Misteri Rumah Nenek

Misteri Rumah Nenek
Mantan


__ADS_3

"Cukup jawab pertanyaan saya saja!,".


"A-apa maksutnya mas Mahesa, apa saya ada salah mas?,". Tanya pak Solihin gugup.


"Apa hubungan bapak dengan sekte gila yang di rumah nenek Tari, sepertinya bapak tahu banyak. dan saya ingin informasi itu ??,". Sergahku menatap mata pak Solihin tajam.


"Siapa kau!,". Gertak pak Solihin bangkit dari duduknya. terlihat gusar menghiasi wajahnya kali ini.


"Tenanglah pak, silahkan duduk kembali. aku hanya ingin tahu saja, hahahaha ,". Balasku tenang.


Terlihat pak Mardi begitu bingung dengan percakapan kami yang mulai meninggi tensinya. Terlihat urat kemarahan di urat-urat dahinya mulai mengendur dan kini berubah menjadi wajah penuh kesedihan. Dan kini air matanya mulai menetes pelan penuh penyesalan. sesaat kemudian kami diam membisu satu sama lain. sesekali hanya melempar pandang tanpa ada suara.


"Mas Mahesa ada apa ini sebenarnya saya takut, apa dia akan melakukan hal buruk pada kita?? ,". bisik Pak Mardi yang memegang lenganku kuat.


"Pak, bapak tenang ya. jangan takut. biar saya yang urus. Bapak bantu doa saja ya,". Ucapku menenangkan pria di sampingku yang tengah gemetar ini.


"Biar aku ceritakan semuanya padamu nak Mahesa dan untuk sampeyan kang Mardi, saya harap akang bisa jaga rahasia ini,". Tukas pak Solihin sembari menyeka air matanya yang tak sengaja menetes tadi. Kami berdua kemudian mengangguk tanda setuju. pak Solikhin kemudian duduk menghadap kami. dari tatapannya kali ini dia sepertinya benar-benar serius.


Perlahan pak Solihin mengambil sebungkus rokok, mengambil sebatang dan menyalakannya. Terlihat asap tebal mengepul dari mulutnya berhembus bersamaan dengan helaan nafas yang berat. Matanya mendongak mengawang dan menyusun kata perkata, ingatan kelam dari masa lalu. ingatan saat dia terperosok dalam ngarai kesesatan.


*****

__ADS_1


"huhhhhhh,".


"Tiga tahun yang lalu, saya hanya seorang peternak biasa yang menggantungkan hidup dari beternak dan kadang juga mengurusi sawah yang tak terlalu luas. Hidup kami bisa di bilang cukup bahagia dengan dua orang anak. Bahkan mbakyu dari Tono sudah bisa bapak nikahkan. Namun saat cobaan datang saya malah memilih jalan yang salah, jalan yang membuat saya menyesali keputusan saya sendiri,". Ujar pak Solihin membuka cerita.


"Berawal dari sebuah bencana paceklik yang mengakibatkan sawah saya gagal panen karena padi yang membusuk, sampai ternak saya hampir 80 persen mati gara-gara sakit sebab cuaca yang tak menentu. Membuat saya frustrasi berat pada waktu itu. Di tambah lagi si Tono yang masih sekolah SMA di bacok orang tak dikenal karena ikut tawuran menyebabkan Tono anak saya koma selama hampir satu bulan karena luka yang fatal, tentu saat itu saya benar-benar merasa di bawah sekali akibat cobaan yang bertubi-tubi,". Imbuhnya. Terlihat air mata mengalir dari kedua matanya mengingat betapa peliknya masalahnya dahulu.


"Namun bak malaikat penolong, dia datang dan menawarkan bantuan yang sangat besar dan bersedia memberi pinjaman untuk kesembuhan anak saya, syaratnya mudah saja. Hanya berkumpul di suatu rumah di luar desa ini. Awalnya tidak ada curiga sedikitpun pada dia. Hingga aku menyetujui perjanjian itu di atas kertas dengan setetes darahku, perjanjian dengan ikatan darah, sekarang saya sadar akan kebodohan saya,". Imbuh pak Solihin.


