
"Jangan di lihatin terus bro. Dia bukan manusia!" Titah mas Didik dengan menepuk pundakku kasar.
"Apa maksudmu mas?" Balasku yang sudah menduganya daritadi.
"Itulah sumber masalah disini. Jadi ikuti saja rencana pak Budi. Dia pasti sudah memikirkannya matang-matang." Jawab mas Budi semakin berputar putar.
"hissshhh. sepertinya yang bukan manusia itu kamu mas Didik" gerutuku.
"Nak, ayo masuk dulu. Ada yang ayah dan kamu perlu bahas." Titah ayah berdiri di ambang pintu memanggilku pelan.
"Iya yah." Ujarku.
Kami semua kini sudah berada di dalam ruang tamu dari Bu Lastri. Duduk tenang di sebuah sofa melingkar dengan wajah pias dari beberapa orang kecuali aku dan Wulan yang masih belum paham situasi canggung ini. Kami semua hanya berdiam dan saling menatap satu sama lain dengan wajah yang sulit di tebak. Ayah hanya mengatakan kurang dua orang saja. Dan aku masih belum tahu siapa yang sedang di tunggu kami berlima.
Dokk...dokkk...
"Assalamualaikum" suara seorang wanita paruh baya dari balik pintu mengejutkan kami semua. Suara yang lama kurindukan untukku.
"Silahkan masuk Bu." Ujar Bu Lastri bangkit dan membukakan pintu.
Seorang wanita dengan baju gamis terusan merah maroon dan jilbab hitam yang menghiasi kepalanya. Dan yang satunya lagi hanya memakai dress biru navy panjang menyentuh lantai, dengan rambut bergelombang yang di biarkan jatuh tergerai begitu saja. Mereka berjalan dengan penuh senyum kepada semua orang dalam ruangan. Matanya menyapu ke seluruh ruangan. Pandangannya terhenti karena melihatku yang sedang duduk terperanjat melihat kedua wanita itu datang dengan begitu dramatis.
"Ibu... Tante Ningsih...kalian se-sedang apa di-disini?" Ucapku terbata-bata. Kemudian bangkit karena hampir tak percaya pada kedua orang yang datang malam ini.
"Nah..sudah lengkap. Ayo kita lanjutkan" ucap ayah yang bergeser sedikit. memberikan posisi duduk pada ibu dan tante Ningsih yang mengambil duduk di sebelah Wulan.
Aku sendiri kemudian pindah duduk di sebelah ayah yang mengkodeku untuk pindah di dekatnya. Sementara tante Ningsih duduk di sebelah Wulan dan ibunya. Sedangkan mas Didik duduk di kursi sofa single sendirian.
"Nak, apa kamu tau kenapa ayah mengundang ibumu dan tantemu kesini?" Tanya ayah padaku yang masih melihat ekspresi satu persatu orang yang ada disana.
"Nggak tau yah. Emang ada apa?" Tanyaku yang sudah tidak sabar.
"Kalian besok akan menikah. Sementara siri dulu. Jika urusan kamu disini sudah selesai baru kita resmikan." Ucap bu Lastri menjawab pertanyaanku.
Mataku terbelalak membulat tatkala kata menikah meluncur begitu enak saja dari mulut Bu Lastri. Mulutku mengangga dengan pikiran yang tak karuan bentuknya. Apa beliau tidak salah ucap?! Terlihat Wulan pun sama terkejutnya denganku. Menikah? Apakah aku sudah cukup siap dengan komitmen seumur hidup seperti itu? Bagaimana ini?
__ADS_1
"Benar nak, apa yang di katakan Bu Lastri. Jangan melongo seperti sapi ompong seperti itu. Haha" ucap ayah menggodaku.
"Awwwwww sakit" erang ayah setelah sebuah cubitan kecil dari ibu mendarat tepat di perut gembul ayah.
"Ssssttt ayah, jangan godain putra terus ih. Kasian nanti jadinya." Ketus ibu yang membelaku.
"Ta-tapi kenapa cepet banget sih yah? Kenapa harus mendadak juga?" Protesku.
"Ah kelamaan lu bro. Biar gue aja yang gantiin.." sela mas Didik membuat Wulan menunduk tak berani menatap kami semua.
"Eh..eh..ehh enak aja lu. Mau ngajak berantem!" Ketusku.
"hahaha. makanya jangan sok gengsi sih lu bro." tukas mas Didik.
"Hahahaha" gelak tawa mas Didik dan ayah makin menjadi mendengar ucapanku barusan.
"Duh! Keceplosan!" Batinku dalam hati.
Terlihat Wulan benar-benar seperti patung hidup saat ini. Dia tak berani melihat atau mengikuti pembicaraan kami semua. Sama sepertiku yang hanya menyimak rencana mereka semua tanpa bisa menolak atau mengundurkan waktu lagi.
"Jadi nak Wulan, gimana mau nikah dengan anak dari pak Budi yang selenggekan ini?" Tanya ayah yang kembali mendapat cubitan manja dari ibu.
