Misteri Rumah Nenek

Misteri Rumah Nenek
Kerabat Baru


__ADS_3

Setelah sekitar setengah jam lamanya aku di bonceng pak Mardi, aku pun sampai di kediaman beliau sekeluarga. Rumah yang indah walau tak terlalu besar dengan cat hijau tosca yang menyegarkan mata di hiasi beberapa tanaman bunga dalam pot yang menghiasi taman di pojok rumah pak Mardi tersebut. Di sisi lain dari taman tersebut juga di isi dengan kolam ikan koi dengan air mancur mini di tengahnya. Suara gemericik air yang di timbulkan benar-benar menciptakan nuansa damai dalam hati.


"Assalamualaikum Bu, bukain gerbangnya,". Teriak pak Mardi pada penghuni rumah.


"Waalaikumsalam pak, lho ini siapa pak? Astaghfirullah, Bapak nabrak orang lagi?,". Tanya l wanita paruh baya penuh khawatir yang sepertinya itu istri dari pak Mardi.


"Sssttt ini bukain dulu bapak mau masuk, nanti bapak jelasin,". Ucap pak Mardi kesal dengan serbuan prasangka dari istrinya.


Kemudian dengan sedikit dipapah pak Mardi aku di dudukkan di atas kursi terasnya. Dengan telaten par Mardi menjelaskan kepada istrinya dari awal bagaimana menemukanku. Dan karena aku tak punya sanak saudara disini aku di ijinkan menginap disini. Katanya aku tak perlu ijin kepada pak RT setempat karena pak Mardi sendiri lah RT nya.


"Ada sih pak buk kok rame banget kayaknya,". Ucap wanita yang masih muda dengan rambut nampak acak-acakan.


"Ini nduk ada..." Belum sempat pak Mardi menyelesaikan kalimatnya langsung di potong oleh anak bungsunya ini.


"Upss, ada tamu, tamu siapa nih pak? Ganteng banget sih? Bentar ya Rahma mau sisiran dulu, jangan kemana-mana, don't go anywhere,". Ucapnya centil membuat kami bertiga saling berpandangan heran.


Duh gimana ini aku jadi nggak enak sama pak Mardi juga istrinya. Apa aku pulang aja, tapi gimana caranya. Hp ku aja mati total dan kacanya pecah mungkin karena aku jatuh berkali-kali waktu kabur semalam. Mengingat kejadian semalam membuatku sekilas tersadar, Aku tak bisa seperti ini terus menerus. Cepat atau lambat aku harus kembali.


"Hai, kakak kenapa bisa terluka gitu?? Duh kasian pasti sakit, sini pak biarin Rahma aja ngrawat.", Tukas seorang anak bungsu pak Mardi yang kini sudah terlihat rapi. Pak Mardi dan istrinya hanya bisa mengelus dada melihat tingkahnya.


"Kakak siapa namanya, kenalin aku Rahma ayu ningtyas,". Salamnya dengan senyum ramah. Aku hanya menanggapi dengan senyum seadanya.


"Dia namanya nak Mahesa, saya mau lanjut masak dulu ya pak, dek Mahesa. Jangan sungkan-sungkan anggap saja saudara sendiri ya dek,". Potong istri dari pak Mardi sembari pamit masuk ke dalam untuk melanjutkan memasak katanya. Aku hanya mengangguk.


"Sudah kamu masuk saja rahma, jangan ganggu nak Mahesa. Kamu itu masih kecil udah kecentilan aja, sana masuk! Bantu simbokmu masak,". Sentak pak Mardi.


"Hisshh apaan bapak nggak tau orang seneng,". Gerutu Rahma sambil berpaling masuk menyusul ibunya dengan bersungut-sungut.


"Maafin anak bapak ya nak, dia emang orangnya centil kaya gitu,". Jelas pak Mardi. Aku hanya mengangguk mengiyakan pernyataannya.


