Misteri Rumah Nenek

Misteri Rumah Nenek
Orang Asing


__ADS_3

Kokok ayam saling bersahut-sahutan pertanda pagi akan segera tiba, dan sang Surya yang akan menggantikan tugas dari rembulan saat ini. Kicau burung mulai terdengar riuh menyambut sinar hangat yang menerpa. Begitu cerianya mereka hari ini.


Sementara itu di balik batu besar di bibir sungai, terkulai lemas seorang anak muda menanti pertolongan. Nampak luka cukup lebar mengangga di kedua kakinya. Bibirnya nampak pucat dan tubuhnya menggigil menahan hawa dingin semalaman. Matanya yang sudah separuh terkatup masih di paksakan untuk terjaga. Tangannya erat menggenggam senjata sebagai bagian dari pertahanan terakhirnya. Meskipun saat ini dia tak yakin bisa bangkit, berdiri pun dia rasa tak sanggup. Tubuhnya lemas karena mengeluarkan banyak darah di kakinya yang hanya di lilit menggunakan kaos tipisnya.


Aku sudah pasrah dengan nasib yang menimpaku saat ini. kurasa saat ini nyawaku sudah berada di ujung lidah. tiba-tiba, Sayup terdengar dua orang pria dewasa sedang berjalan menuju sungai. Perasaan Putra Mahesa saat ini sedang berdegup kencang. Walau hari sudah mulai terang, namun ia masih belum siap jika menghadapi dua orang dewasa sekaligus walaupun saat ini dia memegang senjata namun, rasanya hampir mustahil bisa bertahan. Mereka semakin mendekati dirinya, sikap siaga mulai Putra terapkan.


"Gusti pangeran, ada orang terluka itu mar, disana.". Teriak lelaki yang lebih muda menunjukku.


"Waduh, Masih hidup nggak itu di ?,". Ucap bapak-bapak yang lebih tua berlari ke arahku.


Sekilas ku dengar percakapan mereka, sepertinya mereka orang baik-baik dari raut mukanya. Saat ini tak ada yang bisa ku harapkan. Lagipun aku sudah pasrah dengan kondisiku saat ini. Berpikir positif, Segera ku simpan kembali sepucuk pistol ke belakang pinggangku. Semoga mereka tidak berniat untuk mencelakai diriku. Semoga.


"Pak tolong,". Pintaku dengan suara yang hampir tak keluar.


"Iya Le, kamu kok bisa kaya gini kamu bukan maling yang di gebuki terus di buang to Le?,". Tanya pria paruh baya itu penuh selidik, yang hanya bisa ku jawab gelengan kepala saja.


"Mar cepetan di tolong dulu, itu keburu bablas (lewat/mati),". Sahut pria di sebelahnya.


"Hush lambemu! (Mulutmu),". Balas pria di depanku ketus.


"Di, pinjem sarungmu kita buat tandu darurat.". Pinta pria di depanku lagi.


"Emang bisa Mar?". Tanya temannya.

__ADS_1


"Bismillahirrahmanirrahim bisa, moga nggak jebol ya di,". Balas pria yang lebih tua.


Akhirnya Dengan susah payah mereka menanduk keluar dari kebun, terlihat jalan raya yang menurutku agak asing bagiku. Kemudian kami masuk melewati jalan yang kiri kanannya perkebunan teh yang asri. Hingga akhirnya sampai di sebuah perkampungan. Aku terus di tandu oleh mereka berdua. Sesekali ada orang berpapasan yang bertanya, entah apa yang di tanyakan aku tak begitu paham. Akhirnya kami berhenti juga di rumah besar yang di sebelahnya ada sebuah bangunan yang lebih kecil bertuliskan Polindes Desa Blimbing.


Desa blimbing? Dimana itu? Apakah aku terlalu jauh keluar dari desa Tirto Boyo. Lalu Bagaimana nasib dengan ayah dan Didik, semoga Tuhan memberi keselamatan untuk mereka berdua. Tanpa pikir panjang aku langsung di baringkan di ranjang matras, Kali ini kakiku sudah di bersihkan, di jahit dan di perban, hanya kaki kiriku yang di perban karena lumayan parah dengan jahitan yang cukup dalam, sementara kakiku yang satunya hanya lecet-lecet ringan saja. Dan kali ini aku terpaksa harus berjalan menggunakan tongkat bantu.


