Misteri Rumah Nenek

Misteri Rumah Nenek
POV: Didik


__ADS_3

Detik berganti menit, menit berganti jam, jam berganti hari. Kali ini Didik sudah berada di rumah sakit terbesar di wilayahnya. Matanya terus mengedar melihat sekeliling mencari sebuah ruangan.


Matanya terhenti tatkala melihat seorang perempuan cantik berambut pendek dengan seragam lengkap duduk menunggu di depan sebuah kamar inap. duduk di sebuah bangku panjang stainless steel.


"Mbak Tika?" Sapanya.


"Eh kamu Didik ya? Kamu kayaknya temen nongkrong dari mas Adi kan? Dan yang ini siapa ya?" Jawabnya sedikit terkejut melihat Didik.


"Iya mbak saya Didik, saya turut berduka cita ya mbak atas musibah yang dialami mas Eko dan semoga saja mas Adi cepet ketemu ya mbak dalam keadaan sehat. Oh iya ini temen saya mbak." ucapnya seakan juga merasa kehilangan.


"Iya mas, amin" balas Tika mengaminkan doa pria di hadapannya.


"Kamu berdua disini ngapain?" Tanya Tika berbasa-basi.


"Saya mau berobat mbak, kemarin saya jatuh naik motor serempetan sama dia." tukas Didik kemudian menutupi luka di pergelangan tangannya. dan melirik Andre di sebelahnya.


"Boleh saya masuk mbak, saya pengen lihat kondisi mas Eko sebentar" pinta Didik.


"Boleh mas silahkan, saya kebetulan juga mau ke bawah dulu. Kalo begitu saya tinggal sebentar ya mas" ucap Tika sembari bangkit dari duduknya.


"Iya mbak silahkan" ucap Didik dengan senyum ramah.


Setelah melihat Tika pergi dan hilang dari pandangannya, Didik kemudian masuk ke dalam ruangan yang hanya terdiri dari satu ranjang itu di ikuti oleh pria yang selalu mengekornya.


Terpampang jelas di matanya. Seorang laki-laki dengan perban dan jahitan dimana-mana. Banyak alat yang tidak di mengerti olehnya semua menempel di seluruh tubuh laki-laki itu. Hidungnya pun tertancap selang oksigen yang membantu suplai paru-parunya. semua alat itu seakan menopang seluruh hidup pria itu saat ini.


"Hebat juga kau pak polisi. Mampu bertahan melawan serigala-serigala lapar milik kami. Kukira kau sudah tercabik-cabik menjadi daging cincang" Ucap pria di sebelah Didik dengan senyum sinisnya.


Drrrtttt drrttttt


Sebuah ponsel bergetar pelan. Rupanya ponsel Didik bergetar tanda ada pesan masuk.


"Dari Mantu ke tujuh" bisiknya lirih menghadap rekannya dengan senyum mengembang.

__ADS_1


"Kau pergilah dulu ke mobil ndre, biar aku urus sisanya!" Tukas Didik mendorong pria itu keluar dari ruangan.


"Jangan macam-macam lagi ya atau aku habisi kau!" Ketus pria itu meninggalkan Didik sendirian.


Tak menghiraukan ucapan penuh ancaman dari pria menyeramkan itu, Andre bergegas menuju nomor kamar yang tertera di layar Hpnya, nomor 218B. Dengan langkah cepat dia berlalu pergi masuk ke dalam lift menuju lantai tiga.


Setelah cukup cepat mencari nomor kamar satu persatu dia akhirnya menemukan ruangan dengan nomer 218B, persis dengan di layar Hpnya. senyuman tersungging aneh di bibirnya.


Belum sempat ia membuka pintu, seorang laki-laki sudah membuka terlebih dahulu,di lanjut menghampirinya kemudian memeluknya dari depan. Sahabatnya Mahesa sudah ada di ruangan bersama seorang perempuan cantik berpipi gembul sedang duduk menunggu wanita yang sedang berjuang dari sekarat di matras rumah sakit.dengan penuh luka sayatan dan tusukan di seluruh tubuhnya. Ayu!.


"Ayu?!" Ucap Didik mengerjapkan matanya tidak percaya.


"Iya mas Didik, ayu di temukan warga desa di pinggir kali besar, hanyut terbawa dan kemudian tersangkut akar pohon. Beruntung pas di angkat ayu masih hidup walau kondisinya udah koma seperti ini." Ucap Mahesa dengan wajah tertunduk. Tak beda jauh dengan Didik. Seakan tidak percaya dengan apa yang di saksikannya.


"Ka-kamu kenapa mas luka-luka gitu?" Tanya Mahesa penuh selidik.