Setelah sedikit berbincang-bincang di depan rumah pak Mardi. Aku sedikit demi sedikit menceritakan kejadian bagaimana aku bisa hampir meninggal di tepi sungai dengan keadaan yang memprihatinkan. Pak Mardi sepertinya cukup terkejut dengan cerita yang hampir tak masuk akal buatnya.

__ADS_1


"Hmm jadi gitu toh ceritanya nak, bapak sih pernah denger-denger kalo disana itu emang desanya wingit (angker). Bahkan nggak ada yang berani masuk kesana. Pada takut katanya,". Ucap pak Mardi.


"Pernah juga beberapa waktu yang lalu, ada warga sini yang nekat buat nyari rumput di daerah sana. Buat pakan ternaknya katanya. Dia secara nggak sadar masuk ke wilayah desa itu. Dan pulang pulang dia malah kaya orang gila selama seminggu. teriak-teriak kaya ketakutan gitu, kata pak kyai yang ngobatin katanya dia ketempelan demit gitu, setelah seminggu kaya orang sinting Akhirnya sama pak kyai di ruqyah biar hilang demitnya walaupun belum sembuh total, dan sekarang...,". Tukas pak Mardi dengan tatapan serius.


"Emang dia sekarang kenapa pak??,". Tanyaku antusias.


"Hiiii bapak tiba-tiba merinding kalo cerita di luar sini nak, apalagi bentar lagi mau magrib, ora ilok (tidak baik), mending kita masuk saja terus lanjut cerita di dalam,". Jawab pak Mardi.


Akhirnya kami berdua memutuskan untuk masuk ke dalam rumah. Waktu pergantian antara siang menuju malam, dalam tradisi Jawa yang turun menurun merupakan salah satu waktu yang tidak baik berada di luar rumah atau melakukan kegiatan yang sifatnya duniawi. Surup surup iku wektu sing Ora ilok (waktu pergantian menuju malam itu bukan waktu yang baik). Pak Mardi dan diriku kemudian duduk di sofa di rumah pak Mardi. Sofa yang cukup besar dan nyaman dengan meja kayu dengan dihiasi pahatan yang berliku-liku beralur nan indah juga rumit, dengan berbagai barang barang klasik yang nampaknya koleksi dari sang empunya rumah, bertengger indah di brivet miliknya. Di tambah lampu gantung kristal yang bertugas menerangi ruangan ini, membuat mataku seperti di manjakan. Desain Perpaduan antara tradisional dan modern! Benar-benar rumah yang berseni nan indah, batinku.


"Pak, saya masih penasaran Lho sama kelanjutan cerita yang tadi, hehehe,". Ujarku setelah menunggu pak Mardi menunaikan tiga rakaatnya.


"Owalah masih mau denger bapak cerita toh le, hehehe, maaf bapak tadi kelupaan, oh iya nanti simbok masak banyak jadi nanti kita makan malam bareng-bareng ya nak Mahesa,". Ucap pak Didik.


"Alhamdulillah, makasih ya pak, saya jadi nggak enak,". Ucapku menunduk karena sungkan sekali.


"Iya nggak apa-apa nak, kita kan udah jadi kerabat baru, hehehe, lagipun simbok masaknya banyak banget kali ini, oh iya bapak lanjut ceritanya mau?,". Balas pak Mardi.


*****


"Jadi waktu si Tono itu udah pulang nyari rumput, di rumah dia malah kebingungan gitu, kaya orang linglung apalagi kalo ketemu cewek, dia bisa ngamuk-ngamuk bahkan bisa menyakiti cewek yang di temui. Jadi karena berbahaya Tono akhirnya di kurung dalam kamarnya.". Jelas pak Mardi.


