Misteri Rumah Nenek

Misteri Rumah Nenek
Nekat!!!


__ADS_3

Malam itu berbeda dengan malam-malam sebelumnya yang ku lewati. Kali ini sungguh terasa hangat penuh dengan canda tawa. Di temani se-teko wedang jahe dan pisang goreng buatan calon mertuaku (moga-moga saja), kami ber enam larut dalam obrolan. Sedikit meringankan beban dan tekanan yang kualami saat menginjakkan kaki di tempat ini.


Begitu pun waktu mengalir tak terasa sudah melewati dini hari. Ayu dan Tante Ningsih memilih untuk tidur karena tidak kuat bergadang katanya. Serta bi tutik yang memilih pulang ke rumah, meninggalkan tiga pria berbeda generasi yang masih asik ngobrol tanpa menunjukkan kantuk sedikitpun.


"Yah berarti yang di rumah nenek sekarang ini ada siapa aja yah??,". Tanyaku.


"Setelah Simbah nggak ada, Rumah itu kabarnya di kosongi sekarang. Ningsih pun sekarang memilih kost di luar desa. Tapi, kabarnya ayah denger dari beberapa orang desa yang bisa ayah percayai, pada malam di hari Jumat Kliwon, sesekali mereka melihat ada sekelompok orang berjubah hitam masuk ke dalam rumah. Mereka tak tahu pasti berapa jumlahnya. Bahkan sekarang rumah itu sudah di bangun gerbang dan di beri pagerbumi, dan ayah yakin si Utomo dan Tiwi lah yang melakukannya,". Jelas ayah.


"Kenapa bisa mereka berbuat seenaknya dan ayah kenapa cuma bisa diem? Ayah anak kandung nenek, ayah punya hak lebih besar di banding mereka berdua,". Bantahku.


"Kau memang seharusnya ayah kuliahkan jurusan hukum biar jadi pengacara kondang. Kecerdasanmu melampaui ayah saat seusiamu. Dengarkan ayah nak, sekarang surat kepemilikan di pegang antara dua manusia laknat itu, mereka itu licik dan jika ayah melawan mereka, ayah sudah pasti kalah di mata hukum, Tapi nggak memungkiri ayah juga penasaran dengan apa yang di katakan orang kepercayaan ayah tentang kelompok berjubah hitam itu,". Jelas ayah.


"Wih anak sama bapak, sama-sama ngeri bicaranya berat-berat, otakku yang sedikit ini jadi susah nangkepnya bro,". Gumam mas Didik yang sedari tadi hanya menonton perdebatan kami. Mendengar itu aku dan ayah hanya tersenyum.


"Bagaimana kalo kita menyusup kesana yah??,". Usulku pada ayah.


"Pas, ini malam Jumat Kliwon. Kesempatan emas untuk kita bertiga, segera persiapkan diri dan bekali dirimu dengan apa yang ayah pernah titipkan,". Tegas ayah dengan semangat.


"Ayah sendiri bagaimana???,". Tanyaku.

__ADS_1


"Tenanglah jangan khawatirkan ayah,". Ucap ayah sambil tersenyum. Wajahnya yang terkena bias sinar rembulan cukup membuat adrenalinku terpacu.


"Gusti pangeran, bapak anak kok sama-sama nekat to Yo,". Ucap mas Didik yang sedikit lucu karena terlihat sedikit gemetar melihat apa yang ada di pikiran kami.


"Ayo kita berangkat, nanti kita lewat belakang saja. Lewat kebun kopi disana tidak terlalu mencolok untuk kita bertiga. Jaga satu sama lain, kita tidak tahu apa yang kita hadapi, jadi berhati-hatilah,". Ujar ayah.


"Dan ingat! Apapun yang kalian lihat nanti sepanjang perjalanan. Abaikan saja!!!,". Titah ayah dengan raut muka dingin.


