
"Kau tahu nenek-nenek seram yang selalu mengunyah sirih hingga seluruh mulutnya berwarna merah tadi malam?" Tanya mas Didik sembari menyeruput kopi hitamnya.
"Apa kau tahu siapa dia? Jelaskan padaku." Tanyaku singkat.
"Dia di kenal sebagai kaki tangan Butosengkolo. Lebih tepatnya dialah perwujudan Sengkolo Bahulawean. Yang di tanam seseorang pada keluarga pak Mardi. Dia akan menghabisi satu keluarga hingga habis darah keturunannya. Dia adalah yang paling berbahaya!" Ucap mas Didik kembali menyalakan rokoknya yang mati karena tak kunjung di hisap.
"Kenapa mirip dengan keluarga nenek tari dulu dan yang sekarang berpindah menjadi bencana untuk keluargaku. Kau tahu kan kematian bisa saja mengincarku setiap saat?!" Balasku sedikit meninggikan suara. Terlihat mas Didik masih dengan santai menikmati rokoknya.
"Dan Lalu apa hubungannya dengan Wulan menikah denganku?" Imbuhku sedikit meredam rasa egoku.
"Itu akan sejenak membuat dia berhenti untuk mengincar nyawa Wulan dan sekeluarganya. Pernikahan kalian akan memberikan sedikit waktu untuk kita hingga waktu Jum'at pahing datang. Paling tidak, kau bisa sementara melindungi keluarga Wulan jika menikah dengannya. Kulihat sekilas jika demit itu sepertinya cukup gentar melihatmu." Jelas mas Didik.
"Kau yakin ini bukan akal-akalanmu atau siapapun untuk menipuku?!" Cecarku pada mas Didik.
"Apa menurutmu kematian pak Mardi belum cukup membuktikan? Atau mas Adi dan mas Eko yang sekarang sedang terbaring hampir mati, itu juga masih membuatmu ragu?" Ketus mas Didik.
"Hei tunggu, kenapa kau yang emosi mas?!" Balasku tak kalah ketus.
"Bukan hanya keluarga Wulan bro, tapi kau harus tau jika kita semua sudah di tandai. Tinggal menunggu waktu bagaimana mereka ingin menghabisi kita. Jika bukan demit itu yang datang pasti Andre juga tidak akan tinggal diam. Dia lebih bengis bahkan melebihi demit itu sendiri!" Jelas mas Didik lirih.
"Jika kau tidak mau. Biar aku yang gantikan posisimu!" Imbuhnya membuat emosiku hampir saja meledak.
"Jika kau ingin mati saat ini silahkan saja. Itupun jika kau berani!" ucapku tak kalah ketus lagi.
"Jangan pernah mencoba lari dan membuatku repot ya bro! Hahaha" tukas mas Didik sedikit meledek.
"Apa semua ini ada hubungannya dengan almarhum pak Mardi? Dan darimana kau tahu semuanya?" Tanyaku mencoba mencairkan suasana yang menjadi cukup panas.
"Semua ini ulah si bajing*n Andre! Andre yang sudah menghabisi pak Mardi. Dia menggunakan obat bius untuk mengambil sementara kesadaran pak Mardi dan membawanya dengan beberapa orang untuk pergi ke jembatan penyeberangan di tengah kota yang sudah usang bahkan sangat sepi sekali. Dan...dia membuat pak Mardi terikat di ketinggian dengan tubuh terbalik. Saat di rasa waktu sudah cukup lenggang dia dengan cepat melepaskan ikatan itu. Pak Mardi yang belum tersadar, jatuh dengan bebas ke bawah. Dengan wajah menghantam aspal lebih dulu. Membuatnya tewas seketika dengan wajah yang hancur sudah tak berbentuk lagi." Jelasnya yang bergidik membayangkan kematian tragis pak Mardi.
"Kenapa kau bisa mengetahuinya mas?" Tanyaku dengan suara tercekat hampir tak keluar karena mendengar kenyataan seperti itu.
__ADS_1
"Aku mendengarnya sendiri dari mulut Andre. Saat aku sedang berada menyusup di dalam sana. Aku sebenarnya tak sengaja mengupingnya yang sedang bercerita sambil mabuk." Tukas mas Didik.
"Ingin sekali aku menghentikan keganasan psikopat gila itu dengan tanganku sendiri. Dia sudah memangsa banyak nyawa tak berdosa!" Geram mas Didik mengawang titik bintang yang berpendar malam ini.
"Apa menurutmu Andre juga yang mencelakai ayu?" Ucapku meminta pendapat.
"Sepertinya.." ujar mas Didik.
