
"Andre tunggu!!,". Pekik Wulan tak ingin pria di ujung matanya itu menghilang lagi.
Aku menahan tangannya agar tak bersikap bodoh di hadapan laki-laki yang kini sedang mengandeng mesra wanita yang ku sukai. Sakit memang rasanya hatiku, namun aku harus bersikap dingin aku tak mau di anggap lemah oleh pria dengan wajah menyebalkan itu.
"Kau mau apa? Jangan bodoh!,". Ucapku pada Wulan. Wanita yang ku genggam erat kali ini. Sekilas ia melihatku kemudian menundukkan kepala mendekatiku tanpa ijin dariku, dia melingkarkan kedua tangannya memelukku. Kali ini Dua hati yang sedang terluka karena cinta berusaha saling menguatkan dalam dekapan.
"Mas putra, kamu masih hidup? Huhh ayu bersyukur mas masih hidup. Mas Didik selalu bilang kangen sama kamu mas,". Ucap ayu.
"Oh ya? Benarkah? Aku bisa hidup karena ada dia yang menolongku. Dia Wulan,". Jawabku singkat mengenalkan Wulan pada ayu.
"Ayu turut bahagia ya mas,". Ucapnya seperti tanpa beban.
"Sayang, ayo!,". Titah Andre yang kali ini memanggil ayu dengan sebutan sayang. Kata-kata itu Bagaikan pisau menusuk ulu hatiku.
"Udah ya mas, aku bahagia banget kamu masih selamat. kamu harus mampir ke rumah ayu besok, sekalian ajak Wulan ya mas,". Ucapnya menghampiri Andre dengan lambaian tangan.
Ayu? Apa yang terjadi padamu. Bahkan bertemu aku pun kau hanya melempar senyum. Kau tak khawatir kah? Apa benar selama ini kau hanya bersandiwara di depanku? Dan kau Andre, aku tau, ada yang tak beres dengan dirimu. Entah mengapa aura gelap selalu mengikuti langkahmu. Tenang secepatnya pasti kebusukanmu akan terungkap Andre.
"Woy adikkuu!!!!!" Sebuah teriakan dari suara yang lama tak kudengar menyapaku dari jauh.
"Putra Mahesaaaaa"
"Mas Didik etawa"
Kami saling berpandangan saling melihat satu sama lain. Tak percaya akhirnya kami bertemu juga setelah lama tanpa ada kabar. Haru bisa berkumpul bertemu lagi dengan orang yang kukira sudah hilang entah kemana. Ternyata benar dugaanku. Tak mungkin kau tumbang dengan mudah mas.
"Kamu sehat to? Aku selalu yakin kamu bakal bertahan bro, kamu itu kuat!,". Ucap mas Didik masih tak percaya menepuk-nepuk pipiku. Beberapa warga yang melintas memandangi kami aneh.
"Iya mas, gimana mas Didik sehat? Ayahku apa dia selamat pasca kejadian malam itu?,". Tanyaku sambil berbisik dan menyingkirkan tangannya.
"Aman, ayahmu udah pulang. Nanti kabari ayahmu, kasian dia tiap hari nanyain kamu ke aku terus.". Ucap mas Didik menyeka air matanya yang hampir menetes karena terharu.
"Oke bos santai,". Jawabku semangat. Sembari melihat Wulan yang masih nampak bingung dengan kami berdua.
"Hmmm jadi ini alesan kamu nggak mau pulang ke rumahku? Ternyata disini kamu kawin lari sama cewek ini,". Ucap mas Didik dengan suara keras. Membuat orang yang lewat sekilas menengok ke arah kami yang daritadi membuat gaduh.
"Heh! kambing etawa, kalo bicara bisa pelan dikit kan? Malu-maluin,". Geramku.
"Hehehehe, sorry worry strawberry bro, i'm keceplosan hehehe,". Balasnya seperti tanpa salah.
"Mas ayok pulang,". Rengek Wulan lagi. Kali ini di pelupuk matanya menggenang air yang siap tumpah kapan saja.
"Tuh binimu minta pulang tuh,". Ketus mas Didik.
"Ssssttttt kebiasaan tuh mulut ya, eh mas aku minta nomormu ya. Nanti rencananya malam ini aku ngekos disini. Mau kerja disini dulu sementara. Sambil nyusun rencana. Aku sadar kita nggak bisa gegabah sekarang.,". Ucapku berbisik.
"Tapi nanti aku boleh main kesini ya?,". Pinta mas Didik.
__ADS_1
"No problem,". Balasku.
Akhirnya kami bertukar nomor satu sama lain. Saat hendak menuju motor yang masih di parkir. Tiba-tiba kami berpapasan dengan ayu dan Andre yang juga ingin pulang.
"Sayang, habis kita langsung pulang ya,". Ucap Andre sambil memeluk pinggang ramping ayu.