Setelah berdiskusi sebentar kami memutuskan untuk berangkat malam itu juga. Jam sudah menunjukkan waktu 2 dini hari. Dingin sudah mulai menembus jaket tebal yang aku pakai. Terlihat mas Didik dan ayah juga nampak menggigil karena suhu yang terlampau dingin untuk kami. Setelah 15 menit berkendara kami memarkir motor yang di gunakan kami untuk berbonceng tiga di sekitar area masjid yang tak terlalu jauh dengan rumah nenek. Selepas itu kami lanjutkan dengan berjalan kaki.


Aku dan mas Didik hanya mengekor, sementara ayah yang mencari jalan untuk kami bisa lebih dekat ke rumah keluarga ayah tersebut. Kami menyusuri anak sungai di belakang rumah megah dengan arsitektur joglo itu. Sungai yang pernah ku kunjungi bersama ayu. Suara gemericik air cukup menyamarkan suara langkah kaki kami bertiga. Beruntung bagi kami Ternyata pagar beton yang mengelilingi rumah itu belum sepenuhnya menutupi jadi kami tak perlu memanjat tembok karena masih ada banyak celah untuk kami bisa masuk ke lingkungan itu.


Setelah jarak cukup dekat, aroma kemenyan mulai menyeruak di penciuman kami. Sayup terdengar keramaian orang seperti sedang berpesta. Pendopo yang dulu pernah membuatku takut kini malah jadi ajang ritual bejat. Memang benar apa yang di laporkan orang kepercayaan ayah. Mereka rata-rata berpakaian hitam dengan beberapa orang yang memakai jubah hitam seperti penyihir di film-film Hollywood.


"Ayah akan merekam semua kegiatan ritual ini, siapa tau berguna nantinya,". Tukas ayah yang sibuk dengan kamera Hpnya.


Setelah hampir setengah jam mengawasi perbuatan tak bermoral tersebut. Terlihat kali ini ada sosok yang sepertinya seorang wanita dengan tubuh gemuk dan pendek memakai topeng Butokolo, lengkap dengan gigi taringnya yang panjang. Memegang sebuah nampan yang di atasnya terdapat tempat menaruh arang yang sudah menyala beserta dupa yang sudah di nyalakan, se baskom kecil air dengan bunga beraneka macam dan terlihat beberapa telur yang di bungkus kain putih. Apa yang ingin mereka lakukan???


Wanita itu kemudian bersimpuh di tengah halaman. Tarian yang meliuk-liuk serta kegiatan yang biadab mereka hentikan sementara Meninggalkan musik yang masih berdentum melalui speaker. Mereka mencoba fokus dengan wanita itu begitupun kami. Aku mengisyaratkan agar sedikit bergeser karena takut ada yang melihat kami dengan jarak yang hanya kurang dari 10 meter dari wanita bertopeng itu. Ayah dan mas Didik mengikutiku dengan masih berfokus pada wanita yang sepertinya sedang mengawali ritual.

__ADS_1


Tiba-tiba dari dalam rumah terlihat ada dua orang yang di seret untuk menghadap si perempuan bertopeng. Dua pemuda itu bersimpuh dengan wajah penuh lebam, tak jelas apa yang terucap dari mulut yang sudah mengeluarkan darah itu. Si wanita bahkan tak menengok mereka sama sekali dia masih tetap duduk seperti semedi membelakangi pemuda itu, tunggu sebentar!! Bukan kah itu si preman yang siang tadi memukulku hingga aku pingsan? Apa yang akan terjadi padanya. Seorang laki-laki dengan topeng ski hitam yang hanya kelihatan mulut dan matanya kemudian berdiri di belakang kedua pemuda tersebut, kemudian melepaskan ikatan di tangannya. Dengan kilat pemuda yang di bebaskan tersebut sedikit lari menjauh. Kini tinggal si preman dengan tubuh gempal berbrewok itu sendirian. Hingga...


Dorrrrr dorrrr dorrrr!!!


