Misteri Rumah Nenek

Misteri Rumah Nenek
Terlalu Nyaman


__ADS_3

Subuh telah berkumandang. Sebuah seruan indah titipan dari sang pencipta telah bergaung. Pertanda hari baru sudah di mulai. Tak terkecuali bagiku, hari ini aku sudah membuat janji untuk membantu pak Mardi mengurus ternak ayam dan kolam lelenya. Lumayan pekerjaan pertamaku setelah lulus S1 jurusan managemen dan bisnis.


Lumayan buat pengalaman pertama, batinku dalam hati.


Walau terasa masih mengantuk rasanya mata ini karena semalam aku sedikit kesusahan untuk tidur. Namun, itu sama sekali tak mengendurkan semangatku.


"Hoaaaaammmm".


"Kenapa bro? Masih ngantuk? ". Tanya mas Didik yang sedang mengutak-atik ponselnya.


"Udah bro jangan terlalu di pikirin si ayu, emang sekarang dia udah berubah bro. Kaya bukan ayu yang gue kenal". Ucap mas Didik.


"Maksutnya ?" Tanyaku tak mengerti.


"Iya pokoknya semuanya sifatnya itu terbalik nggak kaya ayu biasanya". Jelasnya singkat.


"Aku masih nggak paham mas". Ucapku kebingungan.


"Nanti malem wes tak ceritain, sekarang aku mau setor dulu". Balas mas Didik berlalu meninggalkanku terburu-buru.


Apa sebenarnya maksut perkataannya? Hm, sepertinya aku mencium sesuatu yang tak beres kali ini.


Tak mau termenung lebih jauh, aku bergegas beranjak dan menuju rumah Wulan dengan berjalan kaki, sekalian olahraga hehe.


Melewati jalan yang berpagar kebun kakao rimbun di setiap sisinya. Jalan beraspal yang masih lenggang di lalui saat pagi hari. Di tambah udara di sini sangat terasa bersih menyegarkan Indra penciumanku. Aku sungguh menikmati perjalananku saat pagi hari namun, tidak untuk malam hari.


Tak berselang lama aku pun sudah sampai di rumah Wulan. Terlihat Wulan juga sudah bersiap tugas dengan seragam bidannya. Beserta pak Mardi yang menungguku sembari menyeruput secangkir teh panas yang di temani sepiring pisang godok dengan asap yang masih mengepul tipis di atasnya.


Sekilas pak Mardi memandangku yang menuju ke arahnya. Terlihat senyum terlukis di garis wajahnya.


"Assalamualaikum". Salamku.


"Waalaikumsalam nak,". Jawab pak Mardi ramah.


"Kok jalan kaki nak?". Tanya pak Mardi melihatku berjalan kaki dari kost.


"Hehe iya pak, sekalian olahraga". Jawabku jujur.


"Yaudah, ayo kita ke kandang ayam punya bapak". Ajak pak Mardi.


Kami bergegas berjalan ke belakang kebun rumah pak Mardi tersebut. Sepuluh menit berlalu kami berjalan menyusuri lebatnya kebun yang rimbun seperti tak terawat. Akhirnya sampai juga di depan kandang ayam petelur milik pak Mardi. Disana sudah ada dua orang yang tak asing untuk mataku. Mas Tarjo dan mas wardi.

__ADS_1


Sepertinya aku akan betah lama disini hehehe, gumamku lirih.


"Di, Jo, kenalin ini Mahesa. Dia yang akan kerja disini sama kalian. ". Ucap pak Mardi memperkenalkan.


"Iya pak" jawab mereka serempak dengan senyum yang mengembang.


Begitu pula dengan diriku yang sedikit terkejut ternyata mereka adalah rekan kerjaku saat ini. Namun ada sedikit kelegaan karena aku sudah mengenal mereka dahulu.


****


Tak terasa waktu sudah cepat berlalu, temaram senja mulai mewarnai birunya langit. Aku dan kedua teman baruku ini memutuskan untuk segera kembali sebelum gelap datang.


"Wah ternyata kamu pintar juga Mahesa sortir telurnya, cepet pinter juga kalo di ajarin. Nggak salah pak Mardi itu suka sama kamu Mahesa.". Ujar Tarjo sembari menyeka keringatnya.


"Halah mas Tarjo ini suka kelewatan mujinya. " Ucapku malu sembari berjalan pulang mengikuti mereka.


"Yaudah sampai sini kami tinggal dulu ya ". Ucap mas Tarjo setelah kami sampai di pertigaan depan rumah pak Wardi.


" ini juga si Wardi ngapain ngikutin aku kerumah sih. Rumahmu kan juga ada kamar mandi toh di". Gerutu mas Tarjo pada sahabatnya itu.


"Air di rumahku mati Jo, numpang mandi bentar masak nggak boleh. Itung-itung bantuin temen kek ". Balas mas Wardi.


