Misteri Rumah Nenek

Misteri Rumah Nenek
Terjebak


__ADS_3

"Ayo kita mulai pesta ini!" Ucapku.


"Ikuti aku. Kita lewat jendela samping dekat dengan gudang. Disitu jarang ada yang jaga." Ujar mas Didik memantau situasi.


"Siapkan senjatamu. Kita tidak tahu apa dan berapa yang akan hadapi." Imbuhnya. Aku hanya mengangguk tanda mengerti.


Kami berjalan dengan merangkak melalui rumput gajah yang tinggi membuat kami yang sedang mendekat, sedikit tersamarkan. Setelah sampai di tempat yang di maksud mas Didik, diapun masuk dengan memanjat jendela yang sudah usang itu ,untuk kembali memantau situasi di dalam gudang itu.


Setelah memastikan aman aku pun juga sama, menengok masuk kedalam jendela. Takut jika itu semua hanya akal-akalan mas Didik saja. Rasa percayaku pada mas Didik hampir tidak ada karena ketidakjujurannnya padaku dan kepada semua yang tak sengaja terlibat dalam masalah ini.


"Apa ini?" Tunjukku pada beberapa drum kaleng berukuran besar dengan jumlah puluhan.


"Itu kayaknya buat racun syaraf sama asam asetat. Kalo nggak salah itu di gunain buat melarutkan tubuh korbannya biar nggak bisa di deteksi sama kepolisian." Ucap mas Didik terlihat ngeri dengan drum-drum yang bertumpuk-tumpuk rapi itu. Sama persis dengan apa yang kurasakan saat ini.


Ckleekkkk...cklekkkk


Suara knop pintu depan gudang ingin di buka. Seketika kami berdua panik di buatnya. Pikiran bermacam macam sudah memenuhi akal sehatku. Aku sudah dalam posisi bersiaga sebelum mas Didik sedikit berlari meraih gagang pintu yang ada di belakang drum-drum itu. Masuk melalui jalan selebar satu meter di samping drum bertumpuk itu. mas Didik menarikku kedalam sebuah ruangan yang tak di kunci berukuran 2X6 meter. Ruangan panjang dengan suhu yang sangat dingin mirip dengan sebuah kulkas di rumahku.


Tak ada jendela tak ada ventilasi, hanya ada sebuah pintu yang kami masuki tadi. Serta beberapa mesin pendingin yang bertengger di atas kami. Suhu disini sangat dingin sekali. Bahkan jaket tebal yang kupakai terasa kurang begitu menghangatkan. Termometer di pojok ruangan menunjukan suhu disini mencapai 18°C!.


"Ini seperti kulkas dalam bentuk sebuah kamar!" Gerutuku.


"Kau memang benar!" Balas mas Didik.


"Kau pikir apa tujuan dibuatnya tempat ini?" Imbuh mas Didik.


"Entahlah, mana kutahu" jawabku ketus.


"Hahaha, ini tempat penyimpanan m*yat kalau kau ingin tahu, mereka baru-baru ini kudengar juga berkecimpung dalam dunia pasar gelap penjualan organ. Yang tentu saja di kendalikan oleh para petinggi organisasi." Ujar mas Didik gemetar menjelaskan kejahatan yang di dasari dendam hingga kini merembet jauh ke arah yang sudah sangat ekstrim.


"Kau lihat itu.." ucap mas Didik menunjuk kantong hitam lonjong yang sangat besar, tergeletak bertumpuk di pojok ruangan.


"Kantung itu berisi lebih dari satu tubuh manusia yang belum sempat di hancurkan, kebanyakan mereka anggota yang mencoba berkhianat atau orang yang mencoba melawan kedigdayaan sekte mereka" lanjutnya.


Aku terhenyak mendengar semua kata-kata mas Didik. Benarkah mereka sampai sejauh itu? Sebenarnya seberapa besar yang kuhadapi saat ini?


"Apa kau tidak percaya? Apa kau ingin melihatnya dari dekat? hahaha" Tanya mas Didik melihatku hanya diam saja tak bergeming dari tempatku berdiri.


"Tidak, aku percaya padamu saat ini. Diamlah dan fokus pada tujuan kita kemari. Kita sudah jauh-jauh kesini jangan menyia-nyiakan kesempatan." Ucapku tegas walaupun tetap saja bergetar karena menghadapi kengerian yang tersaji tepat di depan mataku.

__ADS_1


"Kunci kabeh disek wae min! (Kunci semua dulu aja min?" Sebuah suara terdengar dari balik pintu. Reflek kami agak menjauh dari pintu tersebut. Berjaga-jaga jika sesuatu akan terjadi.


"Iyo Jum (iya Jum)" balas pria yang satunya. Aku tak bisa melihat raut mereka yang berdiri di depan pintu karena akan cukup membahayakan kami berdua.


"Opo bener mengko yen awake dewe bakal oleh pasien nggo di bedah maning? (Apa benar kalau nanti kita dapat pasien untuk di bedah lagi?)" Imbuh pria itu bertanya.