Aku tahu kau sengaja memanasi hatiku ya bang. Sial*n!. Dengan wajah penuh kemenangan dia melirikku tajam. Ingin rasanya aku memukul hidungnya yang mancung itu.
"Sayang, yaudah nanti kita jalan-jalan dulu ya, udah dong makanya jangan nangis lagi,". Balasku memeluk pinggang Wulan dengan tak kalah erat. Sesekali bahkan aku mengusap pipi bulatnya yang sudah mulai basah itu. Emang aku nggak bisa niruin kamu bang, hahahaha
Setelah ayu masuk ke dalam mobil. Andre menghampiri kami berdua. Dengan wajah memuakkan itu.
"Lihatlah siapa yang akhirnya akan menang? Hahaha. Jangan mimpi bisa menyaingi diriku, bodoh! ,". Tawa hardiknya penuh kemenangan.
"Aku sudah punya yang lebih baik,". Balasku sembari melirik Wulan yang masih menunduk.
"Oh iya? Kau bisa mengambil barang bekas itu, kalian memang cocok! Sama-sama pecundang,". Ucapnya tajam bak belati.
Tak peduli dengan ucapanya aku terus menyeret tangan Wulan dengan penuh amarah yang tertahan. Ada waktunya akan ku hajar mulutmu itu Andre!!!Kami akhirnya Sampai di parkiran motor Yang agak jauh. Kami sejenak berpandangan. Tak ada air mata disana, hanya terlihat wajah sayu Wulan yang merona di terpa sinar rembulan purnama malam ini. Sedikit menghilangkan amarah dalam dadaku.
"Udah, lepasin. Mereka udah nggak kelihatan. Atau kamu nyaman meluk aku?,". Tanyaku melihat Wulan tak juga melepaskan pelukannya.
"Apaan sih kan kamu yang mulai duluan!,". Marah Wulan.
"Hahaha, bidan aneh,". Godaku melihatnya merajuk, dengan wajah yang begitu lucu.
"Iya,". Jawabnya ketus.
"Kamu marah sama aku gara-gara meluk kamu, maaf aku tadi reflek, hehehehe.". Tanyaku.
"Aku marah karena kamu ngehalangin aku buat menampar laki-laki b*jingan itu sampai mukanya keluar darah,". Geram Wulan masih terasa.
"Jangan, kalo kamu melakukan penganiayaan, terus di penjara, aku nanti sama siapa dong,". Jawabku merengut menggodanya. Lagipula tadi ketika berhadapan saja kau malah menunduk terus, mana mungkin berani menamparnya.
"Hehehe apaan sih, gemess ih, paling bisa kalo buat Wulan ketawa deh,". Balasnya mencubit perutku.
Tiinnnnnnn
Suara klakson serak dari motor yang hampir habis akinya berbunyi mengagetkan kami. Siapa lagi kalau bukan si demit mas Didik etawa.
"Penganten baru ya? Pantes kalo mesum nggak lihat-lihat tempat, hehehe.". Ejek mas Didik yang kemudian turun dari motor bebeknya.
"Dasar wong gendeng, nggak ketemu bikin kangen sekalinya ketemu bikin darah tinggi,". Gerutuku.
"Ayo tunggu apa lagi, kita cuss ke kost kamu bro,". Ucap mas Didik.
"Kan aku bilang baru mau pindah malem ini mas,". Jawabku.
__ADS_1
"Yaudah sekalian aku bantuin, kenapa? Nggak mau? atau jangan-jangan kalian mau....". Ujar mas Didik. Ternyata membuat Wulan terpingkal-pingkal mendengar obrolan absurd kami.
"Hush sembarangan! Dasar mulut kayak speaker masjid!,". Umpatku. Wulan hanya tertawa saja melihat kami bertengkar.
"Ada banyak hal yang harus kita bicarakan malam ini juga bro!". Bisik mas Didik di telingaku.
"Ngomongin apa sih mas Mahesa??,". Tanya Wulan penasaran.
"Rahasia laki-laki!,". Jawabku tersenyum mengkode mas Didik yang agak lemot.
"Ayo pulang aku udah capek nih,". Ajak Wulan.
"Pegangan dulu baru mau jalan motornya, hehehe,". Pintaku menggodanya.
"Kalo gini boleh?,". Ucap Wulan yang langsung melingkarkan tangannya ke perutku.
"Wah ini mah lebih dari boleh. let's go kita meluncur pulang Bu bidan,". Jawabku penuh energi kali ini. Terlihat di belakang hanya tersenyum dengan pipi yang memerah imut.
"Owalah, dasar bucin stadium akhir,". Batin mas Didik.
.
.
.
.
.
Dua insan yang sedang terluka hatinya, mencoba saling menguatkan dalam hangatnya saling menggengam. Tanpa mereka tahu benih cinta itu mulai tumbuh bersama dengan luka yang terbuka. Cinta itu datang walau perlahan namun pasti.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung...