Misteri Rumah Nenek

Misteri Rumah Nenek
Menuju Pesta


__ADS_3

"ma..maaf mas Adi" ucapku sedikit menyesal dengan reaksiku tadi.


kriiiiietttt


"Oh! Lihatlah sepertinya aku kedatangan tamu malam ini! Hahaha" Terdengar suara yang tak kalah tinggi denganku menggema kembali memenuhi bangunan tua ini.


"Mas Didik?" Ucapku setelah menoleh ke arah sumber suara. Terlihat mas Didik sudah berdiri beberapa meter dariku dan mas Adi. Ketika aku ingin hendak menghampirinya,


"Berhenti! Jangan bergerak!," gertak mas Adi dengan suara tercekat.


"Kita belum tau dia berada di pihak mana! Kau tau Mahesa, aku hampir di buat mati karena dia!" Imbuhnya seakan menegaskan setiap kata-katanya.


"Apa seperti itu caramu berterimakasih pada orang yang juga menolongmu dari kematian?" Sanggah mas Didik dengan raut wajah cengengesan.


"Diam di tempatmu mas!! Aku bisa menembakmu kapan saja!" Gertakku menodongkan moncong senjata api ke arah mas Didik yang mulai melangkah mendekat.


"Kau yang sudah datang kesini sendiri, biarkan aku menyambutmu dengan hangat Sahabatku." Ucap mas Didik berbisik. Membuatku semakin meningkatkan kewaspadaan.


"Tenanglah bro, aku janji aku berada di pihakmu. Akan kuceritakan semua padamu. Tapi tolong turunkan senjatamu, kau membuatku sedikit terintimidasi" pinta mas Didik.


"Baiklah, tapi tolong jaga jarakmu! Sekali saja kau mendekat dan membahayakan kami, aku tak segan melenyapkan penghianat sepertimu" gertakku dengan suara sedikit bergetar saking dinginnya malam ini.


Mas Didik pun duduk di tempatnya berdiri, hanya berjarak dua meter dariku. Jarak yang ku pikir cukup aman bagi diriku. Entah mengapa hari ini aku benar-benar melihat sisi gelap dari sahabatku itu.


"Bisa kau jelaskan dari awal?" Pintaku tegas padanya. Tak ada toleransi lagi melihatnya kali ini. Sekali saja bergerak mencurigakan, tak segan-segan bagiku untuk memusnahkannya.


"Apa tidak terlalu lama jika aku menceritakan semua dari awal? Hahaha" ucap mas Didik tertawa.


"Iya, oke-oke. Aku akan menceritakan intinya saja." Tukas mas Didik kembali. melihatku yang tak bergeming.


"Semua berawal ketika ibuku memutuskan mengikuti jejak kakak perempuannya dulu. Serta menerima dengan senang hati perjanjian yang secara otomatis menurun kepada kerabat terdekatnya. Sejak saat itulah aku yang masih kecil, melihat ibuku sering masuk kamar yang tiada siapapun boleh masuk kedalamnya termasuk bapakku sendiri. Hingga akhir hayat bapakku tak pernah tau hal busuk apa yang di sembunyikan rapi oleh istrinya sendiri."


"Hingga setiap hari, selama bertahun-tahun aku tumbuh dan berkembang dalam lingkungan yang penuh dengan darah dan kekerasan. Ibuku hidup berpindah-pindah walau tetap berkerja di rumah juragan yang tiada lain kakekmu sendiri. Hingga meninggalkan rumah sederhana yang sudah lama keluarga kami tinggali. Sampai saat itu, aku hanya menurut tanpa aku tahu tujuannya yang sebenarnya. Namun, lama kelamaan sifat rakus dan bengis mulai menguasai hati ibuku, Membuatku jengah dan memutuskan pergi membuat diriku menjadi yatim piatu dan berjanji pada diriku sendiri untuk menghentikan semua kegilaan yang di perbuat ibuku."

__ADS_1


"Walaupun aku kurang mengerti agama, namun aku sadar jika semua yang di lakukan ibuku merupakan dosa besar yang tak bisa di ampuni. Dia telah menjadi budak dari iblis jahanam yang menguasai lama hidup keluargaku."


"Sebuah harapan datang ketika kau, Putra Mahesa! cucu dari Prabu Angkawijaya yang terkenal sangat kuat dan sakti, datang dengan gagah berani menantang kebiadaban aliran yang di ciptakan ibuku. Ada ironi pun juga ada rasa senang dalam hatiku kala itu. Aku pun sudah muak bro dengan semua tindak tanduk bejat ibuku." Tukas mas Didik merubah posisi duduknya menjadi bersila.


"Jadi, bisakah kita berkerja sama kembali?" Imbuhnya lugas. mengulurkan tangannya.


"Bagaimana ini mas Adi?" Tanyaku berbisik pada mas Adi meminta pertimbangan.