"Nanti kamu sementara tinggal dulu sama bapak ya Le, ngomong-ngomong kamu darimana asalnya? Dan kok bisa sampai kakimu babak belur kaya gitu,". Ucap pria paruh baya itu.


"Hehe, saya dari Jakarta mas, kalo bagaimana saya bisa sampai begitu, besok saya ceritain lagi mas ceritanya panjang. Eh Mas kalo Desa ini sama desa Tirto Boyo, jauh nggak Mas?,". Tanyaku pada orang yang membawaku dengan tandu tadi.


"Kalo sama desa itu lumayan jauh Le, dan untuk kesana harus lewat jalan memutar lewat desa lain atau lewat hutan lindung di sepanjang sungai tadi disana. Tapi itu terlalu berbahaya. Katanya Disana banyak hewan liarnya,". Jelasnya.


"Jadi jauh ya mas jalan kesana?,". Tanyaku lagi masih penasaran.


"Ngomong-ngomong jangan panggil saya mas, saya kan sudah tua, anak saya udah perawan semua. Panggil saja pak Mardi gitu,". Ucapnya lagi dengan tersenyum ramah.


"Hehehe iya pak Mardi, terimakasih ya pak, kalo nama saya Putra Mahesa pak,". Balasku menyalaminya.


"Nak Mahesa ya, nama yang bagus,". Puji pak Mardi yang hanya ku balas dengan senyuman. Masih tak terpikirkan olehku bagaimana aku bisa terdampar sejauh ini.


Gila!! Masa sih gue jalan Sampek 25 kilometer lebih. Rasanya nggak mungkin, tapi memang apa adanya seperti itu Dan sudah terjadi. Hufttt pantesan gue mau mati orang lari puluhan kilometer, batinku cekikikan sendiri.


"Eh Nduk ini sudah boleh pulang masnya ini??,". Tanya pak Mardi terlihat akrab pada bidan muda yang merawatku tadi.

__ADS_1


Bidan muda dengan jilbab putih senada dengan bajunya. Make up yang tipis menghiasi wajah putihnya. Onde-Mande rancak banaaa!!! Manis sekali senyumanya. Tak kalah dengan manisnya dengan milik ayu. Tangan-tangannya cekatan meracik obat dan vitamin untukku. Bahkan sesekali tertangkap mencuri pandang ke arahku. Aku hanya tersenyum melihat tingkah kaku wanita di hadapanku.


"Sudah pak, kalo mau pulang pake motor Wulan aja, nanti Wulan biar bareng Rahma aja,". Ucap bidan muda yang ternyata bernama Wulan tersebut.


"Beneran nduk nggak mau di jemput bapak aja nanti??,". Tanya pak Mardi sekali lagi.


Bidan dengan wajah mirip Amanda Manopo namun versi berjilbab itu hanya menggeleng tipis, menolak tawaran bapaknya.


"Wihh sakti juga pak Mardi ya, bisa punya anak cantik kayak artis sinetron udah gitu bidan lagi. Wah ini harus ku kenalkan pada mas Didik nanti ini, eh jangan dulu deh. Biar si kambing etawa itu nyari sendiri aja. Hehehehe, semoga ayah dan mas Didik selamat dua-duanya, Amin,". Batinku dalam hati.


"Mas kenapa senyum-senyum gitu, mas nggak lagi hilang ingatan kan??,". Tanya bidan Wulan menggodaku.


"Ng-nggak mbak saya sehat kok. Saya hanya bersyukur di beri kesempatan kedua untuk hidup mbak,". Ujarku sekenanya.


"Ayo mas putra tak bantu jalan ke parkiran, kita istirahat dulu di rumah bapak,". Ajak pak Mardi.


"Iya pak Mardi, terimakasih ya pak sudah baik kepada saya,". Ucapku dengan tulus.


Di atas motor milik mbak Wulan, tak henti-hentinya aku berucap syukur pada-Nya. Terimakasih Tuhan atas pertolonganmu, Aku yang tadinya berpikir ajal sudah mendekatiku akhirnya bisa kembali bernafas dan mempunyai harapan hidup lagi. Engkau Hadirkan kedua Orang asing berhati mulia untuk menolongku. Saat ini Masih ada tugas yang belum ku selesaikan. Maafkan aku semuanya, sementara ini mungkin aku tidak bisa menemui kalian dulu. Aku akan memikirkan strategi terbaik sekaligus menyembuhkan lukaku lebih dulu.


"Akan ku buat kalian membayar semua ini...."


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2