"Malam itu tepat Jumat Kliwon, saya memutuskan pergi ke desa sebelah menuju alamat yang sudah di tentukan. Ditemani seorang yang mengajak saya lusa kemarin. sampai disana tak seperti yang saya bayangkan, tempat yang saya kira akan gelap atau hanya remang-remang ternyata tidak. Disana lampu terang benderang, dengan beberapa lampu kelap-kelip yang menghiasi beberapa tiang. Walaupun tetap bau dupa dan kemenyan yang di bakar di tiap sudut tempat di tambah bau alkohol yang menyengat sedikit membuat saya sedikit mual waktu pertama kali hadir di tempat itu,".


"Disana ada beberapa anggota yang bisa di bilang mempunyai ilmu Kanuragan tingkat tinggi, dan mereka selalu menggunakan jubah hitam sebagai identitas mereka. Setelah nyai ratu datang yang selalu menggunakan jubah dan topeng memulai jampi-jampi dan ritual yang bermacam-macam, Anggota yang hadir di persilahkan untuk melakukan apapun bersama siapapun, waktu disana saya lihat ada yang mabuk sampai teler, ada yang judi disana, bahkan ada juga yang sengaja menyiksa musuh yang sudah di culik, karena di anggap berbahaya untuk sekte mereka di siksa hingga sampai mati. Yang paling menjijikkan menurut saya ya itu. Ada yang berhubungan badan di tempat itu yang pastinya mereka bukan suami istri. Mereka bisa berhubungan badan dimana saja. Dan sepertinya mereka memandang itu sebagai hal biasa. Pokoknya Disana hanya ada kesenangan yang berlumuran dosa!!,".


"Saya waktu itu hanya mengikuti 3 kali pertemuan saja. Dan setelah 3 bulan, Tono juga sudah sadar dari koma, saya lalu mengembalikan semua hutang saya disana. Berharap bisa lepas dari sekte sinting itu dan kembali ke kehidupan normal. Namun, ternyata keputusanku keluar sepihak dari sekte itu malah membuahkan kesialan buat saya dan keluarga bertubi-tubi.".


"Dan beberapa hari yang lalu ada seorang kakek-kakek tua memakai tongkat, saya pikir itu kakek-kakek pengemis biasa. Hingga kakek itu angkat bicara, perkataan yang membuat saya seperti di teror oleh sesuatu yang tak nampak,". Ucap pak Solihin menjeda ceritanya dengan menyulut kembali satu batang rokok yang di atas meja.


"Memang Apa katanya??,". Tanyaku penasaran.


"Hanya dua kata, Bahu lawean!! Sambil menunjuk tepat ke arah saya, dan tatapannya sungguh dingin seperti tatapan tanpa ada nyawa. Sesaat saya terpaku di tempat sambil melihat kepergian kakek itu dari pandangan hilang begitu saja,". Jawab pak solihin.


"Apa anda bersedia membantuku membasmi Kep*rat-kep*rat itu?,". Tanyaku menatap tajam ke arah pak Solihin.

__ADS_1


"Tentu saja, aku pun ingin terbebas dari bayang-bayang teror sekte setan itu,". Jawab pak Solihin bersemangat.


"Tapi ada satu hal yang mengganjal pikiran bapak,". Ucap pak Mardi kini angkat bicara setelah lama menjadi pendengar di antara kami.


"Siapa kamu Sebenarnya??? Dan ada dendam apa sampai kamu rela bertaruh nyawa berhadapan dengan mereka??,". Tanya pak Solihin. Pak Mardi mengangguk setuju dengan pertanyaan itu.


Sudah kuduga mereka akan bertanya seperti itu, Dengan senyuman lebar ku tatap bapak-bapak itu dengan yakin. Akan ku ungkapkan kisahku pada mereka. Sepenggal kisah kelam yang melatar belakangi diriku hingga berani bertindak sejauh ini!


"Aku...


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2