Seperti mendengar hasil pengumuman skripsiku dulu waktu kuliah. Hatiku bagai meletup-letup ketika harus mendengarkan jawaban dari wanita berjilbab yang sedang tertunduk malu itu. Dia sedikit mendongak untuk sekedar mendengarkan pertanyaan yang harusnya jadi pertanyaan skakmat untuk kami berdua. Sejurus kemudian sebuah anggukan kecil disertai senyuman terhias di semburat pipinya yang kemerahan.
Karena kedua calon sudah saling menyetujui, dengan segera mas Didik mengambil beberapa bingkisan dari bagasi mobil tante Ningsih. Ternyata ini yang mereka rencakan. Mas Didik kemudian meninggalkan beberapa bingkisan dan parcel itu di dalam rumah Bu Lastri, sebagai tanda mata dari kami dari keluarga Putra Mahesa dan sebagai simbolis kalau diriku mendapatkan restu dari orang tuanya. Mas Didik benar-benar membantu dengan baik hari ini. Melupakan sejenak sifat gelap dari dalam dirinya kemarin.
"Alhamdulillah..jadi besok kalian akan ijab Qabul di rumah Bu Lastri. Jadi malam ini istirahat lah yang cukup dan jangan begadang. Ayah mau cari penginapan deket-deket sini kayaknya kemarin ada satu ayah lihat." Ucap ayah saat kami sudah ada dalam mobil ayah dalam perjalanan pulang. Sedangkan Tante Ningsih dan ibu berada di mobil yang lain.
"Ada yang mau kamu tanyakan lagi nak?" Tanya ayah kembali karena melihatku hanya melihat keluar jendela.
"Mungkin dia deg-degan pakde Budi. Kan biasa calon pengantin baru. Hahaha" ejek mas Didik yang terus saja menggodaku.
Entah mengapa malam ini terasa sangat menegangkan bagiku. Ada perasaan bahagia tersendiri dalam lubuk hatiku yang terdalam. Lucu juga mengingat pipi merah yang tersipu saat mata kami berdua bertemu. Ahhh perasaan apa ini. Gumamku dalam hati
"Nah kan, apa aku bilang. Tuh senyum-senyum sendiri kaya orang gila! Efek calon pengantin baru tuh. Bayangin malam pertama pasti. Hahaha" ejek mas Didik lagi.
__ADS_1
"Tuh mulut minta di setrum aki ya?! Kayaknya udah nggak ada kutub positifnya tuh mulut. Harus di setrum dulu baru bisa bener!" Gerutuku.
"Hahahaha" kali ini gelak tawanya semakin pecah bersama dengan ayah yang ikut-ikutan menggodaku.
Beberapa saat kemudian kami akhirnya sampai di kost ku. Aku dan mas Didik memutuskan untuk tidur satu kamar lagi karena sudah lama juga dia pergi tanpa kabar. Dan juga untuk menemaniku disini. Karena kurasa aku butuh penjelasan lebih. Bukan tentang pernikahanku besok, namun tentang apa yang melatarbelakangi pernikahan yang terkesan secepat ini di laksanakan.
Malam semakin larut, Mobil ayah pun sudah lama melaju pergi untuk menyusul ibuku. Meninggalkanku berdua dengan mas Didik yang sedang asik lesehan dengan kopi dan rokok di tangannya. Sengaja untuk melepas penat yang seharian ini dia rasakan. Aku pun ikut duduk dan berniat meminta penjelasan lebih padanya.
"Hei, pasti kau tahu kan kenapa ayahku secepat ini memintaku menikah? Bahkan semua ini terkesan terburu-buru." Tanyaku pada mas Didik.
"Sepertinya aku harus menjelaskan dulu padamu. Buka telingamu lebar-lebar." Ucap mas Didik. Kali ini tatapan matanya tak main-main.
"Katakan padaku." Balasku yang kemudian duduk bersila di sebelahnya. wajahku kupasang se garang mungkin.
"Kau tahu nenek-nenek seram yang selalu mengunyah sirih hingga seluruh mulutnya berwarna merah. yang kau lihat tadi malam?" Tanya mas Didik sembari menyeruput pelan kopi hitamnya.
"hmmm, Apa kau tahu siapa dia ?"
.
.
.
.
.
.
. Bersambung....
NB : Dear reader's setia Misteri Rumah Nenek semua. Author cuma mau bilang makasih yang udah setia dengan novel picisan author. Tanpa like dan komen kalian author bukanlah apa-apa. Hehehe.
Oh iya.. Reader's Untuk beberapa bab ke depan mungkin akan ada banyak episode hiburan atau episode selipan ya. Tujuannya sih biar Novel ini nggak kerasa monoton aja. Kalau ada saran atau kritik boleh lewat komen atau bisa juga yang mau usul ide boleh juga lewat DM Instagram author ya ..
__ADS_1
Terima kasih semuanya...
I will always love you