.


Pak Budi memang bukan sembarang orang. Dia telah di latih bertahun-tahun untuk mempunyai insting sekuat predator. Walau usianya sudah mulai kepala lima namun instingnya tak pernah pudar di makan waktu.


Hingga saat mobilnya menuruni halaman kantor dan ban depannya menyentuh aspal pertama kali....


Dorr dorr dorr dorr


Empat tembakan beruntun mengenai kaca depan mobil pak Budi. Pecahan kaca menyebar kemana-mana, Terlihat darah segar mengucur dari tubuh pak Budi. seketika suasana menjadi tegang!


"Aaaaarggggghh" suara erangan memekik di udara dengan begitu kencangnya.


setelah beberapa saat menunggu, dan mereka yakin kalau targernya kali ini sudah tidak bergerak karena terkena peluru mereka secara brutal. Pertanda misi mereka kali ini kembali sukses. Mereka dengan segera pergi meninggalkan lokasi dengan cepat.


Meninggalkan area perusahaan yang sedang kocar-kacir dan semrawut. Bahkan mulai ramai di kerubungi massa pasca insiden penembakan misterius yang baru saja terjadi. Mereka beramai-ramai merangsek ingin melihat tubuh yang tak bergerak dan bersimbah darah itu dari dekat.


.


.


.


.


.


.


Bersambung..

__ADS_1


__ADS_2