
Rasa penasaranku semakin menjadi semenjak perkataan ibu pipik pagi tadi. Sejenak aku dan mas Didik berpikir mencerna setiap kata yang keluar dari mulut ibu berkerudung itu.
"Em Bagaimana kalo malam ini kita sekali lagi masuk ke dalam sekte gagak hitam. Kali ini kita akan ikut dengan mas Adi" tawarku pada mas Didik .
"Aku pasti ikut bro!!" Ucap mas Didik semangat.
"Eh.. tapi kan kita nggak tau dimana markas mereka sekarang" imbuh mas Didik.
"Semua sudah di atur rapi oleh mas Adi. Kita hanya ikut membantu saja." Tukasku.
"Baiklah" jawab mas Didik.
***
Siang itu aku berencana ke rumah pak Mardi. selain untuk bersilaturahmi juga untuk mengambil sesuatu yang ku titipkan dahulu. Sekalian ingin melihat bagaimana kabar bidan anehku itu. Hehehehe
"Assalamualaikum" salamku di depan pintu rumah yang tanpa sadar lumayan kurindukan.
Sekilas terkenang saat aku pertama kali di tampung disini. Dengan baju yang basah dan celana yang terkoyak sana sini. Dengan baik hati pak Mardi sekeluarga mau menolongku. Jika tak ada mereka entah bagaimana nasibku saat ini. Bagaimanapun aku berhutang budi pada mereka semua.
Setelah lima menit berlalu nampaknya salam dariku tak jua terjawab. Kemana gerangan keluarga baik itu. Suasana di sekitar juga begitu lenggangnya, sepertinya mereka sedang pergi ke suatu tempat mungkin.
Tiinnnnnnn
Sebuah klakson dari belakang cukup mengagetkanku. Orang yang kucari sedari tadi kini telah datang.
"Mas Mahesa!!" pekik Wulan langsung memarkir motornya untuk kemudian menghambur ke arahku.
"Kamu darimana Wulan? Kok rumahmu kelihatan sepi. Apa pak Mardi sama ibu sedang wisata ya" tanyaku dengan senyum bahagia. Sudah beberapa hari ini tak melihatmu Wulan.
"Kami sekeluarga pindah mas!" Ucap Wulan dengan mata sendu.
"Apa? Pindah? Kenapa emang nya Wulan?" Tanyaku penasaran.
"Ceritanya panjang, Biar bapak sendiri nanti yang cerita ya mas, Wulan mau kerja dulu. Paling sebentar, nanti jam tiga juga Wulan pulang" Pamit Wulan.
"Aku mau nungguin kamu kerja!" Usulku tiba-tiba saja meluncur mulus dari mulutku.
"Eh ngapain. Wulan malu ah" tukasnya.
"Iya udah kalo gitu, mending nggak usah kerja aja kamu. Temenin aku jalan-jalan aja ya. Aku lagi suntuk banyak pikiran" ucapku meraih kunci motornya. Wulan nampak pasrah saja.
"Tunggu bentar ya, aku titipkan dulu motornya mas didik ya" ujarku mencubit pipi merahnya.
"Hisssh kebiasaan, sakit tau!" Erang Wulan lirih. Semakin membuatku gemas saja wanita yang lebih tua dua tahun dariku ini.
__ADS_1
Setelah selesai menitipkan motor itu di warung ibunya mas Tarjo, aku dan Wulan berangkat. Entah kemana tujuannya sebenarnya aku juga belum tahu. Hehehe
"Mas main ke pantai ini yuk. Lihat sunset pasti seru" usul Wulan sembari menyodorkan HP nya. Memperlihatkan Gmaps yang menunjukan rute ke sebuah pantai bernama Marina.
"Lihat sunset? Hahaha. Ini kan masih siang Wulan. Baru jam satu juga." Jawabku geli mendengarnya.
"Iya biarin, nanti pulangnya nunggu sampai Wulan lihat sunset dulu" tukasnya agak merajuk.
"Iya-iya tapi jangan kemaleman ya. Soalnya nanti aku ada misi memb...." Jawabku hampir keceplosan.
"Misi?" Tanya Wulan terlihat dari spion sedang menatapku tajam.
"Iya misi membahagiakan Wulan seorang, hahaha" jawabku sekenanya. Berharap semoga dia tidak semakin curiga.
"Gombal gembel, hahahaha" tawa Wulan yang mendengar rayuan dadakanku.
Kalo kamu mau bahagiain aku, kenapa kamu nggak segera nembak aku Mahesa bodoh!. Aku sayang sama kamu Putra Mahesa. Kumohon peka lah sedikit.
"Makan dulu yok mas, laperr Wulan" rengek Wulan.
"Huhh padahal kurang dikit lagi nyampe padahal" gumamku.