Tiga kali letusan menghujam kepala dan tubuh preman naas tersebut. Seketika tubuh bongsornya ambruk ke tanah meninggalkan genangan anyir berwarna merah pekat. Kami terperanjat melihat kejadian itu. Ayah menyenggol lenganku memberi kode untuk berjaga. Aku yang faham kemudian meraih pistol yang sudah terisi full. Terlihat mas Didik juga sudah bersiap dengan goloknya. Setelah pemuda itu ambruk tak lama beberapa orang langsung cekatan membersihkan tubuh yang sudah dingin dan kaku tak bernyawa tersebut. Aku hanya bisa gemetar menelan ludah melihatnya. Entah kesalahan apa yang membuat preman tersebut harus langsung menghadap Tuhan tanpa ada kesempatan untuk bisa bertaubat.


Setelah may*t itu di bereskan, pria dengan pistol di tangannya itu kemudian melepaskan topengnya. Astaga!! Apa yang kulihat ini tak salah dan halusinasi kan? Itu Andre bukan? mas didik pun nampaknya juga terkejut melihatnya. Tak kusangka Andre pun merupakan salah satu dari mereka. Sepertinya kehidupannya tak sesempurna yang kubayangkan. Andre kemudian mendekati wanita yang sedari tadi tak bergeming sama sekali padahal di belakangnya baru saja ada penembakan yang mengakibatkan satu nyawa melayang. Dia seperti sudah terbiasa dengan kondisi seperti saat ini. Setelah sedikit membisikkan sesuatu Andre kemudian mundur beberapa langkah ke belakang. Entah kenapa ingin segera ku ringkus sendiri mereka semua. Huh


Masih terpaku atas beberapa insiden di depan mataku, tiba-tiba sebuah lengkingan tajam seperti menusuk gendang telingaku. Ternyata semua suara menyakitkan itu berasal dari wanita tua tersebut.


"Hihihihi hihihi bunuh dia!! Aaaaaakan ku bb-bebaskan kkkalian dari belengguku!! Hihihihi,". Teriaknya dengan suara yang benar-benar menyakiti pendengaranku.


Bersamaan dengan teriakan wanita bertopeng itu juga tepuk tangan riuh yang mengiringinya, Tiba-tiba saja lampu di rumah itu padam secara bersamaan. Pesta yang penuh gemerlap lampu yang berpendar kini bagaikan hilang di telan pekatnya malam.


"Hahahahaha!!! Apa kalian kesini untuk menyerahkan diri!!!! Kejar dan bunuh mereka untukku!!!," . Teriakan yang tadi berubah kini menjadi suara yang terdengar berat dan parau. Tangan yang menunjuk dimana lokasi kami berada cukup mengagetkanku, walaupun gelap kami masih bisa sedikit terbantu dengan adanya sinar rembulan yang membulat sempurna. Situasi saat ini Kami mulai mengalami kepanikan.


"Lari!!!,". Teriak ayah pada kami.


Tanpa menunggu lagi kami lari berhambur Meninggalkan tempat biadab itu. Aku tak tahu arah hanya lari sekencang-kencangnya saja yang ada dalam pikiranku. Semoga ayah dan mas Didik juga bisa selamat. Aku terus menerjang apapun yang ada dalam jangkauan kakiku. Terus lari menerjang kumpulan pohon singkong yang cukup tinggi. Beberapa kali aku sempat terjatuh namun mengingat apa dan seberapa banyak yang akan mengincarku, aku berusaha untuk lari sejauh mungkin.

__ADS_1


Setelah cukup lama aku berlari, merasa sudah tak ada yang mengejarku, aku berhenti sejenak entah jam berapa saat ini. Akankah aku bisa melihat hari berganti menjadi terang lagi atau nasibku harus habis disini. Aku kali ini mengistirahatkan kakiku berselonjor di sebuah batu besar di bibir sungai. Satu Yang kutahu saat ini aku sudah keluar dari area perkebunan. Namun, entah aku berada dimana aku tak tahu. Dengan sikap siaga sembari berdoa terus menerus aku memegang pistol di tanganku. Akan ku hadapi apapun yang mendekat aku sudah tak sanggup lagi jika harus berlari. Kakiku kurasakan pegal dan perih, sekilas nampak bahkan mengeluarkan darah segar, sepertinya aku banyak menginjak dan menendang akar pohon. Tapi siapa peduli? Saat ini hanya ada hidup atau mati!!


Bersambung....


__ADS_2