
Sebuah ledakan kembali terdengar hanya beberapa meter dari kami. Melemparkan api yang seakan menguyur dua tubuh dengan yang satunya mencoba melepaskan diri. Ayu harus terpental bersamaku karena ledakan yang cukup besar itu. Meninggalkan luka bakar di seluruh tubuhnya lemah ayu dan sebagian besar lengan kananku.
"Ayo cepat kita harus keluar!!" Ucap mas Didik yang akhirnya menemukan kami. Kobaran api benar-benar membuat pandangan dan pikiran kami menjadi serba terbatas.
Dengan sedikit bersusah payah kami keluar dari ruangan yang sudah berkobar itu. Sementara ayu ku tuntun untuk segera menjauhi bangunan ini karena bahaya belum usai. Dengan jalan terpincang-pincang kami bertiga membantunya untuk segera keluar. Naasnya kami bertemu dengan beberapa orang musuh yang memergoki kami. Mungkin mereka datang karena mendengar beberapa ledakan keras dari belakang.
Dorrr...dorrr...dorrr..
"Jangan ada yang bergerak..polisi!!! Ringkus dan bawa semuanya tanpa terkecuali!!"
Dorrr...dorrrrr....
Terdengar bunyi menggelegar dari letupan senjata api memecah heningnya malam ini. Membuat tiga orang yang tadi sempat memandang kami dengan bingung, sekarang lari tunggang langgang berhamburan ke arah yang berbeda-beda. Terdengar bunyi derap langkah dari beberapa orang menghampiri kami.
"Polisi?" Gumamku.
"Itu pasti mas Adi!" Ujar mas Didik.
Beberapa polisi langsung saja meringkus kami bertiga yang sudah berdarah-darah. Lenganku yang terkena luka bakar semakin perih terasa.
"Jangan di tangkap! Mereka teman-temanku yang kuceritakan kemarin." Suara yang tak asing cukup menahan tindakan empat polisi berpakaian preman yang saat ini menindihku dengan lututnya. Kemudian dia membantuku untuk bangun lagi.
"Maafkan aku nak, aku tidak tahu. Lekas selesaikan cepat nak! Sebentar lagi bantuan yang lebih banyak akan datang." Ucap polisi kekar itu membantuku berdiri.
"Terimakasih bantuannya pak polisi" ujarku menahan ngilu di beberapa bagian tubuh.
"Cepatlah waktu kita tidak banyak! Banyak yang harus kita urusi. Serangga-serangga ini mulai melakukan perlawanan!" Ucap salah seorang polisi yang lain.
"Apa ada wanita tua yang tertangkap?" Tanya mas Didik penuh selidik.
__ADS_1
"Sepertinya Belum!" Jawab singkat polisi yang masih muda itu.
Setelah mengobrol singkat dengan mereka aku bergegas dengan mas Didik menyusuri kembali ruangan demi ruangan. Mencari keberadaan ketua mereka. Percuma saja kami menangkap seluruh kelompok jika ketuanya masih bisa lepas dan membahayakan kami semua. Cabut hingga ke akarnya.
"Bagaimana ini? Kita tidak menemukannya di manapun!" Ujarku setengah putus asa. Berpuluh puluh ruangan sudah kami singgahi namun tetap nihil.
"Ahh!! Aku tau dimana dia!" Ucap mas Didik percaya diri.
"Cepat ikuti aku. Sebelum dia kabur lagi!" Titahnya tegas.
Kami pun bergegas pergi ke sisi lain di bangunan ini. Menuju ruangan paling ujung yang lebih mirip bangsal kumuh. Kami sedikit berhati-hati dalam melangkah karena kobaran api rupanya sudah merembet cepat menyambar beberapa perabotan yang mudah terbakar.
Di sebuah bangunan tua pengap akhirnya wanita tua itu muncul keluar dan tampak tenang padahal dirinya sadar dan tahu bahwa sarang biadab miliknya sedang di garuk polisi dengan jumlah yang tak main-main. Nampak beberapa anggota sektenya yang terkapar kaku tak bernyawa karena mencoba memberi perlawanan pada aparat bersenjata yang mencoba menangkap mereka.
"Sudah puas kalian?!" Tanya bi Sumi itu dengan suara parau serak miliknya berdiri di samping bangsal.
