
"gimana Bu bidan apa kondisinya nggak apa-apa,". Tanya ayu tampak khawatir.
"Tenang mbak dia hanya pingsan, mungkin kelelahan atau kurang cairan. Ini saya kasih vitamin sama suplemen di minum rutin sampai habis ya mbak. Saya permisi pamit dulu, assalamualaikum,". Ucap bidan muda desa ini berpamitan.
"Ehemmm, biar saya aja Bu bidan yang nganter, ini sudah mau gelap. Daripada lama nunggu ojek onlinenya.". Pinta mas Didik penuh dengan penuh harap.
"Nggak usah mas, itu temen saya udah Dateng jemput,". Tolak bidan muda itu dengan halus.
"Oh iya Bu, makasih ya, hati-hati.". Ucap mas Didik sedikit kecewa dalam hatinya.
Kemudian dia masuk dengan wajah di tekuk menghampiri kami berdua dengan aku di atas kasur dalam kamar. Di sini juga ada ayu dan bi Tutik yang masih ada di dapur.
"Ayu, aku laper,". Ucapku memelas.
"Mau ayu siapin mas?,". Tawar ayu padaku yang langsung ku sambut dengan anggukan.
"Heleh modus yu modus,". Terlihat mas Didik di ambang pintu mencibir kami berdua.
"Hehehe sini yu aku makan sendiri aja. Tuh kambing etawa mulutnya nyinyir terus.". Ucapku. Ayu hanya terkekeh melihat tingkahku dan mas Didik yang tak pernah akur namun selalu ada dan melindungi satu sama lain.
Aku begitu lahap makan kali ini, apalagi ini di masak khusus oleh ayu. Tambah berkali-kali lipat nikmatnya. Ayu sedang menyetrika sebagian bajuku yang kucel, semua di tata rapi di lemari yang di pinjamkan mas Didik, sambil sesekali memperhatikanku bertanya apa aku membutuhkan sesuatu atau tidak. Sungguh potret istri idaman, gumamku dalam hati.
"Mas Putra Mahesa, di makan itu makanannya di piring bukan di wajah ayu. Kenapa daritadi ngeliatin sih ayu kan jadi salting,". Protes ayu karena tanpa sadar aku memandangi terus menerus.
"Eh, maaf maaf, nggak sengaja,". Ucapku malu.
"Nggak sengaja kok lama ngliatinya, huuu Yaudah sekarang ayu duduknya di sebelah mas aja, biar kamu puas ngeliatin ayu, gimana?,". Ucap ayu.
Deg deg deg
"Nih anak polos apa gimana sih, gatau apa gue cinta mati sama dia. Eh malah tambah Deket, benar-benar tingkahnya nggak bisa kutebak. Dan selalu bikin aku mati kutu,". Batinku dalam hati.
__ADS_1
"Ehemm, perhatian-perhatian. Suami istri yang belum menikah dilarang berbuat mesum lho ya, hahaha,". Ucap mas Didik yang hanya kepalanya saja yang terlihat masuk melihat kami di dalam. dengan ekspresi yang menyebalkan pastinya.
"Pengen ku jitak tuh kepala,". Gerutuku.
"Hahaha,udah-udah sayang nggak boleh emosian,". Balas ayu spontan.
"Sayang???,". Ucapku yang langsung melihatnya meminta penjelasan.
"Duhh, ayu bisa-bisanya keceplosan. Dasar mulut gak bisa di rem,duh malunya ayu,". Gerutu ayu lirih hampir tak terdengar. Tapi tidak untukku yang mempunyai pendengaran Tajam.
"Keceplosan???,". Tanyaku lagi meminta penjelasan. Ayu hanya menunduk menyembunyikan wajahnya yang sudah merah menahan malu.
"A-ayu keluar dulu kebelet pipis,". Ucap ayu sembari pergi meninggalkanku sendiri.
Hahaha. Sayang?? Panggilan yang imut. Apalagi dengan suara ayu yang manis. Membuatku sedikit memiliki harapan baik malam ini. apa benar dia keceplosan atau ???