"Koyone sih iyo min. Jare ono seng nemokno ning pinggir kali (kayaknya sih iya min, katanya ada yang nemuin di pinggir kali)" jawab pria satunya. Sedikit tak terlalu terdengar karena cukup jauh dari pintu.


Ceklekk.. ceklekk..


Terdengar pintu ruangan mayat ini di kunci dari luar. Darah mulai berdesir ke ujung kepalaku. Rasa ketakutan dan mulai tidak nyaman berada disini memenuhi seluruh inci tubuhku. Berbeda dengan mas Didik yang terlihat berpikir sejenak tak menunjukkan kepanikan saat ini, berkebalikan dengan diriku.


"Sepertinya kita harus terjebak sementara disini." Sebuah kata yang sepertinya tak ingin kudengar saat ini mengingat betapa seramnya hawa disini.


Setengah jam berlalu begitu saja, tak ada obrolan berarti antara kami. Bahkan lebih banyak diam dan menjaga jarak masing-masing. Aku terus memeluk diriku sendiri menahan gempuran dingin yang sudah merambat ke seluruh tubuhku.


"Bagaimana cara kita keluar, aku sudah tak tahan. Aku kedinginan bodoh!" Ucapku jengkel pada situasi saat ini.


"Jangan-jangan yang mereka bicarakan itu mas Adi?! Bagaimana ini!!" Panik seketika menjalar ke seluruh tubuhku.


"Diamlah, aku juga sedang berpikir!!" Balasnya tak kalah jengkel denganku.


Kami terdiam untuk sesaat.


"Kita tunggu sampai pasien itu di masukkan kesini! Dan aku berharap yang tertangkap itu bukan teman kita. Dia satu-satunya saksi hidup untuk nasib kita." Ucap mas Didik kembali duduk dan berdiam diri lagi.


Ckleekkkk.. ckleekkkk... kriiiiietttt...


Suara knop pintu ruangan ini seperti di buka! Sontak dengan reflek aku dan mas Didik berdiri menjauh, bersembunyi di balik pintu seakan bersiap hendak menyergap siapapun yang akan masuk ke dalam. Kami sudah di posisi dengan aku yang hanya memegang senjata sedangkan mas Didik hanya dengan tongkat kayu yang dia temukan saat masuk kesini tadi.


"Cepet Jum, abot (berat) banget ini...."


Bruukkkkkk...


"Hei! Siapa kalian!"


Bruukkkkkk...


Dua pukulan cepat dari mas Didik sangat tepat mengenai organ vital dua laki-laki yang terkejut karena kehadiran kami. Membuat mereka terhuyung dan ambruk tanpa daya upaya sebelumnya.

__ADS_1


Sementara tandu yang mereka bawa terjatuh menimpa sebagian tubuh mereka.


"Yes, pingsan!" Ucap mas Didik girang seperti melihat dua mangsanya terkapar tak berdaya.


"Hei bro, cepat ikat mereka di pojok!" Titah mas Didik yang ku ikuti anggukan.


"B*ngsat kowe!! Bakal tak pastikno kowe kabeh bakal mati b*ngsat!! (B*ngsat kamu! Bakal aku pastikan kamu semua bakal mati b*ngsat!!) " Seorang laki-laki nampaknya masih mempunyai tenaga untuk bangkit dan sekedar mengumpat pada kami.


"Berisik!!"


Bruuakkkk...pyarrrrrr...


Sebuah tendangan keras mendarat di perut pemuda yang mungkin baru berusia tiga puluhan itu. Membuatnya terpental dan menghantam meja kecil dengan pot di atasnya. Sedikit membuat keributan yang cukup mengkhawatirkan untuk kami.


Segera aku mengikat mereka menggunakan tali yang kubawa sebelumnya. Tak lupa serta melakban mulut mereka agar tak berteriak-teriak dan mengacaukan misi kami. Memang untuk kali ini aku lebih menyiapkan segala sesuatunya dengan baik.


Sementara mas Didik sedang berusaha menyadarkan orang yang di ikat di tandu. Dan benar saja, itu mas Adi yang sedang di tandu dalam keadaan lemah. Tampak tanah basah masih kotor menempel di sebagian tubuhnya. Segera mas Didik melepaskan ikatannya dan berusaha menepuk pipinya pelan untuk membuat kesadaran mas Adi kembali.


"Bagaimana bisa mas Adi ketahuan?" Tanyaku yang sudah mulai membantu mas Didik membersihkan tanah yang menempel pada tubuh mas Adi.


"Kamu pikir kita hanya berhadapan dengan manusia????" Jawab mas Didik.


"Sepertinya kita harus memusnahkan butokolo dulu bro, jika setan laknat itu masih saja berkeliaran, bisa-bisa kita juga nggak lama lagi bakal ketahuan! Pagar gaibku nggak bisa melindungi kita terus menerus! Semua ada batasnya." Jelas mas Didik.


"Bagaimana cara kita memusnahkan jin yang tidak bisa aku tembak sama sekali?!" Tanyaku yang sudah mulai frustrasi.


"Kita sergap dia di kandangnya!"


"Ayo kita cepat keluar dari sini dan segera habisi makhluk kotor itu!!"


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


. Bersambung...


__ADS_2