Akhirnya kami sampai di sebuah resto makanan laut pilihan dari Wulan. Saat kami masuk sudah tercium aroma gurih dari hidangan mereka. Membuatku yang sedari tadi belum sarapan merasakan gejolak di perutku.
Setelah memesan dua hidangan. Kami pun menunggu di sebuah meja Gasebo dekat dengan bibir pantai.
Hingga kebahagiaan itu harus terusik..
"Wah..wah..lihat siapa yang ada disini, satu laki-laki pecundang dan satu wanita sampah murahan sedang mesra-mesraan, hahaha!" Hardik Andre yang entah bagaimana sudah ada di tempat yang sama dengan kami.
"Apa maumu!" Balasku dengan nada tak kalah tinggi.
"Hahaha, aku tak ada urusan denganmu! Minggir lah sebelum wajahmu ku jadikan keset untuk sepatuku!!" Bentaknya kembali.
"Hai Wulandari sayangku, apa kabarmu? Apa kau merindukanku sayang?" Ujar Andre yang mulai berani memainkan ujung jilbab Wulan. Aku memandangnya dengan geram.
"Tutup mulutmu brengs*k!!" Gertakku sudah tak tahan. Aku bahkan masa bodoh dengan para pengunjung lain yang memandang kami dengan sinis.
"Katakan kau masih mencintaiku sayang?" Kali ini dia semakin mendekatkan wajahnya ke wajah Wulan.
"Sebentar lagi aku akan menikah, maukah kau menemaniku untuk malam ini sayang. Kita akan bersenang-senang sampai pagi. Bahkan kau akan ku bayar kalau sudah selesai. Hahaha!!" Tawanya kembali menggelegar. Aku yang sudah tak tahan mengebrak meja dengan kuat.
Braaakkkkk
"Jaga mulutmu! Atau aku sendiri yang akan membungkamnya!!!" Bentakku yang merasa amarahku sudah di ubun-ubun.
__ADS_1
"Aku tidak punya urusan denganmu!!" Tukas Andre datar seperti tak mempunyai rasa takut sedikitpun.
"Ayo Wulan sayangku kita pergi, akan ku puaskan kau malam ini, hahaha" dengan sedikit memaksa dia menarik tangan Wulan. Aku yang sudah tidak tahan akhirnya..
Brugghhh
Sebuah bogem mentah mendarat tepat di hidungnya. Saat bibirnya mencoba menyentuh pipi ranum wulan. Segera ku tindih tubuh yang sudah terhuyung jatuh ke atas pasir itu. Ku raih kerah bajunya dan sekali lagi bogem mentah masuk menghantam bibirnya. Membuatnya ujung mulutnya sobek seketika dan mengeluarkan darah.
Dia tak tinggal diam. Dengan meraih batu di sampingnya dia menghantam pelipis kiriku. Aku sedikit terkejut dan jatuh berguling ke arah samping. Dia kini bangkit dan dengan segera menendang perutku.
Brugghhh
Tak tinggal diam aku kembali menyergapnya memeluk pinggangnya hingga ia kembali terjatuh. Pergumulan tak bisa di elakkan kami sama-sama balas menyerang satu sama lain.
sesaat kemudian dia terlihat kehilangan banyak tenaga kali ini. Kuraih kerah bajunya dan kembali di posisi duduk di atas tubuhnya.
"Hei dengarkan aku kepar*t!! Jangan pernah ganggu wulanku sedikit pun!! Jika kau berani menyentuhnya lagi, akan ku patahkan jari-jarimu dan menyumpalkan di dalam mulut besar mu itu!! dengarkan itu Brengs*k!!!" Gertakku dengan emosi yang benar-benar sudah tak terkendali.
Terpaksa pergelutan kami harus berakhir ketika keamanan setempat dan penjaga pantai harus menyeret ku ke kantor polisi. Di ikuti Wulan yang masih menangis sesenggukan dan di tenangkan beberapa karyawan dan pengunjung wanita disini.
Terlihat Andre juga di gendong untuk segera di larikan ke puskesmas terdekat. karena lukanya cukup parah.
Berbanding terbalik denganku. Dengan tangan terikat tali rafia aku harus ikut di geladak ke kantor polisi. Atas pembelaan diri yang kulakukan. Ku akui kali ini aku memang salah. Maafkan aku Wulan. Tapi sepertinya laki-laki dengan mulut iblis itu pantas mendapatkannya!
Sepertinya setelah ini aku benar-benar harus kehilangan segalanya atas perbuatan bodohku kali ini. Aku harus menyiapkan hati jikalau Wulan tak ingin menemuiku kembali. Aku hanya bisa memandangi Wulan sementara aku di bawa di dalam mobil bak terbuka. Memandanginya hingga bayangannya benar-benar sudah tak terlihat lagi.
.
.
"maafkan aku Wulan"
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung...