Misteri Rumah Nenek

Misteri Rumah Nenek
Menuju Akhir


__ADS_3

Raut kepanikan dari didik nampak begitu ketara. Dengan rasa penasaran yang masih menyelimuti, Adi akhirnya menuruti untuk sejenak berhenti di pinggir jalan.


Terlihat jari-jari Didik begitu lincah menari di atas layar ponselnya. Beberapa kali ia menelfon dan berbicara meski tak begitu lama. Raut panik itu kini berangsur menjadi senyum kelegaan dari wajahnya. Membuat Adi semakin mengalami bentrok dengan rasa penasarannya.


Kedua polisi yang bisa di bilang dalam trek karir yang cemerlang itu hanya bisa memandangi semburat senyum dari pria muda yang tadi sempat panik tak karuan. Kini nampak berubah 180 derajat. Berjalan ke arah mereka dengan aura bahagia yang aneh. Membuat mereka berdua hanya saling pandang kebingungan.


Tanpa di beri aba-aba Didik langsung saja nangkring di atas motor sport berwarna biru itu. Bahkan tak memberi waktu sejenak Adi untuk mengucap segudang pertanyaan dalam pikirannya.


"Nggak usah tanya dulu pak polisi. Nanti tak jelasin di jalan aja" potong Didik yang sudah tau dia akan dihujani banyak pertanyaan.


Mereka kemudian tersadar akan tujuan mereka sampai kesini. Sejenak mereka saling bertukar pandang kembali. Kemudian di sertai anggukan, mereka meluncur kembali menuju tujuan awal mereka.


Hampir dua jam mereka mengendarai kuda besi bersama. Hingga menuju ke pinggir kota yang terkenal merupakan daerah kumuh dengan tingkat kriminalitas tinggi di kota ini.


Sepanjang jalan mereka di suguhi pemandangan miris di sisi kanan maupun kiri jalan raya. Adi baru ingat disini merupakan surganya lokalisasi prostitusi kalangan bawah dengan banyak anak di bawah umur yang sengaja di pekerjakan bahkan oleh orang tua mereka sendiri yang mengatasnamakan himpitan ekonomi. Miris


Sampai lah mereka di sebuah tempat karaoke yang bisa di bilang jauh dari kata nyaman. Bau alkohol tongkat tinggi yang tentu melebihi batas aman konsumsi tercium pekat di setiap inci udara disini.


Mereka bertiga masuk dengan tujuan menemui salah satu Intel mereka yang di kirim untuk meng-spionase target mereka. Dengan pasti mereka masuk ke dalam ruangan yang sudah di pesan sebelumnya. Dan benar saja pria itu sudah menunggu di dalam sana.


Dalam ruangan 5X6 yang pekat dengan bau asap rokok yang sungguh seperti memenuhi ruangan. Dengan layar TV yang pas-pasan tidak terlalu besar di tambah double speaker yang terasa agak cempreng di telinga. Di sana sudah tersedia banyak cola dan air mineral juga beberapa Snack dan kacang kulit yang sepertinya sudah di persiapkan untuk menyambut mereka.


"Kalian lama sekali! Aku tak punya banyak waktu. Kalian tau itu kan?" Tutur pria itu sedikit kesal.


"Maaf van kami tadi sedikit mengalami kendala di jalan" tukas Eko menjawab.


"Baiklah akan ku beri kalian lokasinya sekarang. Dan ingat masuklah pada jam 23:30! Mereka pada jam itu akan pergi ke pantai untuk bersemedi dan berlatih Kanuragan bersama. Maka carilah apa yang kalian butuhkan di dalam sana sementara mereka pergi. Bawa semua yang kalian perlukan sebagai bukti. Dan satu lagi. Waktu kalian didalam hanya dua jam saja sebelum mereka kembali!" Jelasnya sembari memberi secuil kertas ke tangan Adi.


"Aku akan segera kembali ke dalam kelompok setan itu. Kumohon jaga diri kalian baik-baik. Jangan ada kecerobohan sama sekali!" Tambahnya memperingati kami.

__ADS_1


"Baiklah kami mengerti Van" balas mas Adi menyalami dan kemudian pria itu pun tersenyum dan bangkit dari duduknya.


"Oh iya kalian masih punya waktu 3 jam bukan? Bersenang senang lah disini dulu. Mereka punya banyak wanita pemandu lagu yang muda dan cantik-cantik. Sepertinya kalian juga butuh hiburan. Hahaha" ucap pria itu yang hendak keluar dari ruangan.


mereka bertiga hanya berpandangan saja, sepertinya mereka bertiga mempunyai kesamaan. Tidak pernah sama sekali masuk ke dalam tempat seperti ini sebelumya.


"Permisi" ucap dua orang wanita muda yang masuk dengan baju mininya. Sepertinya mereka sudah terbiasa memakai itu. Jika tidak maka di pastikan meraka akan masuk angin di buatnya.


