Misteri Rumah Nenek

Misteri Rumah Nenek
Tolong


__ADS_3

Tak terasa waktu malam hampir habis dengan di tandainya gemuruh indah adzan subuh. Aku memutuskan untuk ikut menemani Wulan mengantar ayu yang sudah hampir sekarat itu ke satu-satunya rumah sakit di wilayah ini.


Dengan mobil ambulan satu-satunya yang di miliki klinik ini, aku berangkat dengan Wulan dan seorang sopir ambulan. Jalanan beraspal kasar membuat kami cukup berhati-hati dalam melaju di atasnya.


Namun, Entah mengapa kesialan rupanya menghampiri kami pagi ini. Mobil yang kami tumpangi tiba-tiba saja mogok! tanpa ada alasan yang jelas. Pak sopir pun nampak heran karena baru dua hari ini dia membawa mobil ini untuk di servis dan mobil ini tergolong mobil baru juga.


Setelah aku turun dari mobil dan pak sopir pergi untuk mencoba meminta bantuan warga sekitar. Mataku mengedar melihat pemandangan yang cukup aneh untuk sekedar di bilang sebuah kebetulan. Aku tersadar kalau kami berhenti tepat persis di depan puing-puing rumah mendiang nenek dahulu!


Belum hilang rasa geramku, sekarang ini aku merasakan angin berhembus lembut meniup tengkukku. Angin mulai berembus kasar. Berputar dalam satu titik membentuk bayangan dalam gelapnya malam. Membentuk samar bayangan seorang wanita yang sedang duduk di atas atap mobil ambulan!


Sayup terdengar rintihan isak tangis terdengar mengalun lirih di telingaku. Sukses membuat bulu kudukku bergidik ngeri. Mataku seperti terpaku pada sosok itu. Seksama kuperhatikan dengan terpaksa, sosok itu mulai mendongak ke atas, terus mendongak hingga kepalanya terlihat memutar ke belakang. Dan..


Cklaakkkk


Suara yang cukup nyaring di telingaku berdenging sesaat. Apa itu suara tulang patah? Kakiku sudah sangat lemas melihat pemandangan itu, keringat terus membasahi wajahku meski beberapa kali kuseka. Kepala itu seperti hampir lepas dari tempatnya. Dengan iringan tangis yang semakin pelan namun sangat dalam.


Dan entah mengapa disekitar ku saat inimenjadi gelap gulita. Aku mencoba merasai sekitarku yang seakan hilang di telan gelap. Sesaat kemudian kusadari aku sudah tak lagi menapak tanah, ya aku saat ini seperti melayang!


Kucoba meraih tangan Wulan yang berdiri di sebelahku namun seakan tanganku sangat pendek hingga tak mampu mencapai tangan Wulan, ada apa ini? Apa tak puas kalian mengangguku setiap hari?


Kulihat samar-samar ada satu titik cahaya di jauh depanku, tanpa pikir panjang ku coba melangkahkan kaki yang sudah tak berasa lagi menuju arah cahaya itu. Aku seperti berenang dalam bayangan. Menuju sesuatu yang aku sendiri pun tak yakin.


Terjebak dua kali di dunia tak kasat mata membuatku sedikit berpengalaman kali ini. Saat di situasi seperti inilah ketenangan dan mentalku akan benar-benar di uji. Semakin aku takut, peluang untuk bisa pulang ke alam nyata akan semakin kecil. Aku harus berani atau akan terjebak disini selamanya!


Cahaya itu semakin melebar seperti sebuah lubang seukuran satu meter. Cukup untuk di lewati manusia walau harus sedikit merangkak. Karena tak punya pilihan lain, aku putuskan untuk masuk. Menerima segala resiko yang ada di depanku.


"Tolong!! Tolong!! Tolong!! Tolong bi...biii.."


Sebuah erangan lirih tertangkap samar di telingaku. Tak jelas memang namun, aku sangat yakin itu suara seorang perempuan. Apa perempuan itu yang duduk di atas atap mobil ambulan yang aku tumpangi? Hiiii membayangkannya membuat aku kali ini sedikit ragu melangkah lagi.


"Kembalikan kembalikan leherku hihihihi"

__ADS_1


wanita dengan leher yang hampir putus itu kali ini kembali lagi, bahkan saat ini seakan menempel di punggungku. Dengan bau amis dan anyir dari darah segar yang melumuri bagian belakang tubuhku.


"Aaaaaaaaaaaaaahhhhhhh!!!!!"