Pekerjaan yang nyaman dengan teman-teman yang juga membuatku nyaman. Sempurna!


****


Sesampainya di kamar kost bergegas aku langsung mengambil handuk dan segera membasuh tubuh yang sudah pegal-pegal ini. Tak dapat di pungkiri kerja pertamaku terasa sangat melelahkan. Selesai mandi kuambil celana pendek dan kaos hitam polosku. Sejenak aku mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru.


"Eh, baru sadar aku kalo mas Didik nggak ada disini. Kemana perginya tuh anak. Ah Paling juga nanti balik sendiri ". Gumamku.


Tak berapa lama kemudian, mas Didik masuk ke kamar kost dengan membawa plastik hitam dan dengan wajah yang cengar-cengir khas-nya.


"Apaan tuh?". Tanyaku menunjuk apa yang di bawa mas Didik.


"Ini parfum, sabun muka sama apa ini namanya, ish pokoknya aku mau perawatan muka. Biar aku kinclong terus si Gita klepek-klepek. Nanti bantuin juga ya bro". Ucapnya dengan sumringah memandangi wajahnya di depan cermin kecil.


"Buahahahaha, iya oke-oke mas tak bantuin. Biar mukamu yang kaya item penuh kulit mati ini bisa jadi bersinar ". Ucapku sedikit meledek pada orang yang lagi kasmaran ini.


"Oh jadi pas kita kesini pertama kali itu, mas Didik suka sama si Gita? Makanya jadi aneh gitu". Sergahku.


"Hehehe iya bro, aku tersepona eh terpesona". Jawab mas Didik malu-malu.

__ADS_1


"Oh iya tadi siang aku kembali ke desa. Dan aku lihat rumah simbahku sudah kosong. ". Imbuhnya sembari menata barang-barang yang di bawanya. ekspresinya berubah kali ini.


"Terus mas?" Tanyaku tak paham.


"Aku juga udah tanya sama orang sekitar. Katanya rumah itu udah di kosongkan tapi barang-barang disana masih komplit. Katanya juga si Utomo, istrinya dan beberapa temannya di tangkap polisi gara-gara di duga kepemilikan narkoba! Dan sekarang dalam masa penahanan selama satu bulan ". Jelasnya.


"Lalu?" Tanyaku kembali.


"Kita menyusup sekali lagi, kali ini masuk ke dalam rumah itu!". Ucap mas Didik kali ini tegas.


"Aku nggak tahan ingin segera tahu siapa wanita bertopeng waktu itu bro. Aku yakin dia pasti dalang dari semuanya. Dan pasti juga dia dalang dari kematian ayahku!" Imbuh mas Didik berapi-api.


"Iya mas aku tahu, tapi..." Ucapku ragu.


"Apa kamu sudah lupa misi kita Putra Mahesa? Apa kamu sudah terlalu nyaman dengan kehidupanmu disini yang hampir sempurna? " Tanya mas Didik yang menatapku tajam.


"Bukan gitu.." ucapku membela diri.


"Makanya ayo sekarang kita berangkat mumpung ada kesempatan. Kamu masih nyimpen itu kan?" Ucap mas Didik.


"Apa mas?" Tanyaku bingung.


"Senjatamu dodol!" Bentak mas Didik.


"Alamak!!! Lupa aku mas. Aku titipkan ke pak Mardi. " Jawabku kaget teringat senjata yang di beri ayah untukku itu.


"Dasar sembrono! Barang berbahaya kaya gitu malah di titip-titipkan! Yaudah besok aja kita kesana. Malam ini kita minim persiapan juga sih, hehehe" ujar mas Didik.


"Besok malam, duo indigo siap meluluhlantakkan musuh-musuhnya, hahaha" ucap lebay mas Didik dengan berkacak pinggang. Geli aku melihatnya.


"Aku takut kamu berpikir untuk hidup tentram disini sementara disana banyak orang yang setiap hari berkutat dengan kematian yang setiap malam mengancam mereka". Batin mas Didik dalam hati.


Kuakui aku memang beberapa hari ini sedikit terlalu nyaman dengan keadaanku saat ini yang hampir nyaris sempurna.Tapi bagaimanapun mas Didik memang benar. Ada banyak orang yang mengharap kehidupan damai seperti yang kujalani saat ini. Aku akan berusaha mewujudkannya. aku janji!!


"Assalamualaikum Mas Mahesa ". Ucap seseorang dari luar dari pintu yang terbuka.


"Wulan!" Ucapku tersenyum sumringah melihatnya. Entah kenapa sehari ini ada yang kurang kalau tidak melihatnya.


"Ishh mulai senyum-senyum sendiri, pentanda Penyakit gilanya udah mulai kambuh lagi" ejek mas Didik.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2