Malam itupun di isi dengan obrolan santai kami. Tak ada penjelasan lebih lanjut. Aku tak mau obrolan panas ini menganggu emosiku. Sekarang ini keselamatan nyawa orang-orang di dekatku lebih penting. Aku tak mau mereka celaka gara-gara keegoisanku. Malam ini pun kami akhiri dengan gejolak dalam batin masing-masing.
*****
Pagi telah tiba. Fajar menyingsing dengan begitu hangat. Merangkul setiap insan dengan membawa kehangatan tulus dari sang pencipta. Hari ini hari bahagiaku. Walau sempat protes karena waktu yang terlalu cepat. Namun begitulah adanya. Semua keraguan yang ada tak mampu membendung bahagia yang tengah kurasakan saat ini.
Tanganku tak henti-hentinya berkeringat dingin sedari tadi. Padahal udara pagi ini tergolong sejuk. Ijab Qabul yang harus ku hafal pagi ini juga membuatku hampir tak merasa lapar ataupun haus. Bayangkan hanya waktu 4 jam saja sebelum ikrar janji suci pernikahan di ucapkan. Aku harus menghafal tiga kalimat panjang yang begitu sakral. Sungguh kalimat-kalimat itu seperti susah masuk dalam kepalaku. Selalu saja ada yang terpleset barang satu dua kata.
"Ayo bro. Coba di hafal lagi. Nanti jam sepuluh lho ijab nikahmu" ucap mas Didik mencoba membantu.
"Saya terima nikahnya pak Mardi binti adinda Wulan Cantika Ayuningtyas di bayar tunai.. eh seperangkat alat sholat..eh.." ujarku coba untuk menghafal ijab Qabul.
"Bodoh!! Yang mau kamu nikahin itu bapaknya atau anaknya?! Udah di bilangin salah kok masih di ulangin terus. Awas nanti kalo disana salah terus , kamu nggak jadi nikah sukurin!!" Bentak mas Didik menepuk jidatnya berkali-kali.
"Nih di baca lagi. Harusnya anaknya dulu baru nama bapaknya. Terus mahar kamu, baru di bayar tunai! Gitu broo.. duh susah ngajarin orang susah huhhhhh" gerutu mas Didik sembari menyerahkan sesobek kertas contekan yang di beri oleh ayah pagi ini. Wajah dongkol tergambar di wajah mas Didik yang menemaniku menghafal dari subuh tadi.
"Hehehehe maaf-maaf. Grogi mas dik. Maklum baru pacaran pertama kali langsung di suruh nikah ya gini." Ujarku mengelak.
"Nanti ah gampang. Kalo suruh hafalan kaya gini malah nanti aku bisa grogi mas dik. Hehehehe" imbuhku mencoba menghilangkan nervous yang sedari tadi malam sudah membuatku tak karuan.
"Awas aja kalo sampek malu-maluin!" Ancam mas Didik.
"Emangnya kamu mas, malu-maluin. Hahaha. Eh iya, bagaimana sama kamu mas kalo aku udah nikah? Apa kita bisa bareng-bareng lagi kaya dulu ya? " Anganku kembali terbang.
__ADS_1
"Kalo kamu udah nikah, pastinya giliranku untuk beraksi dong. Siap-siap dapat paman baru. Hehehehe" tukas mas Didik penuh ambigu.
"Paman? Hahahaha! Kamu naksir sama Tante Ningsih kemarin ya?!" Gelakku mendengar celotehan mas Didik barusan.
"Ssssttttt.. dasar mulut ember. Pelan dikit kan bisa bro. Hishhhh" gerutu mas Didik memukul bahuku agak keras.
"Hahahaha..iya oke-oke. Aku dukung penuh kamu mas. semangat!!" balasku memberikan dua jempolku tanda dukungan penuh agar mas Didik segera mengakhiri masa kejonesannya.
"Emmmm mas dik. Kira-kira gimana ya kabar mas Adi dan mas Eko sekarang? Aku yakin pasti kamu tau sesuatu." Ucapku kali ini menatap pias ke arah mas Didik.
"Mereka sudah sembuh dari kemarin walaupun masih belum fit seratus persen dan moga-moga nanti mereka bisa datang ya bro. Pasti rame kalo kita semua bisa kumpul lagi." Balas mas Didik melempar senyuman kearahku.
"Semoga mereka cepet pulih ya mas. Emmmm kalo ayu gimana ya mas kabarnya?" Ujarku lagi.
"Doakan saja bro..." Jawab mas Didik dengan raut wajah berubah dengan pandangan nanar.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung...
__ADS_1