Aku menutup telinga dan mataku erat-erat. Suara-suara kembali bersahut-sahutan, ada yang menangis seakan kehilangan ada yang tertawa ada juga yang merintih kesakitan, beriringan dalam teriakan yang hampir memecahkan gendang telingaku. Seakan semua beradu membentuk simphoni yang paling mengerikan dalam hidupku.


"Kembalilah cucuku, belum saatnya kau datang kemari!!."


Sesaat setelah suara itu menggema. Aku yang sedang terduduk tanpa alas sepertinya mendengarkan sebuah suara laki-laki. Yang sejurus kemudian pundakku seperti di tepuk halus. Aku pun spontan menoleh sedikit karena cukup trauma dengan beberapa pemandangan yang aku lihat beberapa menit lalu.


"Pergilah apa maumu!?" Tanyaku tanpa melihatnya sedikitpun.


"Apa ayahmu tak pernah mengenalkanmu padaku? Dasar anak kurang ajar!" Hardik pria tua dengan jenggot putihnya itu.


"Lihatlah aku cucuku, aku tak seperti makhluk-makhluk buas yang ingin mencelakaimu. Aku sebaliknya.." lanjut pria tua itu dengan lemah lembut.


Aku pun akhirnya menoleh. Memang benar dia bukan termasuk makhluk mengerikan yang aku temui. Pria tua dengan jenggot putih dan memakai baju khas Jawa berwana coklat. Tak terlalu nampak tua dan masih terlihat sangat gagah menurutku. Dan wajah itu sepertinya tak terlalu asing untukku.


"Ka-kakek si-siapa?" Tanyaku penuh heran.


"Dan kenapa kakek seperti tertarik mengenalku dan lagi kenapa kakek memanggil aku sebagai cucumu?" Imbuhku karena tak mendapat jawaban yang memuaskan.


"Panggil saja aku Mbah yo. Belum saatnya kamu masuk kesini nak! Akan ku antar kau pulang" ucap Mbah yo yang kemudian memegang tengkukku kuat. Kembali lagi seketika mataku memjadi gelap gulita dan tiba-tiba saja rasanya seperti tubuhku terhempas dari atas langit.


****


"Pak tolong pak, kenapa dengan kamu sih mas. Kalo kamu sakit bilang dong mas jadi nggak kaya gini huhuhu" Isak Wulan terdengar lirih sembari terus mengecek denyut tubuhku.


"Sabar mbak, ini cuma pingsan mbak. Doain aja ya" ucap seorang perawat seumur Wulan.


Sebuah tepukan halus menerpa pipiku, aku membuka mata dengan perlahan. Entah mengapa mataku tiba-tiba mengeluarkan air mata dengan derasnya. Entah mengapa aku merasakan kesedihan yang begitu dalam.

__ADS_1


Wulan yang melihatku tersadar pun juga kebingungan. Tersirat jelas dalam sorot matanya. Sejenak aku menyeka air mata yang tanpa izin keluar begitu saja. Aku tak lagi berada di bekas rumah terkutuk itu. Ya aku berada di ruang pemeriksaan rumah sakit yang jadi tujuan kami dari awal.


Setelah cukup lama menenangkan diri, aku mencoba bangkit dengan di temani Wulan memapahku. Karena kondisiku yang sudah di anggap normal dan tak mendapat masalah kesehatan berarti. Aku di izinkan pulang begitu saja, walaupun sepertinya Wulan masih memandangku dengan seribu pertanyaan.


"Emm Bagaimana kabar ayu sekarang?" Tanyaku pada Wulan yang berada di sisiku.


"Dia masih di rawat intensif di ruang ICU" jawab Wulan singkat.


"Syukurlah" ucapku kembali.


"Apa kamu masih cinta sama dia?" Tanya Wulan balik dengan penuh selidik.


"Hahaha, sebenarnya aku cin...."


"Awas Woy! Pasien gawat darurat!!" Gertak salah seorang laki-laki yang membawa tandu terlihat terburu-buru.


"Kalau pacaran jangan di tengah jalan beg*k!!!" Imbuh laki-laki yang mengangkat tandu bagian belakang tak kalah ketusnya.


Mereka berlalu pergi melewati kami yang masih sedikit terkejut. Sepertinya aku mengenal pria di atas tandu tersebut. Walau wajahnya penuh darah namun dari postur dan seragam aparat yang di pakainya, aku yakin itu dia.


"Sssssttt diam dulu, lihatlah siapa yang di masukkan ke ruang UGD itu, kalau nggak salah itu temannya pak Adi bukan?" Ujarku menunjuk ke arah seseorang yang baru saja di tandu melewati kami. Berusaha mengingat ingat siapa namanya.


"Briptu Eko!!"


.


.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung...


__ADS_2