"Berhentilah berbasa-basi hei wanita terkutuk!" Gertakku.
"Akan ku balas kematian ibuku. akan ku buat kau merasakan kematian yang perlahan dan menyakitkan! Dasar wanita iblis!!" geramku mendengar memang dia lah yang membuat ibu kandungku meninggal dunia.
Apa itu..dia hanya tersenyum seolah tak merasakan ketakutan sama sekali. terlihat giginya yang sudah menghitam menyeringai tajam. memang mengerikan!
"Hahahaha!!! Kita bertemu lagi bocah tengil!!" Ucap sebuah suara besar dari belakang bi Sumi yang sedang bersilang dada. langkahnya terlihat menyibak kegelapan di belakangnya. angin dingin seketika bertiup lembut.
Sial! Butokolo kembali datang. Demit berusia ratusan tahun itu nampaknya masih mempunyai dendam dengan kami. Terlihat dari betapa buasnya pandangan mata merahnya kala memandang kami. Membuat aku dan mas Didik sedikit bergidik melihatnya. dia terduduk di belakang bi Sumi. air liurnya terus menetes berwarna hijau pudar dan berbau busuk menyengat.
"Habisi mereka!! Dan kau boleh berbuat semaumu malam ini. Lakukan sesuka hatimu!" Titah bi Sumi kemudian berlalu begitu saja menuju ke sisi lain bangunan hingga akhirnya dia hilang tak terlihat lagi di telan kegelapan. sial mau kabur dia! gumamku.
"Hahahah!!!! Mari kita berpesta malam ini! Hahaha" pekik butokolo mendongak menatap ke atas. Suaranya bagaikan petir yang menggelegar. dengan cekatan kami segera bersiap menerima serangannya. secepatnya menghabisi setan ini dan mengejar bi Sumi sebelum dia hilang lagi.
__ADS_1
Shyuuuuuuttttttt..jdarrrrrrr...
Sebuah kilatan cahaya menyilaukan tiba-tiba saja menyambar bak sebuah anak panah. Tepat menghunus perut gentong besar sesosok demit yang di kenal sebagai sang penguasa hutan ini. membuatnya terjengkang ke belakang.
"Kyaaaaaa!!! Bedebah!! hahaha Kau lagi Darto!! Beraninya kau ikut campur!" Erang butokolo berteriak sangat keras. Seakan tanah yang kupijak sedang terjadi gempa kecil akibat suaranya yang lumayan dahsyat.
"Kalian pergilah. Kejar wanita sialan itu. Biar demit ini aku yang urus." Ujar Mbah Darto yang entah datang darimana tiba-tiba sudah muncul di belakang kami.
"Apa Mbah yakin bisa menghadapinya sendiri?" Ragu mas Didik.
"Sudahlah jangan pikirkan itu. Pergilah! Sebelum butokolo sadar dan mengejar kalian lagi." Balas Mbah Darto menunjuk butokolo yang terlihat sedang menjilati darah hitam yang mengucur dari lukanya akibat serangan mendadak tadi.
Tanpa menunggu lama, kami bergegas menyusul bi Sumi. Ingin rasanya segera menghabisinya dan segera menyelesaikan drama mengerikan ini. Drama horor yang selalu menghantuiku setiap malam!
Di sisi lain..
Wulan yang terbangun dari lelap kini mulai meneteskan air mata ketika mengetahui suaminya sudah pergi ke sarang penyamun. Pening di kedua pelipisnya membuat pandangannya sedikit kabur. Ia beranjak menuju dapur. Ia hendak membuat teh hangat untuk sekedar membuatnya tenang sesaat. Ketika air panas sudah separuh masuk ke dalam gelas kaca, tiba-tiba..
Pyarrrrrr..
Gelas dalam genggamannya jatuh berhamburan mengejutkannya. Membuat air panas seketika menyiram separuh tangan dan kakinya. Dia kemudian terduduk di sebelah pecahan kaca yang tajam, menatap sendu tubuhnya yang tersiram air panas dan gelas yang masih berceceran secara bergantian. Matanya kembali menitikkan air mata. Teringat akan nasib yang bisa merenggut suaminya setiap waktu. Merebut paksa kebahagiaan yang baru ia rasakan sesaat.
.
.
.
.
__ADS_1
.
. Bersambung..