
Subuh berkumandang dengan indahnya. Melantunkan syair pujian untuk sang maha kuasa. Perintah untuk segera menunaikan doa di dalam dua raka'at.
Tak seperti biasanya kali ini mas Didik terlihat sudah bangun dari tidurnya. Beberapa kali ia menyeka keringat yang menempel di dahi. Ia nampak cemas kali ini. Membuatku sedikit penasaran.
"Hei mas dik, tumben bangun duluan. Apa ada yang membuatmu nggak nyaman?" Tanyaku menyelidiki.
"Eng.. nggak ada bro. nggak ada hehe" jawabnya meragukan.
"Jangan pernah sembunyikan apapun dariku mas, aku tahu sifat dan karaktermu . Jangan sampai menghianatiku dengan berbohong!!" Sergahku.
"Huuuhhhhh"
"Bapakmu kecelakaan di tembak orang nggak di kenal lusa kemarin pas pulang kerja ." Ucap mas Didik sendu.
"Siapa yang nembak!!!" Terlonjak aku saking kagetnya. Mendengar ayah kandungku mencoba di bunuh seperti itu.
"Sedang di selidiki pihak penyidik kepolisian bagian wilayah bro" imbuh mas Didik.
"sudah pasti mereka, memang siapa lagi" batinku dalam hati.
"Aku nggak bisa pulang sekarang! Tolong katakan pada ayahku aku nggak bisa pulang dalam waktu dekat. Masih banyak yang ingin ku ketahui disini" ucapku menahan sedih karena bagaimanapun juga rasa rindu keluarga mulai membayangi.
"Sudah lah bro. Yakin saja ayahmu pasti baik-baik saja. Kita doakan saja dari sini" ucap mas Didik menenangkanku. Aku hanya membalas dengan anggukan saja.
Bruakkkgh
Sesuatu seperti benda jatuh di atas atap mengagetkan kami berdua. Dengan cepat kami menuju halaman kamar kost untuk memastikan benda apa yang menimbulkan suara jatuh sedemikian kerasnya.
Dengan senter mini kami mencoba mengarahkan ke atas genting. Namun tak ada apa-apa disana. Hanya sekumpulan sampah daun-daun yang menutupi sebagian atap dari asbes itu.
Karena tidak menemukan apa-apa kami memutuskan untuk kembali ke dalam kost. Tak mau juga kami membangunkan penghuni yang lain karena keributan kami.
Hari ini aku segera mandi lebih dulu berharap bisa menenangkan pikiran yang sudah sangat kalut. Selepas mandi aku hanya duduk di atas ranjang bermain ponselku dan sudah hanya itu saja. Hehehe
Bruakkkgh
Suara itu lagi-lagi terdengar! Sudah kuduga ini bukan hal biasa. Baru aku sadari teror belum selesai. sebenarnya apa mau kalian b*Jing*n!!
Mas Didik terlihat konsentrasi. Aku sejenak melihat ke arahnya dan dia memberi isyarat untuk diam sebentar. Aku hanya mengikuti instruksinya.
"Kamu dengar itu?" Tanya mas Didik berbisik.
"Iya mas" jawabku berkeringat lagi. Padahal aku baru saja mandi.
Aku dan mas Didik akhirnya keluar ke depan. Merasa ada yang aneh dengan dua kali suara benda jatuh di atas atap asbes itu. Benda yang ku perkirakan cukup besar hingga menimbulkan suara se nyaring itu.
__ADS_1
Karena terlalu sibuk tanpa kusadari ada seorang wanita yang mengintipku dari balik jendela rumah besar. Menatap dengan mata sinisnya.
Setelah memastikan tidak ada apa-apa. Aku dan mas Didik berencana mencari sarapan. Cacing-cacing dalam perutku seperti biasa, tak mampu di ajak hemat walau sebentar. Beberapa kali perutku bahkan mampu berkokok. Hehehehe
Setelah beberapa langkah meninggalkan gerbang berwarna hitam tersebut. Kami di panggil oleh ibu pipik selaku pemilik kost yang ku tinggali. Dengan terpaksa aku dan mas Didik masuk ke rumahnya.
"Nak Mahesa, ibu mau ngomong" raut wajahnya nampak tegas tersembunyi di balik kerudung yang melilit wajah ayunya.
"Nak, ibu ini cuma usaha kecil-kecilan. Kamu tau sendiri kan ibu ini janda. Usaha ibu cuma kost-kostan ini sama buka jahit. Tolong kamu jangan aneh-aneh disini ya" ucap Bu pipik mewanti.
"Sana nggak aneh-aneh kok Bu" jawabku jujur seadanya.
