Misteri Rumah Nenek

Misteri Rumah Nenek
Malam Pertama


__ADS_3

"Ayu?" Pekikku hampir tak percaya.


"Kamu udah sehat yu?" Tanyaku menghampiri mencoba memastikan keadaannya.


"Udah Putra. Sebenarnya aku udah bisa jalan kaki. Tapi masih suka pusing karena benturan keras di belakang kepalaku. Membuat aku kehilangan sebagian memoriku" ucap ayu.


"Bikin khawatir aja kamu yu. Emang bener ya yu, kata dokter kamu nggak ingat sama sekali sama penyebab kamu bisa jatuh dan koma?" Ujar mas Didik.


"Iya dik, dokter bilang kalo ayu mengalami kehilangan memori ingatan jangka pendek. Oh iya btw selamat ya kawanku. Dapat salam dari mas Eko. Hehehe" Tukas mas Adi yang datang bersama ayu petang ini.


"Mas Adi?!" Pekikku tak percaya.


"Iya ini aku. aku sudah sehat kembali kawanku. Hehehe. Kalau tidak karena bantuanmu mungkin aku sudah di akhirat hari ini!"ucap mas Adi menepuk-nepuk pundakku.


Petang itu menjadi petang yang cukup istimewa untukku. Berkumpul bersama dengan teman-teman lamaku. Meski kini keadaan dan suasananya sudah berubah namun, tak mengurangi rasa syukurku atas selamatnya kembali ketiga sahabatku yang berjuang bersamaku. Walaupun ayu harus kembali ke rumah sakit dahulu karena masih harus menjalani proses penyembuhan trauma di kepalanya. meninggalkan satu hal yang masih menggantung di pikiranku. Tinggallah aku, mas Didik, dan pak polisi Adi yang masih asik hanyut dalam obrolan kami.


"Berapa lama lagi waktu kita dik?" Tanya mas Adi.


"Dua hari lagi mas!" Tukas mas Didik.


"Baiklah! Kali ini pastikan semua berhasil!" Ujar mas Adi membalas.


"Aku juga ingin segera hidup normal mas! Bukan seperti ini, hidup yang terus di buntuti demit sialan itu!" Balasku.


"Aku akan berusaha membantu kalian. Aku sedang mengajukan kasus ini agar mendapatkan kewenangan untuk menangani kasus ini lebih serius!" Ujar mas Adi.


"Oke-oke, berarti kita perlu susun rencana dulu bro." Ucap mas Didik.


"Rencana pamungkas!!" Ucap kami bertiga serempak.


"hahahaha"


Malam sudah semakin larut. Semua orang sudah berpamitan untuk pulang. Sudah cukup hari ini sebuah perayaan yang sederhana merayakan bersatunya dua hati dalam satu ikatan. Mas Didik dan ayahku sudah pamit dan pulang sepertinya. Ruang yang semula ramai kini sudah kembali senyap memenuhi kodratnya sebagai tempat istirahat. Kini tinggalah aku dan Wulan yang sudah ada di dalam kamar berdua saja.


Tak ada obrolan berarti saat ini. Walau sudah akrab sedari lama, namun nyatanya rasa canggung masih menyelimuti saat kondisi berpotensi seperti ini. Ini menjadi pengalaman pertamaku satu ranjang bersama lawan jenis. Dag Dig Dug rasanya dalam posisi ini. Kami hanya berbaring saja dengan Wulan memunggungiku dan sebuah guling besar di antara kami seakan menjadi benteng pertahanan terakhir dari kami berdua.


"By..." Panggil Wulan lembut.


"Hmmmm" jawabku singkat.


"Aaaaaa...nggak..nggak jadi aku mau ke kamar mandi dulu...hehehehe" tukasnya.

__ADS_1


Nah, muncul lagi deh kelakuan anehnya hahaha. Dasar bidan aneh bikin deg-degan aja. tapi itu juga yang membuat aku jadi tergila gila padamu wul, Batinku.


"Saatnya malam ini aku menjadi pria sejati..." Gumamku tersenyum sendiri.


*****


"Aaaaaaahhhhh by.. pelan-pelan"


"Iya ini juga udah pelan kok"


"Ahhhh by sayang..sakitt..."


"Sssstttt... Jangan teriak-teriak nanti kedengaran lho sampai luar."


"Tapi by... Sakitt.. kamu pelan-pelan makanya sayang"


"Ini kan udah pelan. Gimana udah enak?"


"Ahhhhh enak by...emmmhh...ashhhh sakitt"


"Makanya kalo keluar dari kamar mandi itu pelan-pelan. Nggak usah sok-sokan lari. Kepleset kan jadinya. Jatahnya aku minta pijit kamu malah sekarang aku yang harus mijitin kakimu jadinya." Gerutuku.


"Hehehe iya by.. maaf.." balas Wulan.


"Udah by. Ayo kamu juga harus istirahat by.. makasih ya.. cupp.." ucap Wulan sembari mengecup pipiku. Rupanya aku mulai menyukai kebiasaannya itu. Hehehe.