"Aku...aku jatuh dari motor kemarin malam bro" jawab Didik dengan mata sendu menahan tangis. Bagaimanapun ayu dan ibunya merupakan orang yang cukup berjasa di hidupnya selama ini.


"Mas, Kudengar mas Adi mengh..." Ucap Mahesa.


"Siapa mas yang hilang?" Tanya Wulan yang baru saja bergabung sekembalinya dari toilet. spontan kedua laki-laki itu menoleh meski tak ada yang berniat menjawab pertanyaannya.


"Huuuuuuffhh, Mas Adi menghilang saat mencoba masuk ke markas musuh kita. Dia dan mas Eko dengan ceroboh masuk begitu saja ke dalam lubang neraka itu. Aku bertemu mereka namun, tak mampu mencegah tekat mereka malam itu" ucap Didik kembali sendu.


"Kita doa saja ya mas dik, semoga mereka baik-baik saja. Untuk sekarang ini hanya itu yang bisa kita lakukan." Balas Mahesa sembari menepuk pundak Didik pelan.


"Markas apa to mas? Wulan bingung. Kalian sebenarnya ngomongin apa sih?" Ketus Wulan yang mulai jengkel di cuekin.


"Sssttt diem dulu, nanti tak jelasin semua sama kamu, bidan jelek" goda Mahesa yang mulai melihat wanita di depannya sudah memasang raut wajah sangarnya.


"Saat ini cuma kamu mas Didik, orang satu-satunya yang aku bisa percaya" ucap Mahesa kembali dengan memeluk erat Didik. Mata Didik kali ini menunduk tak berani membalas.


"Andai kau tau bahaya apa yang sedang menantimu, banyak yang sedang mengicarmu, mantu ke pitu (tujuh)!" Batin Didik bergejolak dalam hati. Ada rasa tidak tega dalam hatinya yang harus menyerahkan sahabatnya untuk jadi persembahan ritual biadab mereka.

__ADS_1


"Hei mas, malah ngelamun! aku mau pulang dulu ya mas. Mau nganterin Wulan juga. Kasian sudah sore biar dia juga istirahat juga. Kamu nggak mau ikut mampir mas?" Tawar Mahesa pada Didik yang masih saja tak bergeming.


"Aku..aku mau ke rumah temenku dulu bro. Aku mau benerin motorku ke dia. Kamu duluan aja nanti aku mampir ke kostmu wes" balas Didik berusaha menutupi galau dengan senyum palsunya.


"Kapan-kapan aku kesini lagi mas, kemaren kasian dia nggak punya sanak saudara yang nungguin jadi aku yang nungguin dia disini. Kalau sekarang kan ada kamu jadi aku bisa gantian istirahat dulu di rumah. Kalau ada apa-apa kamu kabari aku ya mas dik" imbuh Mahesa seraya melempar senyum manisnya. Membuat Didik kembali di hantui rasa bersalah.


"Yasudah, ayo bidan jelek kita pulang" tukas Mahesa menggandeng Wulan keluar ruangan dengan sedikit menyeret tangannya.


"Iiiihhhhh, kebiasaan!" Ketus Wulan mencubit perut Mahesa cukup keras.


"Awwwwww cubitan maut! Sakit. Iya ampun-ampun, maaf Wulan maaf" rintih Mahesa meratapi panasnya cubitan seorang gadis berpipi merona itu.


Erangan kesakitan dari Mahesa sontak menjadi perhatian para penunggu pasien di sana. Ada yang geleng-geleng kepala ada juga yang terlihat sinis menatap tingkah laku konyol dua sejoli yang belum mau mengungkapkan perasaan masing-masing itu. Drama kecil yang membuat Didik yang melihatnya terkekeh di buatnya. Sedikit menghibur hatinya yang tengah dirundung dilema.


Kedua sejoli yang sadar menjadi tontonan drama gratis itu kemudian menunduk malu dan segera pergi secepat kilat dengan berjalan berjauhan. Bahkan menuju ke arah yang berlawanan, ya walaupun tetap sama saja tujuan mereka pasti turun ke lobby. Sikap yang berbanding terbalik tak seperti saat tadi yang jelas terlihat Mahesa enggan melepas barang satu detik pun tangan Wulan dalam genggamannya. Hahaha pasangan yang aneh.


Ting!


Mata Didik kali ini tertuju pada sebuah notifikasi di ponselnya. Sekilas wajahnya mengembang dengan senyum ambigu terlukis di garis wajahnya.


"Ini waktunya!! Akan ku buat permainanku sendiri! Hahaha!!!"


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung...


__ADS_2