"Bro, udah selesai percakapan suami istrinya?". Tanya mas Didik masuk dan menggodaku.
"Oh iya itu ada tamu nyariin elu bos,". Imbuh mas Didik sembari membantuku berdiri.
"Siapa emangnya mas??,". Tanyaku penasaran.
"Ntar juga tau sendiri,". Jawab mas Didik singkat.
Aku berjalan tertatih dengan di papah mas Didik menuju ruang tamu. terlihat ada ayu dan bi Tutik sedang duduk berhadapan dengan seorang pria dan wanita yang lebih muda, pria paruh baya yang sangat aku kenal selama ini setidaknya selama 24 tahun ini.
"Ayah!!,". Ucapku terkejut pada siapa yang datang kali ini.
Aku berlari menghambur ke dalam pelukannya. Rasa kangen melebur jadi satu di antara kami berdua. Ingin sekali aku menceritakan apapun yang aku alami selama ini. Walaupun ini juga merupakan andil darinya tapi aku masih merasa bersyukur ayah masih peduli padaku.
"Ayah, ayah masih punya hutang penjelasan sama Mahesa,". Gumamku sembari mengusap air di sudut mata yang mulai merembes.
__ADS_1
"Dan kenapa Tante Ningsih ada disini?,". Tanyaku menunjuk wanita yang ada di samping ayah.
"Semua akan ayah jawab, tapi satu persatu ya kak,". Jawab ayah.
"Bi, minta tolong tutup pintunya ya,". Lanjut ayah.
"Baik mas Budi,". Jawab bi tutik.
"Maafkan ayah nak, yang sudah mengirimmu ke dalam masalah yang tidak bisa ayah hadapi dulu, ayah akui ayah memang egois, maafkan ayahmu ini, semua ini ayah lakukan karena setelah menikah ayah sudah tak mampu lagi untuk hanya sekedar mencari informasi di desa ini, lebih lagi setelah adikmu lahir ayah benar-benar tak bisa bergerak karena sudah mempunyai tanggung jawab keluarga. Namun, bayangan minta tolong orang-orang terdekat ayah yang menjadi keganasan kutukan desa terus menghantui ayah, hingga Ningsih mempunyai ide untuk membawamu masuk kedalam lingkaran berbahaya ini,". Ucap ayah terlihat sendu.
"Sebetulnya ayah tak rela apalagi sampai kamu terluka karena hal yang tak bisa di ungkap ayahmu ini. Maka dari itu ayah menugaskan Ningsih untuk menempel menjagamu, karena ayah khawatir ada yang berusaha mencelakai cucu kandung Mbah Tari dan ternyata kamu lebih cerdik dari yang ayah bayangkan,". Lanjut ayah.
"Sebenarnya alasan ayah seperti itu, sebab Ningsih yang mendampingimu itu karena dia merupakan mata kedua ayah disini dan juga orang kepercayaanku. namun, sepertinya kau mempunyai cara tersendiri, ayah Bangga padamu,". Imbuh ayah, kami semua yang ada dalam ruangan itu mendengarkan dengan cermat.
"Iya sebenarnya aku yang tadinya mau di jodohkan sama Mahesa cuma karena dia malah takut dan minggat dari pengawasan. Jadi nggak bisa Ningsih Pepet lagi, hehe,". Imbuh Tante dengan mengedipkan satu matanya padaku.