"Iya ayo tidur. Badanku udah capek banget rasanya.." ujarku kemudian berbaring di sebelah Wulan dan terlelap begitu saja.


Sementara itu di sisi lain...


Ada dua orang pria kurang kerjaan yang sedang berdiri tepat di depan pintu kamar Wulan. Niat hati mereka untuk mengajak mencari makan Putra harus pupus tatkala mereka samar-samar mendengar lenguhan dan teriakan Wulan dari dalam kamar. Terlihat mas Didik menelan ludah berkali-kali. Beberapa kali mereka saling pandang aneh dengan senyum nakal terlukis di antara mereka.


"Hehehehe. Wah pelan-pelan bro... Hahaha" bisik mas Didik dengan melambaikan satu tangannya seakan memberi isyarat untuk mengajak pak budi pergi saja dari sini.


"Iya udah dik ayo pergi berdua aja. Jangan ganggu pertempuran mereka dulu. Udah nggak sabar aku pengen gendong cucu hihihihi" tukas pak Budi Rahardjo tertawa dengan menutup mulutnya agar tak terlalu keras terdengar.


"Hahahaha.." sesaat kemudian kedua pria kurang kerjaan itu melenggang pergi dengan tawa yang mereka tahan dari tadi. meninggalkan rumah Bu Lastri dengan pikiran berwarna-warni yang mereka bawa.


cklekkkk Kritttttttttt


"Hmmm aneh, kayaknya aku tadi denger suara orang ketawa disini kok sekarang sepi sih. Kayaknya sih kaya suara si jelek Didik. Aneh kok sekarang nggak ada. Ahh mungkin cuma perasaanku aja kali." Ucapku kemudian bergegas kembali masuk lagi ke dalam kamar untuk beristirahat sekaligus menemani Wulan yang baru terkilir tadi. Mengakhiri malam ini dengan kembali gagal mengeksekusi Wulan lagi.. hehehehe.

__ADS_1


"Ahhh nikmatnya..." Ujarku setelah merebahkan punggungku yang rasanya sudah mau patah karena harus meladeni tamu yang datang seharian.


"By..kamu mau minta sekarang apa tahun depan? Hehehehe" goda Wulan yang ternyata belum tidur. Wah kesempatan emas!!. Batinku.


"Se-sekarang apa kamu nggakpapa?" Tanyaku ragu.


"Lakukanlah by aku milikmu malam ini seutuhnya..cupp" sebuah kecupan hangat seakan membuat darahku mengalir dua kali lipat lebih cepat di banding biasanya. Aku harus mulai darimana ya...


"Yaudah bismillahirrahmanirrahim.. terima kasih istriku..cupp" balasan kecupan sayang tepat di pipi Wulan yang sudah memerah.


Perlahan namun pasti malam ini aku akan berekreasi dengan berjalan-jalan di setiap inci dari tubuh putih bersih milik bidadari di hadapanku. menyusurinya setiap lekukan dengan penuh cinta. wanita yang sudah membuatku mabuk kepayang setengah mati. membuatku harus menjalani tugas patroli yang memang sudah seharusnya di lakukan pengantin baru... Hehehe


*******


"Brengsek!!"


"Bagaimana mungkin ini bisa terjadi! Kau baru saja ku lepas sebentar saja sudah berani menikah dengan bedebah lain!!" Bentak pria itu sembari meminum jus buah di tangannya dengan kasar.


Pyarrrrrr....


Sebuah gelas di lempar begitu saja menghempas ke arah tembok hingga menjadi keping-kepingan kecil saking kuatnya. Pria muda itu mengerang memaki semuanya dengan brutal. Menendang meja di hadapannya hingga terbalik. Orang-orang yang melihatnya hanya bisa terdiam tak berani sekedar meredam amarah pria yang sedang kalap itu. Mereka semua sudah hafal betul jika pria yang mengidap skizofrenia itu tak akan segan menghabisi siapapun yang membuat tersinggung. Bahkan dia pernah menghajar salah satu anak buahnya hingga kepalanya nyaris putus hanya karena dia merasa jengkel karena mendengar dia sedang di gunjingkan olehnya. Lebih baik berhati-hati, pikir dari orang-orang disana. Bagaimanapun tak ada yang bisa menebak pikiran gila darinya.


"Beraninya kau mengambil Wulan dariku!! Arrrrgggghhhh!!!!" Erang pria itu lagi.


"Lancang sekali kau bedebah!! Aaaaaaahhhhh huhuhuhu Wulanku sayang kenapa kau tega padaku?! Aaaaarggggghh! " kali ini pria gila itu terlihat menangis dengan erangan dan teriakan yang sungguh menggema di seluruh sudut ruangan.


"Akan aku buat kau menyesal! Akan aku cabut jantungmu itu saat masih berdetak! Ahhhh pasti itu akan menjadi kenikmatan yang begitu indah!!!! Tunggu kunjunganku b*jingan!! Hahaha" Ancam Andre dengan wajah memerah di penuhi amarah buas yang tidak stabil.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung...


__ADS_2