"Untung perilaku dia yang seperti kesetanan lihat cewek itu cuma satu Minggu aja. Kalo kata pak kyai yang doain dia waktu itu bilang kalo dia ketempelan. Setelah di obati pak kyai dia berangsur-angsur sadar dan ingat orang-orang di sekelilingnya. Karena sudah di anggap normal jadi pikir pak kyai bahwasanya anak itu sudah sembuh. Namun, keanehan belum berakhir ternyata..,". Lanjut pak Mardi menghela nafas.


"Si Tono jadi sering nangis tanpa sebab dan bisa nangis di manapun. Nggak ada jam pasti dan nggak lihat tempat, mungkin itulah yang bisa menggambarkan saking abstraknya si Tono itu. Kadang dia lagi berak di kali tiba-tiba nangis, kadang dia lagi nyari rumput tiba-tiba nangis, terus pernah sekali jam sekitar pukul 1 malam. Orang tua si Tono datang dan minta tolong sama anak saya Wulan. Karena si Tono nangis dari jam 11 malam belum berhenti dan sekarang malah membentur-benturkan kepalanya di tembok hingga tembok di rumah mereka yang tadinya berwarna putih menjadi kemerahan karena darah si Tono yang sudah membasahinya. Karena terlalu berbahaya akhirnya si Tono sampai sekarang di kunci di kamar, serta tangan kakinya di ikat ranjang. Orang tua Tono Bukan tak sayang namun karena kondisi anaknya yang berbahaya yang membuat mereka terpaksa melakukan itu.". Lanjut pak Mardi sendu.


"Besok anterin saya ke rumah Tono itu ya pak Mardi?". Pintaku pada pria di depanku.


"Emang mau apa nak???,". Tanya pak Mardi heran.


"Aku cuma pengen lihat pak katanya ketempelan, siapa tau Mahesa bisa bantu doain,". Jawabku lembut. Pak Mardi terlihat mengangguk tanda menyetujui.

__ADS_1


"Assalamualaikum, Wulan pulang,". Ucap salam dari orang yang tadi merawatku di polindes, bidan Wulan.


"Waalaikumsalam,". Jawab aku dan pak Mardi serempak.


"Wulan kamu temani dulu nak Mahesa, bapak tiba-tiba perutnya mules banget ini.". Ucap pak Mardi memegangi perutnya.


Wanita itu kemudian mendekatiku memandangiku dengan dalam. Aku rasanya seperti perjahat yang di intimidasi. Dia kemudian duduk di sebelahku dengan cepat ia membuka kotak putih P3K yang tadi di bawanya. Di pegang lah daguku, dan dia melihat pada perban luka di pelipisku yang mulai mengelupas. Di tariknya dengan sekuat tenaga.


"Awwww, kamu gila ya. Bisa lepas alis gantengku,". Ucapku mengaduh menahan kekesalan pada bidan yang beberapa saat lalu ku kagumi.


"Upsss maaf ya, aku sengaja hehehehe,". Jawabnya yang membuat aku sedikit dongkol.


"Dasar bidan aneh,". Gumamku.


"Maaf ya aku cuma bercanda, jangan marah ya,". Ujar bidan lembut dengan menangkupkan kedua tangannya di pipiku.


Apa-apaan itu, wajahnya di imut-imutkan begitu. Pakai megang pipiku lagi, duh nanti kalo orang tuanya lihat bisa di sembelih aku disini. Tapi melihat wajah bidan itu dari dekat semakin manis saja, sungguh mirip dengan Amanda Manopo versi 2 nya. Batinku dalam hati.


Dengan tekaten dia mengganti perban yang sudah penuh dengan darah dengan yang baru. Kali ini semua di lakukan dengan lembut dan hati-hati. Aku pun sedah melupakan insiden semenit yang lalu. Ku anggap yang tadi itu salam perkenalan darinya padaku. Sikap lembut dan telatennya sekilas memberikan aku gambaran sosok Febi Sekarayu di rumah waktu merawatku yang pingsan karena kecapekan.


"Yu, kamu lagi apa sekarang, aku kangen....


.


.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2