"Dan, yang kamu hadapi disini bukan manusia biasa. Dia manusia dengan hati iblis jahanam. Kabarnya dia bos yang tak pernah ada yang tau siapa dan Bagaimana wajahnya. Bahkan tak ada yang pernah nampak sekelebat bayangannya pun tak pernah terlihat. Namun walaupun begitu, konon dia adalah seorang dengan ilmu hitam yang tinggi dan suka mencari tumbal. Dia menjadikan hantu Nyai Dasimah dan beberapa iblis yang penuh dendam sebagai senjata gaibnya untuk memusnahkan apapun yang menghadangnya. Dia juga merupakan musuh Mbah Tari, tapi karena Mbah Tari sudah sepuh dia nggak bisa lagi menandingi kekuatannya. Saat terakhir kali nenekmu bertarung secara gaib dengan kuntilanak Nyai Imah, Mbah Tari kalah telak hingga menyebabkan luka parah dan harus meninggal dunia. Ayah duga Orang itu juga lah yang sudah merampas banyak tanah dan rumah di desa ini. Semuanya di lakukan dengan sangat rapi dan terstruktur.". Lanjut ayah menceritakan semuanya.
"Dan sepertinya kamu juga sudah tau kebenaran tentaang siapa orang-orang di rumah itu, ketiga orang itu adalah mantan anggota kesenian milik Mbah Tari, yang secara kebetulan karena kesepian Mbah Tari mengangkat mereka sebagai anak angkat. Tapi, karena keserakahan di hati mereka, mereka membantu untuk menghancurkan Mbah Tari dari dalam. Itupun ayah bisa ketahui baru-baru ini melalui Ningsih. Mereka berkerjasama dengan musuh Mbah membuat perjanjian dengannya untuk memanipulasi semua kekayaan Mbah untuk mereka pribadi. Ayah masih belum tahu apakah hanya 3 orang tidak tahu diuntung itu saja yang terlibat atau ada orang lain lagi. Dan lusa kemarin mas Heri yang sudah merasa bersalah pada Mbah Tari yang sudah merawatnya dengan tulus, pun ingin pergi ke kantor polisi dan mengakui atas keterlibatannya dalam pencucian dan manipulasi surat kepemilikan atas seluruh harta dan aset dari Mbah Tari.". Ucap ayah dengan menghela nafasnya yang terasa berat.
"Namun, naas mobil yang di tumpanginya bersama istri harus oleng karena pecah ban dan menabrak pembatas jalan dengan kecepatan tinggi, mobil itu terus meluncur ke dalam jurang sedalam 30 meter dan berguling kebawah kemudian meledak dan membakar habis kedua manusia yang ingin mengakui kesalahannya tersebut. Bahkan berkas yang menjadi bukti kejahatan ketiganya di dalam mobil itu pun musnah. Membuat seluruh perjuangan ayah dan Ningsih selama 20 tahun kebelakang ini terasa sia-sia. Namun, ayah masih berharap padamu nak, berjuanglah nak, selamatkan desa ini dari kehancuran.". Jelas ayah lagi membuatku sedikit ragu. Apakah aku bisa menyelamatkan desa ini, desa yang sudah hampir menjadi desa mati!
"Percayalah, becik ketitik ala ketara artinya 'kebaikan kelihatan, kejelekan ketahuan'. Maknanya, setiap perbuatan yang baik pasti akan diketahui. Pun sebaliknya, perilaku busuk cepat atau lambat juga pasti terungkap.", Imbuh ayah yang melihat keraguan di wajahku.
"Dan ayah kemari bukan hanya untuk membahas kasus yang sedang kita hadapi bersama,". Terang ayah sembari menyeruput teh yang sedari tadi di hidangkan bi Tutik.
"Bisa kau jelaskan hubunganmu dengan ayu sekarang?", Tanya ayah langsung tanpa basa basi.
Aku dan ayu yang duduk bersebelahan hanya saling memandang, lidah kami sama-sama kelu tak dapat menjawab pertanyaan sesederhana itu dari ayah. Terlihat wajahnya mulai memerah lagi. Kini kami mulai berpandangan lama, berdiskusi tanpa harus mengeluarkan kata-kata. Huhhhhh Haruskah ayah menanyakan itu dan haruskah kami juga menjawabnya sebagai hubungan tanpa kepastian? Mungkin 'putra diam saja jangan di jawab pertanyaan ayahmu' itu yang di inginkan ayu saat ini.
Bersambung...
__ADS_1