"Kami di suruh tuan Ivan masuk kesini" ucap salah satu pemandu lagu berambut pendek dengan warna coklat gelap.


"Masuklah, dan silahkan lakukan apapun yang kalian mau. Makanlah apapun yang kalian mau makan. Dan minimal pakailah jaket atau baju kalian. Kami tak ingin terlalu terbawa suasana" ucap Adi dengan tegas walau cenderung kaku.


"Maklum mbak, kita bertiga masih perjaka ting-ting, hehehe" imbuh Didik dengan gaya selenggekannya.


Mereka hanya menurut saja dengan apa yang di katakan Adi tadi. Sekaligus mereka memandang heran dengan ketiga tamunya malam ini. Semuanya terlihat kaku namun terlihat tampan semua. Terutama Adi yang memang mempunyai wajah ganteng berwibawa khas pria lingkungan tropis.


Pemandu lagu yang sejatinya harus menemani mereka di dalam room itu pun hanya bisa bingung sendiri. mereka pun mulai bernyanyi untuk menghilangkan canggung. Semua itu cukup berhasil sepertinya.


Kedua perempuan ini pun sadar jika mereka orang yang baik dan tak akan kurang ajar dengan mereka. Mereka berdua tersenyum bersama ketiganya. Penuh canda tawa hangat. Sesuatu yang jarang mereka dapatkan.


Dan mereka bersyukur malam ini tak ada permainan bejat berkedok karaoke yang harus mereka mainkan dengan pura-pura bahagia, padahal dalam hati mereka mengutuk para lelaki hidung belang yang sering kali menganggap mereka hanya pemuas nafsu belaka.


"Sudah waktunya" ucap Adi berbisik pada Eko.


"Baiklah nona-nona, kalian boleh keluar dulu kami akan segera menyusul. Kami ingin beres-beres sebentar." Tutur Eko dengan kedua wanita muda dengan paras yang cukup ayu itu.


"Terimakasih tuan-tuan. Kalian sangat baik hati" balas wanita dengan rambut panjang tergerai.


"Iya sama-sama, em pikiranlah kata-kataku tadi. Carilah pekerjaan yang lebih menghormati dirimu" ujar Adi menasehati kembali keduanya.

__ADS_1


"Terimakasih mas, kami pamit dulu ya" ucap keduanya berpamitan.


"Ayo kita juga harus segera berangkat" ajak Eko yang sudah mempersiapkan segalanya. Mulai dari rompi anti peluru senter, kamera, hingga senjata api. Mulai dipersiapkan di balik jaket tebal mereka.


Segera setelah keluar dari tempat hiburan itu. Mereka menuju gedung dalam alamat yang di berikan oleh Ivan, sang mata-mata polisi yang sudah ada di dalam organisasi walau tak mudah memasukkannya.


Tempat tujuan mereka hanya berjarak 1,4 km dari tempat ini. Setelah perdebatan mereka akhirnya setuju untuk memarkirkan motor bising mereka di jarak tertentu yang akan di sambung dengan mereka berjalan kaki.


Setelah di setujui mereka segera berangkat dan tak lama mereka berhenti dan memarkir kendaraan di sebuah kost kamar bordil dengan wanita seumuran Didik di dalamnya. wanita itu menatap dengan ekspresi kaget.


"Masnya mau hohohihe semua??? Mas aku badannya kecil mas kalo suruh ngalayani bertiga sekaligus bisa mati aku mas. Kalo mau keroyokan saya nggak sanggup. cari yang lain saja" Ucap wanita muda itu seperti tanpa malu.


Kali ini Adi yang maju menjelaskan maksud mereka bertiga yang mungkin di salah pahami oleh wanita ini. Akhirnya dengan sedikit negosiasi dari Adi, wanita itu mau membantu menampung motor mereka sementara waktu.


Mereka pun bergegas berangkat menuju 400 meter terakhir menuju sarang neraka itu. Waktu menunjukan pukul sebelas malam. Waktu yang sangat cukup untuk mereka bertiga. mereka segera bergegas menuju gedung tujuan nya.


mereka berjalan menyusuri beberapa rumah bordil yang berjejer. Banyak penghuni kamar duduk di luar dengan pakaian kurang bahan mereka. sepertinya sengaja menawarkan tubuh mereka sebagai penghangat malam ini kepada pria-pria bejat yang sengaja datang ke tempat penuh maksiat ini.


Tak butuh waktu lama untuk mereka sampai di tujuan. Walaupun dengan nafas yang cukup ngos-ngosan. mereka sudah berada dekat dengan gedung yang seperti sebuah gudang kosong namun dengan masih ada cahaya remang-remang.


Hari menuju akhir! Antara kami atau kalian yang akan berakhir. Malam ini juga!!


.


.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung....


__ADS_2