"Ibu cuma minta itu aja nak, kalo mau adu ilmu jangan disini nak, ibu nggak mau kena masalah" ujar ibu pipik memelas.
"Iya Bu kami mengerti" jawab mas Didik menengahi.
"Sebenarnya apaan sih Bu, saya benar-benar nggak ngerti?" Jawabku yang memang benar-benar heran dengan kata-kata ibu pipik barusan.
"Kamu benar-benar nggak paham nak? " Tanya ibu pipik kembali. Aku hanya menggeleng menjawabnya.
"Dasar aneh, kamu bisa membuka mata batinmu, kamu mempunyai mustika hebat namun kamu masih belum peka kalau dirimu sedang di incar. Hehehehe" ledek ibu pipik menertawakan ku. Siapa sebenarnya wanita berjilbab ini!
"Sebaiknya kamu hati-hatilah, kamu sedang ingin di teluh! Ada seseorang yang tidak suka padamu. Kalau kamu bisa melawan, lawan sajalah nak. Mintalah kekuatan pada yang maha kuasa!" Tukas ibu pipik pada kami berdua.
"Perbanyaklah sholat malam dan zikir nak, minta juga perlindungan padaNya" imbuh ibu pipik.
"Baiklah Bu pipik, terimakasih atas semua nasehatnya tadi" kami berdua turut berpamitan pada sosok ibu-ibu yang masih terlihat khawatir itu. Kami terus berjalan melenggang keluar dari rumah megah nan besar itu.
"Teluh itu apa mas?" Tanyaku pada mas Didik. Kami berdua sudah sampai di depan kamar kost kami. Urung untuk membeli makanan pagi ini.
"Teluh itu sama aja santet gobl*k!. Tujuannya membuat target menjadi depresi karena di teror dan menjadi gila atau bahkan bisa untuk membunuh seseorang dengan lantaran sakit atau kecelakaan" jelas mas didik membuatku cepat paham.
"Siapa lagi yang menginginkan nyawaku kalau bukan sekte sinting itu" gumamku lirih.
Sebentar, Apa ibu pipik itu juga mempunyai ilmu? Kenapa dia bisa tahu tentang hal-hal gaib?
permisi Gfood mas.. gfood
"Maaf mas mau tanya, apa disini ada yang namanya mas putra?" Tanya seorang kurir makanan di hadapan kami berdua yang sedang duduk lesehan.
"Eh, iya saya sendiri mas. Ada apa ya?" Tanyaku.
"Mau nganter paket makanan buat mas putra." Jawabnya.
"Eh saya nggak merasa persen makanan kok mas" sanggahku.
__ADS_1
"Em saya juga nggak tahu kak, alamatnya disini kok" bantah kurir itu.
"Yaudah taruh aja disini mas" jawabku masih terheran-heran.
"Makasih kak, saya lanjut permisi ya" pamit kurir itu.
Makanan? Hm apa mungkin Wulan yang pesan makanan untuk Kami?. Entahlah. Mungkin nanti akan kutanyakan.
Dua bungkus nasi Padang di hadapanku dan mas Didik yang sudah seperti singa yang kelaparan. Aku pun sebenarnya cukup kroncongan juga.
Akhirnya kami buka saja bungkusan dari kertas minyak coklat itu. Namun setelah di buka...
Bukan nasi dan lauk yang menggugah selera. Disitu terdapat seekor anak kucing yang telah m*ti dengan di kerubuti banyak belatung yang menggeliat dan bau yang sangat busuk. Tubuh anak kucing itu bahkan mengeluarkan cairan hitam yang berbau sangat busuk.
membuat siapapun bergidik melihatnya.
Dan mungkin bagi mereka yang tak bisa melihat sesuatu yang 'gaib' akan mengira ini hanya sebuah nasi yang di beri sayur kemudian di tambah lauk rendang.
"Buang!!!"
Terlihat mas Didik yang hendak menyantap nasi itu dengan cepat ku hentikan gerakannya. Akhirnya kusambar dua bungkus nasi itu dengan jijik dan melemparnya ke dalam tong sampah.
"Kenapa bro??" Tanya mas Didik heran. Wajahnya meminta penjelasan.
"Kalo kau makan itu sudah di pastikan kau akan mati mas!" Jelasku singkat.
"Beraninya kalian bermain-main denganku! Pertama ayahku sekarang kalian ingin mencelakai diriku! Sepertinya aku harus bergerak cepat. Mereka lebih berbahaya dari yang ku bayangkan!" Batinku.
'sudah kutemukan mereka!'
Sebuah pesan singkat masuk ke dalam ponselku.
"Aku tau sekarang apa yang ku lakukan!"
Malam ini akan menjadi malam naas kalian semua!!
.
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung...