Misteri Rumah Nenek

Misteri Rumah Nenek
Alam sebelah


__ADS_3

Hilang, perasaan seakan merasa seperti terombang-ambing dalam ketidakpastian. Perlahan aku pun sadar dari rapatnya kedua mataku. Saat ini aku sedang terduduk. Ku coba melihat sekelilingku dengan pandangan tak pasti mencoba memvisualisasikan apapun di dalam jangkauan mataku, Oh Tuhan!! aku berada di tempat yang tak semestinya. Tempat apa ini ? Dimana aku ?


Perlahan aku berdiri dengan kaki yang belum sempurna menapak, Kanan kiriku masih berupa pohon jati yang tinggi besar, daun-daunnya menciptakan payung raksasa yang melindungi dari panasnya terik matahari. Aku terus berjalan berharap segera keluar dari lebatnya hutan yang membuat aku kurang nyaman. Hingga....


Plakkk


Sebuah tepukan kasar membuatku langsung menoleh. Nenek tua itu? Bukankah itu nenek-nenek yang tadi menduduki perutku hingga aku tak sadar. Hiii mengingat betapa seramnya wajah penuh keriput disaat terkena remang-remang sinar rembulan.


"Monggopunaturi den tumindak sareng kalihan kawulo (ayo tuan mari pergi/ikut bersama dengan saya),". Katanya sambil menggandeng tanganku.


Kali ini aku tak bisa menolak karena bagaimanapun aku terjebak dan terbawa dalam tempat yang asing. Dan entah kenapa perasaanku berkata untuk tidak membantah kali ini.


Tak berlangsung lama, kami akhirnya sampai di suatu perkampungan, kampung dengan tak banyak penduduk yang terlihat. Mereka begitu sederhana, kaum pria hanya memakai celana pendek kolor tanpa atasan sementara yang perempuan memakai kendit atau kemben sedada dengan jarik melilit di pinggangnya. Kampung ini seperti ketinggalan zaman saja. nenek itu terus menyeretku melewati beberapa orang yang melihat kosong ke arah kami. Aku sadar mereka bukanlah orang hidup seperti diriku, namun tatapan kosong mereka membuatku sedikit takut. tatapan itu seperti ingin memakan jiwaku.


Hingga sampai lah kami di sebuah gerbang yang seluruhnya dari kayu yang di ukir indah. Dengan dua patung batu raksasa mengapit kokoh gerbang yang tinggi menjulang itu. Ketika gerbang terbuka, aku di seret lagi untuk memasukinya. Ini bukan rumah! Ini istana kah? Lalu milik siapa istana ini? Apa urusannya denganku? Berjuta pertanyaan berputar putar di kepalaku.


Setelah sampai di pelataran depan yang di tumbuhi rumput hias. Kali ini ada dua orang aneh di belakangku, mengikuti dengan pakaian hitam dan yang satu memegang tombak sementara yang lain memegang pedang. Nenek-nenek itu melepaskanku dan kemudian bersimpuh dengan dengkulnya. Melihat tatapan melotot dari dua orang di belakangku, mau tidak mau aku mengikuti nenek-nenek itu.


Hingga, sebuah iring-iringan seperti karnaval keluar dari dalam istana. Puluhan pria berbadan tegap mengapit seorang wanita dengan pakaian yang mencolok berbeda dengan yang lain di ikuti beberapa wanita yang memakai kemben sederhana mengekor di belakang wanita itu. Sungguh Anggun sekali wanita itu dengan gaun putih panjang tanpa lengan berbagai pernak-pernik berkilauan tak lupa mahkota kecil menghias rambutnya yang di sanggul sederhana, dihiasi ronce(rangkaian hiasan)bunga kanthil dan melati yang sangat harum semerbak. Di tambah wajah ayu nan putih menambah kesan dia bukan wanita biasa dia pasti dari kalangan berbeda.


"Bangun lah Putra, dan untukmu mbok, terimakasih sudah membawanya kemari,". Ucap wanita itu setelah sampai di depanku yang masih bersimpuh.


"Aku Ratu Gadung Melati, sang penguasa gaib gerbang gunung Merapi dan gerbang gunung wutoh,". Ucapnya sembari tersenyum.


Aku yang berdiri di hadapannya sedikit merasa terintimidasi. Ada apa gerangan hingga Ratu gaib sekelas Ratu Gadung Melati menemui ku?.


"Salam kenal Ratuku, ada apa gerangan Ratu membawaku kemari dengan paksa seperti ini?,". Tanyaku tanpa basa-basi dengan tatapan tak main-main.


"Kau memang pintar, aku membawamu kemari hanya ingin menawarimu sesuatu,". Ucapnya kembali.


"Tinggallah disini, bersamaku Putra Mahesa Adhitama Suwirdjo,". Sambungnya.


Perkataan macam apa itu. Untuk apa aku tinggal disini. Aku punya kehidupan di alam manusia. Huh bagaimana ya cara menolaknya mengetanpa membuatnya tersinggung. batinku

__ADS_1


"Maaf Ratuku, saya tidak mengerti,". Ujarku, aku harus memancing dia menjelaskan semua keinginannya.


"Tinggalah bersamaku, jadi lah suamiku Putra Mahesa,". Pinta ratu Gadung Melati.


"Atau kau bisa kembali namun, aku tak akan mengantarkanmu. Kau harus cari jalan menuju ke alammu sendiri,". Sambungnya tegas.


Apa-apaan itu, seenak jidat melemparkan ku kesini, Giliran pulang suruh nyari jalan sendiri. Aku juga nggak minta buat di ajak kesini tuan ratu yang cantik. Geramku dalam hati.


Aku coba tepis rasa kesalku, aku ingin pulang namun dengan jalan yang baik. Akan kucoba merayunya. Meskipun ini ide gila, tapi apa salahnya mencoba. Aku mulai berjalan mendekati Ratu yang hanya berjarak 5 langkah dariku. Beberapa pengawalnya langsung siap siaga mengacungkan tombak dan pedangnya ke arahku.


"Sudah biarkan!,". Titah sang ratu. Semua langsung diam mengikuti perintahnya. Kuraih kedua tangan lembut milik Ratu Gadung Melati memegangnya dengan kedua tanganku. Membuat semua yang melihat ke arahku menjadi khawatir aku melukai ratu mereka.


"Ratuku, anda memang cantik. Tapi diriku tak bisa memaksa untuk menikahimu ratu, aku masih hidup dan mempunyai kehidupan. Aku masih banyak urusan di dunia yang fana dan berlumur dosa itu. Bagaimanapun kita tidak bisa bersanding Ratuku, kita terlalu banyak perbedaan. Kuharap engkau bisa mengerti,". Ucapku lembut dengan mengecup kedua tangan yang begitu lembut nan wangi tersebut. Terlihat sudut bibir sang penguasa gaib yang konon kekuatannya lebih besar dari nyi Roro kidul itu terlukis sebuah senyuman indah.


"Huhhh Sepertinya Kau benar, kita terlalu banyak perbedaan. Maaf aku sudah memaksakan kehendakku padamu,". Balas Ratu.


"Iya Ratuku, Ratu Gadung Melati.". Balasku lembut padanya. Dengan melepaskan genggaman yang bertaut antara kami.


"Mari, ikuti aku,". Ajak Ratu gaib itu padaku.


"Entahlah Ratuku, sepertinya mereka terlampau kuat. Bahkan aku pun pasti bingung jika harus bertemu kuntilanak Dasimah tersebut,". Jawabku jujur.


"Kau tenanglah, kau sudah punya segalanya untuk mengalahkannya, berjuanglah,". Jawab Ratu Gadung Melati menggenggam tangan kiriku. Membuat aku menoleh.


"Kau akan pulang, dan jika kau butuh bantuan padaku, jangan ragu untuk menemui ku lagi Putra Mahesa.". Imbuhnya. Yang kemudian kami berdiri berhadapan di depan gerbang


"Selesaikan apa yang menjadi ambisimu, jangan sampai aku menyesal telah melepaskanmu yang kuharap menjadi pendampingku, sekarang tutup matamu,". Pinta Ratu Gadung Melati yang kemudian aku menurut saja. Perlahan Ratu mengecup keningku hangat dan Tiba-tiba...


Wushhhhh


Aku bagai terhempas dari langit dan beberapa saat langsung terhenyak ke dalam tubuh yang sekarang berada dalam ranjang peraduan. Ranjang yang besar dan nyaman, Iya aku sepertinya bangun bukan di rumah pak Mardi. Tanganku bahkan sudah tentancap selang infus. Dimana ini sebenarnya?


Melihatku terbangun dari tidurku, Wulan yang saat ini masuk ke ruangan dan memakai baju kerjanya langsung menghampiriku. Matanya berkaca-kaca melihatku membuka mata.

__ADS_1


"Aku dimana Wulan?,". Tanyaku mencoba duduk bersandar pada dinding ranjang.


"Kamu di kamarku, aku yang ngrawat kamu, aku kira kamu nggak bakal bangun lagi,". Ucap Wulan seraya menghapus air netra yang membasahi sudut matanya dan mengecek keadaanku.


"Emang aku kenapa? Aku baik-baik aja kok,". Jelasku menenangkannya.


"Baik-baik saja bagaimana? Kamu tiba-tiba aja koma selama tiga hari. Siapa yang nggak khawatir coba,". Jawab Wulan menunduk menyembunyikan ekspresinya.


"Tiga hari, perasaanku tadi malam aku bertemu nenek-nenek seram yang menyeretku paksa menemui Ratu Gadung Melati yang memaksaku menikahinya, Bahkan aku yakin itu hanya berlangsung satu jam lebih sedikit saja. Bukan tiga hari ,". Gumamku dalam hati.


"Jangan di buat aktifitas berat dulu, kamu boleh istirahat di kamarku dulu sampai kamu merasa fit lagi. Kalau masih pusing di buat tiduran dulu, nanti aku ambilkan obat di polindes kalo kamu pusingnya nggak hilang-hilang,". Ucap Wulan yang seperti biasa. Panjang kali lebar.


"Cie-cie yang mulai perhatian,". Godaku pada Wulan.


"Aku nggak mau kehilangan kamu,". Ucap Wulan lirih sembari mengganti cairan infus.


"Kenapa Wulan? nggak denger aku?,". Tanyaku sedikit menggoda.


Dan, Lagi-lagi belum di jawab udah melengos aja. Sungguh Bidan stres yang suka membuatku kesal. Godaanku jadi nggak mempan kan. Hehe, biarlah dia tidak menjawabku. Yang penting aku bisa melihat pipinya yang mulus itu menjadi merah Semerah buah strawberry. Hehehe.


Mungkin benar kata Wulan, aku mungkin harus istirahat dulu. Untuk sementara ini terpaksa aku tunda kembali untuk segera pulang bertemu mas Didik dan ayah yang sudah lama sekali ku rindukan.


.


"HarusMenunda lagi...


.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2