"Kita masuk dulu dalam permainannya. Jika dia macam-macam, semoga kamu nggak keberatan kalau harus menghabisinya dengan tanganmu sendiri!" Balas mas Adi juga lirih berbisik.


"Dengan senang hati mas Adi, dengan senang hati!" dengan tersenyum sinis.


********


Dengan berat hati kali ini aku masuk kedalam permainan mas Didik yang aku sendiri tak pernah tau seberapa berbahaya dan dalamnya itu. Bergegas mas Didik mendekati mas Adi yang sudah semakin melemah. Ternyata pria yang menerobosnya lebatnya ilalang tadi ialah mas Didik. Dia dengan rela mau bersusah payah mencari tanaman obat yang bisa di gunakan di tengah hutan yang gelap. Membuatku sedikit berpikir keras kali ini. hingga saatnya kami beranjak.


Bertiga dengan mas Didik yang seperti sudah berbeda sifat dari yang ku kenal pertama kali. Menyusuri kembali jalan tanah yang nampak becek karena baru saja gerimis kembali jatuh menerpa bumi. Menyibak lebat dan gelapnya suasana hutan yang rapat akan pepohonan. Sesekali kami berhenti karena kondisi mas Adi yang masih belum sehat sempurna memaksa kami untuk sedikit mengulur waktu.


Jam tanganku sudah menunjukkan pukul empat pagi kurang lima menit. Gerimis yang mulanya kecil menetes kini sudah berubah menjadi hujan yang cukup deras. Membuat kami harus berjalan sembari meneduh di bawah rindangnya pohon-pohon raksasa yang ada disini. Hingga..


Sebuah bangunan tua bertingkat dua yang sepertinya sudah dari jaman kolonial berdiri kokoh disisi lain hutan ini. Dengan puluhan jendela tua berderet rapi tertutup menahan sejuknya hawa disini. Nampak luar bangunan itu sudah di penuhi lumut dan sudah rusak di beberapa tempat. Mirip kastil horor di beberapa film vampir luar negeri.


"Apa itu?" Tanyaku yang masih memaku memandang heran sekaligus kagum dengan tempat itu.


"Kau bilang ingin membantuku menghadapi mereka, iya itu markas utamanya. Kalo tempat eksekusinya ada sendiri di lain tempat. Mereka benar-benar lebih terorganisir dan berhati-hati dalam melangkah." Tukas mas Didik.


"Apa ibumu ada disana? Hahaha" Tanyaku menyindir.


"Entah! Sepertinya ibuku telah lama mati. Dan yang disana hanyalah wadah dari iblis itu yang menyerupai ibuku!" Tegas mas Didik.


"Bagaimana kau bisa berbicara seperti itu! Uhukk..uhukk.." gertak mas Adi ikut nimbrung pembicaraan panas kami berdua.


"Kau tahu mas Adi? Biar kujelaskan, Aku tak pernah memanggil ibuku dengan sebutan simbok karena menurutnya itu menggelikan ketika aku yang mengucapkan. Dan kau tahu kemarin? Dia memanggilkan dirinya itu simbok! Padahal aku tak pernah memanggilnya seperti itu. Dia itu bukan ibuku, dia iblis yang sudah menjadikan ibuku sebagai wadah untuknya" ucap mas Didik penuh keyakinan.

__ADS_1


"kedua, asal kau tau ibuku itu tidak kidal sama sekali. namun mengapa dia kemarin makan dengan tangan kirinya, lalu saat menulis tangan kiri, bahkan beraktivitas banyak menggunakan tangan kiri sehari-hari. bahkan saking parah aktingnya, dia sering lupa dengan diriku yang harusnya menjadi anak satu-satunya. hahaha. bukankah itu aneh?" Imbuhnya.


"Tapi...." Bantah mas Adi.


"Sssstttt, percayalah. Aku lebih tau apa yang tidak kamu ketahui!" Ketus mas Didik mengakhiri kata-katanya dengan penuh penekanan.


"Ehemmm, apa kita akan masuk sekarang atau kalian hanya ingin terus menghakimiku! Jika memang iya sebaiknya kita kembali saja daripada kita tertangkap dan mati sia-sia!" Ketus mas Didik yang sudah mulai jengkel.


"Baiklah, ayo kita masuk! Mas Adi, jaga disini dan larilah jika dalam satu jam kami belum keluar. Katakan pada semua teman-teman aparatmu untuk menemukan tempat ini" Ucapku tersenyum penuh keyakinan.


"Ayo kita mulai pesta ini!" Ucapku.


.


.


.


.


.


.


.


. Bersambung..


.


.


.

__ADS_1


Nb : akhirnya novel Misteri Rumah Nenek udah hampir mencapai babak final nih, tinggal beberapa episode lagi. Setelah habis Novel ini enaknya gimana ya reader? Mau nerusin novel yang Mas Adi dan kawan-kawan, buat sequel Kedua atau Buat short Novel aja? Gimana nih menurut reader semua? Mau eksekusi yang mana dulu 😁😁😁


__ADS_2